Pemilihan umum federal Australia 2025 diselenggarakan pada Sabtu, 3 Mei 2025 untuk memilih anggota Parlemen ke-48 Parlemen Australia. Seluruh 150 kursi DPR dan 40 dari 76 kursi dari Senat Australia diperebutkan dalam pemilihan umum ini. Pemerintahan petahana Partai Buruh Australia pimpinan Anthony Albanese berhasil mempertahankan pemerintah dengan kemenangan telak. Hasil pemilihan umum ini bisa dianggap sebagai sebuah kekecewaan, dengan jajak pendapat menempatkan hasil pemilu sebagai pemerintah Buruh minoritas atau parlemen gantung. Berdasarkan hasil pemilu, Partai Buruh memenangkan kursi terbanyak di Dewan Perwakilan Australia sepanjang sejarah partai, memenangkan 93 kursi.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Pemilihan umum federal Australia 2025 | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
03 Mei 2025 (2025-05-03) | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Seluruh 150 kursi di Dewan Perwakilan Australia 76 untuk mayoritas 40 dari 76 kursi di Senat Australia | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Pemilih terdaftar | 18,098,797 | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Kandidat | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Peta persebaran suara
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Pemilihan umum federal Australia 2025 diselenggarakan pada Sabtu, 3 Mei 2025 untuk memilih anggota Parlemen ke-48 Parlemen Australia. Seluruh 150 kursi DPR dan 40 dari 76 kursi dari Senat Australia diperebutkan dalam pemilihan umum ini. Pemerintahan petahana Partai Buruh Australia pimpinan Anthony Albanese berhasil mempertahankan pemerintah dengan kemenangan telak.[2][3][4] Hasil pemilihan umum ini bisa dianggap sebagai sebuah kekecewaan, dengan jajak pendapat menempatkan hasil pemilu sebagai pemerintah Buruh minoritas atau parlemen gantung. Berdasarkan hasil pemilu, Partai Buruh memenangkan kursi terbanyak di Dewan Perwakilan Australia sepanjang sejarah partai, memenangkan 93 kursi (sampai dengan 13 Mei 2025).
Ini adalah kali keempat di mana pemerintah berhasil memenangkan 90 kursi atau lebih dalam pemilu federal—terakhir kali prestasi ini diraih adalah pada pemilu 2013 oleh Koalisi Liberal/Nasional pimpinan Tony Abbott. Ini adalah pertama kalinya satu partai, dan khususnya Partai Buruh, mencapai prestasi ini dan ini juga merupakan jumlah kursi terbesar kedua yang diraih oleh satu partai atau koalisi dalam sejarah pemilu Australia, lebih besar dari hasil pemilu 1975 dan sedikit kurang dari hasil pemilu 1996 (dengan 4 kursi yang masih tersisa untuk diperebutkan). Pemerintah Buruh yang dipilih ulang juga menjadi pemerintah petahana pertama sejak pemerintah Koalisi Harold Holt pada 1966 di mana pemerintah berhasil mempertahankan seluruh kursi pemerintah.
Partai Buruh meningkatkan mayoritas parlemennya dengan memperoleh kursi dari petahana di kedua sisi spektrum politik. Sementara itu, oposisi Koalisi Liberal-Nasional, mengalami perubahan besar terhadap mereka, terutama di daerah perkotaan.
Isu yang relevan selama kampanye adalah biaya hidup. Isu lainnya termasuk energi nuklir, perumahan, dan pertahanan.[5] Dalam kampanye, Koalisi berjanji akan membangun 7 pembangkit listrik tenaga nuklir jika dipilih sebagai pemerintah dalam jangka waktu 20 tahun, sementara Partai Buruh Australia berjanji membangun 1.2 juta rumah baru. Kedua partai mendukung inisiatif penaikkan anggaran pertahanan.
Australian Broadcasting Corporation (ABC) memprojeksikan masa jabatan kedua Partai Buruh dalam dua jam dan 30 menit setelah tempat pemungutan suara di negara-negara bagian pantai timur Australia ditutup. ABC juga melaporkan bahwa Peter Dutton, pemimpin utama dari Koalisi, kalah melawan seorang kader Buruh yang menantangnya. Pemilu ini mencetak sejarah di mana seorang Pemimpin Oposisi kalah di daerah pemilihannya sendiri. Pada 7 Mei 2025, ABC juga melaporkan bahwa ketua umum Partai Hijau Australia Adam Bandt kehilangan kursinya di Melbourne ke Partai Buruh. Dutton mengakui kekalahannya sesaat setelah pukul 9:30 malam AEST pada malam pemilihan, mengumumkan bahwa ia telah menelepon Albanese untuk memberi selamat kepadanya atas terpilihnya kembali Partai Buruh.[6][7][8]
Pada pemilihan umum sebelumnya pada 2022, Partai Buruh Australia pimpinan Anthony Albanese berhasil membentuk pemerintahan setelah 9 tahun di oposisi, memenangkan 77 kursi di Dewan Perwakilan Australia, cukup untuk meraih mayoritas dengan dua kursi. Koalisi Liberal/Nasional yang memerintah sebelumnya hanya meraih 58 kursi dan menempatkan diri ke oposisi. Bangku tengah yang dibentuk oleh partai lain dan politikus independen bertambah menjadi 16: 10 oleh politikus independen (termasuk 7 politikus yang teraffiliasi dengan Teal independents), 4 oleh Partai Hijau Australia, dan masing-masing 1 oleh Partai Australia Katter dan Aliansi Tengah.[9]
Di Senat Australia, Buruh tidak meraih banyak dan komposisi mereka tidak berubah dengan 26 kursi, jadi untuk meloloskan RUU menjadi undang-undang yang sah, mereka memerlukan 13 suara di Senat. Partai Hijau meraih 3 kursi tambahan, menambah komposisi mereka menjadi 12. Koalisi kehilangan 4 kursi dan hanya mempertahankan 32 kursi. One Nation tetap mempertahankan 2 kursi. Aliansi Tengah dan Tim Rex Patrick masing-masing kehilangan satu senator, sementara Jaringan Jacqui Lambie mendapatkan seorang senator. David Pocock berhasil dipilih sebagai seorang senator melalui jalur independen, dan Partai Australia Bersatu besutan Clive Palmer juga mendapatkan seorang senator.[10]
Parlemen ke-47 Australia dibuka pada 26 Juli 2022. Albanese selaku Perdana Menteri Australia memimpin pemerintahan, sementara oposisi dari Koalisi Liberal/Nasional memiliki pemimpin baru. Mantan Menteri Pertahanan Australia Peter Dutton menggantikan Scott Morrison yang menjabat sebagai perdana menteri sampai kekalahannya dalam pemilu.[11] Pada 23 Desember 2022, anggota DPR dari fraksi Partai Nasional Australia Andrew Gee meninggalkan partai dan menjadi politikus independen setelah Partai Nasional memutuskan untuk secara terbuka menentang inisiatif Suara Pribumi untuk Parlemen. Ini menyebabkan bangku tengah naik menjadi 17 suara dan jumlah kursi Koalisi turun menjadi 57.[12]
Pada 16 Januari 2023, senator Liberal Jim Molan meninggal dan digantikan oleh Maria Kovacic pada bulan Mei. Pada 6 Februari, senator Hijau Lidia Thorpe mengundurkan diri dari Partai Hijau Australia dan menjadi politikus independen. Pada 1 April 2023, Mary Doyle dari Partai Buruh Australia berhasil memenangkan pemilihan sela Aston 2023 setelah pengunduran diri petahana dari Partai Liberal Australia Alan Tudge. Hasil ini merupakan hasil yang mengejutkan dan menandakan untuk pertama kalinya pemerintah petahana berhasil menambah mayoritas mereka di parlemen dengan merebut kursi oposisi sejak pemilihan sela Kalgoorlie 1920.[13] Dengan hasil pemilihan sela tersebut, kursi Partai Buruh bertambah menjadi 78 kursi, sementara Koalisi berkurang jadi 56 kursi. Pada Mei 2023, anggota dari fraksi Partai Nasional Liberal Queensland Stuart Robert mengundurkan diri, memicu pemilihan sela di Fadden yang terletak di Gold Coast, Queensland. Kursi ini dimenangkan oleh Cameron Caldwell dari Partai Nasional, secara keseluruhan tidak mengubah tatanan DPR. Juga pada Mei 2023, politikus independen Dai Le dari Fowler di Sydney Barat mendirikan partai baru, yakni Jaringan Dai Le dan Frank Carbone bersama Wali kota Fairfield Frank Carbone. Partai tersebut akan beraktivitas di Sydney Barat.[14]
Pada 15 Juni 2023, Senator Liberal David Van dikeluarkan dari partai akibat tuduhan pelecehan seksual dari mantan Senator LNP Amanda Stoker dan senator independen Lidia Thorpe. Ia melanjutkan masa baktinya sebagai politikus independen. Pada 14 November 2023, Russell Broadbent meninggalkan Partai Liberal Australia dan duduk di kursi tengah setelah kalah proses praseleksi.[15] Juga pada November, Senator Marise Payne, veteran Partai Liberal menyatakan mengundurkan diri dan posisinya di Senat digantikan oleh Dave Sharma yang kembali ke Parlemen.[16][17] Pada 4 Desember 2023, anggota Buruh Peta Murphy meninggal dunia akibat kanker, mengurangi kursi Buruh menjadi 77, tetapi jumlah anggota mereka kembali naik menjadi 78 karena calon Jodie Belvea berhasil mempertahankan kursi almarhum Peta Murphy pada pemilihan sela Dunkley 2024. Partai Liberal kehilangan satu kursi pada 28 Februari 2024 saat Scott Morrison (mantan Perdana Menteri) mengundurkan diri dari kursinya di Cook, walaupun kursinya berhasil dipertahankan oleh Simon Kennedy pada pemilihan sela Cook 2024.
Senator Buruh Pat Dodson mengundurkan diri dari Senat untuk menjalankan perawatan kanker. Kekosongannya diisi oleh Varun Ghosh. Senator Buruh Linda White meninggal dunia pada Maret 2024 dan digantikan oleh Lisa Darmanin, sementara Senator Hijau Janet Rice mengundurkan diri pada bulan berikutnya dan digantikan oleh Steph Hodgins-May. Perubahan komposisi partai terjadi ketika senator Tasmania Tammy Tyrrell keluar dari Jaringan Jacqui Lambie untuk duduk sebagai independen pada 28 Maret 2024 dan senator Buruh Fatima Payman meninggalkan partai dan bergabung dengan partai lintas partai sebagai independen pada bulan Juli 2024, dengan alasan tidak setuju dengan posisi partai mengenai Konflik Gaza–Israel. Tiga bulan kemudian, Fatima mendirikan Partai Suara Australia menyatakan bahwa ia bermaksud agar partai tersebut mengajukan kandidat di kedua majelis parlemen pada pemilihan ini. Komposisi Senat berubah sekali lagi pada tanggal 25 Agustus 2024 ketika senator LNP Gerard Rennick mengundurkan diri dari partai dan pindah ke kursi tengah untuk duduk sebagai independen setelah kekalahan pra-seleksi. Seperti Payman, ia mengumumkan niatnya untuk mendirikan sebuah partai politik, bernama Partai Rakyat Pertama, sehingga namanya akan ditampilkan di atas garis pada surat suara pemilihan.[18]
Kedua partai besar mempertahankan pemimpin mereka dengan Anthony Albanese menyelesaikan masa jabatan pertamanya sebagai Perdana Menteri dan masa jabatan keduanya sebagai ketua umum Partai Buruh Australia sementara Peter Dutton menyelesaikan masa jabatan pertamanya sebagai Pemimpin Oposisi dan ketua umum Partai Liberal Australia. Kabinet Albanese I sempat dirombak pada Juli 2024, diikuti oleh rombakan kabinet kecil pada Januari 2025. Kabinet bayangan Dutton dirombak sebanyak tiga kali pada April 2023, Maret 2024, dan Januari 2025.
Kematian dan pemakaman kenegaraan Elizabeth II terjadi pada September 2022, diikuti oleh penobatan Charles III dan Camilla pada 23 Mei; maka pemilu 2025 ini adalah pemilu pertama dibawah Charles III sebagai Raja Australia. Charles III sendiri mengunjungi Australia pada Oktober 2024, kunjungan pertama oleh penguasa petahana sejak 2011. Senator independen Lidia Thorpe yang mundur dari Partai Hijau Australia karena ketidaksetujuan terhadap sikap partai mengenai referendum Suara Pribumi untuk Parlemen mendapatkan liputan media yang signifikan karena secara kontroversial memaki Charles III di sebuah acara di Parliament House.[19]
Pada awal Januari 2025, Albanese dan Dutton mulai muncul di acara publik yang ditulis oleh media sebagai "peluncuran kampanye tidak resmi". Albanese mengunjungi elektorat di Queensland, Wilayah Utara, dan Australia Barat.[20] Isu kampanye yang cukup terkemuka adalah rumah, biaya hidup, kesehatan, energi nuklir dan daur ulang, imigrasi, sektor publik, Skema Asuransi Disabilitas Nasional, dan pertahanan.[5] Dutton memberikan pidato di Melbourne dimana ia meluncurkan slogan kampanye Liberal, "Let's Get Australia Back on Track" (Bahasa Indonesia: Marilah Menuntun Australia Kembali ke Jalan yang Benar) dan fokus ke topik energi nuklir, perumahan, dan imigrasi.[21] Banyak komentator menilai kampanye Peter Dutton sebagai kampanye yang lemah.[22][23][24]

| Partai atau kandidat | Slogan Inggris | Slogan Indonesia | Ref. | |
|---|---|---|---|---|
| Buruh | Building Australia's future | Membangun Masa Depan Australia | [44] | |
| Koalisi | Let's get Australia back on track | Marilah Menuntun Australia Kembali ke Jalan yang Benar | [44] | |
| Hijau | If you want change, the first step is to vote for it | Jika mau Perubahan, Langkah Pertama adalah Memilih untuk Itu | [45] | |
| Trumpet of Patriots | Make Australia great again | Buat Australia Hebat Kembali | [46] | |
Australia menerapkan pemilihan preferensi dalam sistem pemilihan umum mereka. Maka, sebagai tradisi pemilu, masing-masing partai bisa merekomendasi suara preferensi terhadap beberapa kandidat. Dalam pemilu ini, Koalisi merekomendasi pemilihnya untuk menetapkan kader One Nation atau Partai Libertarian Australia sebagai pilihan kedua. One Nation menempatkan Koalisi sebagai pilihan kedua di beberapa dapil.[47] Di dapil di mana Liberal dan Nasional saling melawan, Partai Nasional Australia menempatkan Partai Liberal Australia sebagai preferensi kedua, dan kemudian One Nation, dengan Buruh dan Hijau biasanya ditempatkan sebagai pilihan terakhir. Kandidat teal independent yang didukung oleh Climate 200 secara umum tidak diberikan dukungan preferensi.[48]
Buruh biasanya menempatkan Hijau sebagai pilihan kedua di kebanyakan dapil kecuali Macnamara karena kandidat dari Partai Hijau yang bertanding disana memiliki sentimen pro-Palestina yang kuat dan penduduk setempat bermayoritas Yahudi.[49] Partai Hijau menempatkan preferensi ke Australia's Voice, kandidat pro-Palestina, dan teal independent lebih tinggi dibandingkan Buruh. Hijau juga menempatkan Buruh diatas Koalisi di setiap dapil yang mereka kontestasi.[49][50] Trumpet of Patriots menempatkan kandidat petahana sebagai pilihan terakhir kecuali di Bennelong di mana mereka menempatkan Jerome Laxale diatas kandidat Liberal Scott Yung, tetapi menempatkan kandidat teal independent dibawah kader Liberal.[51]
Kursi di dapil Hinkler (Queensland) dan Maribyrnong (Victoria) kosong saat Parlemen Australia dibubarkan akibat pengumuman pemilu, setelah pengunduran diri Keith Pitt (LNP-Nats) dan Bill Shorten (ALP) pada tanggal 19 dan 20 Januari 2025. Tidak ada pemilihan sela digelarkan karena pengunduran diri kedua anggota hampir berdekatan dengan tanggal pemilu.[52][53]


Pemerintahan Partai Buruh Australia yang sedang menjabat terpilih kembali untuk masa jabatan kedua, memenangkan 94 dari 150 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat. Ini merupakan perolehan bersih 17 kursi dari pemilihan sebelumnya dan menyamai perolehan Koalisi Liberal-Nasional pada pemilihan tahun 1996. Secara nasional, Partai Buruh mengamankan 55,22% suara pilihan dua partai. Koalisi turun menjadi 43 kursi, kehilangan 15 kursi, dengan Pemimpin Oposisi Peter Dutton kalah di daerah pemilihannya di Dickson. Partai Hijau Australia berkurang menjadi satu kursi di Ryan, sementara anggota lintas partai bertambah menjadi 12 anggota, terdiri dari 10 independen bersama Rebekah Sharkie dan Bob Katter. Di Senat, tidak ada partai yang mencapai mayoritas: Partai Buruh meningkatkan perwakilannya menjadi 28 kursi (naik tiga kursi), sementara Koalisi turun menjadi 27 (kehilangan tiga kursi). Partai Hijau mempertahankan 11 kursi, sementara delapan kursi sisanya dibagi di antara partai-partai kecil dan independen, termasuk empat kursi dari partai One Nation pimpinan Pauline Hanson, yang memperoleh dua kursi.
Pemilu ini menghasilkan jumlah perempuan terbanyak di kedua majelis parlemen dalam sejarah Australia.[54]
Komentator terkenal dan kepala analis pemilu ABC Antony Green melaporkan bahwa Partai Buruh Australia akan memenangkan masa jabatan kedua dalam waktu dua setengah jam setelah TPS di pantai timur Australia tutup. Ini sekitar 30 menit lebih cepat daripada proyeksinya tentang kemenangan Partai Buruh atas Koalisi pada pemilihan federal sebelumnya, tetapi satu jam lebih lambat daripada proyeksinya tentang kemenangan Koalisi pada pemilihan federal sebelumnya. Ini diikuti oleh organisasi media besar yang juga memproyeksikan kemenangan Partai Buruh, serta kekalahan kursi Peter Dutton sendiri.[7][55] Hasil awal menunjukkan bahwa Partai Buruh berhasil meraih kursi di seluruh negara bagian Australia. Buruh setidaknya telah merebut 13 kursi dari Koalisi, termasuk empat kursi di Queensland Tenggara, tiga di Sydney, dan seluruh kursi di Tasmania bagian utara. Buruh juga diprojeksikan merebut dua kursi di Brisbane yang diduduki oleh anggota parlemen Partai Hijau Australia. Hasil akhir pemilu masih menyisakan 16 kursi tanpa pemenang jelas, setengah dari itu berasal dari Victoria.[56]
Dutton mengakui kekalahannya tak lama setelah pukul 9:30 malam AEST pada malam pemilihan, mengumumkan bahwa ia telah menelepon Anthony Albanese untuk memberi selamat kepadanya atas terpilihnya kembali Partai Buruh. Dalam pidato pengakuan kekalahannya, Dutton mengakui kinerja Koalisi yang buruk dan bertanggung jawab penuh atas hasilnya. Ia juga menjadi Pemimpin Oposisi federal pertama yang kalah dalam pemilihan federal (dimenangkan oleh Ali France dari Partai Buruh).[6][7][8] Meraih kemenangan pada malam hari pemilu, Albanese menyapa pendukungnya dengan pesan persatuan dan optimisme, mendeklarasikan bahwa "waktu peluang terbesar terhadap bangsa kita sudah tiba".[8] Ia menekankan pentingnya upaya kolektif dalam membentuk masa depan negara, dengan menyatakan, "kita memiliki apapun yang diperlukan untuk merebut kesempatan ini dan membuatnya punya kita, tetapi kita harus melakukannya bersama".[8]
Kemenangan Anthony Albanese digambarkan sebagai kemenangan telak dan kebangkitan bersejarah,[57] ia kembali ke pemerintahan dengan mayoritas yang lebih besar,[58] dan melawan hasil survei yang memproyeksikan bahwa Buruh akan kembali dengan pemerintahan minoritas atau parlemen gantung.[2][3][4] Sebagai akibat, banyak analis membandingkan persamaan hasil pemilu tersebut dengan hasil pemilihan umum federal Kanada 2025 yang digelar beberapa hari sebelumnya, dimana pemerintahan kiri tengah Partai Liberal Kanada pimpinan Mark Carney berhasil melawan seluruh opini survei yang kebanyakan menjagokan Partai Konservatif Kanada, meraih tambahan kursi serta mempertahankan pemerintah. Komentator juga berbicara mengenai "efek Trump" yang negatif karena ketua umum Partai Konservatif Pierre Poilievre juga kehilangan kursinya.[59][60] Menurut koresponden BBC Australia Katy Watson, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengubah permainan dan Albanese berhasil "meyakinkan pemilih bahwa dia dan pemerintahannya adalah sepasang tangan yang aman di dunia yang semakin tidak meyakinkan".[57][61] Namun, fakta bahwa Partai Konservatif Kanada mampu memperoleh kursi, dan mencapai suara terbanyak yang diperoleh partai kanan-tengah di Kanada sejak tahun 1988; tidak seperti Koalisi yang kehilangan lebih banyak kursi, menunjukkan adanya faktor domestik lain, bukan hanya "efek Trump" yang menyebabkan kekalahan Koalisi.[59] Komentator psefologi terkemuka dan analis pemilu utama ABC, Antony Green, mengatakan: "Sulit untuk membedakan apakah ini karena kampanye Partai Buruh yang brilian, kegagalan Koalisi, atau kekhawatiran atas ketidakstabilan yang diciptakan oleh gaya pemerintahan Presiden Trump yang kacau balau. Menurut saya, ini adalah kombinasi dari ketiganya."[57]

Komentator juga menyatakan bahwa citra Dutton sebagai orang yang "tangguh" justru membebankan kampanyenya.[62][63] Albanese berupaya untuk melawan citra tangguhnya dengan narasi "kebajikan bukanlah kelemahan" sebagai bentuk tanggapan terhadap Dutton yang kerap mengkritik Albanese sebagai pemimpin yang "lemah".[64]
Pemilu ini menandakan untuk pertama kalinya sejak 2007 dan ketiga kalinya sejak Federasi, seorang ketua umum partai utama kehilangan kursinya akibat kekalahan pemilu.[65] Ditambah, Anthony Albanese menjadi perdana menteri pertama yang dipilih kembali untuk memerintah sejak periode keempat dan keterakhir John Howard pada 2004, dan pemimpin Buruh pertama sejak Bob Hawke pada 1990.[57] Albanese juga mencetak sejarah sebagai perdana menteri pertama yang kembali memerintah dengan jumlah kursi yang lebih besar, ini adalah pertama kali untuk Partai Buruh untuk dipilih kembali dengan mayoritas sejak 1993 dengan jumlah anggota parlemen dari Buruh terbesar sepanjang sejarah Australia. Ini adalah pemilihan umum keempat berturut-turut sejak 2013 di mana Koalisi kehilangan dukungan suara primer. Partai Liberal hanya memiliki sedikit kursi di DPR sejak didirikan pada tahun 1945, dan menghasilkan hasil pemilihan umum terburuk bagi partai utama non-Buruh sejak Partai Australia Bersatu (pelopor langsung Partai Liberal) hanya memiliki 14 kursi pada tahun 1943. Perubahan signifikan terhadap Partai Liberal disebut "jahat" oleh mantan menteri dari pemerintahan Koalisi, Senator Simon Birmingham.[66]
Partai Liberal mengalami perubahan yang sangat signifikan di kursi-kursi metropolitan. Khususnya, Partai Liberal tidak memenangkan kursi di Adelaide untuk pertama kalinya sejak 1946; kandidat Liberal terakhir yang mewakili kota tersebut, James Stevens di Sturt, dikalahkan oleh penantang dari Partai Buruh, Claire Clutterham.[67] Partai Liberal hanya memenangkan dua dari lebih dari 400 bilik suara pada hari pemilihan metropolitan di tujuh kursi yang berbasis di Adelaide—Myrtle Bank di divisi Sturt, dan Unley Park di divisi Adelaide.[68] Partai Liberal hanya memperoleh tiga kursi di Sydney, tiga di Melbourne, dua di Brisbane, dan satu di Perth. Hal ini menambah kerugian besar yang mereka derita di daerah pemilihan metropolitan pada tahun 2022, dengan sejumlah kursi kaya yang selama beberapa dekade menjadi basis kekuatan partai dan pendahulunya jatuh ke tangan kandidat independen atau Partai Buruh.
Sudah menjadi hal yang lumrah bagi pemerintahan Australia yang baru menjabat satu periode untuk kehilangan kursi dan beralih ke oposisi ketika mencalonkan diri untuk periode kedua. Namun, kemenangan Partai Buruh pada tahun 2025 adalah pertama kalinya pemerintahan petahana Australia menjalani masa jabatan pertama secara penuh dan memenangkan masa jabatan kedua dengan mayoritas yang meningkat dan kecenderungan untuk beralih ke sana. Terakhir kali sebuah pemerintah petahana masa jabatan pertama dipilih kembali dengan kursi yang lebih banyak adalah tahun 1943, di mana perdana menteri petahana John Curtin dari Buruh memimpin partainya menuju kemenangan mutlak tetapi baru saja menjabat di tengah masa jabatan setelah mengamankan perubahan pemerintahan melalui dukungan lintas bangku, bukan melalui pemilihan umum 1940 sebelumnya. Partai Buruh memenangkan 62,7% dari 150 kursi di DPR, menjadikan pemilihan umum 2025 sebagai hasil terbaik kedua dalam hal persentase DPR yang dikendalikan, mengalahkan rekor sebelumnya pada tahun 1983 di bawah Bob Hawke (60% kursi), 1929 (61,3% kursi di bawah James Scullin) tetapi masih kurang dari rekor sepanjang masa sebesar 66,2% kursi dalam pemilihan umum 1943. 94 kursi Partai Buruh di DPR adalah jumlah kursi tertinggi yang pernah dimenangkan oleh satu partai politik dalam pemilihan umum Australia, menyamai jumlah kursi yang dimenangkan oleh Koalisi pada pemilihan federal 1996.[69] Dalam pemilu ini, Buruh berhasil mempertahankan seluruh kursi dapil yang diraih dalam pemilu sebelumnya; pemerintah federal Australia tidak pernah berhasil mencapai pencapaian ini sejak 1966.[70] Di Senat, Partai Buruh meningkatkan perolehan kursinya menjadi 28, sementara Koalisi turun menjadi 27 kursi, menjadikan Partai Buruh blok terbesar di majelis tinggi untuk pertama kalinya sejak 1984.[71]
Acara hasil projeksi pemilu kali ini adalah acara terakhir Antony Green sebagai kepala analis pemilu setelah berdekade di posisi tersebut. Di siaran tersebut, ada tayangan video berupa salam perpisahan dari mantan perdana menteri John Howard, Kevin Rudd, Julia Gillard, Tony Abbott, Malcolm Turnbull, Scott Morrison dan perdana menteri petahana Anthony Albanese semuanya memuji dan memberi terima kasih kepada Green atas pekerjaannya di ABC.[72]

Di dalam Partai Liberal dan Nasional, ada konsekuensi signifikan atas kekalahan tersebut, yang menimbulkan ketegangan antara kedua partai. Di Partai Liberal Australia, Wakil Ketua Umum Sussan Ley menggantikan Peter Dutton sebagai Ketua Umum setelah mengalahkan Bendahara Bayangan Angus Taylor dan Ted O'Brien dipilih menjadi wakilnya.[73] Sementara di Partai Nasional Australia, David Littleproud mempertahankan kursi ketua umumnya dari perlawanan Matt Canavan.[74] Senator Wilayah Utara Jacinta Nampijinpa Price ganti partai dari Nasional ke Liberal agar dapat bertanding sebagai calon wakil ketua untuk Angus Taylor, menyebabkan sayap moderat Partai Liberal tercengang.[75]
Perjanjian Koalisi antara Liberal dan Nasional tidak dilanjutkan setelah pemilu ini, menyebabkan Partai Liberal menjadi satu-satunya partai oposisi sementara Partai Nasional bergabung dengan kursi tengah.[76][77] Keputusan untuk berpisah dikarenakan perbedaan kebijakan dan ketidaksepakatan ekspektasi solidaritas kabinet bayangan.[78]
Kursi Buruh yang naik di DPR dan Senat menyebabkan penataan kembali faksional, memengaruhi portfolio kementerian. Kader dari Buruh Kanan Ed Husic dan Jaksa Agung Mark Dreyfus tidak dilantik kembali ke Kabinet Albanese II, digantikan oleh kader yang berafiliasi dengan Wakil Perdana Menteri Australia Richard Marles.[79] Hal ini menimbulkan keresahan yang signifikan di dalam Partai Buruh, karena kedua menteri dianggap telah berkinerja baik pada periode sebelumnya.[80][81] Mantan Perdana Menteri Paul Keating juga berbicara secara terbuka menentang pengaruh para pemegang kekuasaan faksi.[82]
Penelitian yang dilakukan pada bulan Juni 2025 oleh DemosAU menemukan bahwa 75% warga Australia percaya bahwa suara mereka dihitung secara adil pada pemilu dibandingkan dengan 13% yang tidak, termasuk 67% yang memercayai Komisi Pemilihan Umum Australia. 69% juga percaya bahwa demokrasi di Australia adalah sesuatu yang patut dibanggakan.[83]
He mused prematurely about living in Kirribilli and scoffed on the first Saturday of the campaign that "nobody" expected Albanese to win a majority.
Across Adelaide, the only booths won by the Liberals were Unley Park (Adelaide electorate), Myrtle Bank, Boothby and Sturt pre-poll centres, One Tree Hill (Spence) and three special hospital booths at multiple sites in Makin and Sturt.