Roeslan Abdulgani adalah negarawan dan politikus Indonesia yang merupakan Menteri Luar Negeri Indonesia pada tahun 1956-1957. Dia akrab dipanggil Cak Roes. Dia juga pernah menjadi Rektor IKIP Bandung yang pertama periode 1964-1966, dan tercatat sebagai Pimpinan ke-3 Kampus Bumi Siliwangi sejak bernama PTPG Bandung.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Roeslan Abdulgani | |
|---|---|
Potret resmi, ca 1954 | |
| Wakil Perdana Menteri ke-15 | |
| Masa jabatan 18 Maret 1966 – 27 Maret 1966 Menjabat bersama Sri Sultan Hamengkubuwana IX, Johannes Leimena, Idham Chalid, Dan Adam Malik | |
| Presiden | Soekarno |
| Menteri Penerangan Indonesia ke-15 | |
| Masa jabatan 13 November 1963 – 27 Agustus 1964 | |
| Presiden | Soekarno |
| Menteri Luar Negeri Indonesia ke-9 | |
| Masa jabatan 24 Maret 1956 – 9 April 1957 | |
| Presiden | Soekarno |
| Rektor IKIP Bandung ke-1 | |
| Masa jabatan 2 Mei 1964 – 12 Juni 1966 | |
| Presiden | Soekarno |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | (1914-11-24)24 November 1914 Surabaya, Hindia Belanda |
| Meninggal | 29 Juni 2005(2005-06-29) (umur 90) Jakarta, Indonesia |
| Profesi | |
| Tanda tangan | |
| Karier militer | |
| Pihak | |
| Dinas/cabang | |
| Masa dinas | 1945–1949 |
| Pangkat | |
| Pertempuran/perang | Revolusi Nasional Indonesia |
Roeslan Abdulgani (24 November 1914 – 29 Juni 2005) adalah negarawan dan politikus Indonesia yang merupakan Menteri Luar Negeri Indonesia pada tahun 1956-1957. Dia akrab dipanggil Cak Roes. Dia juga pernah menjadi Rektor IKIP Bandung yang pertama periode 1964-1966, dan tercatat sebagai Pimpinan ke-3 Kampus Bumi Siliwangi sejak bernama PTPG Bandung.
Roeslan Abdulgani lahir di Peneleh, Genteng, Surabaya pada 24 November 1914. Saat remaja ia bergabung dengan Natipy, kepanduan yang berhaluan nasional. Ia juga menjadi anggota Jong Islamieten Bond serta Indonesia Muda. Waktu itu Indonesia Muda dianggap sebagai organisasi yang berbahaya oleh pemerintah Hindia Belanda. Setelah tamat dari HBS (setingkat sekolah lanjutan sekarang), Roeslan diterima di Openbare Europese Kweekschool, sekolah guru untuk orang Eropa, namum ia dikeluarkan karena ketahuan menjadi anggota Indonesia Muda. Ia juga pernah menjadi Ketua Pedoman Besar Indonesia Muda, setelah ketuanya yang lama, Sukarni menghilang karena dikejar-kejar Belanda. Di zaman penjajahan Jepang, ia memimpin gerakan Angkatan Muda.[1]
Ia juga ikut merebut kekuasaan dari Jepang, saat Proklamasi Kemerdekaan. Ketika pasukan sekutu mendarat di Surabaya, ia terlibat beberapa pertempuran dan sesudah 10 November 1945, ia terpaksa menyingkir ke Malang. Disana ia bekerja di Kementerian Penerangan, ia pun diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Kementerian Penerangan, yang waktu itu berkedudukan di Yogyakarta. Pada saat Agresi Militer Belanda II, tanggal 19 Desember 1948, ia tertembak pada tangan kanan[2] dan beberapa jari tangannya terpaksa dipotong [3]
Setelah penyerahan kedaulatan, ia ikut pindah ke Jakarta, kariernya terus menanjak, ia pernah menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri pada tahun 1954-1956. Setahun kemudian, dia menjadi Sekretaris Jenderal Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955. Setelah jabatan Menteri Luar Negeri pada Kabinet Ali Sastromidjojo II, ia menjadi Menteri Penerangan pada tahun 1962-1966, dan Wakil Perdana Menteri pada tahun 1966-1967. Saat itu pula ia dipercaya menjadi Rektor IKIP Bandung dan Ketua Jurusan Sejarah Budaya IKIP Bandung (1964-1966).
Setelah tampuk kepresidenan berganti dari Soekarno ke Soeharto, Roeslan dipercaya menjadi Duta Besar RI di Perserikatan Bangsa-Bangsa (1967-1971) dan menjabat Ketua Tim Penasihat Presiden mengenai Pancasila selama 20 tahun sejak tahun 1978.
Roeslan juga mempunyai gelar Jenderal TNI Kehormatan Bintang Empat, Bintang Mahaputra. Semasa hidupnya, dia dikenal mempunyai hubungan yang dekat dengan Presiden Soeharto. Dari pernikahannya dengan Sihwati Nawangwulan, ia dikaruniai lima anak.


Roeslan Abdulgani wafat pada 29 Juni 2005 pada umur 90 tahun. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
| Jabatan diplomatik | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Lambertus Nicodemus Palar |
Duta Besar RI untuk PBB 1967–1971 |
Diteruskan oleh: Yoga Soegomo |
| Jabatan politik | ||
| Didahului oleh: Ida Anak Agung Gde Agung |
Menteri Luar Negeri Indonesia 1956–1957 |
Diteruskan oleh: Subandrio |
| Didahului oleh: Mohammad Yamin |
Menteri Penerangan Indonesia 1963–1964 |
Diteruskan oleh: Achmadi Hadisoemarto |
| Jabatan akademik | ||
| Didahului oleh: Periode PTPG Bandung dan FKIP UNPAD |
Rektor IKIP Bandung 1964–1966 |
Diteruskan oleh: Achmad Sanusi |