Roma 16 adalah bagian terakhir Surat Paulus kepada Jemaat di Roma dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen. Surat ini ditulis oleh Rasul Paulus, ketika ia berada di Korintus pada pertengahan tahun 50-an M, dengan bantuan seorang amanuensis (sekretaris), Tertius, yang menambahkan salamnya sendiri di ayat 22.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Roma 16 | |
|---|---|
| Kitab | Surat Roma |
| Kategori | Surat-surat Paulus |
| Bagian Alkitab Kristen | Perjanjian Baru |
| Urutan dalam Kitab Kristen | 6 |
Roma 16 (disingkat Rom 16) adalah bagian terakhir Surat Paulus kepada Jemaat di Roma dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen. Surat ini ditulis oleh Rasul Paulus, ketika ia berada di Korintus pada pertengahan tahun 50-an M,[1] dengan bantuan seorang amanuensis (sekretaris), Tertius, yang menambahkan salamnya sendiri di ayat 22.[2][3][4]
Meskipun bab ini berisi rekomendasi pribadi Paulus, salam pribadi, nasihat terakhir, kasih karunia, salam dari rekan-rekan, identifikasi penulis/amanuensis dan berkat,[5] Martin Luther mencatat bahwa itu
juga mencakup peringatan yang bermanfaat terhadap doktrin-doktrin manusia yang diberitakan berdampingan dengan Injil dan yang sangat merugikan. Seolah-olah ia telah melihat dengan jelas bahwa dari Roma dan melalui orang-orang Romawi akan muncul Kanon dan Dekrit yang menyesatkan dan merugikan, beserta seluruh hukum dan perintah manusia yang kini menenggelamkan seluruh dunia dan telah menghapuskan surat ini dan seluruh Kitab Suci, beserta Roh dan iman. Tidak ada yang tersisa selain Perut berhala, dan Santo Paulus menggambarkan orang-orang itu di sini sebagai hamba-hambanya. Semoga Tuhan menyelamatkan kita dari mereka. Amin.[6]
Pembagian isi pasal:
Dari pasal ini, diperoleh nama-nama sejumlah anggota jemaat gereja di Roma yang secara khusus diberi salam oleh Paulus melalui surat tersebut, yaitu:
Dari pasal ini, diperoleh nama-nama sejumlah anggota jemaat gereja di Korintus, tempat Paulus menulis surat tersebut, yang secara khusus mengirim salam kepada jemaat gereja di Roma:
Surat ini diyakini ditulis di rumah Gayus.
Istilah "yang melayani jemaat" dalam bahasa Yunani menunjukkan jabatan Febe sebagai diaken dalam gereja di Kengkrea, yaitu kota pelabuhan yang melayani kota besar Korintus. Dalam perjalanan penginjilan yang kedua sewaktu hendak berangkat dari Korintus ke Siria bersama Priskila dan Akwila, Paulus pernah mengunjungi Kengkrea, di mana Paulus mencukur rambutnya, "karena ia telah bernazar".[8].
Tertius kemungkinan adalah bekas budak yang secara khusus pernah dididik untuk menuliskan surat-surat untuk tuannya, suatu hal yang umum pada zaman itu. Satu-satunya jurutulis yang disebut namanya dari semua surat-surat Paulus.