Petrus Muntu-Muntu Tangkilisan adalah seorang tokoh pemimpin pergerakan demonstrasi dan boikot dari Komite Indonesia Merdeka (KIM), Sydney, Australia, 1945.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
|
P.M. Tangkilisan | |
|---|---|
| Anggota Dewan Perwakilan Rakyat | |
| Masa jabatan 7 Oktober 1955 – 26 Maret 1956 (Pengganti Antar Waktu) | |
| Presiden | Soekarno |
Pendahulu Asraroedin Pengganti Tidak ada | |
| Anggota Konstituante | |
| Masa jabatan 9 November 1956 – 5 Juli 1959 | |
| Presiden | Soekarno |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | Petrus Muntu-Untu Tangklisan (1919-05-19)19 Mei 1919 Singkil, Manado, Sulawesi Utara, Hindia Belanda |
| Meninggal | 7 November 1984(1984-11-07) (umur 69) Tebet, Jakarta Selatan, Indonesia |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Partai politik | Partai Buruh |
| Anak | 5 |
| Karier militer | |
| Dinas/cabang | |
| Masa dinas | 1945-1950 |
| Pangkat | |
Petrus Muntu-Muntu Tangkilisan[1] (dikenal dengan nama P. M. Tangkilisan atau Pet Tangkilisan; 19 Mei 1919 – 07 November 1984) adalah seorang tokoh pemimpin pergerakan demonstrasi dan boikot dari Komite Indonesia Merdeka (KIM), Sydney, Australia, 1945.[1]
P.M. Tangkilisan yang biasa dipanggil Pet adalah seorang putra Bantik, salah satu suku di Minahasa. Ia lahir pada tanggal 19 Mei 1919 di Singkil, Manado Utara, putra pertama dari pernikahan Pieter Willem Tangkilisan dengan Getruida Kullit.[2] Pet Tangkilisan memiliki adik kandung perempuan yaitu Petronella Maas Tangkilisan, yang menikah dengan S.D. Wuisan, salah seorang pejuang Peristiwa Merah Putih Manado 14 Februari 1946.
Pet Tangkilisan juga memiliki kakak tiri DR. Peils/Phill Maurits Tangkilisan (Hukum Besar Distrik Amurang, Anggota Minahasa Raad, Anggota Senat NIT, dan pernah dua kali menjadi Kepala Daerah Minahasa/KDM).[2]
Pet Tangkilisan menikah dengan Julien Magda Marie Sarapung. Dari pernikahan dengan Julien M.M. Sarapung, memiliki lima anak.
Pet menempuh pendidikan di HIS Manado (1932) dan MULO B Manado (1935).
Setelah menyelesaikan sekolah Mulo B, bekerja di Kantor Distrik (Kantor Wali kota) Manado, di Tata Usaha dari bulan Juli 1935 sampai Februari 1936. Ia kemudian bekerja berpindah-pindah sebagai pelaut di Balikpapan (1936-1938), Surabaya (1938), dan Jakarta (1938-1941).
Setelah runtuhnya Hindia Belanda pada Jepang, para pelaut Indonesia yang sedang melaut di luar negeri tidak dapat kembali pulang ke Indonesia. Pet kemudian tiba dan menetap di Sydney, Australia, pada tahun 1942 sampai tahun 1945.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, mulai 19 Agustus 1945, Pet bersama para pelaut Indonesia yang bekerja pada perusahaan KPM berjuang bersama Teman-teman KPM dan mendirikan Komite Indonesia Merdeka (KIM).[3]

Ketika berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 diterima di Sydney Australia pada 19 Agustus 1945, Pet dan rekan-rekan KIM memimpin aksi pemogokan dan boikot kapal-kapal Belanda (Black Ban) yang berada di Sydney, dalam kapasitasnya sebagai Ketua Bidang Penerangan dan Propaganda Komite Indoensia Merdeka Komite Indonesia Merdeka.
Pada akhir Agustus 1945, Pet bertemu dan melakukan rapat dengan Joris Ivens secara rahasia guna pembuatan film dokumenter "Indonesia Calling" di Sydney, dan film ini diselesaikan bersama Joris Ivens (Sutradara) dan kawan-kawan dengan tim teknis dari pegawai KPM dalam waktu dua minggu, selesai di akhir September 1945 dan diedarkan secara terbatas pada tahun 1946.
Pada bulan Oktober 1945, Pet bersama kurang lebih 1500 orang pelaut dan masyarakat Indonesia yang tinggal di Australia kembali ke Indonesia di Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia. Di Yogyakarta, Pet bergabung dengan Laskar Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) dan juga bekerja di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dari bulan Maret 1946 sampai Februari 1950.[4]
Pet diperbantukan pada Anggota Delegasi Republik Indonesia sebagai Liaison Officer pada Perundingan Linggarjati dan Renville.
Selama Revolusi Nasional Indonesia, Pet merangkap aktif sebagai TNI dengan pangkat Mayor pada Brigade XII kemudian Brigade XVI KRUX. Setelah penyerahan kedaulatan pada tahun 1950, Pet dipanggil kembali oleh Kementerian Pertahanan untuk menjadi Koordinator Komisi Penghubung Militer pada Kementerian Pertahanan yang memiliki tugas khusus mengatur dan mengajak para tentara yang pernah bekerja pada KNIL untuk kembali masuk di TNI/APRIS. Pet kemudian bekerja pada Kementerian Pertahanan RIS sebagai Ketua Tata Usaha mulai Januari 1950 sampai September 1950.
Saat terjadi Pemberontakan APRA di Bandung pada tanggal 23 Januari 1950, Pet Tangkilisan sedang menumpangi sebuah mobil bersama dengan rekannya Letnan Kolonel Adolf Lembong ketika mobil itu disergap oleh pasukan KNIL yang dipimpin oleh Raymond Westerling. Pada saat itu Pet Tangkilisan berhasil meloloskan diri dan keesokan harinya langsung kembali ke Jakarta untuk melapor di Kementerian Pertahanan.
Pada awal April 1950 sampai dengan Mei 1950, Pet ditugasi oleh Kementerian Pertahanan untuk pergi ke Manado sebagai Komisi Penghubung Militer untuk mengatur pengembalian tentara mantan KNIL masuk pada TNI/APRIS, sekaligus membantu Letnan Kolonel Alex Kawilarang untuk menangani pemberontakan Republik Maluku Selatan.
Setelah selesainya tugas dari Kementerian Pertahanan dan juga berubahnya kabinet, maka Pet Tangkilisan sejak September 1950 sampai dengan 1955 bekerja pada Kementerian Perhubungan pada Jawatan Perhubungan Laut sebagai Referendaris, Ketua Tata Usaha Jawatan Pelayaran.
Pada tahun 1954 ia menjabat sebagai Ketua Departemen Pemuda Partai Buruh. Pada Pemilihan Umum 1955, Pet Tangkilisan terpilih sebagai anggota DPR menggantikan Asraroedin dari Partai Buruh dan tahun 1956 sebagai anggota Konstituante Republik Indonesia.[5]
Pada tahun 1957 sampai 1961, Pet menjadi anggota Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat (P4P).
Pet Tangkilisan dianugerahkan 11 Tanda Jasa sebagai Pahlawan dan Pejuang Kemerdekaan, oleh Pemerintah Republik Indonesia, antara lain:

Pada awal dasawarsa 70-an, Pet aktif dalam kegiatan komunitas Minahasa di Jakarta. Menjelang akhir hidupnya, Pet Tangkilisan aktif melayani sebagai Gembala Sidang (Pendeta) Gereja Sidang Jemaat KGPM Singkil, di Manado Utara, sekaligus membantu penggembalaan di Gereja KGPM Sidang Sejahtera, akhir 1970-an sampai 1983. Pada tanggal 7 November 1984 Pet Tangkilisan meninggal di Tebet Jakarta, dan dibawa untuk dikebumikan dengan Upacara Militer tanggal 9 November 1984 di Pekuburan Adat Bantik di Singkil Manado Utara.[6]