Pertempuran Xiaoting, juga dikenal sebagai Pertempuran Yiling dan Pertempuran Yiling dan Xiaoting, adalah pertempuran antara negara Shu dan Wu antara tahun 221 dan 222 pada awal Zaman Tiga Negara di Tiongkok. Pertempuran ini penting karena Wu mampu mengubah situasi dari serangkaian kekalahan awal menjadi kebuntuan defensif, sebelum melanjutkan untuk meraih kemenangan yang menentukan atas Shu. Kemenangan Wu menghentikan invasi Shu dan menyebabkan kematian Liu Bei, kaisar pendiri Shu.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Pertempuran Xiaoting | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian dari Peperangan Zaman Tiga Negara | |||||||
Pertempuran Xiaoting/Yiling | |||||||
| |||||||
| Pihak terlibat | |||||||
| Wu |
Shu; pasukan suku dari Wuling | ||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||
|
Lu Xun Ding Feng |
Liu Bei Shamoke Ma Liang | ||||||
| Kekuatan | |||||||
| ≈50.000[2][3][4] | lebih dari 40.000[4][5] (tidak termasuk pasukan suku dari Wuling) | ||||||
| Korban | |||||||
| lebih dari 80.000[6] | |||||||
| Pertempuran Xiaoting | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Hanzi tradisional: | 猇亭之戰code: zh is deprecated | ||||||
| Hanzi sederhana: | 猇亭之战code: zh is deprecated | ||||||
| |||||||
| Battle of Yiling | |||||||
| Hanzi tradisional: | 夷陵之戰code: zh is deprecated | ||||||
| Hanzi sederhana: | 夷陵之战code: zh is deprecated | ||||||
| |||||||
Pertempuran Xiaoting, juga dikenal sebagai Pertempuran Yiling dan Pertempuran Yiling dan Xiaoting, adalah pertempuran antara negara Shu dan Wu antara tahun 221 dan 222 pada awal Zaman Tiga Negara di Tiongkok. Pertempuran ini penting karena Wu mampu mengubah situasi dari serangkaian kekalahan awal menjadi kebuntuan defensif, sebelum melanjutkan untuk meraih kemenangan yang menentukan atas Shu. Kemenangan Wu menghentikan invasi Shu dan menyebabkan kematian Liu Bei, kaisar pendiri Shu.
Pada akhir tahun 219, Lü Meng, seorang jenderal yang mengabdi pada Sun Quan, memimpin pasukan untuk menyerang wilayah-wilayah Liu Bei di Provinsi Jing bagian selatan (meliputi daerah-daerah dari Hubei dan Hunan saat ini). Guan Yu, jenderal Liu Bei yang bertugas mempertahankan Provinsi Jing, sedang berada dalam Pertempuran Fancheng dan tidak mengetahui tentang invasi tersebut hingga setelah dia kembali dari kemenangan Pirisnya di Fancheng. Dia dikepung oleh pasukan Sun Quan di Maicheng (麥城; Desa Maicheng, Kota Lianghe, Dangyang, Hubei saat ini), ditangkap dalam penyergapan ketika mencoba untuk meloloskan diri dari pengepungan, dan akhirnya dieksekusi oleh pasukan Sun Quan di Linju (臨沮; Kabupaten Nanzhang, Hubei saat ini).[7]
Pada 25 November 220, Kaisar Xian, raja boneka dari Dinasti Han Timur, turun takhta demi Cao Pi dan mengakhiri Dinasti Han Timur. Pada 11 Desember, Cao Pi mendirikan negara Wei untuk menggantikan Dinasti Han Timur menjadi kaisar pertamanya.[8] Pada 10 Mei 221, Liu Bei menyatakan dirinya sebagai kaisar di Wudan (武擔; sebuah bukit di barat laut dari Chengdu, Sichuan saat ini)[9][10] dan mendirikan sebuah negara baru, secara historis dikenal sebagai Shu, untuk menantang klaim Cao Pi atas takhta Han. Sekitar waktu yang sama, Sun Quan memindahkan ibu kota wilayahnya dari Kabupaten Gong'an ke Kabupaten E (鄂縣; Ezhou, Hubei saat ini), yang namanya diganti menjadi "Wuchang" (武昌) olehnya.[11] Pada 23 September 221, Sun Quan berjanji setia kepada Cao Pi dan menjadi bawahan dari negara Wei; sebagai imbalan, Cao Pi menganugerahi Sun Quan gelar "Raja Wu" (吳王).[12]
Liu Bei ingin membalas kematian Guan Yu dan mendapatkan Provinsi Jing kembali, maka ia melaksanakan persiapan untuk perang melawan Sun Quan.[13] Ketika Zhao Yun, seorang general di bawah Liu Bei, berusaha untuk menghalangi Liu Bei dari berperang melawan Sun Quan, Liu Bei mengabaikan dia. Lalu, ketika Liu Bei meluncurkan kampanye melawan Sun Quan, dia tidak membawa Zhao Yun dan meninggalkannya untuk menjaga Jiangzhou. Qin Mi, seorang pejabat di bawah Liu Bei, juga menyarankan tuannya untuk tidak berperang melawan Sun Quan tetapi berakhir dengannya dilempar ke dalam penjara.[13]
Pada fase awal pertempuran, Sun Huan memimpin pasukan terpisah untuk menyerang pasukan Shu di Yidao namun ia berakhir dikepung oleh musuh. Ia meminta bantuan kepada Lu Xun namun Lu Xun menolak, membuat jenderal-jenderal Wu ketakutan dan memohonnya, "Sun Huan merupakan kerabat hamba kita. Ia sekarang sedang dikepung, bukankah seharusnya kita membantunya?". Lu Xun berkata, "Ia memiliki kepercayaan dari tentaranya, bentengnya dijaga ketat, dan ia memiliki persediaan cukup. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Begitu rencana saya sudah matang, walaupun kita tidak membantunya, pengepungan terhadapnya akan berhenti secara langsung." Sun Huan awalnya sangat marah kepada Lu Xun namun setelah Lu Xun berhasil mengalahkan Liu Bei secara telak, Sun Huan menghampirinya dan berkata kepada Lu Xun, "Awalnya, saya memang kecewa dan merasa dendam terhadapmu saat anda memutuskan untuk tidak membantu saya. Namun sekarang, setelah kemenangan ini, saya melihat bahwa anda punya cara kerja sendiri."[14]
Banyak jenderal Wu yang ikut di pertempuran ini merupakan jenderal yang antara pengikut Sun Ce atau keluarga Sun Quan maka mereka merasa sombong saat melihat Lu Xun akan menjadi panglima mereka dan tidak ingin mendegar perintah Lu Xun.[15] Namun, Lu Xun kemudian menempatkan pedangnya diatas meja dan berkata:
"Liu Bei sangat dikenal se-Kekaisaran dan bahkan Cao Cao takut terhadapnya. Sekarang, ia berada di perbatasan kita dan kita akan bertempur keras untuk kedepannya. Tuan-tuan semua sudah menerima restu Negara, jadi kalian harus bekerja sama dengan harmonis dan bersama bekerja untuk mengalahkan musuh untuk membayar kembali kebajikan Negara. Kalian seharusnya tidak bersikap seperti kalian sekarang. Saya mungkin hanya seorang cedekiawan namun saya menerima perintah dari Tuan kita. Alasan kenapa Negara meminta kalian untuk menahan diri dan turut kepada komando saya karena saya memiliki nilai sedikit dan saya bisa menahan diri saat dipermalukan demi mencapai tugas yang lebih besar. Kalian masing-masing mempunyai tugas jadi kalian tidak bisa menghindar dari itu! Peraturan militer sudah lama diberlakukan. Jangan dilanggar."[16]
Jenderal-jenderal Wu kemudian memberi hormat kepada Lu Xun setelah menang melawan Liu Bei yang sebagian besar dicapai karena strateginya. Di laporan kepada Sun Quan, Lu Xun tidak mencantumkan insiden ini. Sun Quan hanya mengetahui hal ini setelah perang usai. Ia menanyakan Lu Xun kenapa hal tersebut tidak dilaporkan kepadanya dan Lu menjawab bahwa ia menghargai jenderal-jenderal itu walaupun kerap membangkang terhadap perintahnya dan memutuskan tidak melapor kepadanya karena Lu Xun mementingkan pembangunan hubungan kerja yang baik serta mencapai tujuan untuk mengakhiri agresi Shu. Sun Quan puas dengan jawaban Lu Xun dan memberikan hadiah kepadanya.[17]
Setelah pertempuran, Xu Sheng, Pan Zhang, Song Qian dan jenderal lainnya menyarankan kepada Sun Quan untuk menyerang Liu Bei yang berada di Baidicheng. Sun Quan kemudian menanyakan pendapat Lu Xun yang bersama Zhu Ran dan Luo Tong meminta Sun Quan untuk mewaspadai gerakan pasukan Cao Pi. Ketiganya bahkan berkata bahwa saat Cao Pi berjanji akan membantu melawan Liu Bei, Cao Pi sebenarnya memiliki niat buruk dan ingin menginvasi Sun Quan. Sun Quan mendengarkan pendapat mereka dan menarik sebagian besar pasukannya yang melawan Liu Bei. Tidak lama kemudian, Cao Pi mengempur Wu dari tiga arah.[18]
Liu Bei mendengar bahwa Cao Pi menyerang Wu. Ia kemudian menulis surat kepada Lu Xun:
(吳錄曰:劉備聞魏軍大出,書與遜云:「賊今已在江陵,吾將復東,將軍謂其能然不?」) ''Wu Lu'' annotation in ''Sanguozhi'' vol. 58.</ref>"}},"i":0}}]}' id="mwrQ"/>"Musuh (Wei) sudah di Jiangling sekarang. Jika saya melancarkan serangan lagi, menurut anda apakah saya bisa berhasil?"[19]
Lu Xun membalas surat Liu Bei:
(遜荅曰:「但恐軍新破,創痍未復,始求通親,且當自補,未暇窮兵耳。若不惟筭,欲復以傾覆之餘,遠送以來者,無所逃命。」) ''Wu Lu'' annotation in ''Sanguozhi'' vol. 58.</ref>"}},"i":0}}]}' id="mwtA"/>"Saya takut bahwa pasukan anda baru saja mengalami kekalahan dan belum pulih. Sekarang saatnya untuk anda untuk merekonsiliasi, istirahat dan membangun kembali. Ini bukan saatnya bagi anda untuk menyerang kami lagi. Namun, jika anda tidak hati-hati dan memutuskan untuk menyerang dengan sisa pasukan anda, saya menjamin bahwa pasukan yang anda kerahkan tidak ada yang akan kembali hidup."[20]
Liu Bei jatuh sakit parah pada April 223. Sebelum mangkat, Liu Bei melantik putranya, Liu Shan sebagai Pangeran Mahkota dan menunjuk Zhuge Liang dan Li Yan sebagai wali penguasa untuk membantu Liu Shan memerintah. Setelah secara resmi menjabat, Zhuge Liang menegosiasikan perdamaian dengan Wu dan membangun kembali aliansi Sun-Liu guna melawan Wei.[21][22]