Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Pakubuwana XII

Letnan Jenderal TNI (Tit.) Sri Susuhunan Pakubuwana XII adalah susuhunan Surakarta ke-11 yang masa pemerintahannya paling lama di antara raja-raja Jawa yaitu selama 59 tahun, tepatnya mulai tahun 1945 hingga 2004. Dan juga sempat menjadi Gubernur Daerah Istimewa Surakarta dari tahun 1945–1946.sebelum menjadi raja ,beliau bergelar KGPH.Purbaya.

susuhunan ke-11 dari Kesunanan Surakarta
Diperbarui 19 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Pakubuwana XII
Biografi ini memerlukan lebih banyak catatan kaki untuk pemastian. Bantulah untuk menambahkan referensi atau sumber tepercaya. Materi kontroversial atau trivial yang sumbernya tidak memadai atau tidak bisa dipercaya harus segera dihapus, khususnya jika berpotensi memfitnah.
Cari sumber: "Pakubuwana XII" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Pakubuwana XII
ꦦꦑꦸꦨꦸꦮꦟ꧇꧑꧒꧇
Sri Susuhunan Pakubuwana XII
Susuhunan Surakarta ke-11
Berkuasa11 Juni 1945 – 11 Juni 2004
(59 tahun, 0 hari)
PendahuluSusuhunan Pakubuwana XI
PenerusSusuhunan Pakubuwana XIII
Gubernur Militer JepangYuichiro Nagano
PresidenSoekarno
Soeharto
B.J Habibie
Abdurrahman Wahid
Megawati Soekarnoputri
Kelahiran(1925-04-14)14 April 1925
Surakarta, Hindia Belanda[1]
Kematian11 Juni 2004(2004-06-11) (umur 79)
Surakarta, Indonesia[1]
Pemakaman
Astana Pajimatan Himagiri, Imogiri, Bantul, Yogyakarta, Indonesia
Gubernur Daerah Istimewa Surakarta
Masa jabatan
1945 – 1946 (diturunkan)
PresidenSoekarno
Sebelum
Pendahulu
Tidak ada, jabatan baru
Pengganti
Jabatan dihapus
Sebelum
Karier militer
Dinas/cabang
TNI Angkatan Darat
Pangkat Letnan Jenderal TNI (Tit.)
Kolonel TNI
(pangkat resmi)[2]
PasanganKRAy. Mandayaningrum
KRAy. Rogasmara
KRAy. Pradapaningrum/K.R. Ageng
KRAy. Kusumaningrum
KRAy. Retnadiningrum
KRAy. Pujaningrum
Nama lengkap
Gusti Raden Mas Suryo Guritno
Nama takhta
Sahandhap Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana Senapati ing Alaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Ingkang Jumeneng kaping Kalih Welas ing Nagari Surakarta Hadiningrat
WangsaMataram
AyahSusuhunan Pakubuwana XI
IbuGKR. Pakubuwana
"},"headerimage":{"wt":"[[File:YouTube 2024.svg|alt=YouTube logo|x20px|left]]"},"video1":{"wt":"[https://youtu.be/Do0JBcKv8pk?si=toO7GImWc_MdzYOw PAKU BUWONO XII - Berjuang Untuk Sebuah Eksistensi]<ref>https://youtu.be/Do0JBcKv8pk?si=mxGwpuXwWyk8b066</ref>"},"video2":{"wt":"[https://youtu.be/FIVy9DhzEY0?si=VfFmLdWsYd7JBZ-F The Last Sunan dan Jejak Revolusi di Solo]<ref>https://youtu.be/FIVy9DhzEY0?si=VfFmLdWsYd7JBZ-F</ref>"}},"i":0}}]}' id="mwEg"/>
Video luar
YouTube logo
Video Untuk Ditonton
PAKU BUWONO XII - Berjuang Untuk Sebuah Eksistensi[3]
The Last Sunan dan Jejak Revolusi di Solo[4]

Letnan Jenderal TNI (Tit.) Sri Susuhunan Pakubuwana XII (disingkat sebagai PB XII, bahasa Jawa: ꦯꦩ꧀ꦥꦺꦪꦤ꧀ꦢꦊꦩ꧀ꦲꦶꦁꦏꦁꦯꦶꦤꦸꦲꦸꦤ꧀ꦑꦁꦗꦼꦁꦯꦸꦱꦸꦲꦸꦤꦤ꧀ꦦꦏꦸꦧꦸꦮꦤ XIIcode: jv is deprecated ; 14 April 1925 – 11 Juni 2004) adalah susuhunan Surakarta ke-11 yang masa pemerintahannya paling lama di antara raja-raja Jawa yaitu selama 59 tahun, tepatnya mulai tahun 1945 hingga 2004. Dan juga sempat menjadi Gubernur Daerah Istimewa Surakarta dari tahun 1945–1946.

Awal Kehidupan

Susuhunan Pakubuwana XII dalam sebuah kesempatan di Sasana Handrawina, Keraton Surakarta, sekitar tahun 1945-1949.

Nama aslinya adalah G.R.M Suryo Guritno, putra Pakubuwana XI yang lahir dari permaisuri KRAy. Koespariyah (bergelar GKR. Pakubuwana) pada tanggal 14 April 1925. Ia juga memiliki seorang saudara perempuan seibu bernama GRAy. Koes Sapariyam (bergelar GKR. Kedaton).

Suryo Guritno pada masa kecilnya pernah bersekolah di ELS (Europeesche Lagere School) Pasar Legi, Surakarta. Oleh teman-temannya, Suryo Guritno sering dipanggil dengan nama Bobby. Di sekolah yang sama ini pula beberapa pamannya, putra Pakubuwana X yang sebaya dengannya menempuh pendidikan. Suryo Guritno termasuk murid yang mudah bergaul dan hubungannya dengan teman-teman berlangsung akrab, bahkan ketika di sekolah pun ia bergaul tanpa memandang status sosial yang disandangnya. Waktu kecil ia gemar mempelajari tari-tarian klasik, dan yang paling digemari adalah Tari Handaga dan Tari Garuda. Ia juga pemuda yang gemar mengaji pada Bapak Pradjawijata dan Bapak Tjandrawijata dari Mambaul Ulum. Kegemarannya yang lain adalah olahraga panahan. Mulai tahun 1938 Suryo Guritno terpaksa berhenti sekolah cukup lama, sekitar lima bulan, karena harus mengikuti ayahandanya yang memperoleh mandat mewakili kakeknya, Pakubuwana X, pergi ke Belanda bersama raja-raja di Hindia Belanda saat itu untuk menghadiri undangan perayaan peringatan 40 tahun kenaikan takhta Ratu Wilhelmina.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Hoogere Burgerschool te Bandoeng (HBS Bandung, sekarang ditempati SMA Negeri 3 Bandung dan SMA Negeri 5 Bandung) bersama beberapa pamannya. Baru dua setengah tahun ia belajar, pecah Perang Pasifik, dan waktu itu bala tentara Jepang menang melawan sekutu dan Hindia Belanda pun jatuh ke tangan Jepang.

Pakubuwana XI memintanya pulang dari Bandung ke Surakarta. Kemudian, ia harus menerima kenyataan menyedihkan lantaran pada Sabtu, 1 Juni 1945, Pakubuwana XI wafat. Berdasarkan tradisi maka KGPH. Mangkubumi, putra sulung Pakubuwana XI, sesungguhnya yang paling berhak meneruskan takhta. Namun peluang itu tertutup setelah ibundanya, GKR. Kencana (istri pertama Pakubuwana XI), telah mendahului wafat pada tahun 1910 sehingga tidak berkesempatan diangkat sebagai permaisuri tatkala suaminya mewarisi takhta kerajaan. Maka terbukalah peluang untuk Suryo Guritno (KGPH Purbaya) bisa menggantikan Pakubuwana XI sekalipun berumur paling muda.

Teka-teki itu kian terkuak waktu jenazah Pakubuwana XI dimakamkan di Astana Imogiri, Suryo Guritno tidak terlihat hadir di pemakaman. Sebelum naik takhta sebagai raja, Suryo Guritno diangkat sebagai putra mahkota dengan gelar KGPH. Puruboyo. Terlepas setuju atau tidak, keluarga keraton harus mulai bisa menerima pertanda itu, sebab berdasarkan kepercayaan adat keraton, bakal raja dipantangkan datang ke pemakaman. Namun versi lain menyebutkan, pengangkatan Suryo Guritno itu berkaitan erat dengan peran yang dimainkan Presiden Soekarno. Pakubuwana XII dipilih karena masih muda dan mampu mengikuti perkembangan serta tahan terhadap situasi. Meski raja baru telah disepakati, tetapi bukan berarti seluruh persoalan terselesaikan. Rencana penobatan Suryo Guritno itu sempat mendapat tentangan keras dari Kooti Jimu Kyoku Tyokan, Pemerintah Gubernur Jepang. Jepang menyatakan tidak berani menjamin keselamatan calon raja.

Menyatakan Bergabung Dengan Republik Indonesia

Plakat marmer Piagam Maklumat Keistimewaan Negeri Surakarta oleh Susuhunan Pakubuwana XII, dipajang di Museum Keraton Surakarta.

Raden Mas Suryo Guritno naik takhta sebagai Pakubuwana XII pada tanggal 11 Juni 1945.[5] Awal pemerintahan Pakubuwana XII hampir bersamaan dengan lahirnya Republik Indonesia. Karena masih berusia sangat muda, dalam menjalankan pemerintahan sehari-hari, ia sering kali didampingi ibunya, GKR. Pakubuwana, yang dikenal dengan julukan Ibu Ageng. Pakubuwana XII dijuluki Sinuhun Hamardika karena merupakan Susuhunan Surakarta pertama yang memerintah pada era kemerdekaan.

Upacara Penobatan Pakubuwana XII

Sesudah Proklamasi Kemerdekaan, pada 1 September 1945 Pakubuwana XII bersama Mangkunegara VIII, secara terpisah mengeluarkan dekret (maklumat) resmi kerajaan yang berisi pernyataan ucapan selamat dan dukungan terhadap Republik Indonesia, empat hari sebelum maklumat Hamengkubuwana IX dan Pakualam VIII. Lima hari kemudian, 6 September 1945, Kesunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaran mendapat Piagam Penetapan Daerah Istimewa dari Presiden Soekarno.

Masa Revolusi Fisik

Selama revolusi fisik Pakubuwana XII memperoleh pangkat militer kehormatan (tituler) Letnan Jenderal dari Presiden Soekarno.[6] Kedudukannya itu menjadikan ia sering diajak mendampingi Presiden Soekarno meninjau ke beberapa medan pertempuran. Tanggal 12-13 Oktober 1945, Pakubuwana XII sendiri bahkan ikut serta menyerbu markas Kenpetai di Kemlayan. Ia juga berkenan ikut melakukan penyerbuan ke markas Kenpetai di Timuran. Sewaktu melakukan penyerbuan ke markas Kido Butai di daerah Mangkubumen, Pakubuwana XII juga menyempatkan berangkat bersama anggota KNI dan berhasil kembali dengan selamat.

Belanda yang tidak merelakan kemerdekaan Indonesia berusaha merebut kembali negeri ini dengan kekerasan. Pada bulan Januari 1946 ibu kota Indonesia terpaksa pindah ke Yogyakarta karena Jakarta jatuh ke tangan Belanda. Pemerintahan Indonesia saat itu dipegang oleh Sutan Syahrir sebagai perdana menteri, selain Presiden Soekarno selaku kepala negara. Sebagaimana umumnya pemerintahan suatu negara, muncul golongan oposisi yang tidak mendukung sistem pemerintahan Perdana Menteri Sutan Syahrir, misalnya kelompok Jenderal Sudirman.

Serangan Umum Surakarta

Sekitar 5 Agustus 1949 sempat terjadi perundingan antara Belanda dengan Keraton, tetapi sesungguhnya pertemuan itu tidak lebih merupakan taktik pendekatan sebagai bagian dari kegiatan sandi TNI guna mengetahui strategi musuh. Hal ini dapat dijelaskan dari dokumen Gubernur Militer TNI yang mengatur tentang mekanisme hubungan Kasunanan dan Mangkunegaran melalui perwira teritorial (P.T.) Mayor Achmadi selaku Komandan Daerah Teritorial Militer (Cdt.Mil) kota yang termuat dalam Surat Keputusan Gubernur Militer Istimewa II No.23/G.M./49 yang dikeluarkan pada tanggal 27 April 1949. Surat Keputusan tersebut menetapkan bahwa

  • Cdt. Mil. Kota Surakarta sebagai satu-satunya instansi yang bernama G.M.SSPM./Div.II berhubungan dengan kedua Raja di Surakarta mengenai urusan Daerah Istimewa (politik)
  • Semua instansi baik Mil. maupun Civiel yang hendak berhubungan dengan kedua Raja tersebut diwajibkan melalui dan dengan sepengetahuan Pt.Cdt. Mil. Kota Surakarta yang memberikan laporan-laporan kepada G.M.SSPM./Div.II[7]

Dibekukannya Daerah Istimewa Surakarta

Karena Yogyakarta menjadi pusat pemerintahan, secara otomatis Surakarta yang merupakan saingan lama menjadi pusat oposisi. Kaum radikal bernama Barisan Banteng yang dipimpin Dr. Muwardi dengan berani menculik Pakubuwana XII dan Sutan Syahrir sebagai bentuk protes terhadap pemerintah Indonesia[8]

Barisan Banteng berhasil menguasai Surakarta sedangkan pemerintah Indonesia tidak menumpasnya karena pembelaan Jenderal Sudirman. Bahkan, Jenderal Sudirman juga berhasil mendesak pemerintah sehingga membekukan status daerah istimewa yang disandang Surakarta.[9] Sejak tanggal 1 Juni 1946 Kesunanan Surakarta hanya berstatus karesidenan yang menjadi bagian wilayah provinsi Jawa Tengah. Pemerintahan dipegang oleh kaum sipil, sedangkan kedudukan Pakubuwana XII berubah menjadi sebagai simbol dan pemangku adat Surakarta.

Usaha mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Susuhunan Pakubuwana XII menjenguk tentara republik yang terluka pada tahun 1949.

Pakubuwana XII juga ikut berjuang bersama rakyat mempertahankan Kemerdekaan Indonesia karena ia menyadari kedudukannya sebagai tokoh masyarakat adat terlebih dirinya adalah seorang Letnan Jenderal (tituler) TKR. Maka Pakubuwana XII bertekad untuk ikut berjuang, salah satunya adalah dengan memberikan asset keraton Surakarta, untuk mendukung kebutuhan perjuangan nasional. Pakubuwana XII juga banyak memberikan asset-asset dan inventaris baik barang maupun keuangan dalam mensuplai kebutuhan logistik dan dana, serta berbagai macam persenjataan. Hampir seluruh kekayaan keraton diberikan tanpa sisa untuk kepentingan perjuangan nasional.[10]

Ketika Agresi Militer Belanda II pecah, ia berulangkali mendampingi Presiden Soekarno melihat front pertempuran di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain mendampingi Presiden Soekarno dalam melakukan inspeksi ke berbagai garis depan pertempuran, Pakubuwana XII juga kerap bersinergi dan berkonsolidasi dengan pimpinan TKR di wilayah Surakarta seperti Kolonel Gatot Subroto pada masa masa Agresi Militer Belanda II. Ia juga salah satu tokoh penyusun strategi dan kekuatan, bersama dengan Letnan Kolonel Slamet Riyadi, dan Mayor Achmadi Hadisoemarto dalam memimpin prajurit TKR pada Serangan Umum 4 Hari Surakarta pada tahun 1949. Pakubuwana XII juga banyak membantu membebaskan sejumlah besar pegawai RI dan Tentara Pelajar (TP) yang semula menjadi tawanan politik maupun tawanan perang Belanda.

Tidak berhenti di situ, Pakubuwana XII juga melibatkan dirinya menjadi salah satu pendamping delegasi Indonesia di Konferensi Meja Bundar di Den Haag.[11]

Era Kemerdekaan

Anggota delegasi Indonesia dalam KMB kembali ke Jakarta (berkostum putih Soekiman Wirjosandjojo, pimpinan Partai Masyumi, dan di tengah adalah Susuhunan Pakubuwana XII).

Pada awal pemerintahannya, Pakubuwana XII dinilai gagal mengambil peran penting dan memanfaatkan situasi politik Republik Indonesia, sehingga pamornya di mata rakyat kalah dibanding Hamengkubuwana IX di Yogyakarta.

Sebenarnya Pakubuwana XII sudah berusaha untuk mengembalikan status Daerah Istimewa Surakarta. Pada 15 Januari 1952 Pakubuwana XII pernah memberi penjelasan tentang Wilayah Swapraja Surakarta secara panjang lebar pada Dewan Menteri di Jakarta, dalam kesempatan ini ia menjelaskan bahwa Pemerintah Swapraja tidak mampu mengatasi gejolak dan rongrongan yang disertai ancaman bersenjata, sementara Pemerintah Swapraja sendiri tidak mempunyai alat kekuasaan. Namun usaha itu tersendat-sendat karena tak kunjung menemui titik temu. Pada tahun 1954, akhirnya Pakubuwana XII sendiri memutuskan untuk meninggalkan keraton guna menempuh pendidikan di Jakarta. Ia menunjuk KGPH. Kusumayudha, pamannya, sebagai wakil sementara di keraton.[12] Pakubuwana XII juga pernah mengikuti dinas kemiliteran dan lulus dari Sesko pada tahun 1963. Pangkat efektif Pakubuwana XII yang terakhir adalah Kolonel.[2]

Pada masa pemerintahannya, terjadi dua kali musibah yang melanda Keraton Surakarta. Pada tanggal 19 November 1954, bangunan tertinggi di kompleks keraton, yaitu Panggung Sangga Buwana, mengalami kebakaran yang menghancurkan sebagian besar bangunan termasuk atap dan hiasan di puncak bangunan.

Untuk selengkapnya, lihat Kebakaran keraton Surakarta 1985.

Selanjutnya pada tanggal 31 Januari 1985, di malam Jumat Wage, kompleks inti keraton terbakar pada pukul 21.15 WIB. Kebakaran terjadi di bangunan Sasana Parasedya, Sasana Sewaka, Sasana Handrawina, Dalem Ageng Prabasuyasa, Maligi, dan Paningrat. Seluruh bangunan termasuk segala isi dan perabotannya tersebut musnah dilalap api.[13]

Akhirnya, pada tanggal 5 Februari 1985, Pakubuwana XII melapor kepada Presiden Soeharto atas musibah yang melanda Keraton Surakarta. Presiden Soeharto pun menindaklanjuti dengan membentuk Panitia 13 guna mengemban tugas untuk melaksanakan rehabilitasi keraton. KRT. Harjanagara, budayawan nasional sekaligus sahabat Pakubuwana XII, termasuk dalam jajaran Panitia 13 ini. Keraton Surakarta berhasil pulih setelah mendapat dana 4 miliar rupiah dari pemerintah pusat, dan pembangunan kembali kompleks inti keraton dapat diselesaikan dan diresmikan pada tahun 1987.

Susuhunan Pakubuwana XII menerima Medali Perjuangan Angkatan 45 yang dipersembahkan oleh ketua Dewan Harian Angkatan 45, Jenderal TNI (Purn.) Soerono, di Keraton Surakarta pada 28 Oktober 1995.

Pada 26 September 1995, lima puluh tahun setelah kemerdekaan Indonesia, berdasarkan SK No. 70/SKEP/IX/1995, Pakubuwana XII mendapat pemberian Penghargaan dan Medali Perjuangan Angkatan '45 dari pemerintah pusat. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk penghormatan kepada Pakubuwana XII yang pada masa awal kemerdekaan merupakan raja pertama di Indonesia yang menyatakan setia dan berdiri di belakang pemerintah republik. Pakubuwana XII juga secara sukarela menyumbangkan sebagian kekayaan pribadinya maupun kekayaan Keraton Surakarta kepada pemerintah pusat saat itu.[14]

Meskipun pada awal pemerintahannya Pakubuwana XII dapat dikatakan kurang berhasil secara politik, tetapi Pakubuwana XII tetap menjadi sosok figur pelindung kebudayaan Jawa. Pada zaman reformasi, para tokoh nasional, seperti Presiden Abdurrahman Wahid, tetap menghormatinya sebagai salah satu sesepuh tanah Jawa.[15]

Mangkat

Jenazah Susuhunan Pakubuwana XII dihantar ke Pajimatan Imogiri.

Pada pertengahan tahun 2004, Pakubuwana XII mengalami koma dan menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Panti Kosala Dr. Oen Surakarta. Akhirnya pada tanggal 11 Juni 2004, Pakubuwana XII dinyatakan wafat.[16] Wafatnya Pakubuwana XII bersamaan dengan keramaian kampanye Pemilihan Umum Presiden di Surakarta. Sepeninggalnya sempat terjadi perebutan takhta antara KGPH. Hangabehi dangan KGPH. Tejowulan, yang masing-masing menyatakan diri sebagai Pakubuwana XIII.

Warisan dan suksesi

Setelah wafatnya Pakubuwana XII pada 11 Juni 2004, posisi Susuhunan Surakarta mengalami masa ketidakpastian. Sejumlah putra beliau dari berbagai permaisuri dan garwa selir mengajukan klaim atas takhta Keraton Surakarta Hadiningrat.[17]

Peristiwa ini menimbulkan perpecahan internal di kalangan keluarga keraton. Sebagian pihak mendukung Raden Mas Hangabehi yang kemudian dinobatkan sebagai Pakubuwana XIII pada tahun 2004 di kompleks utama keraton.[18] Namun, pihak lain yang mendukung Raden Mas Tedjowulan juga melakukan penobatan terpisah di tempat yang berbeda.[19]

Kondisi ini menyebabkan munculnya dua kubu utama di dalam Keraton Surakarta, yang hingga kini belum sepenuhnya terselesaikan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Dalam Negeri beberapa kali berupaya menengahi dan mendorong rekonsiliasi antara kedua pihak.[20]

Terlepas dari polemik suksesi tersebut, Pakubuwana XII dikenal sebagai figur yang berhasil mempertahankan keberlanjutan tradisi budaya Kasunanan Surakarta di tengah perubahan politik Indonesia pada abad ke-20. Warisannya terutama terlihat pada pelestarian seni, arsitektur, dan kegiatan budaya keraton yang tetap hidup hingga kini.[21]

Kehidupan Pribadi

Silsilah

  • Anak laki-laki pertama dari Susuhunan Pakubuwana XI dan permaisuri GKR. Pakubuwana, atau anak terakhir dari kesebelas putra-putri Susuhunan Pakubuwana XI.
  • Memiliki enam istri:[12][22]
  1. KRAy. Mandayaningrum
  2. KRAy. Rogasmara
  3. KRAy. Pradapaningrum
  4. KRAy. Kusumaningrum
  5. KRAy. Retnadiningrum
  6. KRAy. Pujaningrum
  • Memiliki lima belas putra dan dua puluh putri:[12][22]
  1. GRAy. Koes Handawiyah/GKR. Alit
  2. GRM. Surya Partana/KGPH. Hangabehi (naik takhta sebagai Susuhunan Pakubuwana XIII)
  3. GRM. Surya Suprapta/KGPH. Hadi Prabawa
  4. GRAy. Koes Supiyah/GKR. Galuh Kencana
  5. GRM. Suryana/KGPH. Puspa Hadikusuma
  6. GRAy. Koes Rahmaniyah
  7. GRAy. Koes Saparniyah
  8. GRAy. Koes Handariyah/GKR. Sekar Kencana
  9. GRAy. Koes Kristiyah
  10. GRAy. Koes Sapardiyah
  11. GRAy. Koes Raspiyah
  12. GRM. Surya Susena/KGPH. Kusumayudha
  13. GRAy. Koes Sutriyah
  14. GRAy. Koes Isbandiyah/GKR. Retna Dumilah
  15. GRM. Surya Suteja/KGPH. Panembahan Agung Tejawulan
  16. GRM. Surya Bandana/KGPH. Puger
  17. GRAy. Koes Partinah
  18. GRM. Surya Suparta/KGPH. Dipakusuma
  19. GRM. Surya Sarasa
  20. GRM. Surya Bandriya/KGPH. Benawa
  21. GRAy. Koes Niyah
  22. GRM. Surya Sudhira/GPH. Natakusuma
  23. GRM. Surya Suharsa/GPH. Madukusuma
  24. GRM. Surya Sudarsana/GPH. Wijaya Sudarsana
  25. GRAy. Koes Murtiyah/GKR. Wandansari
  26. GRAy. Koes Sabandiyah
  27. GRAy. Koes Triniyah
  28. GRAy. Koes Indriyah/GKR. Ayu
  29. GRM. Surya Sutrisna/GPH. Surya Wicaksana
  30. GRM. Nur Muhammad/GPH. Cahyaningrat
  31. GRAy. Koes Suwiyah
  32. GRAy. Koes Ismaniyah
  33. GRAy. Koes Samsiyah
  34. GRAy. Koes Saparsiyah
  35. GRM. Surya Wahana/GPH. Surya Mataram

Galeri

  • Soekarno, Hatta dan Susuhunan Pakubuwono XII saat Kampanye Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1946
    Soekarno, Hatta dan Susuhunan Pakubuwono XII saat Kampanye Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1946
  • Letnan Jenderal (Tituler) Pakubuwana XII bersama Jenderal Sudirman
    Letnan Jenderal (Tituler) Pakubuwana XII bersama Jenderal Sudirman
  • Pakubuwono XII menghadiri prosesi penyerahan Karesidenan Surakarta oleh Belanda pada 12 November 1949 pasca Serangan Umum Empat Hari
    Pakubuwono XII menghadiri prosesi penyerahan Karesidenan Surakarta oleh Belanda pada 12 November 1949 pasca Serangan Umum Empat Hari
  • Pakubuwana XII menghadiri prosesi penyerahan Karesidenan Surakarta oleh Belanda pasca Serangan Umum Surakarta tahun 1949
    Pakubuwana XII menghadiri prosesi penyerahan Karesidenan Surakarta oleh Belanda pasca Serangan Umum Surakarta tahun 1949
  • Kedatangan Susuhunan Pakubuwana XII, Adipati Mangkunegara VIII dan Perdana Menteri Mohammad Hatta di Belanda dalam rangka mengikuti Konferensi Meja Bundar pada tahun 1949
    Kedatangan Susuhunan Pakubuwana XII, Adipati Mangkunegara VIII dan Perdana Menteri Mohammad Hatta di Belanda dalam rangka mengikuti Konferensi Meja Bundar pada tahun 1949
  • Mohammad Hatta, Mohammad Roem, Pakubuwana XII dan Mangkunegara VIII pada Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada 23 Agustus 1949
    Mohammad Hatta, Mohammad Roem, Pakubuwana XII dan Mangkunegara VIII pada Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada 23 Agustus 1949
  • Pakubuwana XII ikut dalam rombongan Presiden Soekarno saat sowan ke Ibunda Soekarno yakni Ida Ayu Nyoman Rai
    Pakubuwana XII ikut dalam rombongan Presiden Soekarno saat sowan ke Ibunda Soekarno yakni Ida Ayu Nyoman Rai
  • (Dari Kiri) Mangkunegara VIII, Pakubuwana XII, Soekarno, Hatta dan Sutan Syahrir di Bekas Kediaman Gubernur Surakarta (Sekarang Balaikota Surakarta)
    (Dari Kiri) Mangkunegara VIII, Pakubuwana XII, Soekarno, Hatta dan Sutan Syahrir di Bekas Kediaman Gubernur Surakarta (Sekarang Balaikota Surakarta)
  • Pakubuwana XII dan Harrison Forman pada sebuah acara perayaan ulang tahun ibunda Pakubuwana XII di Keraton Surakarta sekitar tahun 1950
    Pakubuwana XII dan Harrison Forman pada sebuah acara perayaan ulang tahun ibunda Pakubuwana XII di Keraton Surakarta sekitar tahun 1950
  • (Dari kiri) Prof. Haryono Suyono, Sri Chinmoy dan Pakubuwana XII dalam rangka penganugerahan "Lifting Up The World With A Oness-Heart Award" kepada Pakubuwana XII pada Desember 2003 di Keraton Surakarta
    (Dari kiri) Prof. Haryono Suyono, Sri Chinmoy dan Pakubuwana XII dalam rangka penganugerahan "Lifting Up The World With A Oness-Heart Award" kepada Pakubuwana XII pada Desember 2003 di Keraton Surakarta
  • Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono melayat ke Keraton Surakarta dan mendoakan jenazah Pakubuwana XII
    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono melayat ke Keraton Surakarta dan mendoakan jenazah Pakubuwana XII
  • Megawati Soekarnoputri dan Puan Maharani mendoakan jenazah Pakubuwana XII di Keraton Surakarta
    Megawati Soekarnoputri dan Puan Maharani mendoakan jenazah Pakubuwana XII di Keraton Surakarta

Penghargaan

  • Letnan Jenderal Tituler
  • Satyalancana Perang Kemerdekaan I pada 17 Agustus 1958
  • Satyalancana Perang Kemerdekaan II pada 17 Agustus 1958
  • Penghargaan atas Darma Bakti Pembinaan Angkatan Perang RI yang dikeluarkan Presiden Soekarno pada 5 Oktober 1958
  • Tanda Jasa Pahlawan dalam Perjuangan Gerilya Membela Kemerdekaan yang dikeluarkan Presiden Soekarno pada 10 November 1958
  • Mendapat Kartu Tanda Veteran Perjuangan RI pada 8 Juni 1968
  • Knight Grand Cross of the Order of Orange-Nassau (1997)[23]
  • Rekor MURI: Raja Pertama yang Mendukung dan Mengakui Kemerdekaan Indonesia (2023) [24]

Kepustakaan

  • M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  • Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu

Pranala luar

  • (Indonesia) Biografi Sri Susuhunan Pakubuwono XII (1925-2004)

Referensi

  1. 1 2 Ningsih, Widya Lestari (5 Februari 2023). "Sri Susuhunan Pakubuwono XII, Pernah Diculik Barisan Banteng". Kompas.com. Diakses tanggal 12 Maret 2024.
  2. 1 2 "Ada Upacara Adat dan Militer di Pemakaman PB XII". detiknews. 26 Februari 2004. Diakses tanggal 12 Juni 2024.
  3. ↑ https://youtu.be/Do0JBcKv8pk?si=mxGwpuXwWyk8b066
  4. ↑ https://youtu.be/FIVy9DhzEY0?si=VfFmLdWsYd7JBZ-F
  5. ↑ "Nampo Hodo (43): Upatjara penobatan Solokoo baru (Djawa) (1945)". Youtube: Nederlands Instituut voor Beeld & Geluid. 2020-08-31. Diakses tanggal 2026-04-06.
  6. ↑ Ricky, Mariyana (10 Desember 2022). "Paku Buwono X & XII serta Mangkunegara VII & VIII Pernah Diberi Gelar Tituler". Solo Pos. Diakses tanggal 12 Maret 2024.
  7. ↑ Sasono, MA (2017). "PERAN SRI SUSUHUNAN PAKUBUWONO XII DALAM MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN INDONESIA (1945-1949)". Risalah. 4: 711–725. Diakses tanggal 21 Maret 2024.
  8. ↑ Ricklefs, Merle Calvin (April 2005). Sejarah Indonesia Modern (1200-2004). Serambi Ilmu Semesta. hlm. 440–447. ISBN 979-16-0012-0..
  9. ↑ Gie, Liang: "Pertumbuhan pemerintah daerah di Indonesia", halaman 232. Liberty, 1993
  10. ↑ Setiadi, B. Had:Raja di Alam Republik: Keraton Kasunanan Surakarta dan Pakubuwono XII” halaman 56, Bina Rena Pariwara, 2000
  11. ↑ Setiadi, B. Hadi:Raja di Alam Republik: Keraton Kasunanan Surakarta dan Pakubuwono XII” halaman 105, Bina Rena Pariwara, 2000
  12. 1 2 3 The Surakarta Dynasty: GENEALOGY. dari situs The Royal Ark
  13. ↑ "Paku Buwono - Keraton Surakarta". Diarsipkan dari asli tanggal 2020-07-15. Diakses tanggal 2020-04-13.
  14. ↑ Nugroho, Sus Yuto (23 Maret 2021). "Pakubowono XII Raja di Alam Republik". Klik7tv. Diakses tanggal 12 Maret 2024.
  15. ↑ Abdurrahman Wahid: Keraton dan Perjalanan Budayanya. Diarsipkan 2020-07-14 di Wayback Machine. dari situs Santri Gus Dur - Komunitas Pemikiran Gusdur
  16. ↑ Solo: Paku Buwono XII Mangkat. dari situs Liputan6.com
  17. ↑ Tempo. (2004). "Suksesi di Keraton Surakarta Pasca Wafatnya PB XII". Diakses pada 11 November 2025.
  18. ↑ Kompas. (2004). "RM Hangabehi Dinobatkan sebagai Pakubuwana XIII". Diakses pada 11 November 2025.
  19. ↑ Detik.com. (2004). "Dua Penobatan, Dua Susuhunan". Diakses pada 11 November 2025.
  20. ↑ Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. (2017). "Upaya Mediasi Konflik Internal Keraton Surakarta". Diakses pada 11 November 2025.
  21. ↑ Dinas Kebudayaan Jawa Tengah. (2020). "Peran PB XII dalam Pelestarian Budaya Keraton Surakarta". Diakses pada 11 November 2025.
  22. 1 2 Lestari (2020). Takhta Raja-raja Jawa (dalam bahasa Indonesia). Yogyakarta: Sociality. ISBN 978-623-244-269-6. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  23. ↑ Bina Rena Pariwara, Indonesia (2001). Raja di alam republik Keraton Kasunanan Surakarta dan Paku Buwono XII. Indonesia: Bram Setiadi, Qomarul Hadi, Danang Suryo Tri Handayani. hlm. 97. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  24. ↑ "Maklumat PB XII 1 September 1945, Bagian Penting Eksistensi NKRI (seri 1 – bersambung)". IMNews. 4 September 2023. Diakses tanggal 31 Agustus 2024. ;

[1]

Lihat pula

  • Kesunanan Surakarta
  • Daerah Istimewa Surakarta
  • Daftar Raja Jawa
  • Wangsa Mataram
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Pakubuwono XII.
Jabatan politik
Didahului oleh:
Jabatan Baru
Kepala Daerah Istimewa Surakarta
1945–1946
Diteruskan oleh:
Jabatan Dihapus
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Susuhunan Pakubuwana XI
Susuhunan Surakarta
1945–2004
Diteruskan oleh:
Susuhunan Pakubuwana XIII

|}

  • l
  • b
  • s
Sri Susuhunan Pakubuwana

Pakubuwana II
PB II
(1745–1749)

Pakubuwana III
PB III
(1749–1788)

Pakubuwana IV
PB IV
(1788–1820)

Pakubuwana V
PB V
(1820–1823)

Pakubuwana VI
PB VI
(1823–1830)

Pakubuwana VII
PB VII
(1830–1858)

Pakubuwana VIII
PB VIII
(1858–1861)

Pakubuwana IX
PB IX
(1861–1893)

Pakubuwana X
PB X
(1893–1939)

Pakubuwana XI
PB XI
(1939–1945)

Pakubuwana XII
PB XII
(1945–2004)

Pakubuwana XIII
PB XIII
(2004–2025)

Pakubuwana XIV
PB XIV
(2025–Sekarang)

Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • ISNI
  • VIAF
  • GND
  • FAST
  • WorldCat
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Belanda
Lain-lain
  • IdRef
  • Yale LUX
  1. ↑ "Dinamika Suksesi Raja Keraton Solo setelah Pakubuwono XIII Wafat". 7 November 2025. Diakses tanggal 12 November 2025.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Awal Kehidupan
  2. Menyatakan Bergabung Dengan Republik Indonesia
  3. Masa Revolusi Fisik
  4. Serangan Umum Surakarta
  5. Dibekukannya Daerah Istimewa Surakarta
  6. Usaha mempertahankan Kemerdekaan Indonesia
  7. Era Kemerdekaan
  8. Mangkat
  9. Warisan dan suksesi
  10. Kehidupan Pribadi
  11. Silsilah
  12. Galeri
  13. Penghargaan
  14. Kepustakaan
  15. Pranala luar
  16. Referensi

Artikel Terkait

Kesunanan Surakarta Hadiningrat

kerajaan di Asia Tenggara

Solo Raya

wilayah metropolitan di Indonesia

Pakubuwana II

pendiri dan susuhunan pertama Surakarta

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026