Pertempuran Jisr atau Pertempuran Jembatan merupakan pertempuran antara pasukan muslimin Khalifah Rasyidin di masa Umar bin Khathab melawan pasukan Persia Sasania di tahun 13 H atau 634 M dekat wilayah Kufah, tepi Sungai Eufrat setelah kemenangan muslimin dalam Pertempuran Namariq dan Kaskar. Pasukan muslimin dipimpin Abu Ubaid bin Mas'ud ats-Tsaqafi, sementara Rustum mengirim Bahman Jazawaih.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. (Januari 2026) |

Pertempuran Jisr (bahasa Arab: وقعة الجسرcode: ar is deprecated ) atau Pertempuran Jembatan (Quss An-Nathif)[1] merupakan pertempuran antara pasukan muslimin Khalifah Rasyidin di masa Umar bin Khathab melawan pasukan Persia Sasania di tahun 13 H atau 634 M dekat wilayah Kufah, tepi Sungai Eufrat setelah kemenangan muslimin dalam Pertempuran Namariq dan Kaskar. Pasukan muslimin dipimpin Abu Ubaid bin Mas'ud ats-Tsaqafi, sementara Rustum mengirim Bahman Jazawaih.[2]
Jalinus yang melarikan diri dari Pertempuran Kaskar, menghadap Rustum dan menyarankan Bahman untuk menjadi pemimpin perang.[1] Rustum menyerahkan kepadanya panji Kisra yang diberi nama Dirafsy Kabiyan (Panji agung) yang dijadikan Persia sebagai lambang kemenangan jika membawanya berperang. Bendera tersebut terbuat dari kulit harimau yang lebarnya sebanyak 8 depa (hasta), dan panjangnya 12 depa. Mereka bergerak hingga tiba tidak jauh dari tentara kaum muslimin. Jarak antara mereka dan tentara kaum muslimin hanya dibatasi oleh sungai besar yang terbentang di atasnya jembatan panjang. Jalinus ditempatkan di depan pasukan agar tidak melarikan diri lagi.[1]
Maka tentara Persia mengirim utusan kepada kaum muslimin dan berkata,"Silahkan kalian yang datang kepada kami, atau kami yang akan datang kepada kalian." Kaum muslimin (para sahabat) berkata kepada komandan mereka Abu Ubaid, "Suruh mereka menyeberangi sungai dan datang kepada kita." Namun Abu Ubaid yang mungkin merasa selalu menang berkata, "Mereka tidak lebih berani mati dibandingkan kita." Maka dia segera mengerahkan pasukannya menyerbu musuh dan bertemulah dua pasukan di depan jembatan yang sangat sempit, maka pecahlah pertempuran yang sangat dahsyat dan belum pernah terjadi sebelumnya.[2]
Pasukan Islam harnya berjumlah 10.000 personil. Di sisi lain tentara Persia datang dengan pasukan bergajah yang membawa gemerincing untuk menakut-nakuti kuda kaum muslimin. Setiap kali mereka menerobos kaum muslimin, pasukan berkuda kaum muslimin lari ketakutan dari pasukan bergajah disebabkan suara gemerincing lonceng yang dibawa gajah-gajah tersebut Hanya sedikit sekali kuda yang dapat bertahan. Jika kaum muslimin ingin menyerbu ke dalam pasukan lawan maka kuda-kuda mereka tidak berani maju mendekati pasukan bergajah, sementara tentara Persia memanahi mereka dari atas dengan leluasa hingga banyak tentara muslim terluka. Telah terbunuh 2.000 tentara kaum muslimin, maka segera Abu Ubaid mengubah taktik perang dan menginstruksikan kepada kaum muslimin untuk turun dari kuda dan membunuh gajah-gajah itu terlebih dahulu. Maka dengan segera pasukan Islam melompat dan berhasil membunuh seluruh gajah-gajah tersebut.[2]
Ketika itu pasukan Persia menempatkan seekor gajah putih yang paling besar di depan pasukannya. Maka dengan segera Abu Ubaid maju dan memotong belalainya dengan pedangnya. Gajah itu menjadi marah dan menjerit sekuatnya kemudian Abu Ubaid berusaha kembali menyerang, tetapi Gajah putih itu berhasil menendangnya dan menginjaknya hingga tewas. Setelah itu pengganti Abu Ubaid maju dan dia telah diwasiatkan sebelumnya untuk menjadi pimpinan, tetapi orang tersebut kembali gugur. Kemudian digantikan oleh pemimpin yang selanjutnya dari Bani Tsaqif hingga tujuh dari mereka telah tewas -sebelumnya mereka telah ditunjuk oleh Abu Ubaid untuk saling menggantikan yang lain jika tewas terbunuh- kemudian kepemimpinan pindah ke tangan al-Mutsanna bin Haritsah atas dasar wasiat dari Abu Ubaid pula.[2]
Ketika kaum mulimin melihat peristiwa ini mereka melemah, padahal hampir saja mereka memperoleh kemenangan seandainya mereka dapat bersabar. Namun, mereka menjadi lemah dan kekuatan mereka hilang, mereka lari tunggang langgang meninggalkan medan pertempuran, sementara tentara Persia dengan leluasa membunuhi mereka dari belakang hingga banyak sekali korban yang berjatuhan dan barisan tentara Islam telah kacau balau, mereka berlari menuju jembatan, dan akhirnya jembatan runtuh. Akhirnya sisa pasukan yang berada di medan pertempuran benar-benar tidak berdaya dan pasrah ditangan tentara Persia dan sebagian hanyut tenggelam di Sungai Eufrat sekitar 4.000 orang.[2]
Kemudian al-Mutsanna bergerak dan berhenti di tepi jembatan dari arah mereka datang -ketika mereka mulai kalah sebagian tentara melompat ke sungai dan tenggelam- maka al-Mutsanna menyeru, "Wahai manusia menyingkirlah dan aku akan bertahan di sisi jembatan ini dan tidak akan melewatinya hingga kita seluruhnya selamat dan pergi dari sini tanpa ada yang tersisa." Ketika orang-orang mulai mundur teratur ke arah yang lain maka al-Mutsanna yang terluka berjalan menjaga mereka bersama para jagoan Islam (Al Kalaj, Madz'ur, dan Ashim)[1] yang telah banyak terluka parah. Di antara pasukannya ada yang pergi ke padang luas tidak diketahui rimbanya, ada yang kembali ke Madinah dalam keadaan ketakutan termasuk Utsman bin Affan. Sisa pasukan yang terkumpul beristirahat di daerah Marwahah.[1]
Ketrka pasukan Persia hendak mengejar muslimin, mereka mendapat berita bahwa pasukan Persia yang ada di wilayah Madain (Ctesipon) mengalami perpecahan. Sebagian pasukan melakukan pembelotan terhadap Rustum hingga pasukan Persia terbelah menjadi dua kelompok. Penduduk Al Fahlawaj memihak kepada Rustum dan penduduk Persia sendiri berpihak kepada Al Fairuzan.[1]
Berita kekalahan ini dibawa oleh Abdullah bin Zaid bin Asim al-Mazini kepada Umar bin al-Khaththab yang sedang berada di atas mimbar. Selisih pertempuran ini hanya 40 hari dengan Pertempuran Yarmuk di Syam (Suriah). Setelahnya Umar kembali menggalang pasukan muslimin dan dikirim kembali ke Persia menuju Pertempuran Buwaib.[2]