Orang Depok, atau Kaum Depok, lebih dikenal dengan sebutan Orang Belanda Depok, adalah istilah yang merujuk kepada keturunan para pekerja Cornelis Chastelein, seorang pensiunan Perusahaan Hindia Timur Belanda dan pemilik tanah pribadi di Gemeente Depok. Kaum Depok merupakan pribumi Indonesia yang memiliki gaya hidup seperti orang Eropa, khususnya Belanda.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Jumlah populasi | |
|---|---|
| ±3.000 | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
| Depok, Indonesia | |
| Bahasa | |
| Agama | |
| Protestanisme (mayoritas) | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Orang Indo |
Orang Depok, atau Kaum Depok, lebih dikenal dengan sebutan Orang Belanda Depok, adalah istilah yang merujuk kepada keturunan para pekerja Cornelis Chastelein, seorang pensiunan Perusahaan Hindia Timur Belanda dan pemilik tanah pribadi di Gemeente Depok. Kaum Depok merupakan pribumi Indonesia yang memiliki gaya hidup seperti orang Eropa, khususnya Belanda.

Awalnya, Cornelis Chastelein bekerja sebagai juru tulis di gudang logistik milik Perusahaan Hindia Timur Belanda — diakronimkan VOC — yang akhirnya memutuskan untuk pensiun dini pada tahun 1691 karena alasan kesehatan.[1] Namun, pengunduran dirinya dari VOC disebabkan oleh perbedaan pendapat dengan Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Willem van Outhoorn. Empat tahun kemudian, Chastelein membeli tanah pribadi di beberapa daerah di Batavia, termasuk Seringsing dan Depok.[2] Ia membangun rumah di kawasan Seringsing sebagai tempat peristirahatan saat pensiun, sementara kawasan Depok menjadi lahan pertanian.
Depok yang merupakan kawasan pertanian dan perkebunan tentu membutuhkan tenaga kerja untuk mengelola hasil pertanian. Oleh karena itu, Chastelein membawa budak dari Nusa Tenggara, Makassar, Maluku, ke Melaka, Filipina, India, Bangladesh, dan Sri Lanka.[2] Saat itu, Depok merupakan penghasil nila, biji kakao, sirsak, nangka, dan belimbing.
Pada 28 Juni 1714, Chastelein meninggal dan meninggalkan harta pribadinya kepada 150 pekerjanya.[2] Ia memerintahkan untuk membebaskan budak-budaknya dan memberi mereka nama keluarga (marga) khusus. Semua marganya diberikan oleh seorang pemimpin agama bernama Baprima Lucas, kecuali marga Soedira yang diberikan langsung oleh Chastelein. Marga-marga tersebut antara lain Bacas, Isakh, Jacob, Jonathans, Josef, Laurens, Leander, Loen, Samuel, Soedira, Tholense, dan Zadokh. Dari kedua belas marga tersebut, hanya Zadokh yang menghilang karena tidak adanya keturunan laki-laki dari marga Zadokh. Sebelum dimasukkan ke suatu marga, para budak yang dibebaskan memeluk agama Protestan dan memilih salah satu dari dua belas marga yang ada. Kedua belas nama keluarga ini merujuk pada kedua belas murid Yesus.
Mereka yang diberi marga umumnya menggunakan bahasa Belanda (dialek Indonesia) sebagai bahasa sehari-hari mereka.[3] Saat ini, hanya sebagian kecil Kaum Depok yang berbicara bahasa Belanda, sementara keturunan mereka lebih fasih dalam bahasa Indonesia.