Seni Mesopotamia mencakup periode sejarah yang sangat panjang, dimulai dari komunitas pemburu-pengumpul sekitar milenium ke-8 SM. Perkembangan seni ini berlanjut melalui kebudayaan Zaman Perunggu—seperti Kekaisaran Sumeria, Akkadia, Babilonia, dan Asiria—sebelum akhirnya digantikan oleh kekaisaran Zaman Besi, yaitu Neo-Asiria dan Neo-Babilonia. Selain itu, wilayah yang dikenal sebagai tempat lahirnya peradaban ini juga berperan penting dalam memajukan budaya, termasuk penemuan bentuk tulisan paling awal.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Sejarah seni |
|---|
Seni Mesopotamia mencakup periode sejarah yang sangat panjang, dimulai dari komunitas pemburu-pengumpul sekitar milenium ke-8 SM. Perkembangan seni ini berlanjut melalui kebudayaan Zaman Perunggu—seperti Kekaisaran Sumeria, Akkadia, Babilonia, dan Asiria—sebelum akhirnya digantikan oleh kekaisaran Zaman Besi, yaitu Neo-Asiria dan Neo-Babilonia. Selain itu, wilayah yang dikenal sebagai tempat lahirnya peradaban ini juga berperan penting dalam memajukan budaya, termasuk penemuan bentuk tulisan paling awal.
Seni Mesopotamia sebanding dengan seni Mesir Kuno dalam hal kemegahan, kecanggihan, dan kerumitan di kawasan Eurasia barat. Dominasi artistik ini berlangsung dari milenium ke-4 SM hingga wilayah tersebut ditaklukkan oleh Kekaisaran Akhemeniyah Persia pada abad ke-6 SM.
Fokus utama seni mereka adalah pada berbagai bentuk patung yang terbuat dari batu dan tanah liat yang sangat awet. Walaupun hanya sedikit karya lukisan yang bertahan, sisa-sisa yang ada menunjukkan bahwa, secara umum, lukisan terutama diterapkan untuk skema dekoratif geometris dan bermotif tanaman, meskipun sebagian besar patung juga diwarnai (dilukis). Selain itu, Segel silinder juga bertahan dalam jumlah besar, banyak di antaranya menampilkan adegan yang rumit dan detail meskipun ukurannya kecil.
Seni Mesopotamia memiliki berbagai media ekspresi, seperti segel silinder, patung-patung kecil berbentuk lingkaran, dan relief dengan berbagai skala. Yang terakhir ini mencakup plakat tembikar cetak yang terjangkau untuk rumah tangga, yang dapat memiliki makna religius atau sekadar non-religius. Secara tematik, fokus utama karya seni ini adalah para dewa—baik yang digambarkan sendiri maupun didampingi oleh para penyembah—serta hewan yang tampil dalam berbagai skenario: disusun berbaris secara berulang, digambarkan secara tunggal, terlibat dalam perkelahian dengan manusia atau dengan sesamanya, atau digunakan dalam komposisi simbolis seperti motif Master of Animals, atau di sekitar Pohon Kehidupan.[1]