Roma 12 adalah bagian Surat Paulus kepada Jemaat di Roma dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen. Surat ini ditulis oleh Rasul Paulus, ketika ia berada di Korintus pada pertengahan tahun 50-an M, dengan bantuan seorang amanuensis (sekretaris), Tertius, yang menambahkan salamnya sendiri dalam Roma 16:22.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Roma 12 | |
|---|---|
Surat Roma 11:33-12:5 pada Codex Carolinus edisi Tischendorf (Monumenta, halaman 155). | |
| Kitab | Surat Roma |
| Kategori | Surat-surat Paulus |
| Bagian Alkitab Kristen | Perjanjian Baru |
| Urutan dalam Kitab Kristen | 6 |
Roma 12 (disingkat Rom 12) adalah bagian Surat Paulus kepada Jemaat di Roma dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen. Surat ini ditulis oleh Rasul Paulus, ketika ia berada di Korintus pada pertengahan tahun 50-an M,[1] dengan bantuan seorang amanuensis (sekretaris), Tertius, yang menambahkan salamnya sendiri dalam Roma 16:22.[2][3][4]
Menurut Martin Luther,
Dalam bab 12, Santo Paulus mengajarkan liturgi sejati dan menjadikan semua orang Kristen imam, agar mereka dapat mempersembahkan, bukan uang atau ternak, seperti yang dilakukan para imam dalam Hukum Taurat, melainkan tubuh mereka sendiri, dengan mematikan keinginan mereka. Selanjutnya, ia menggambarkan perilaku lahiriah orang Kristen yang hidupnya diatur oleh Roh Kudus; ia menceritakan bagaimana mereka mengajar, berkhotbah, memerintah, melayani, memberi, menderita, mengasihi, hidup, dan bertindak terhadap kawan, lawan, dan semua orang. Inilah perbuatan-perbuatan yang dilakukan seorang Kristen, karena, seperti yang telah saya katakan, iman bukanlah sesuatu yang sia-sia.[5]
Pembagian isi pasal:
Penyerahan, atau persembahan hidup kita bukan merupakan sesuatu yang hanya dilakukan sekali saja dalam proses pendewasaan Kristen. Yang dimaksudkan adalah hidup yang taat karena iman yang berkembang, sama seperti penyerahan yang diuraikan dalam pasal 6, di mana kita, anggota-anggota tubuh kita harus menjadi "alat-alat kebenaran", dan kita "hidup dalam pembaharuan hidup".[7]
Tekanan dari dunia dan dari dalam diri kita sendiri untuk tetap menyatu dengan dunia tidak berkurang dalam pendewasaan Kristen. Namun, sekarang ada harapan yang sejati bagi kita, sesuai dengan segala sesuatu yang diuraikan dalam pasal 8.[7]
Perintah ini mengepalai segala perintah yang bersifat spesifik dalam seluruh bagian ini. Jangan tinggi hati. Sesungguhnya perintah ini berakar dalam teologia yang diuraikan dalam Roma pasal 1-11. Menurut Surat Roma kita tidak dapat membenarkan diri kita, tetapi kita mengalami kemurahan Tuhan Allah. Sikap tinggi hati bertentangan dengan pengertian ini mengenai diri kita. Sikap yang patut berkata, "Aku ini adalah orang yang diangkat oleh Allahku yang penuh kemurahan."[7]