Prancis Merdeka adalah pemerintahan perlawanan yang mengklaim sebagai pemerintahan sah Prancis setelah pembubaran Republik Ketiga selama Perang Dunia II. Dipimpin oleh Jenderal Charles de Gaulle, Prancis Merdeka didirikan sebagai pemerintahan pengasingan di London pada Juni 1940 setelah Jatuhnya Prancis ke tangan Jerman Nazi. Pemerintah ini bergabung dengan negara-negara Sekutu dalam memerangi pasukan Poros melalui Pasukan Kemerdekaan Prancis, mendukung perlawanan di Prancis yang diduduki Nazi, yang dikenal sebagai Pasukan Dalam Negeri Prancis, dan memperoleh pijakan strategis di beberapa koloni Prancis di Afrika.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Prancis Merdeka | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1940–1944 | |||||||||
Lagu kebangsaan: "La Marseillaise"code: fr is deprecated (resmi) "Chant des Partisanscode: fr is deprecated " (tidak resmi)[1] ("Lagu Para Partisan") | |||||||||
Lihat legenda peta untuk deskripsi warna; biru langit = koloni di bawah kendali Prancis Merdeka setelah Operasi Torch | |||||||||
| Status | Pemerintahan dalam pengasingan (hingga November 1942) Pemerintahan transisi atas wilayah yang belum diduduki dan dibebaskan (setelah November 1942) | ||||||||
| Ibu kota | Paris (de jure) London (de facto) (hingga November 1942) Brazzaville (de jure dan de facto) (1940–1942) Aljir (de facto) (seletah November 1942) | ||||||||
| Bahasa yang umum digunakan | Prancis, lainnya | ||||||||
| Agama | Negara sekuler | ||||||||
| Demonim | Prancis | ||||||||
| Ketua Komite Nasional | |||||||||
• 1940–1944 | Charles de Gaulle | ||||||||
| Era Sejarah | Perang Dunia II | ||||||||
• Banding de Gaulle | 18 Juni 1940 | ||||||||
• Dewan Pertahanan Kekaisaran | 11 Juli 1940 | ||||||||
• Komite Nasional Prancis | 24 September 1941 | ||||||||
• Komite Pembebasan Nasional | 3 Juni 1943 | ||||||||
• Konferensi Brazzaville | 8 Februari 1944 | ||||||||
| 3 Juni 1944 | |||||||||
| |||||||||
| Bagian dari seri tentang |
| Sejarah Prancis |
|---|
Prancis Merdeka (Prancis: France librecode: fr is deprecated ) adalah pemerintahan perlawanan yang mengklaim sebagai pemerintahan sah Prancis setelah pembubaran Republik Ketiga selama Perang Dunia II. Dipimpin oleh Jenderal Charles de Gaulle, Prancis Merdeka didirikan sebagai pemerintahan pengasingan di London pada Juni 1940 setelah Jatuhnya Prancis ke tangan Jerman Nazi. Pemerintah ini bergabung dengan negara-negara Sekutu dalam memerangi pasukan Poros melalui Pasukan Kemerdekaan Prancis ([Forces françaises libres] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan)), mendukung perlawanan di Prancis yang diduduki Nazi, yang dikenal sebagai Pasukan Dalam Negeri Prancis, dan memperoleh pijakan strategis di beberapa koloni Prancis di Afrika.
Setelah kekalahan Republik Prancis Ketiga oleh Jerman Nazi, Marsekal Philippe Pétain memimpin upaya untuk menegosiasikan gencatan senjata dan mendirikan negara boneka di Prancis, yakni Prancis Vichy. Menolak atas ide gencatan tersebut, Charles de Gaulle melarikan diri ke Britania Raya dan berpidato pada 18 Juni menyerukan agar Prancis tetap berjuang melawan Jerman mengajak rakyat Prancis untuk bergabung dengan Pasukan Kemerdekaan Prancis. Pada tanggal 27 Oktober 1940, Dewan Pertahanan Kekaisaran (Conseil de défense de l'Empire)—yang kemudian menjadi Komite Nasional Prancis (Comité national français atau CNF)—dibentuk untuk mengatur wilayah-wilayah Prancis di Afrika tengah, Asia, dan Oseania yang telah menanggapi seruan tanggal 18 Juni.
Pada 18 Juni 1940 melalui siaran radio BBC kepada rakyat Prancis, de Gaulle berpidato mengajak seluruh pasukan, pelaut, dan pilot Prancis untuk melanjutkan perlawanan melawan Jerman:
"Prancis tidak sendiri! Ia tidak sendirian! Ia memiliki sebuah kekaisaran dibelakangnya! Bersama dengan Kekaisaran Britania, ia bisa membentuk blok yang menguasai lautan dan melanjutkan perjuangan. Ia bisa, seperti Inggris, mengambil sumber daya yang tak terhingga dari Amerika Serikat!"[2]
Kabinet Britania Raya pada awalnya memiliki kekhawatiran bahwa pidato de Gaulle akan membuat Petain marah dan memberikan Angkatan Laut Prancis kepada Kriegsmarine,[3] namun Perdana Menteri Britania Raya Winston Churchill, walaupun memiliki kekhawatirannya sendiri, menyetujui isi pidato de Gaulle.
Di Prancis, pidato 'Permintaan 18 Juni' tidak secara luas didengar oleh masyarakat namun bersama dengan siaran BBC[4] yang ia siarkan terus menerus di beberapa hari kemudian, dikenang luas di Prancis sebagai suara maruah nasional dan seruan pembebasan. De Gaulle berhasil mengobarkan kembali api perjuangan Prancis dan rakyat Prancis kembali melawan, baik di daratan Prancis maupun di wilayah jajahannya.
Capitaine de corvettecode: fr is deprecated Thierry d'Argenlieu[5] menyarankan agar bendera Prancis ditambahkan dengan simbol Salib Lorraine sebagai bendera Prancis Merdeka. Salib Lorraine dipilih untuk mengenang kegigihan Jeanne d'Arc, pahlawan nasional Prancis dan juga santo pelindungnya yang dimana tanah kelahirannya dan asal muasa simbol tersebut dianeksasi oleh Jerman sebagai Elsaß-Lothringen, dan juga sebagai respon terhadap simbol nasional sosialisme, swastika Nazi yang dikibarkan Jerman.[6]
Dalam perintah umum No. 2 tanggal 3 Juli 1940, Wakil Laksamana Émile Muselier, dua hari setelah menjabat sebagai kepala angkatan laut dan udara Prancis Merdeka, menciptakan bendera angkatan laut yang menampilkan warna Prancis dengan salib Lorraine merah, dan kokarde yang juga menampilkan salib Lorraine. Hingga saat ini, kapal-kapal tempur moderen Marine Nationale yang dinamakan atas kapal-kapal yang ikut dalam Angkatan Laut Prancis Merdeka memiliki hak khusus untuk mengibarkan bendera tersebut sebagai tanda kehormatan.
Dari Juni 1940 sampai Februari 1943, konsesi Prancis di Guangzhouwan di Tiongkok Selatan berada di administrasi Prancis Merdeka. Republik Tiongkok setelah penaklukan Prancis oleh Jerman mengakui Prancis Merdeka yang berbasis di London sebagai pemerintah Prancis yang sah dan membangun hubungan diplomatik dengan mereka. Selama tiga tahun tersebut, Guangzhouwan tidak diusik oleh Jepang karena mereka dilindungi oleh Tiongkok. Pada Februari 1943, Jepang menginvasi wilayah tersebut.[7]
Selama 1942 di Afrika Utara, Pasukan Kekaisaran Britania Raya melakukan kampanye darat yang putus asa melawan Jerman dan Italia untuk mencegah hilangnya Mesir dan Terusan Suez yang vital. Di sini, bertempur di gurun Libya yang keras, tentara Prancis Merdeka menunjukkan keberanian mereka. Jenderal Marie Pierre Koenig dan unitnya—Brigade Infanteri Prancis Merdeka ke-1—melawan Korps Afrika di Pertempuran Bir Hakeim pada Juni 1942, meskipun pada akhirnya mereka terpaksa mundur, karena pasukan Sekutu mundur ke Al Alamain, titik terendah mereka dalam kampanye Afrika Utara.[8] Koenig mempertahankan Bir Hakeim dari 26 Mei sampai 11 Juni melawan pasukan Jerman dan Italia yang lebih besar dibawah pimpinan Generaloberst Erwin Rommel. Pertempuran ini membuktikan bahwa pasukan Prancis Merdeka dapat diandalkan oleh pihak Sekutu sebagai pasukan yang gigih. Pada 12 Juni 1942, jenderal Britania Claude Auchinleck memberikan komentar mengenai pertempuran tersebut: "Perserikatan Bangsa-Bangsa harus dipenuhi dengan kekaguman dan rasa terima kasih demi menghormati pasukan Prancis ini dan Jenderal Koenig yang berani!".[9] Bahkan dari pihak musuh, Koenig mendapatkan pujian dari Adolf Hitler. Hitler memberitahu jurnalis Jerman Lutz Koch yang baru saja kembali dari Bir Hakeim:
Kalian dengar, tuan-tuan? Ini adalah bukti baru yang saya selalu asumsi benar! Prancis adalah, setelah kita, pasukan terbaik! Bahkan saat angka kelahiran mereka saat ini, Prancis selalu bisa memobilisasi ratusan divisi! Setelah perang ini, kita harus bisa mencari sekutu yang bisa mengepung negara yang mampu melakukan prestasi militer yang membuat dunia takjub seperti yang mereka lakukan sekarang di Bir Hakeim![10]
Generalmajor Friedrich von Mellenthin menulis di memoarnya Panzer Battles,
[S]epanjang berlangsungnya perang gurun pasir, kami tidak pernah menemukan pertahanan yang lebih heroik dan berkelanjutan.[11][12]
Resimen Normandie-Niemen, didirikan atas saran Charles de Gaulle, adalah sebuah resimen pesawat tempur di Angkatan Udara Prancis Merdeka yang bertempur di Front Timur di Palagan Eropa dalam Perang Dunia II. Resimen ini dikenal sebagai satu-satunya resimen udara dari negara Sekutu Eropa Barat yang berjuang bersama Angkatan Udara Uni Soviet (kecuali di beberapa saat ketika RAF dan USAAF mengintervensi) dan satu-satunya resimen dari Eropa Barat yang berjuang bersama Uni Soviet sampai akhir perang.
Unit tersebut adalah GC3 (Groupe de Chasse 3 atau Grup Tempur ke-3) di Angkatan Udara Prancis Merdeka, yang pertama kali dipimpin oleh Jean Tulasne. Unit ini dibentuk pada pertengahan tahun 1943 selama Perang Dunia II. Awalnya, grup ini terdiri dari sekelompok pilot tempur Prancis yang dikirim untuk membantu pasukan Soviet atas saran Charles de Gaulle, pemimpin Pasukan Prancis Merdeka, yang merasa penting bahwa prajurit Prancis bertugas di semua front dalam perang. Resimen tersebut bertempur dalam tiga kampanye atas nama Uni Soviet antara 22 Maret 1943 dan 9 Mei 1945, di mana selama waktu itu mereka menghancurkan 273 pesawat musuh dan menerima banyak penghargaan, pujian, dan dekorasi dari Prancis dan Uni Soviet, termasuk Légion d'Honneur Prancis dan Orde Panji Merah Soviet. Josef Stalin, sebagai bentuk apresiasi, memberikan resimen tersebut dengan nama Niemen atas partisipasi mereka di Pertempuran Sungai Niemen.
Setelah Plot 20 Juli yang gagal, Hitler memerintahkan agar Paris dihancurkan apabila dikuasai oleh Sekutu, perintah yang sama seperti Penghancuran Warsawa.
Mengetahui ini dan opsi strategi lain, Jenderal Dwight D. Eisenhower awalnya berencana untuk melewati Paris. Pada saat itu, masyarakat Paris mengadakan unjuk rasa melawan otoritas pendudukan Jerman pada 14 Agustus 1944. Hal itu kemudian meningkat menjadi pemberontakan besar-besaran FFI beberapa hari kemudian. Saat pasukan Sekutu menunggu di dekat Paris, de Gaulle dan pemerintah Prancis Merdeka-nya menekan Jenderal Eisenhower. De Gaulle sangat marah mengenai penundaan tersebut dan ia tidak akan membiarkan rakyat Paris dibantai begitu saja seperti apa yang terjadi di Warsawa selama Penghancuran Warsawa. De Gaulle kemudian memerintahkan Jenderal Philippe Leclerc de Hauteclocque untuk menyerang Paris tanpa bantuan Sekutu. Eisenhower pada akhirnya setuju untuk membantu de Gaulle dan melepaskan Divisi Infanteri ke-4 Amerika Serikat untuk membantu serangan Leclerc.
Markas Besar Tertinggi Pasukan Ekspedisioner Sekutu (SHAEF) meminta Pasukan Prancis Merdeka untuk menduduki kembali Paris dengan divisi kulit putih namun hal ini mustahil dilakukan karena sukarelawan dari Afrika Barat yang sangat banyak.[13] Jenderal Leclerc mengirimkan pasukan pendahulu kecil untuk memasuki Paris, dengan pesan bahwa 2e DB (terdiri dari 10.500 orang Prancis, 3.600 orang Maghrebi[14][15] dan sekitar 350 orang Spanyol[16] di kompi ke-9 Batalyon ke-3 Resimen Marche du Tchad yang sebagian besar terdiri dari orang-orang buangan Republik Spanyol[17]) akan berada di sana pada hari berikutnya. Pasukan ini dipimpin oleh Kapten Raymond Dronne, dan mendapat kehormatan menjadi unit Sekutu pertama yang memasuki Paris mendahului Divisi ke-2 Blindée. Batalyon Komando Marinir Fusilier ke-1 yang dibentuk dari Marinir Fusilier Angkatan Laut Prancis Merdeka yang telah mendarat di Pantai Sword juga termasuk di antara pasukan Prancis Merdeka pertama yang memasuki Paris.