Prajuritkulon adalah salah satu dari tiga kecamatan di Kota Mojokerto. Prajuritkulon merupakan kecamatan paling barat dari Kota Mojokerto. Sebagian besar wilayah kecamatan ini awalnya merupakan bagian dari Kecamatan Sooko di Kabupaten Mojokerto. Kemudian pada tahun 1982, Kecamatan Prajuritkulon dibentuk dengan mengambil empat desa dari Sooko. Pada tahun 2015, 2 kelurahan di timur digabungkan dengan 4 kelurahan dari Magersari untuk membentuk kecamatan baru bernama Kranggan. Pusat kecamatan ini berada di Kelurahan Prajuritkulon dengan total kelurahan sebanyak enam.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Prajuritkulon | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kota | Mojokerto | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Riaji, SH | ||||
| Populasi (2024) | |||||
| • Total | 43.194 jiwa | ||||
| Kode pos | 61323 - 61328 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.76.01 | ||||
| Kode BPS | 3576010 | ||||
| Luas | 7,18 km² | ||||
| Desa/kelurahan | 6 | ||||
| |||||
Prajuritkulon (sering disingkat Pralon) adalah salah satu dari tiga kecamatan di Kota Mojokerto. Prajuritkulon merupakan kecamatan paling barat dari Kota Mojokerto. Sebagian besar wilayah kecamatan ini awalnya merupakan bagian dari Kecamatan Sooko di Kabupaten Mojokerto. Kemudian pada tahun 1982, Kecamatan Prajuritkulon dibentuk dengan mengambil empat desa dari Sooko.[1] Pada tahun 2015, 2 kelurahan di timur digabungkan dengan 4 kelurahan dari Magersari untuk membentuk kecamatan baru bernama Kranggan.[2] Pusat kecamatan ini berada di Kelurahan Prajuritkulon dengan total kelurahan sebanyak enam.
Di antara 6 kelurahan yang ada di Prajuritkulon, terdapat dua kelurahan yang berada di pusat kota dan merupakan kawasan bersejarah yaitu Kelurahan Kauman dan Mentikan. Kauman sendiri berada di barat alun-alun dan terdapat Masjid Agung Al-Fattah. Dari arah alun-alun ke selatan terdapat Jalan Mojopahit dan di dekat jalan tersebut terdapat Pasar Kliwon. Baik Jalan Mojopahit maupun Pasar Kliwon merupakan pusat perniagaan Kota Mojokerto dan sudah ada sejak zaman kolonial Belanda, tetapi khusus Pasar Kliwon sudah berangsur-angsur mulai sepi.[3][4] Beberapa tempat terkenal lain di kecamatan ini di antaranya Museum Gubug Wayang, RSUD Dr. Wahidin Sudirohusodo, kantor DPRD, dan hutan kota Pulorejo.

Prajuritkulon adalah kecamatan paling barat dari Kota Mojokerto dan berpusat di Kelurahan Prajuritkulon. Geografi kecamatan ini terpotong oleh beberapa sungai seperti Sungai Brangkal dan Watudakon, keduanya berhilir di Sungai Brantas yang menjadi batas utara dari Prajuritkulon. Banyak wilayahnya masih berupa persawahan terutama di bagian barat. Hal tersebut karena sebagian besar wilayah kecamatan ini (terutama di barat Sungai Brangkal) merupakan perluasan Kota Mojokerto yang terjadi pada tahun 1982 dengan mengambil beberapa desa dari Kabupaten Mojokerto. Sedangkan wilayah Prajuritkulon di timur Sungai Brangkal (Kauman dan Mentikan) merupakan kawasan urban dan padat penduduk.[5]
Batas wilayah Kecamatan Prajuritkulon adalah sebagai berikut:[6]
| Utara | Sungai Brantas |
| Timur | Kecamatan Kranggan dan Kecamatan Magersari |
| Selatan | |
| Barat |


Di antara 6 kelurahan yang ada di Kecamatan Prajuritkulon, hanya 2 kelurahan yang merupakan bagian dari Kota Mojokerto sejak pembentukannya pada masa kolonial Belanda, sedangkan sisanya merupakan perluasan kota. Dua kelurahan tersebut adalah Kauman dan Mentikan yang berada di barat alun-alun dan dibatasi oleh Sungai Brangkal di baratnya. Sekitar tahun 1838 pada masa Raden Tumenggung Tjondronegoro II, pusat pemerintahan Kabupaten Mojokerto dipindahkan dari Desa Japan (Kecamatan Sooko) ke wilayah Kota Mojokerto sekarang. Pusat pemerintahan Mojokerto mulai ditata dengan dibangunnya alun-alun sebagai pusat kegiatan masyarakat. Bagian timur alun-alun masuk wilayah Magersari dan dijadikan pusat pemerintahan beserta pendopo, sedangkan bagian barat alun-alun dibangun Masjid Agung Al-Fattah dan disekelilingnya terdapat kampung islami bernama Kauman. Belanda juga membangun jalan poros di selatan alun-alun yaitu Jalan Mojopahit yang saat itu dinamai Kediristraat (Jalan Kediri) karena menjadi jalan raya utama dari arah Kediri. Di sebelah barat dari jalan ini juga terdapat Pasar Kliwon yang sekarang masuk Kelurahan Mentikan. Pasar Kliwon dan Jalan Mojopahit merupakan pusat perniagaan dari Kota Mojokerto sejak zaman kolonial.[3]
Kota Mojokerto terbentuk terpisah dari Kabupaten Mojokerto pada tahun 1918 dan hanya terdiri dari 1 kecamatan yaitu Kecamatan Kota Mojokerto. Kemudian tahun 1982, Kota Mojokerto yang terlalu kecil mengalami perluasan dengan mengambil beberapa desa dari Kabupaten Mojokerto termasuk Kecamatan Sooko. Empat desa dari Sooko di barat Sungai Brangkal menjadi bagian dari Kota Mojokerto yaitu Desa Prajuritkulon, Surodinawan, Blooto, dan Pulorejo. Kelurahan Kauman, Mentikan, Miji, dan Kranggan digabungkan dengan empat desa hasil perluasan tersebut untuk menjadi sebuah kecamatan baru. Prajuritkulon dipilih sebagai ibu kota sehingga nama tersebut disematkan sebagai nama kecamatan. Prajuritkulon dibentuk bersamaan dengan Kecamatan Magersari.[1] Kemudian pada tahun 2015, Kelurahan Miji dan Kranggan dibentuk menjadi Kecamatan Kranggan dengan mengambil tambahan 4 Kelurahan dari Kecamatan Magersari.[2]
Kecamatan Prajurit Kulon terdiri dari 6 kelurahan yang dibagi menjadi beberapa lingkungan, yakni sebagai berikut:[7]
| No. | Nama Kelurahan | Nama Lingkungan | Ref |
|---|---|---|---|
| 1 | Blooto | Blooto, Kemasan, Trenggilis | [7] |
| 2 | Kauman | Kauman, Keradenan, Sidogede | [7] |
| 3 | Mentikan | Mentikan, Cakarayam I, Cakarayam II, Sidomulyo | [7] |
| 4 | Prajuritkulon | Prajuritkulon, Cinde, Jayeng, Sabuk | [7] |
| 5 | Pulorejo | Balongcangkring I, Balongcangkring II, Balongkrai, Pulokulon, Pulowetan | [7] |
| 6 | Surodinawan | Surodinawan, Kedungmulang, Ketidur, Murukan, Pekuncen, Perum CSE, Suromulang, Suromurukan | [7][8] |

