Saradan adalah kecamatan yang terletak di ujung timur Kabupaten Madiun. Saradan diapit oleh Kabupaten Nganjuk di timur dan ibu kota Kabupaten Madiun yaitu Caruban di barat, keduanya dihubungkan oleh jalan nasional Surabaya-Ngawi. Selain itu, Saradan juga berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro di utara yang dapat diakses dari jalan nasional melalui Pertigaan Lemahbang. Di tepi jalan nasional tersebut terdapat pusat pemerintahan dan ekonomi Saradan yaitu Desa Sugihwaras yang terdapat Pasar dan Stasiun Saradan. Saradan memiliki jumlah penduduk terbesar di Kabupaten Madiun yaitu sekitar 70 ribu jiwa di tahun 2024 dan juga merupakan salah satu kecamatan terluas di Madiun.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Saradan | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Madiun | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Dodi Setiawan, S.IP. MH | ||||
| Populasi (2023) | |||||
| • Total | 70.922 jiwa | ||||
| Kode pos | 63155 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.19.12 | ||||
| Kode BPS | 3519080 | ||||
| Luas | 152,92 km² | ||||
| Desa/kelurahan | 15 | ||||
| |||||
Saradan adalah kecamatan yang terletak di ujung timur Kabupaten Madiun. Saradan diapit oleh Kabupaten Nganjuk di timur dan ibu kota Kabupaten Madiun yaitu Caruban di barat, keduanya dihubungkan oleh jalan nasional Surabaya-Ngawi. Selain itu, Saradan juga berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro di utara yang dapat diakses dari jalan nasional melalui Pertigaan Lemahbang.[1][2] Di tepi jalan nasional tersebut terdapat pusat pemerintahan dan ekonomi Saradan yaitu Desa Sugihwaras yang terdapat Pasar dan Stasiun Saradan. Saradan memiliki jumlah penduduk terbesar di Kabupaten Madiun yaitu sekitar 70 ribu jiwa di tahun 2024 dan juga merupakan salah satu kecamatan terluas di Madiun.[3]
Bagian timur dan utara kecamatan ini berupa perbukitan di kawasan Pegunungan Kendeng yang didominasi oleh hutan jati milik Perhutani. Puncak tertinggi di kawasan tersebut adalah Gunung Pandan yang menjadi titik pertemuan tiga kabupaten. Gunung Pandan adalah hulu dari Kali Widas yang mengalir melewati Nganjuk dan berakhir di Sungai Brantas. Kali Widas dibendung oleh Bendungan Bening atau Waduk Kalibening yang merupakan waduk terbesar di Kabupaten Madiun dan menjadi ikon pariwisata di Saradan.[4]
Limbah perkebunan jati berupa tunggak atau akar pohon banyak dimanfaatkan warga dengan mengubahnya menjadi ukiran kayu dengan nilai seni yang tinggi dan banyak dipasarkan hingga ke luar negeri.[5] Selain jati, Saradan juga merupakan sentra tanaman porang dan bawang merah di Madiun. Porang banyak ditanam di kaki Gunung Pandan seperti Desa Sumberbendo.[6] Sedangkan salah satu sentra bawang merah adalah Desa Bandungan di perbatasan Nganjuk.[7]

Saradan adalah kecamatan yang wilayahnya berada di ujung timur Madiun. Bagian barat Saradan di perbatasan Caruban berupa dataran rendah yang didominasi areal persawahan sedangkan bagian timur dan utara Saradan lebih dominan perbukitan yang ditanami jati oleh Perhutani. Saradan merupakan salah satu kecamatan terluas di Madiun yaitu 152,92 km² dengan pemukiman yang terpencar-pencar. Wilayah Saradan yang kering membuat daerah ini banyak dibangun waduk besar seperti Waduk Bening, Saradan, dan Notopuro.[1]
Ujung utara Saradan terdapat Gunung Pandan yang merupakan puncak tertinggi di Pegunungan Kendeng yaitu pegunungan kapur yang memanjang di tengah Pulau Jawa. Tepat di kaki gunung ini terdapat desa terpencil yaitu Sumberbendo dan Klangon yang masyarakatnya banyak menanam porang. Kedua desa tersebut berbatasan dengan Bojonegoro di utara dan Nganjuk di timur serta terpisah dari wilayah lainnya di Saradan oleh hutan jati. Ujung timur Saradan adalah Desa Bandungan yang menjadi sentra bawang merah Madiun. Bandungan berada di utara Wilangan Nganjuk dan warganya melewati kabupaten lain terlebih dahulu jika menuju pusat kecamatan.[1]
Batas wilayah Saradan adalah sebagai berikut:[1]
| Utara | |
| Timur | |
| Selatan | Kecamatan Mejayan dan Gemarang |
| Barat | Kecamatan Mejayan dan Pilangkenceng |
Kecamatan Saradan terdiri dari 15 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun atau dukuh, yakni sebagai berikut:[1]
| No. | Nama Desa | Nama Dusun dan Dukuh | Ref |
|---|---|---|---|
| 1 | Bajulan | Bajulan, Cangkring, Murong, Tempuran | [1] |
| 2 | Bandungan | Jenangan, Kedungrejo, Pare | [1] |
| 3 | Bener | Bener, Borok, Boto, Kedungdang, Siwalan | [1] |
| 4 | Bongsopotro | Bongsopotro, Robahan, Sadang, Sumberan | [1] |
| 5 | Klangon | Klangon, Bandungan, Pohulung, Sempol | [1] |
| 6 | Klumutan | Bangkle, Bruwok, Jomblang Sambi, Megurun, Pranti, Sumberan | [8] |
| 7 | Ngepeh | Ngepeh, Soho, Klumprit | [9] |
| 8 | Pajaran | Pajaran, Bakalan, Pepe, Petung, Setren | [10] |
| 9 | Sambirejo | Sambirejo, Sumberejo | [1] |
| 10 | Sidorejo | Sidorejo, Gendong, Jomblang Bethek, Kopen, Mangirejo, Nampu | [1] |
| 11 | Sugihwaras | Sugihwaras, Cabe, Jambangan, Josaren, Kampung Baru, Kedunglumbu, Kedungrejo, Ledokan, Nampurejo, Robahan, Saradan, Wadukan | [1] |
| 12 | Sukorejo | Sukorejo, Bangasri, Kaligunting, Kedungpring, Menggung, Pandansari | [11] |
| 13 | Sumberbendo | Kece, Kenti, Oro-oro Waru, Piji, Sumbergayam, Tawangsono | [1] |
| 14 | Sumbersari | Sumbersari, Kenep, Patran | [1] |
| 15 | Tulung | Tulung, Gaplok, Purworejo, Ribahan (Tulungrejo), Sumberagung | [1] |

