Probolinggo Stoomtram Maatschappij, N.V. (PbSM) adalah nama perusahaan kereta api di Hindia Belanda. Perusahaan ini mengoperasikan trem uap di Kabupaten Probolinggo dari Stasiun Probolinggo s.d. Stasiun Paiton melalui Jalur kereta api Probolinggo–Paiton. Saat ini seluruh jalurnya termasuk dalam Wilayah Aset IX Jember. Perusahaan ini juga melayani angkutan barang dari Pabrik Gula Oemboel, Pabrik Gula Soemberkareng, Pabrik Gula Wonolangan, Pabrik Gula Kandang Djatie, Pabrik Gula Gending, Pabrik Gula Padjarakan, Pabrik Gula Maron, Pabrik Gula Bagoe, Pabrik Gula Djaboong, dan Pabrik Gula Paiton.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Lokomotif milik PbSM menarik rangkaian gerbong barang di dekat Pantai Bentar, Probolinggo. | |
| Ikhtisar | |
|---|---|
| Kantor pusat | |
| Lokal | Kota Probolinggo dan Kabupaten Probolinggo |
| Tanggal beroperasi | 1894–1950 |
| Penerus | Kereta Api Indonesia |
| Teknis | |
| Lebar sepur | 1.067 mm (3 ft 6 in) |
| Panjang jalur | 41,9 kilometer |

Probolinggo Stoomtram Maatschappij, N.V. (PbSM) adalah nama perusahaan kereta api di Hindia Belanda. Perusahaan ini mengoperasikan trem uap di Kabupaten Probolinggo dari Stasiun Probolinggo s.d. Stasiun Paiton melalui Jalur kereta api Probolinggo–Paiton. Saat ini seluruh jalurnya termasuk dalam Wilayah Aset IX Jember. Perusahaan ini juga melayani angkutan barang dari Pabrik Gula Oemboel, Pabrik Gula Soemberkareng, Pabrik Gula Wonolangan, Pabrik Gula Kandang Djatie, Pabrik Gula Gending, Pabrik Gula Padjarakan, Pabrik Gula Maron, Pabrik Gula Bagoe, Pabrik Gula Djaboong, dan Pabrik Gula Paiton.[1]
Asal-usul perusahaan ini sangat tidak jelas. Dalam Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië tercatat bahwa konsesi oleh Pemerintah Kolonial mengenai jalur Probolinggo–Kraksaan–Paiton sendiri telah dikeluarkan berdasarkan besluit tertanggal 15 Desember 1894 No. 6.[2]
Dengan berbekal konsesi tersebut, perusahaan ini membangun beberapa jalur kereta api dan trem yang dalam proses pembangunannya dibagi menjadi beberapa segmen sebagai berikut.[3]
| Jalur | Segmentasi lintas | Tanggal peresmian | Panjang lintas (km) | Keterangan |
|---|---|---|---|---|
| Probolinggo–Paiton | Jati–Gending | 21 April 1897 | 10 | |
| Gending–Jabung | 21 April 1897 | 19 | ||
| Probolinggo–Jati | 22 Juni 1897 | 1 | ||
| Jabung–Paiton | 22 Juni 1898 | 5 | ||
| Jati–Probolinggo Pelabuhan | Jati–Probolinggo Pelabuhan | 28 September 1898 | 3 | Relokasi jalur trem pelabuhan dari tengah kota, berjalan mengikuti sisi barat jalur kereta api Staatsspoorwegen dari Stasiun Probolinggo s.d. Stasiun Jati. |
| Kraksaan–Kalibuntu | Kraksaan-Kalibuntu | Mei 1900 | 2,8 | |
| Probolinggo–Sumberkareng | Probolinggo–Sumberkareng | 6 Agustus 1912 | 3 | |
Jalur kereta api Probolinggo–Paiton mulanya dari Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo lalu sejajar dengan jalur SS di petak Probolinggo–Jati. Di sinilah tempat lokomotif-lokomotif uap milik PbSM dirawat, karena diponya memang terletak satu kompleks dengan Stasiun Jati. Kraksaan–Kalibuntu hanya dijadikan sebagai lintas cabang pendukung Pelabuhan Kalibuntu.[2]
Soemarno Sosroatmodjo dalam autobiografinya pernah menikmati moda transportasi ini.[4]
Perang Kemerdekaan menyebabkan lintas-lintas PbSM mangkrak dan sebagian di antaranya dicabut. Toer dkk. (1999) dengan merujuk pada Majalah Pantja Raja edisi 15 Juni 1946 mencatat bahwa jalur kereta api segmen Sebaung–Kraksaan dibangun kembali.[5] Akan tetapi, untuk segmen Probolinggo–Gending Baru masih belum dibangun sampai pertengahan dekade 1950-an begitu data dari ikhtisar laporan tahunan DKA.[6] Praktis, layanan kereta apinya juga tidak dapat dijalankan hingga 1960-an.
Pada tahun 1978, dalam Statistik Kotamadya Probolinggo 1980, sudah tidak ada lagi kereta api penumpang yang diberangkatkan dari Stasiun Jati karena jaraknya yang dekat dengan Stasiun Probolinggo.[7]
Untuk menunjang sistem, PbSM juga mendatangkan lokomotif yang perawatannya dipusatkan di Depo Lokomotif Jati. Berikut adalah tabel daftar armada lokomotif yang pernah dioperasikan oleh perusahaan ini.
| Seri | Nomor versi PbSM | Nomor versi KAI | Produksi | Tahun produksi | Keterangan dan status operasi |
|---|---|---|---|---|---|
| B16 | 1 | - | Backer & Rueb | 1895 | Dialokasiakan ke PsSM mendapat penomoran PsSM 4 |
| 1 | B1601 | Hohenzollern | 1897 | Menggantikan lokomotif sebelumnya | |
| 2 | - | Backer & Rueb | 1896 | Dialokasikan ke PsSM mendapat penomoran PsSM 5 | |
| 2 | B1602 | Hohenzollern | 1897 | Menggantikan lokomotif sebelumnya | |
| 3 | - | Backer & Rueb | 1895 | ||
| 4 | B1603 | Hohenzollern | 1896 | ||
| 5 | B1604 | ||||
| 6 | B1605 | Pernah digunakan PsSM dengan penomoran PsSM 6 | |||
| 7 | B1606 | 1897 | Pernah digunakan PsSM dengan penomoran PsSM 7 | ||
| 8 | B1607 | Dirucat pada masa penduduknya Jepang | |||
| 9 | B1608 | ||||
| C25 | 11 | C2501 | Hanomag | 1913 | Disimpan di Taman Mini Indonesia Indah |
| 12 | C2502 | Dijual dan dirucat di KPH Cepu | |||
| 13 | C2503 | ||||
| 14 | C2504 | 1921 | |||
| 15 | C2505 | ||||