Senat Romawi adalah lembaga pemerintahan tertinggi dan terpenting dalam Republik Romawi yang kemudian tetap memainkan peran signifikan selama Kekaisaran Romawi. Sebagai badan legislatif, administratif, dan penasihat, Senat memiliki pengaruh besar terhadap pengambilan keputusan politik di Roma selama lebih dari seribu tahun. Keberadaannya mencerminkan perkembangan sistem politik Romawi dari monarki ke republik, hingga kekaisaran.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Artikel ini adalah bagian dari seri Politik dan Ketatanegaraan Romawi Kuno |
| Zaman |
|
| Konstitusi Romawi |
| Preseden dan Hukum |
|
|
| Sidang-Sidang Rakyat |
| Magistratus |
| Magistratus Luar Biasa |
| Gelar dan Pangkat |

Senat Romawi (bahasa Latin: Senatus Romanus) adalah lembaga pemerintahan tertinggi dan terpenting dalam Republik Romawi yang kemudian tetap memainkan peran signifikan selama Kekaisaran Romawi. Sebagai badan legislatif, administratif, dan penasihat, Senat memiliki pengaruh besar terhadap pengambilan keputusan politik di Roma selama lebih dari seribu tahun. Keberadaannya mencerminkan perkembangan sistem politik Romawi dari monarki ke republik, hingga kekaisaran.
Senat didirikan pada masa awal Roma sebagai dewan penasihat bagi raja. Awalnya, anggotanya terdiri dari 100 orang yang berasal dari keluarga bangsawan (patricii). Pada masa pemerintahan Raja Servius Tullius, jumlah anggota Senat meningkat menjadi 300. Peran Senat pada periode ini terbatas pada memberikan nasihat kepada raja, meskipun keputusan akhir berada di tangan raja.
Setelah penggulingan monarki pada 509 SM, Senat memainkan peran kunci dalam membentuk Republik Romawi, dengan lebih banyak kekuasaan berada di tangan para senator.
Pada masa Republik, Senat menjadi pusat kekuasaan politik Roma. Fungsi utamanya adalah:
Anggota Senat dipilih dari kalangan elite, baik melalui pengalaman sebagai magistratus maupun melalui pemilihan langsung. Keanggotaan Senat bersifat seumur hidup, kecuali jika seorang senator dicopot karena skandal atau ketidaklayakan.
Selama Republik, Senat menjadi medan pertempuran politik antara kelompok optimates (pendukung aristokrasi) dan populares (pendukung rakyat). Konflik ini sering kali melibatkan figur terkenal seperti Gaius Gracchus, Sulla, Julius Caesar, dan Cicero.
Setelah Augustus mendirikan Kekaisaran Romawi pada 27 SM, kekuasaan Senat berkurang drastis. Kaisar memegang otoritas penuh atas eksekutif, legislatif, dan militer, sementara Senat lebih berperan sebagai lembaga simbolis dan administratif.
Namun, Senat tetap memainkan peran dalam:
Selama masa Kekaisaran Tinggi (Principatus), Senat masih dihormati, tetapi pada masa Kekaisaran Akhir (Dominatus), pengaruhnya hampir sepenuhnya hilang.
Jumlah anggota Senat bervariasi sepanjang sejarah. Pada era Republik awal, jumlahnya 300 orang, tetapi Julius Caesar meningkatkan jumlah ini menjadi 900. Setelah Augustus, jumlahnya stabil di angka sekitar 600.
Senat bertanggung jawab atas:
Meskipun keputusan perang biasanya dibuat oleh rakyat melalui majelis, Senat bertugas menyediakan anggaran, logistik, dan penunjukan gubernur untuk provinsi militer.
Setelah Kekristenan diadopsi sebagai agama resmi Kekaisaran Romawi, beberapa senator menjadi pelindung gereja. Namun, peran politik Senat terus menurun seiring dengan fragmentasi Kekaisaran Romawi.
Setelah kejatuhan Kekaisaran Romawi Barat pada 476 M, Senat di Roma tetap ada, meskipun hanya sebagai lembaga seremonial. Senat akhirnya menghilang sepenuhnya pada abad ke-7, setelah invasi Lombard dan penyatuan Italia di bawah pemerintahan Bizantium.
Senat Romawi menjadi inspirasi bagi sistem legislatif modern di berbagai negara. Nama "Senat" tetap digunakan dalam banyak parlemen di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat dan Prancis, sebagai penghormatan kepada warisan lembaga pemerintahan Romawi ini.