Rego Nyowo adalah sebuah film horor Indonesia tahun 2025 yang disutradarai oleh Rizal Mantovani, berdasarkan skenario yang ditulis Riheam Junianti. Film produksi Hitmaker Studios ini dibintangi oleh Sandrinna Michelle, Ari Irham, dan Cassandra Lee. Film ini dibuat berdasarkan thread viral Kosan Berdarah yang diunggah oleh Kelanara Studio di platform X pada Juli 2024. Ceritanya tentang seorang mahasiswa yang pindah ke Malang di mana ia tinggal di sebuah rumah kos yang nyaman, sampai para penghuninya mulai mengalami hal-hal supranatural yang menganggu. Rego Nyowo ditayangkan di bioskop pada 31 Juli 2025 dan di Netflix pada 4 Desember 2025.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Rego Nyowo | |
|---|---|
Poster penayangan di bioskop | |
| Sutradara | Rizal Mantovani |
| Produser | Rocky Soraya |
| Skenario | Riheam Junianti |
Berdasarkan | Kosan Berdarah oleh Kelanara Studio |
| Pemeran | |
| Penata musik | Ricky Lionardi |
| Sinematografer | Enggar Budiono |
| Penyunting | Gita Miaji |
Perusahaan produksi |
|
Tanggal rilis |
|
| Durasi | 105 menit |
| Negara | Indonesia |
| Bahasa |
|
Rego Nyowo adalah sebuah film horor Indonesia tahun 2025 yang disutradarai oleh Rizal Mantovani, berdasarkan skenario yang ditulis Riheam Junianti. Film produksi Hitmaker Studios ini dibintangi oleh Sandrinna Michelle, Ari Irham, dan Cassandra Lee. Film ini dibuat berdasarkan thread viral Kosan Berdarah yang diunggah oleh Kelanara Studio di platform X pada Juli 2024.[1] Ceritanya tentang seorang mahasiswa yang pindah ke Malang di mana ia tinggal di sebuah rumah kos yang nyaman, sampai para penghuninya mulai mengalami hal-hal supranatural yang menganggu.[2] Rego Nyowo ditayangkan di bioskop pada 31 Juli 2025 dan di Netflix pada 4 Desember 2025.[3]
Lena datang dari Jakarta ke Malang untuk kuliah bersama kakaknya, Benhur. Mereka tinggal di kost milik sepasang suami istri, Ibu Astri dan Pak Wiryo yang baik dan ramah. Rumah kos itu bagus, murah, nyaman, dan penuh kehangatan. Setiap minggunya, Ibu Astri mengundang seluruh penghuni kost makan malam bersama. Tapi kost yang tenteram, berubah menjadi penuh kejanggalan ketika Bobi mulai sering melihat penampakan-penampakan dan mengalami mimpi buruk mengenai pocong. Pada saat makan malam anak-anak kos bersama bapak dan ibu kos, Bobi tiba-tiba muntah dan mendadak demam. Setelah merasa enakan, Bobi memutuskan untuk keluar dari kos-kosan. Setelah kejadian tersebut, anak-anak kos secara misterius menderita sakit yang berbeda-beda.
Saat Lena berjalan di kebun pisang samping kos, ia melihat penampakan pocong yang tergantung. Malamnya Rina juga mengaku melihat pocong di kamar mandi. Benhur yang sudah 6 tahun tinggal di kos tersebut tidak percaya dengan ucapan Lena dan Rina dan merasa itu hanyalah halusinasi mereka berdua. Rina dan Lena mencurigai kebiasaan Bu Astri yang selalu membawa piring-piring sisa makanan ke gudang belakang kos. Rina yang penasaran, diam-diam masuk ke dalam gudang belakang tersebut dan melihat penampakan pocong. Pagi harinya, Lena menemukan Rina meninggal di kamarnya dalam keadaan kaku. Lena dan Yamin kemudian menemukan bahwa Rian yang sedang sakit tidak juga di bawa ke rumah sakit oleh Pak Wiryo dan Bu Astri. Suatu hari, Lena melihat Bu Astri sedang mencincang tikus di dapur. Lena memberitahukan itu kepada Benhur, namun Benhur tidak mempercayainya dan merasa bahwa kos-kosan tersebut adalah tempat yang nyaman untuknya. Lena kemudian mengungkap bahwa ibunya saat ini sedang terkena kanker.
Suatu hari, Benhur menemukan Pak Wiryo yang telah tewas dan tergantung di pohon pisang. Setelah penguburan Pak Wiryo, anak-anak kos berbicara di ruangan tengah, namun tiba-tiba listrik padam. Saat Benhur, Aryo, Yamin dan Eka ke gudang belakang untuk menyalakan listrik, mereka melihat pocong yang tiba-tiba muncul di atas mobil. Pocong juga mulai menampakkan diri di hadapan Lena, Nadia, Hani dan Della. Setelah kejadian tersebut, semua orang menjadi ketakutan dan meninggalkan kos tersebut, kecuali Benhur, Lena dan Yamin. Hani yang telah pindah ke kos baru menawari mereka untuk ikut pindah, tapi Bu Astri memohon ketiganya untuk tetap di kos tersebut. Bobby kemudian menelpon dan menyuruh mereka untuk keluar dari kos itu secepatnya. Pada saat mereka sedang bersiap-siap untuk pergi, Bu Astri memukul pingsan dan mengikat mereka bertiga di kamarnya. Bu Astri kemudian bercerita mengenai perjanjiannya dengan iblis 22 tahun lalu yang telah memberikannya kehidupan baru. Syaratnya penghuni kos harus berjumlah minimal 10, bila tidak maka sebagai akibatnya Rian akan sakit-sakitan. Bu Astri juga mengaku telah membunuh Bobby yang datang untuk menyelamatkan mereka. Bu Astri kemudian menyeret Yamin untuk dipersembahkan kepada iblis. Rian yang sedang terbaring sakit di ruangan sebelah, memberikan informasi kepada Benhur dan Lena mengenai adanya gunting di kamar tersebut, yang membuat mereka terbebas. Benhur dan Lena kemudian pergi ke gudang belakang dan menemukan sebuah jalan bawah tanah rahasia yang mengarah ke sebuah ruangan tempat Bu Astri menjalankan ritualnya. Mereka berhasil menaklukan Bu Astri, membebaskan Yamin dan keluar ke kebun pisang. Bu Astri berhasil menyusul mereka dan melukai Benhur. Ketiganya berlari sampai ke sebuah tempat di mana Bobby yang telah dibungkus kain kafan diletakkan. Bu Astri melukai Yamin, memukul pingsan Lena dan membungkus mereka dengan kain kafan. Saat melakukan ritualnya, iblis muncul dan mulai memakan mayat Bobby. Rian kemudian muncul dan mencoba menghentikan ibunya. Tahu ibunya tidak menggubris perkataannya, Rian mengiris lehernya sendiri sehingga membuat iblis terbakar dan musnah. Bu Astri yang kehilangan anaknya, memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menghunus clurit ke perutnya.
Setelah itu, Yamin dan Benhur dirawat di rumah sakit, di mana orang tuanya menjenguk mereka. Benhur meminta maaf kepada orang tuanya, yang kemudian Ayah Benhur menjawabnya bahwa itu bukan kesalahannya dan meminta maaf.
Film ini merupakan adaptasi dari cerita viral dari sebuah thread yang diposting di platform X oleh Kelanara Studio.[1] Dalam rangka pendalaman peran, para pemeran film membaca karya orisinalnya secara bersama-sama saat proses pembacaan naskah untuk memahami perspektif karakter masing-masing sebelum akhirnya divisualisasikan.[4] Proses syuting dilakukan di beberapa lokasi, antara lain Padalarang, Cibubur dan Malang.[5]