Sempur-hujan darat adalah sebuah spesies burung dalam famili paruh-lebar yang khas, Eurylaimidae. Sebagai spesies yang kecil dan khas, burung ini memiliki kepala, pita dada, dan bagian atas berwarna hitam, pita leher putih, coretan kuning di punggung dan sayap, serta bagian bawah berwarna merah muda anggur yang memudar menjadi kuning di bagian perut. Paruhnya berwarna biru terang, dengan ujung hijau pada mandibula atas dan tepi berwarna hitam. Spesies ini menunjukkan sedikit dimorfisme seksual, dengan pita dada hitam yang tidak melingkar penuh pada betina.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Sempur-hujan darat | |
|---|---|
| Jantan, betina | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Aves |
| Ordo: | Passeriformes |
| Famili: | Eurylaimidae |
| Genus: | Eurylaimus |
| Spesies: | E. ochromalus |
| Nama binomial | |
| Eurylaimus ochromalus Raffles, 1822 | |
| Persebaran sempur-hujan darat | |
| Sinonim[2] | |
| |
Sempur-hujan darat (Eurylaimus ochromalus) adalah sebuah spesies burung dalam famili paruh-lebar yang khas, Eurylaimidae. Sebagai spesies yang kecil dan khas, burung ini memiliki kepala, pita dada, dan bagian atas berwarna hitam, pita leher putih, coretan kuning di punggung dan sayap, serta bagian bawah berwarna merah muda anggur yang memudar menjadi kuning di bagian perut. Paruhnya berwarna biru terang, dengan ujung hijau pada mandibula atas dan tepi berwarna hitam. Spesies ini menunjukkan sedikit dimorfisme seksual, dengan pita dada hitam yang tidak melingkar penuh pada betina.
Asli dari Brunei, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Singapura, dan Thailand, burung ini menghuni hutan malar hijau, hutan dipterokarpa, hutan rawa, hutan kerangas, dan tepi hutan, serta hutan sekunder dan perkebunan yang memiliki pepohonan besar. Terutama menghuni dataran rendah, spesies ini dapat ditemukan hingga ketinggian 1.220 m (4.000 ft). Sempur-hujan darat utamanya bersifat insektivor, tetapi juga memangsa moluska dan sesekali memakan buah.
Sempur-hujan darat berkembang biak selama musim kemarau di seluruh wilayah persebarannya, dengan kedua jenis kelamin saling membantu membangun sarang besar yang tidak rapi dan berbentuk buah pir dari lumut, miselia jamur, dan dedaunan. Telur diletakkan dalam seperindukan yang terdiri dari dua atau tiga butir, terkadang berisi telur kerdil keempat, dan dierami oleh kedua jenis kelamin. Spesies ini terdaftar sebagai hampir terancam oleh IUCN karena penurunan populasinya yang disebabkan oleh hilangnya habitat.
Sempur-hujan darat dideskripsikan sebagai Eurylaimus ochromalus oleh naturalis Inggris Stamford Raffles pada tahun 1822 berdasarkan spesimen dari Singapura.[3][4] Nama genus Eurylaimus berasal dari bahasa Yunani Kuno ευρυςcode: grc is deprecated (eurus), yang berarti lebar, dan λαιμοςcode: grc is deprecated (laimos), yang berarti tenggorokan. Nama spesifik ochromalus mungkin berasal dari bahasa Yunani ōkhros, yang berarti kuning pucat, dan melas, yang berarti hitam, atau ōkhromelas, yang berarti berpenyakit kuning.[5] Sempur-hujan darat adalah nama umum resmi yang ditetapkan oleh Persatuan Ornitologis Internasional.[6] Nama umum lainnya untuk spesies ini dalam bahasa Inggris meliputi black and white broadbill, black and yellow broadbill, dan black-yellow broadbill.[7] Spesies ini disebut takau kasturicode: ms is deprecated dalam bahasa Melayu, Nok Phaya Paak Kwaang lek dalam bahasa Thai,[8] dan curɔɔwcode: tea is deprecated dalam bahasa Temiar.[9]
Sempur-hujan darat adalah satu dari dua spesies yang saat ini ditempatkan dalam genus Eurylaimus, di dalam famili paruh-lebar khas Eurylaimidae, sebuah famili yang terdiri dari sepuluh spesies tropis asli Asia Tenggara.[6] Berdasarkan penelitian tahun 2017 oleh peneliti Brasil Alexandre Selvatti beserta koleganya, kerabat terdekatnya adalah sempur-hujan rimba. Kedua spesies ini berkerabat paling dekat dengan sebuah klad yang dibentuk oleh sempur-hujan sungai dan madi-hijau kecil, dan ketiga genus tersebut membentuk klad saudara dari genus Sarcophanops. Klad ini merupakan saudara dari klad yang dibentuk oleh madi-hijau ekor-panjang dan madi-hitam. Kedua klad ini merupakan saudara dari paruh-lebar Grauer.[10] Penelitian sebelumnya pada tahun 2006 oleh Robert Moyle beserta koleganya juga menemukan dukungan kuat untuk kekerabatan ini, tetapi tidak mengambil sampel paruh-lebar pial.[11] Kladogram berikut menunjukkan hubungan filogenetik di antara Eurylaimidae, berdasarkan penelitian tahun 2017:[a][10]
| Eurylaimidae |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Tidak ada subspesies sempur-hujan darat yang diakui saat ini,[6] tetapi populasi dari Kepulauan Banyak dan Kalimantan Barat terkadang diperlakukan sebagai subspesies yang berbeda, masing-masing bernama E. o. mecistus dan E. o. kalamantan.[4][13] Namun, seluruh populasi spesies tersebut menunjukkan variasi yang signifikan dalam hal penampilan antarindividu, sehingga pengakuan terhadap subspesies tidak dianjurkan.[14][15]

Sempur-hujan darat adalah spesies berukuran kecil dan khas dari burung paruh-lebar yang memiliki panjang 135–15 cm (53,1–5,9 in) dan berat 31–39 g (1,1–1,4 oz). Burung jantan memiliki kepala dan bagian atas berwarna hitam dengan kerah putih dan pita dada hitam, serta corak kuning yang mencolok di punggung dan sayap. Bagian bawah berwarna merah muda anggur, memudar menjadi kuning di bagian perut dan penutup bawah ekor (bulu ekor yang menutupi bagian bawah pangkal ekor). Ekornya berwarna hitam, dengan bintik-bintik kuning pada bulu bagian tengah dan bintik-bintik yang lebih putih pada bulu bagian luar. Iris berwarna kuning pucat, sedangkan paruhnya biru terang, dengan ujung hijau pada mandibula atas dan tepian hitam.[15] Pangkal paruhnya tidak memiliki bulu kejur, yang biasanya ada pada beberapa spesies paruh-lebar lainnya. Kakinya kemerahan, dengan tarsometatarsus yang panjang.[3] Spesies ini menunjukkan sedikit dimorfisme seksual, di mana betina memiliki celah di bagian tengah pita dada hitamnya. Burung remaja tidak memiliki pita dada yang jelas dan memiliki alis (garis yang membentang dari paruh hingga di atas mata) kuning pucat dengan bagian bawah putih keabu-abuan.[15]
Warna kemerahan pada bulu sempur-hujan darat disebabkan oleh pigmen biologis 2,3-didehidro-papilioeritrinon, yang juga terdapat pada bulu sempur-hujan rimba, sempur-hujan sungai, dan spesies Sarcophanops. Warna kuning pada bulu spesies ini disebabkan oleh karotenoid 7,8-dihidro-3′-dehidro-lutein, yang juga terdapat pada bulu sempur-hujan rimba.[16]
Seperti burung paruh-lebar khas lainnya, sempur-hujan darat memiliki paruh yang besar dan lebar yang diperkirakan pertama kali berevolusi pada nenek moyang bersama seluruh burung paruh-lebar sebagai bentuk adaptasi terhadap pola makan insektivor.[17] Lidahnya yang besar dan berdaging membantu memanipulasi objek di dalam paruhnya, memungkinkannya melumatkan makanan ke bagian dalam paruh untuk "mengunyahnya".[18]
Nyanyian sempur-hujan darat adalah getaran bergelembung mirip suara tonggeret yang dimulai dengan beberapa nada tajam yang menurun sebelum nadanya meninggi dan secara bertahap bertambah cepat menjadi getaran rendah dan bergetar sepanjang 8–12 detik. Nyanyian ini mirip dengan nyanyian sempur-hujan rimba, tetapi lebih panjang, percepatannya lebih lambat, tidak memiliki siulan awal, dan berakhir secara tiba-tiba. Nyanyian ini dilantunkan oleh sepasang burung, sering kali saling bersahutan secara bergantian, sementara individu lain yang bersama pasangan tersebut terekam mengeluarkan suara piip yang nyaring dan menyedihkan. Panggilan lainnya meliputi suara kor kor kor yang dibuat oleh jantan yang bersarang dan suara kyiiiaw yang melengking.[15]
Sempur-hujan darat juga teramati bernyanyi dan bernyanyi balasan (bernyanyi sebagai respons terhadap burung lain) ketika berada di dekat individu lain, menyelingi nyanyian mereka dengan suara kiawrr serak dari tenggorokan. Panggilan terakhir tersebut juga sesekali digunakan selama konfrontasi agresif.[19]
Sempur-hujan darat dapat ditemukan di Malaysia, Thailand, Myanmar, Singapura, dan Brunei. Di Indonesia, burung ini dapat ditemukan di Kepulauan Riau dan Kepulauan Lingga, serta di Kalimantan, Sumatra, Pulau Bangka, Belitung, dan Kepulauan Natuna. Burung ini menghuni hutan malar hijau, campuran hutan dipterokarpa, hutan rawa air tawar dan pesisir, hutan kerangas, dan tepi hutan, serta hutan sekunder dan perkebunan, seperti perkebunan kakao, karet, dan Albizia. Kehadirannya di hutan sekunder dan perkebunan bergantung pada adanya sisa pepohonan besar di area tersebut. Spesies ini sebagian besar ditemukan di dataran rendah, muncul pada ketinggian hingga 700 m (2.300 ft) di Semenanjung Malaya, 900 m (3.000 ft) di Sumatra, dan 1.220 m (4.000 ft) di Kalimantan.[1][15]

Sempur-hujan darat telah terekam melakukan tampilan sayap, di mana mereka mengangkat sayapnya, umumnya sedikit di atas punggung, lalu secara perlahan membuka dan menutup bulu terbangnya. Sesekali, tampilan ini dilakukan hanya dengan satu sayap, diikuti dengan kibasan ekor, atau disertai dengan tampilan menganga di mana paruh dibuka dan ditutup secara terus-menerus. Tampilan ini telah diamati setelah burung bernyanyi, sebagai respons terhadap pemutaran suara, dan setelah mencari makan.[19]
Sempur-hujan darat dilaporkan sesekali berkumpul dalam kelompok yang terdiri dari hingga lima ekor burung, meskipun kelompok yang lebih besar dari sepasang burung atau sepasang burung dengan anaknya tidaklah umum. Terlepas dari perilaku konfrontatif yang sering terjadi seperti bernyanyi balasan, mereka menunjukkan toleransi yang tinggi terhadap individu lain di wilayah mereka atau di sekitarnya, dengan perilaku agresif seperti saling kejar jarang teramati.[19] Namun, pasangan burung telah diamati saling berhadapan untuk mempertahankan wilayah mereka dengan menundukkan kepala dan bersuara sebelum saling menyerang.[8]
Sempur-hujan darat utamanya memakan serangga, termasuk ortoptera (belalang, jangkrik, dan belalang juta), belalang sentadu, kumbang, himenoptera (semut, tawon, lalat gergaji, dan lebah), lalat, rayap bersayap, dan ulat. Burung ini juga terekam memakan moluska, serta sesekali memakan buah. Di Kalimantan, ortoptera yang dikonsumsi oleh sempur-hujan darat berukuran lebih kecil daripada yang dimakan oleh kerabat dekatnya, sempur-hujan rimba.[15]
Sempur-hujan darat mencari makan di lapisan tengah dan atas hutan dalam kawanan yang tersebar berjumlah sepuluh hingga lima belas ekor. Individu burung yang mencari makan di tempat bertengger yang terbuka di kanopi mungkin bertindak sebagai penjaga untuk kawanan yang lebih besar dan lebih tersebar. Pencarian makan sebagian besar dilakukan dengan mencari mangsa dari tempat bertengger, menyambar mangsa dari permukaan daun saat terbang dalam sambaran singkat. Serangga terbang juga terkadang ditangkap di udara, dan burung ini pernah teramati berpegangan pada batang pohon layaknya burung pelatuk. Spesies ini juga menyambar ke dalam kerumunan rayap dengan cara yang mirip dengan srigunting. Sempur-hujan darat juga terekam sesekali bergabung dengan kawanan pencari makan beda spesies.[8][15]
Musim kawin sempur-hujan darat dimulai dengan datangnya musim kemarau dan sangat bervariasi di seluruh wilayah persebarannya: dari bulan Februari hingga Oktober di Semenanjung Malaya, dari Januari hingga Juli di Sumatra, dan dari Maret hingga Agustus di Kalimantan.[15] Tampilan sayap telah diamati dilakukan oleh kedua jenis kelamin sebelum kawin.[19]

Sarangnya merupakan struktur gantung berukuran besar, tidak rapi, dan berbentuk buah pir yang terbuat dari lumut, miselia jamur, dan dedaunan, dilapisi bagian dalamnya dengan akar rumput, daun bambu, dan tangkai daun. Sarang dibangun oleh kedua jenis kelamin dan biasanya terletak di tepi tempat terbuka atau di atas aliran sungai di lokasi yang bebas dari rintangan. Ukuran salah satu sarang adalah 17 cm × 13 cm × 10 cm (6,7 in × 5,1 in × 3,9 in), dengan dinding setebal 38 cm (15 in) dan jalan masuk selebar 5 cm × 64 cm (2,0 in × 25,2 in). Sarang ini umumnya digantungkan pada dahan atau lokasi lain yang sesuai dengan ketinggian 5–18 m (16–59 ft) di atas permukaan tanah, dan diikatkan dengan simpul yang terbuat dari rumput, ranting, atau rumput tebu. Pembangunan sarang terkadang terus berlanjut setelah telur diletakkan. Di Kalimantan, sarang terkadang ditempatkan dekat dengan sarang lebah, yang mungkin memberikan perlindungan bagi sarang atau menjadi sumber makanan.[20] Sesekali sarang tersembunyi sebagian oleh dedaunan, tetapi beberapa mungkin terletak di tempat yang mencolok.[8][15][19]
Spesies burung paruh-lebar Asia lainnya dilaporkan berkembang biak secara kooperatif, tetapi tidak ada pembantu yang diamati di dekat sarang sempur-hujan darat. Satu seperindukan penuh terdiri dari dua atau tiga butir telur, tetapi beberapa seperindukan berisi tambahan telur keempat yang kerdil. Telur-telur ini berukuran 229 mm–241 mm × 174 mm–197 mm (9,0 in–9,5 in × 6,9 in–7,8 in) dan berbentuk oval dengan ujung sempit yang agak meruncing. Warnanya putih kusam hingga merah muda cokelat kekuningan dengan bercak cokelat hingga cokelat keunguan yang bervariasi serta bintik-bintik ungu muda di bawahnya. Bercak dan bintik-bintik ini terdapat di sekujur telur tetapi paling padat pada pita di sekitar ujung yang lebih lebar. Pengeraman dilakukan oleh kedua induk. Periode waktu yang dibutuhkan untuk mengerami telur dan bagi anak burung untuk tumbuh bulu belum diketahui.[8][19]
Kangkok india telah terekam sebagai parasit induk dari spesies ini, yang mungkin juga diparasiti oleh spesies kangkok lainnya. Di Kalimantan, sempur-hujan darat juga telah diamati mempertahankan sarangnya dari tupai gading yang sedang mencari makan di tanaman rambat terdekat.[8][19]
Di Thailand, sempur-hujan darat terekam diparasiti oleh kutu penggigit Guimaraesiella latirostris, dengan burung ini sebagai inang tipenya.[21] Burung ini juga terekam sebagai inang dari tungau Harpypalpus holopus, meskipun catatan ini diragukan.[22]
Sempur-hujan darat terdaftar sebagai spesies hampir terancam oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) dalam Daftar Merah IUCN. Populasinya diperkirakan menurun cukup cepat akibat hilangnya habitat yang disebabkan oleh penebangan, konversi lahan, dan kebakaran liar. Dampak hilangnya habitat pada spesies ini mungkin telah berkurang karena toleransinya terhadap hutan sekunder.[1] Sebelumnya burung ini umum ditemukan di seluruh wilayah persebarannya dan saat ini masih umum secara lokal di area dengan habitat yang sesuai. Spesies ini kemungkinan besar hanya akan bertahan dalam jangka panjang di kawasan lindung dan hutan di dataran yang lebih tinggi meskipun memiliki toleransi terhadap habitat yang terdegradasi.[15]
| Cari tahu mengenai Sempur hujan darat pada proyek-proyek Wikimedia lainnya: | |
| Definisi dan terjemahan dari Wiktionary | |
| Gambar dan media dari Commons | |
| Berita dari Wikinews | |
| Kutipan dari Wikiquote | |
| Teks sumber dari Wikisource | |
| Buku dari Wikibuku | |
Multimedia