Serangan dunia maya di Indonesia adalah berbagai upaya untuk mendapatkan akses ilegal atau tidak sah terhadap suatu komputer, sistem komputer atau jaringan komputer dengan tujuan untuk mencuri data, menonaktifkan, mengganggu atau bahkan mengendalikan dengan cara memodifikasi, memblokir, menghapus atau dengan cara lain memanipulasi dan menghancurkan sistem komputer. Menurut data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), serangan dunia maya di Indonesia sepanjang tahun 2021 mencapai 1.637.973.022 kali, dengan indikator peningkatan anomali trafik terbesarnya berupa serangan malware, aktivitas trojan, hingga pengumpulan data informasi untuk mengetahui celah keamanan. Serangan dunia maya di Indonesia membuat kerugian hingga mencapai Rp 478,8 triliun pada tahun 2017.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. (Agustus 2025) |
Serangan dunia maya di Indonesia adalah berbagai upaya untuk mendapatkan akses ilegal atau tidak sah terhadap suatu komputer, sistem komputer atau jaringan komputer dengan tujuan untuk mencuri data, menonaktifkan, mengganggu atau bahkan mengendalikan dengan cara memodifikasi, memblokir, menghapus atau dengan cara lain memanipulasi dan menghancurkan sistem komputer.[1] Menurut data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), serangan dunia maya di Indonesia sepanjang tahun 2021 mencapai 1.637.973.022 kali,[2] dengan indikator peningkatan anomali trafik terbesarnya berupa serangan malware, aktivitas trojan, hingga pengumpulan data informasi untuk mengetahui celah keamanan.[3] Serangan dunia maya di Indonesia membuat kerugian hingga mencapai Rp 478,8 triliun pada tahun 2017.[4]
Sementara itu, hingga semester I-2022, aktivitas serangan dunia maya di Indonesia telah mencapai 714.170.967, dengan aktivitas terbesar serangan dunia maya terjadi pada bulan Januari, yakni 272.962.734 kali.[5] Kaspersky juga mendeteksi serangan dunia maya di Indonesia selama Januari-Maret 2022 mencapai 11.802.558. Hal ini membuat Indonesia menjadi negara di Asia Tenggara yang paling berisiko terkena ancaman serangan internet, sedangkan di dunia, Indonesia berada di peringkat ke-60.[6]
Tiga jenis serangan dunia maya yang paling sering terjadi di Indonesia adalah ransomware atau malware diikuti phishing dan eksploitasi kerentanan kemudian web defacement atau tindakan mengubah konten sebuah laman. Umumnya, yang menjadi target sasaran adalah dunia akademi dan pemerintahan daerah (30%), lembaga swasta (16,85%), lembaga hukum (7,23%), dan pemerintah pusat (3,86%).[5] Web defacement juga masih mendominasi kasus peretasan terhadap laman pemerintahan daerah sepanjang Januari-Oktober 2021.[7]
Dilihat dari asal-usulnya, serangan dunia maya yang terjadi di Indonesia justru paling banyak berasal dari dalam negeri, kemudian India, Amerika Serikat, Bangladesh, Rusia, Tiongkok, Vietnam, dan Brasil. Kota di Indonesia yang paling banyak menjadi target sasaran adalah Bali, Jakarta, dan Aceh.[8]
Serangan dunia maya menyasar pada sistem cloud, jaringan, dengan tujuan mencuri data dan membajak lalu lintas layanan. Alat yang digunakan berupa malware, injeksi Structured Query Language, Phishing, Man-in-the-middle, Denial of service, DDos, serangan terhadap domain name system (DNS), dan Drive-by.
Malware singkatan dari malicious software adalah serangan yang paling umum, melalui surat elektronik atau unduhan ilegal. Malware mengandung virus, trojans, spyware, ransomware, adware, dan botnet. Malware dan ransomware biasanya disertai tebusan kepada pemilik data.
Injeksi bahasa kueri terstruktur (SQL) melibatkan penyuntikan kode berbahaya ke dalam aplikasi berbasis data melalui kueri SQL untuk mendapatkan informasi pribadi. Phishing melibatkan permintaan informasi pribadi sensitif melalui email resmi perusahaan. Man-in-the-middle adalah praktik menyadap komunikasi antara dua individu untuk mendapatkan data, sering kali dilakukan melalui jaringan WiFi yang rentan atau dipertanyakan. Penolakan layanan adalah serangan di Internet yang dimaksudkan untuk mengganggu atau mencegah pengguna lain mengakses layanan sistem yang terkena dampak serangan tersebut..[9] Kemudian DDos berupa serangan massif dengan memborbardir permintaan data secara simultan ke server yang menjadi target sasaran. Serangan dunia maya juga bisa terjadi dengan membangun terowongan dan menggunakan akses yang tersedia secara terus-menerus. Terakhir adalah Drive-by, ketika seseorang mengunjungi laman tertentu dan mengunduh informasi tertentu sehingga komputer terinfeksi malware.[1]
Beberapa program menyediakan informasi untuk mendeteksi apakah alamat email yang dimiliki rentan terhadap aksi peretasan, hanya dengan memasukkan alamat email. Beberapa program tersebut adalah monitor.firefox, avast, periksadata, dan haveibeenpwned.[10] Pendeteksian dan pengelabuan terhadap peretas juga bisa dilakukan dengan memasang perangkat honeypot, yakni sistem atau jaringan komputer yang sengaja dipasang semirip mungkin untuk dijadikan umpan buat menarik perhatian peretas dengan diletakan di sekitar server asli dan di bagian belakang firewall. Adapun jenis honeypot terbagi dua, yakni low involvement honeypot dan high involvement honeypot.[11] Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara, Pontianak menjadi kota yang memiliki banyak perangkat honeypot.[12]
Serangan dunia maya di Indonesia berupa malware setidaknya tercatat ada 10 jenis, yakni:[2]
Dalam sepuluh tahun terakhir, laman-laman pemerintahan daerah sering kali menjadi korban peretasan defacement, mulai dari pemerintah provinsi Nusa Tenggara Barat - laman biro ekonomi, BPSDM, dan dinas sosial (Oktober 2020),[13] pemerintah daerah Trenggalek (60 laman) pada April 2022, pemerintah daerah Indramayu (indramayukab.go.id, dinkes.indramayukab.go.id, dinsos.indramayukab.go.id, dan disdukcapil.indramayukab.go.id) pada Mei 2022,[14] Boyolali (PPID dan aplikasi rokok ilegal), Pemkab Sragen, masing-masing terjadi pada Agustus 2022,[15] laman pemprov Sulawesi Tenggara Oktober 22.[16] Selain defacement, peretasan untuk pencurian data juga terjadi pada empat dinas Dukcapil, yakni di Kabupaten Malang, Subang, Kota Bogor, dan Kabupaten Bekasi.[17]
Pemerintahan kabupaten Malang menjadi target sasaran defacement paling banyak. Dari 500 laman organisasi pendukung daerah (OPD) yang dimiliki daerah ini, sebanyak 111 laman OPD pernah menjadi sasaran.[18]
Selain lembaga eksekutif daerah, laman-laman yudikatif, lembaga penyelenggara pemilu, dan legislatif, juga menjadi sasaran peretas, seperti Kejari Garut (Agustus 2022),[14] KPUD Bantul (Januari 2020).
Rentannya laman pemerintahan daerah terhadap aksi peretasan defacement disebabkan banyaknya laman yang tidak menggunakan secure hosting, tapi menggunakan share hosting (hosting bersama), tidak menggunakan secure coding dan menggunakan open source seperti joomla dan drupal serta halaman default admin masih standar tanpa filter, terakhir penyebabnya jarang melakukan tes keamanan, pemeliharaan, dan kesadaran.[19]
Fenomena khusus peretasan terjadi pada 2021, yakni empat laman Kementerian, puluhan laman pemerintah daerah, kepolisian, dan 400 laman lembaga pendidikan, diretas dan disisipi laman-laman judi online. Laman-laman yang diretas adalah pemerintah provinsi Jawa Tengah, pemerintah kota Ambon, Dinas PUPR Banda Aceh, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Purbalingga, KPU Sleman, Polda NTB, PGRI Jember, Poltek Jember, Universitas Trisakti, Universitas Telkom, dan RS Harapan Keluarga.[20] Sindikat peretas beranggotakan 18 orang ini akhirnya berhasil ditangkap pihak kepolisian.
Dalam beberapa tahun terakhir, tingginya serangan dunia maya di Indonesia mulai cenderung beralih dari defacement menjadi peretasan dengan tujuan pencurian data. Beberapa kasus peretasan besar pencurian data mengemuka dan membuat heboh publik.[21]
Pelaku peretas atau hacker adalah seseorang yang melakukan tindakan mencari celah keamanan di jaringan komputer. Ada tiga jenis peretas, yakni peretas topi putih atau White Hat Hacker, topi hitam atau Black Hat Hacker, dan Gray Hat Hacker. White Hat Hacker atau ethical hacker adalah peretas yang melakukan tindakan secara legal dan telah mendapatkan izin terlebih dahulu. Peretas jenis ini biasanya dibayar secara profesional oleh para pemilik jaringan komputer untuk mendeteksi apakah ada celah keamanan yang bisa disusupi malware, phising, dan injeksi SQL, yang berujung pada akses ke database perusahaan. Black Hat Hacker adalah lawan dari white hat hacker, yakni peretas yang memiliki motif kriminal dan jahat dengan menyusup ke jaringan komputer secara ilegal untuk mencuri data pribadi, kata sandi, dan kartu kredit hingga menyebarluaskan data pribadi seseorang (doksing/doxing). Gray hat hacker adalah peretas yang menyusup celah keamanan secara ilegal dan melaporkannya kepada pemilik jika mereka menemukan adanya celah keamanan yang rentan disusupi. Motifnya adalah untuk mencari tantangan, menguji kemampuan, dan kesenangan pribadi.[27]
Saat ini setidaknya tercatat ada beberapa hackers asal Indonesia yang paling terkenal karena kemampuannya meretas berbagai jaringan internet. Mereka adalah:[28]
Di luar peretas di atas, pada Juni 2016, peretas bernama Herdian Nugraha berhasil menemukan celah keamanan laman e-commerce Bukalapak, Tokopedia, dan Sribu. Herdian menemukan celah keamanan pada fitur upload gambar terkait alat pemrosesan ImageMagick. Celah keamanan ini dinamakan ImageTragick. Setelah ditemukan, Herdian kemudian menulis di blognya dan melaporkannya kepada manajemen ketiga e-commerce tersebut. Bukalapak dan Tokopedia memberi uang masing-masing sebesar Rp 15 juta dan Rp 10 juta, kemudian direkrut oleh Bukalapak sebagai karyawannya.[31]
Peretas lainnya adalah Sultan Haikal, berusia 19 tahun yang tidak tamat SMP, membobol lebih dari 4.600 laman dengan aksi fenomenalnya berhasil membobol laman tiket.com, pada Maret 2017. Pemimpin kelompok hackers "Gantengers Crew" berhasil membobol uang pesanan tiket senilai Rp 1,9 miliar, kemudian ditangkap pihak kepolisian dan divonis hukuman 1 tahun 6 bulan.[32]
Pada April 2021, dua peretas Indonesia, yakni SFR dan MZMSBP juga melakukan pencurian 30 ribu data warga Amerika Serikat penerima bantuan Covid-19. Modusnya adalah membuat laman palsu pendaftaran bantuan sosial warga yang terkena Covid-19, setelah warga AS mengisi data-datanya, si peretas mengajukan daftarnya ke pemerintah AS, sehingga bantuan sebesar US$ 2.000/warga atau total US$ 60 juta justru masuk kantung si peretas.[33]
Beberapa nama defaker adalah:[34]
Selain perorangan, para peretas asal Indonesia juga memiliki kelompok. Kecoak Elektronik[35], Indohack, Hackerlink, Antihackerlink[36], MedanHacking,[37][38] Hiddenline, Indosniffing, Cracxer dan Jasakom adalah kelompok-kelompok peretas yang aktif antara tahun 1995 - 2002 dan merupakan pelopor awal aktivitas peretas secara berkelompok di Indonesia serta Fabianclone, Ndeklamber, Crazy_bit dan TarjO adalah peretas secara individu. Saat itu kegiatan peretasan mereka lakukan di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Yogjakarta, Surabaya, dan Medan dan aksi mereka masih terbatas, lebih banyak manual, serta alat (tools) yang belum memadai. Aksi peretasan umumnya dilakukan di warnet-warnet dan Lab Komputer Kampus, sebab kala itu tools otomatis belum ada, seperti Kali Linux, SqlMap untuk SQL Injection, Metasploit, Burp Suite, Acuatix, dan sebagainya.
Kelompok peretas Kecoak Elektronik (K-Elektronik) adalah kelompok peretas tertua di Indonesia, yang berdiri sekitar tahun 1995. Alirannya adalah hactivist, yakni peretas yang memperjuangkan kepentingan politik. Kelompok ini melakukan kampanye anti-Soeharto. Anggota kelompok ini adalah byteskrew, cahcephoe, cbug, ceyen, cyberheb, cybertank, deglen, elz, fr0d0, fwerd, nixel, nukemafia, opik, ph03n1x, r0t0r, r3dshadow, samuraihack, dan xfree86setup. Byteskrew pernah meretas laman Portugal University of Coimbra, ketika Indonesia dan Timor Timur terlibat konflik. Forum komunitas ini pernah diretas oleh Hmei7.[35]
Kelompok Antihackerlink adalah kelompok peretas kecil yang dibuat oleh Wenas Agustiawan, berusia 16 tahun, yang menggunakan nama peretas hC (Hantu Crew). Wenas pernah meretas Data Storage Institute, jaringan sistem komputer milik Singapura dan Singtel, kemudian ditangkap dan diadili pada 20 Juli 2000, sekaligus menjadi peretas asal Indonesia pertama yang diadili. Namun, karena usianya yang masih 17 tahun kurang 1 minggu, Wenas tidak dipenjara dan hanya dijatuhi hukuman denda sebesar Rp 150 ribu. Wenas kemudian mendirikan tiket.com dan menjadi direktur utama PT Global Tiket Network.[39]
Kelompok peretas MedanHacking menganut haktivisme, terlihat dari berbagai aksinya, yang ikut perang siber antara peretas Indonesia dan Australia dengan meretas beberapa laman seperti thebigcountry.com.au, accommodationbondi.com, actionhirecars.com.au, actionrentals.com.au, australianmusic.net dan superbank.com.au.[37] Kelompok ini juga melakukan defacement laman universitas Iran, Payame Noor University, bersamaan dengan koalisi peretas yang menyerang negara-negara yang diduga pendukung terorisme pasca-peristiwa tragedi WTC di Amerika Serikat.[38]
Kelompok peretas haktivisme asal Indonesia lainnya adalah Ganosec Team atau Garuda Anon Security. Kelompok ini mendukung penuh perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina dan anti terhadap Israel. Aksi terkenalnya adalah meretas laman Federal Communications Commission (FCC), meretas 300 Whatsapp warga Israel, doksing data pribadi Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu, laman-laman berakhiran il, ribuan akun email dan kartu kredit dan universitas.[40] Kelompok ini beranggotakan Mr.Fotolio/Tn.Fotolia, Gh05t666include, XccZero, 4ngg4 p3l0r, Mr.Brown, EkaSec166, RahmanSenpai, Ahmad, SuapNasi01, Lutfi Fakee, RidhoSenpai, dan AgunsenPai, bekerjasama dengan kelompok peretas Padang BlackHat dan DragonForce dari Malaysia dalam menjalankan aksi-aksi kampanye politiknya.[41]
Kelompok peretas lainnya adalah Sidoarjo Hacker Link, Surabaya Hacker Link, X-Code, dan echo. Surabaya Hacker Link berdiri tahun 2003 bersamaan dengan Malang Hacker Link, sebagai pusat komunitas yang menaungi peretas dari seluruh Indonesia. Beberapa alumni dari kedua komunitas ini kemudian membangun komunitas-komunitas lain seperti X-Code, JogjacarderLink, Jatimcrew, Surabaya Black Hat, dan Sidoarjo Hacker Link.[42]
Tercatat, beberapa kelompok peretas pernah melakukan aksi peretasan yang menghebohkan. Pertama, Indonesian Cyber Army, yang meretas laman BigHit Entertaintment, produser BTS, dengan memasukkan video musik girlband asal Jepang, TWICE, berjudul knock knock, menggantikan video musik BTS berjudul Not Today.[43]
Salah satu peretas anggota Gangengers Crew, yakni Konslet, juga pernah meretas beberapa situs antara lain 4tawa, Carrefour, Mata Najwa, dan Metro TV.[44]
Kelompok peretas "Jember Hacker Team" juga pernah melakukan perubahan laman resmi Majelis Ulama Indonesia pada Agustus 2012, oleh peretas yang menamakan dirinya MJL 007.[45]
Kelompok peretas AnonSec Team Sebelum komunitas itu terbentuk, Lanang punya tim berjuluk “4K1R4” yang dibentuk pada 2018. Selama 2019, aktivitas tim sepi, karena teman-temannya memilih pensiun. Ia pun memilih solo hingga 2020. Tim itu akhirnya dibubarkan.
“Enggak lama saya buat tim lagi namanya “NoLife Team”, waktu itu belum ada kepikiran buat open member, lalu 2021 saya berpikir buat rekrut banyak member,” kata L4N4N9.
Ia mencari rekan lagi dan ketemulah Anon7 yang dipilih karena keterampilannya menebas web dengan satu metode saja. “Saya tertarik, saya ajak dia untuk bergabung dengan tim saya. Dia sempat menolak, dan saya memberi saran, ‘Gimana kalau kita buat tim baru? Pasti seru rekrut orang bareng bareng’,” katanya. Anon7 sepakat. Akhirnya terbentuk AnonSec Team, yang berarti “Unknown Security” yang terinspirasi dari LulzSec (Lulz Security)—peretas topi hitam yang berafiliasi dengan Anonymous dan dikenal meretas profil tinggi, salah satunya situs web CIA.
Menurut L4N4N9, pada Juli 2021, keduanya membuka rekrutmen, dengan meretas situs web asal India dan KPU. Banyak situs web yang dijadikan unjuk gigi di dunia underground agar menarik banyak minat, ujarnya.)
Indonesia disebut-sebut menjadi salah satu negara terbanyak yang memiliki peretas, setelah Tiongkok, Rusia, Amerika Serikat, dan Brasil.[46] Sementara itu, Ketua Indonesia Security Incident Response Team Ludi Lumanto, jumlah peretas Indonesia mencapai 38% dari total populasi peretas dunia, disusul Tiongkok 33%, Amerika Serikat 6,9%, Taiwan 2,5%, Turki 2,4%, India 2%, dan Rusia 1,7%.[47]
Beberapa peretas (hackers) Indonesia memiliki komunitas online, yakni pertama, XCode atau juga dikenal dengan nama Yogyafree atau Yogya Family Code, merupakan salah satu forum komunitas yang memiliki anggota terbesar. Kedua, Devilz Code yang menghimpun komunitas peretas di Tangerang, tetapi saat ini komunitas ini tidak aktif lagi. Ketiga, Echo. Keempat adalah Kecoak Elektronik yang berdiri sejak tahun 1995. Kelima, Binus Hacker. Keenam adalah Hacker Newbie Community. Ketujuh, Indonesian Blacktrack Team. Kedelapan Adalah Garuda Defacer ID[48]
Kelompok-kelompok peretas asal Indonesia sering kali melakukan perang dunia maya dengan peretas-peretas dari negara-negara lain. Setidaknya tercatat enam perang dunia maya, yakni pertama Indonesia vs koalisi peretas Tiongkok-Malaysia (2009), kedua Australia (akhir 2013), ketiga Bangladesh (2013), keempat Myanmar (2013), kelima Filipina (2013), dan keenam dengan Malaysia (2017).[49]
Perang siber dengan Australia dilakukan oleh Anonymous Indonesia dengan menyerang 100 lebih laman milik sipil menyusul respons atas peristiwa penyadapan yang dilakukan intelijen Australia terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan beberapa pejabat Indonesia.[50] Aksi ini kemudian direspons oleh peretas Australia yang meminta agar serangan ditujukan kepada laman milik pemerintah dan jangan ke warga sipil. Perang siber dengan peretas Bangladesh dilakukan merespons rencana aksi peretas Bangladesh yang berencana meretas lama-laman milik Indonesia dan diungkapkan di grup Facebook Bangladesh Grey Hat Community kemudian dibalas oleh peretas-peretas asal Indonesia dengan menyerang DDos.
Perang siber dengan Malaysia dilakukan oleh Extreme Crew yang merupakan respons atas terbaliknya bendera Indonesia yang terpasang di buku survenir pada Sea Games 2017.
| No | Periode | Nama Peretas | Kelompok | Modus | Target/Sasaran | Keterangan | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| April 2012 | Cukil | HaxorTeam | defacement | Dewan Pers[51] | ||||||
| April 2015 | Gantengers Crew | defacement | Mastercard[52] | |||||||
| Februari 2017 | Konslet | Gantengers Crew | defacement | 4tawa, Carrefour Indonesia, MataNajwa & MetroTV[53] | Ditangkap[54] | |||||
| Februari 2017 | l0c4lh34rtz & Wonka | defacement | 85 subdomain UIN Syarif Hidayatullah[55] | |||||||
| Mei 2015 | Sultan Haikal | Gantengers Crew | defacement | subdomain Kompas dan Tempo[56] | ||||||
| Juni 2016 | Bekasi0d0nk | defacement | subdomain Pusbindiklat LIPI[57] | |||||||
| Wisnu404 | defacement | 10 subdomain Universitas Negeri Semarang[58] | ||||||||
| Mei 2017 | M2404~2017 | defacement | Dewan Pers dan Kejaksaan Agung[59] | Ditangkap[60] | ||||||
| Juni 2017 | Tux_Shadow | defacement | Universitas Negeri Malang[61] | kecewa karena gagal dua kali ikut SBMPTN | ||||||
| Februari 2018 | Vlyn & Dev | defacement | Dewan Pers[62] | |||||||
| Agustus 2018 | Typical Idiot Security | defacement | Paspampres[63] | |||||||
| Agustus 2018 | Kakekdetektif | defacement | Partai Keadilan Sosial[64] | |||||||
| September 2018 | Typical Idiot Security | defacement | Pemerintah Daerah Jawa Tengah[65] | |||||||
| Januari 2020 | ??? | defacement | KPUD Bantul[13] | |||||||
| Maret 2020 | ./MarioGanz | Garuda Defacer ID & Foursdeath Team | defacement | DPRD Kab Sukoharjo[13] | Dalam Pencarian Siber Polri , Pelaku Diketahui Melarikan Diri | |||||
| April 2020 | Marshall | defacement | Satgas Covid-19 Kabupaten Malang[66] | |||||||
| Oktober 2020 | King | Soapres_h7 | defacement | KPU Jember[13] | ||||||
| Atengg377 & Mr4NGG3R | Banyumas Cyber Team & Crazy Hack Team | defacement | Pemkab Kapuas[67] | |||||||
| Februari 2021 | Mr4NGG3R | Banyumas Cyber Team & Jakarta Cyber Team | defacement | KPU Pekalongan[68] | ||||||
| Juli 2021 | Zyy Ft Luthfifake | Padang Blackhat | defacement | Sekretariat Kabinet[21] | ||||||
| Agustus 2021 | Clan Underscore X Seven | defacement | KPU Jakarta Timur[13] | |||||||
| Oktober 2021 | theMx0nday | defacement | Pusat Malware Nasional Badan Siber dan Sandi Negara | aksi balasan terhadap peretas Indonesia yang menyerang Brasil | ||||||
| Mei 2022 | Astarganz | galaucrew1337 | defacement | indramayukab.go.id, dinkes.indramayukab.go.id, dinsos.indramayukab.go.id dan disdukcapil.indramayukab.go.id | ||||||
| Agustus 2022 | Indian Cyber Mafia | defacement | Kostrad[69] | |||||||
| Agustus 2022 | Toku_H4x0r | defacement | Siroleg Boyolali[15] | |||||||
| September 2022 | JavaTeam | Banyumas Cyber Team | defacement | DPRD Riau[70] | ||||||
| Mungie1L | Anonsec Team | defacement | Pemkot Malang[71] | |||||||
| Oktober 2022 | Black_X12 | 1K4IL & Yanagami_X12 | defacement | Pemprov Sultra,[16] PN Jakarta Pusat , Lampungprov[72] |