Perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur adalah sebuah perumpamaan Yesus yang tercantum dalam Matius 21:33-44, Markus 12:1-12, dan Lukas 20:9-19. Selain itu juga ditemukan dalam suatu karya tulis non-kanonik yang dikenal sebagai Injil Tomas. Perumpamaan ini melukiskan seorang pemilik lahan yang membuka kebun anggur dan menyewakannya kepada para penggarap, yang oleh sang pemilik dipandang gagal melaksanakan tugas mereka.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur adalah sebuah perumpamaan Yesus yang tercantum dalam Matius 21:33-44, Markus 12:1-12, dan Lukas 20:9-19. Selain itu juga ditemukan dalam suatu karya tulis non-kanonik yang dikenal sebagai Injil Tomas. Perumpamaan ini melukiskan seorang pemilik lahan yang membuka kebun anggur dan menyewakannya kepada para penggarap, yang oleh sang pemilik dipandang gagal melaksanakan tugas mereka.
Penafsiran Kristen yang umum adalah bahwa perumpamaan ini berbicara tentang para imam kepala dan kaum Farisi, serta disampaikan kepada orang-orang yang hadir di Bait Allah di Yerusalem pada pekan terakhir menjelang Yesus wafat.
Tuan tanah tersebut melambangkan Allah dan para penggarap kebun anggur adalah orang-orang Israel (lebih tepatnya para pemimpin agama seperti orang-orang Farisi. Lihat Matius 21:45). Allah berulang kali mengirim utusannya, nabi-nabi, kepada orang Israel dengan harapan mereka akan bertobat, tetapi orang-orang Israel tidak mendengarkan mereka dan bahkan membunuhi nabi-nabi tersebut. Akhirnya Allah mengirimkan sang Anak yang dikasihi, yaitu Yesus, tetapi ketika orang Israel melihat dan mendengar Yesus, mereka membunuhnya (dalam hal ini perumpamaan Yesus tersebut menubuatkan tentang apa yang akan terjadi pada Yesus)
Allah kemudian akan menghukum Israel dan memberikan keselamatan kepada bangsa-bangsa lain yang belum mengenal Tuhan seperti tertulis pada Matius 21:42-42
Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil daripadamu [orang Israel] dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. (Dan barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur dan barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk.)
Dalam perumpamaan ini, Yesus Kristus menyebut kutipan dari Mazmur 118:22-23:

Semua versi perumpamaan ini pada ketiga Injil sinoptik menyatakan bahwa para imam-imam kepala yang duduk dalam mahkamah agama Sanhedrin memahami bahwa perumpamaan ini ditujukan kepada mereka, dan bahwa merekalah yang digambarkan sebagai "para penggarap kebun anggur". Istilah penggarap dapat diterjemahkan sebagai "penyewa" atau "petani anggur" yaitu mereka yang menggarap lahan dari para pemilik tanah. Jika pemilik tanah itu tidak mempunyai ahli waris, para penggarap itu mempunyai hak pertama untuk memiliki tanah tersebut.[1] Menara jaga dan tempat memeras anggur berturut-turut ditafsirkan sebagai "tempat kudus" (atau Bait Allah) dan "altar".[2]
Gambaran "kebun anggur" diambil dari Kitab Yesaya pasal 5. Penggunaan "kebun anggur" sebagai kiasan untuk "Israel" merupakan praktik umum para ahli agama pada waktu itu.[1] Dapat juga merupakan perjanjian Allah dengan umat Israel, atau mungkin pula dengan seluruh dunia.[3] Hasil kebun anggur itu dapat dilihat sebagai kiasan akan semua hal baik yang dihasilkan oleh umat, yang atasnya pihak berkuasa tidak mau berbagi dengan Allah, tetapi berupaya mempertahankannya untuk dinikmati sendiri.[4]
Pemilik kebun anggur adalah Allah dan sang anak adalah Yesus. Penafsiran berdasarkan tradisi tentang pemilik yang berangkat meninggalkan kebun anggurnya diungkapkan oleh Erasmus untuk menyatakan bahwa Allah membiarkan kehendak bebas untuk bertindak di dalam diri manusia, sebagaimana dikatakan oleh Beda Venerabilis: "Ia tampaknya meninggalkan kebun anggur supaya dapat meninggalkan para pemelihara kebun anggur itu pilihan tindakan yang bebas."[5][6]
"Para hamba" umumnya ditafsirkan sebagai para nabi Israel, ataupun juga para utusan Allah sebelumnya.[7] Terdapat perdebatan seputar makna "orang-orang lain" yang kemudian dipercayai untuk menggarap kebun anggur itu. Ada yang menafsirkannya sebagai umat Yahudi lain, ada yang menafsirkannya sebagai umat Kristen, atau bahkan umat Kristen Yahudi.[4] Pada umumnya orang-orang lain tersebut ditafsirkan sebagai komunitas Kristen yang baru terbentuk setelah itu.[8]
Perumpamaan penggarap-penggarap kebun anggur | ||
| Didahului oleh: Perumpamaan dua orang anak |
Injil Matius pasal 21 |
Diteruskan oleh: Perumpamaan perjamuan kawin |
| Didahului oleh: Kuasa Yesus dipertanyakan |
Injil Markus pasal 12 |
Diteruskan oleh: Hal membayar pajak kepada Kaisar |
| Injil Lukas pasal 20 | ||
He went into a far country, not by a change of place, for he is every where, but by leaving the workmen the power of free-will, either to work or not work; in the same manner as a man in a far country cannot oversee his husbandmen at home, but leaves them to themselves. Ven. Bede.