Pembantu di sarang adalah istilah yang digunakan dalam ekologi perilaku dan biologi evolusioner untuk menggambarkan struktur sosial di mana hewan juvenil (muda) dan remaja yang sudah dewasa kelamin tetap tinggal bersama orang tua mereka. Bukannya memisahkan diri dan mulai bereproduksi sendiri, mereka justru membantu orang tua membesarkan anak atau kawanan berikutnya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Pembantu di sarang (Inggris: Helpers at the nest) adalah istilah yang digunakan dalam ekologi perilaku dan biologi evolusioner untuk menggambarkan struktur sosial di mana hewan juvenil (muda) dan remaja yang sudah dewasa kelamin tetap tinggal bersama orang tua mereka. Bukannya memisahkan diri dan mulai bereproduksi sendiri, mereka justru membantu orang tua membesarkan anak atau kawanan berikutnya.[1]
Fenomena ini pertama kali dipelajari pada burung (di mana kejadiannya paling sering ditemukan), tetapi juga dikenal pada berbagai kelompok hewan lain termasuk mamalia dan serangga. Ini merupakan bentuk sederhana dari pembiakan kooperatif. Kehadiran para pembantu ini biasanya memberikan manfaat bersih, meskipun manfaatnya tidak terdistribusi secara merata oleh semua pembantu atau di semua spesies yang menunjukkan perilaku ini.[2] Terdapat beberapa penjelasan yang diajukan untuk perilaku ini, namun variabilitas dan kemunculannya yang luas secara taksonomi menghasilkan teori-teori yang dapat diterima secara bersamaan.[3]
Istilah "pembantu" (helper) diciptakan oleh Alexander Skutch pada tahun 1935[1] dan didefinisikan lebih cermat pada tahun 1961 dalam konteks perunggasan sebagai "burung yang membantu dalam pengeraman individu selain pasangannya, atau memberi makan/merawat burung dari usia berapa pun yang bukan pasangannya maupun anak keturunannya." Istilah ini sempat dikritik karena bersifat antropomorfik, namun tetap digunakan hingga sekarang.[4] Istilah lain yang digunakan terutama pada mamalia adalah perawatan non-maternal (oleh selain ibu), aloparental (oleh selain orang tua), kooperatif (oleh pembantu non-pembiak), dan komunal (oleh betina pembiak lainnya).[5]
Perilaku ini terjadi pada sekitar tiga hingga delapan persen spesies burung di seluruh dunia, namun jauh lebih umum ditemukan di Australia dan Afrika bagian Selatan.[6] Spesies burung yang menunjukkan perilaku ini meliputi mandar batu, burung gereja, pelatuk biji ek,[7] dan burung gagak paruh-pendek kelabu. Manusia, tikus tanah Damaraland, dan meerkat adalah contoh mamalia yang menunjukkan perilaku ini.[5] Fenomena ini juga terlihat pada sejumlah spesies lebah seperti lebah kayu.
Terdapat tiga penjelasan utama untuk kemunculan pembantu di sarang yang tidak saling mengecualikan satu sama lain:
Meskipun sering diasumsikan bahwa pembantu adalah individu yang tidak berbiak, bukti molekuler menunjukkan bahwa hal tersebut bisa terjadi. Istilah "pembantu sekunder" terkadang digunakan untuk pembantu yang ikut kawin dengan pasangan yang dibantu, sedangkan "pembantu utama" digunakan untuk kasus di mana pembantu adalah murni keturunan dari pasangan tersebut dan tidak terlibat dalam perkawinan.[9]
Hewan muda yang tinggal bersama orang tuanya tidak secara otomatis dianggap sebagai pembantu. Pada beberapa spesies, hewan muda tetap berada di wilayah orang tua tetapi tidak pernah membantu memberi makan anak burung yang baru menetas.
Efek terhadap keberhasilan reproduksi sering kali positif, tetapi kekuatannya bervariasi antar spesies. Dalam banyak spesies, tingkat kelangsungan hidup anak burung meningkat berkat investasi dari pembantu.[10] Manfaat lainnya termasuk kualitas keturunan yang lebih baik dan peningkatan respons imun anak burung.
Pembantu di sarang dapat memberikan fleksibilitas pada jumlah investasi yang perlu diberikan induk terhadap telur dan anak mereka. Keberadaan pembantu memungkinkan induk mengurangi beban kerja mereka karena dapat mengandalkan pembantu untuk elemen perawatan tertentu.[11]
Manfaat yang diberikan oleh pembantu tidak selalu terdistribusi secara seragam. Distribusi manfaat bisa berbeda antar spesies, atau bahkan antar jenis kelamin dalam satu spesies.[2] Pada pelatuk biji ek, perilaku pembantu jantan berfluktuasi tergantung pada ukuran panen biji ek (acorn). Panen yang besar akan meningkatkan aktivitas pembantu jantan dalam menjaga lumbung makanan dan wilayah mereka.[2]
Pembantu juga sering mendapatkan keuntungan. Dengan memilih menjadi pembantu saat prospek pembiakan mereka sendiri masih rendah, pembantu dapat memperoleh manfaat berupa peningkatan tingkat kelangsungan hidup.[12] Namun, kerugiannya adalah tingkat keberhasilan pembiakan mereka sendiri setelah menjadi pembantu mungkin menurun dibandingkan individu yang tidak menjadi pembantu.[12]