Observatorium Nasional Timau adalah observatorium astronomi nasional yang terletak di kaki Gunung Timau, Kecamatan Amfoang Tengah, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ia berada sekitar 130 kilometer (81 mi) di timur laut Kota Kupang, di lahan perbukitan seluas 34 hektar, di ketinggian 1.347 m (4.419 ft) di atas permukaan laut. Observatorium ini dikelola oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan berfungsi sebagai pusat observasi ilmiah, penelitian, serta program edukasi dan sosialisasi astronomi dan ilmu keantariksaan lainnya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Gedung Teleskop Timau | |||
Koordinat: 9°35′49.61105″S 123°56′49.99366″E / 9.5971141806°S 123.9472204611°E / -9.5971141806; 123.9472204611 | |||
| Organisasi | Badan Riset dan Inovasi Nasional | ||
|---|---|---|---|
| Lokasi | Gunung Timau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur | ||
| Koordinat | 9°35′49.5″S 123°56′50.2″E / 9.597083°S 123.947278°E / -9.597083; 123.947278 | ||
| Ketinggian | 1,347 m (4,419 ft) | ||
| Didirikan | Dalam pembangunan | ||
| Situs web | www | ||
| Teleskop | |||
| |||
Observatorium Nasional Timau adalah observatorium astronomi nasional yang terletak di kaki Gunung Timau, Kecamatan Amfoang Tengah, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ia berada sekitar 130 kilometer (81 mi) di timur laut Kota Kupang, di lahan perbukitan seluas 34 hektar, di ketinggian 1.347 m (4.419 ft) di atas permukaan laut. Observatorium ini dikelola oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan berfungsi sebagai pusat observasi ilmiah, penelitian, serta program edukasi dan sosialisasi astronomi dan ilmu keantariksaan lainnya.
Obnas Timau (demikian observatorium ini biasa disingkat) berada di dalam area Hutan Lindung Mutis Timau. Untuk menjaga agar observatorium bisa beroperasi di bawah langit yang gelap (bebas dari polusi cahaya) dalam waktu lama maka telah digagas konsep sebuah taman langit gelap yang areanya berada di sekeliling kawasan observatorium. Taman ini rencananya akan dinamakan Taman Langit Gelap Nasional. Dengan demikian, fungsi riset dan edukasi (atau wisata edukasi) akan difasilitasi oleh Obnas Timau adapun fungsi wisata secara umum akan difasilitasi lewat Taman Langit Gelap Nasional.
Observatorium Nasional Timau merupakan observatorium besar kedua di Indonesia setelah Observatorium Bosscha di Lembang, Bandung Barat. Instrumen utamanya adalah sebuah teleskop optik dengan cermin berdiameter 3,8 meter. Saat instalasinya rampung yang ditargetkan sebelum akhir tahun 2025, teleskop yang dinamakan Teleskop Timau ini akan menjadi teleskop optik terbesar di Asia Tenggara.[1] Dengan peralatan modern yang dimilikinya yang beroperasi dalam lingkungan dengan fraksi jumlah langit cerah yang tinggi (terutama untuk daerah tropis) dan polusi cahaya yang sangat rendah,[2] observatorium ini diharapkan dapat menjadi salah satu pusat riset astronomi tingkat internasional.
Kawasan Obnas Timau saat ini masih dalam tahap pembangunan dan belum beroperasi penuh.

Sejarah Obnas Timau tidak terlepas dari disahkannya Undang-Undang Republik Indonesia No. 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan yang membuka lebar peluang bagi perkembangan astronomi di Indonesia. Undang-Undang ini mengamanatkan bangsa Indonesia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi keantariksaan, termasuk astronomi dan astrofisika.[3]
Sebenarnya wacana pengembangan teleskop optik berdiameter di atas 2 meter di Indonesia telah ada semenjak pertengahan 1980-an.[4] Adapun ide pendirian observatorium baru di Indonesia makin mencuat ketika kondisi langit di atas Observatorium Bosscha di Lembang dipandang tidak lagi ideal. Akhirnya pada tahun 2013, tahun disahkannya Undang-Undang Keantariksaan, perwakilan Prodi Astronomi ITB menyampaikan gagasan untuk membangun sebuah observatorium nasional di kaki Gunung Timau ke LAPAN. Prof Thomas Djamaluddin yang menjabat sebagai Deputi Sains saat itu menyatakan persetujuannya.[5]
Alasan yang digunakan untuk mendukung gagasan tersebut adalah:
Tahun 2014 saat Thomas Djamaluddin menjabat sebagai Kepala LAPAN, usulan pembangunan Observatorium Nasional dimatangkan dengan menambahkan alasan strategis "pemberdayaan kawasan Timur Indonesia" sesuai dengan prioritas pembangunan Indonesia.[5]
Dengan demikian, gagasan pendirian Obnas Timau bertujuan ganda yakni mendorong kemajuan ilmu keantariksaan serta mendorong pemerataan riset dan pemberdayaan kawasan timur Indonesia. Tujuan kedua ini diharapkan bisa dicapai lewat Taman Langit Gelap Nasional yang juga berfungsi sebagai zona pendukung observatorium.
Selanjutnya, penyusunan rencana rinci Obnas Timau dilakukan oleh LAPAN bersama tim ITB. Untuk menyiapkan pelaksanaannya, dilakukan penandatangan Nota Kesepahaman antara LAPAN dengan ITB, Undana, Pemerintah Provinsi NTT, dan Pemerintah Kabupaten Kupang. Sebagai teleskopnya, dipilih yang sejenis dengan teleskop modern yang baru pertama kali dikembangkan di Jepang oleh Universitas Kyoto. Teleskop tersebut adalah Teleskop Seimei yang berada di Observatorium Okayama.[5]
Sebelum integrasi LAPAN ke BRIN pada tahun 2021, Observatorium Nasional Timau dikelola oleh Balai Pengelola Observatorium Nasional (BPON) Kupang.[6] Selain berfungsi untuk mengelola fasilitas dan riset di Obnas Timau, BPON juga aktif mensosialisasikan keilmuan astronomi dan kesadaran untuk menjaga langit gelap kepada masyarakat[7] melalui pengamatan publik[8] dan sosialisasi kepada masyarakat lokal sekitar observatorium bersama Tim Ekuator (Edukasi Ilmu Astronomi dan Antariksa untuk Timor).[9][10]
Pembangunan Obnas Timau dimulai sejak tahun 2015. Khusus instrumen utamanya, prosesnya mengalami beberapa kendala sehingga penyelesaiannya mesti bergeser dari target awal yakni tahun 2020. Kendala utama yang dialami adalah:
Berikut adalah rangkaian peristiwa utama dalam sejarah pembangunan Obnas Timau:
Per Juli 2025, instalasi seluruh komponen teleskop sudah selesai dilakukan kecuali kamera yang masih berada di Jepang.


Penentuan lokasi sebuah observatorium bukanlah perkara mudah karena ada banyak aspek yang perlu dipertimbangkan. Tiga yang paling utama adalah banyaknya jumlah malam cerah per tahun, tingkat kegelapan langit di atas observatorium, dan stabilitas atmosfer di atas observatorium. Untuk Obnas Timau, aspek lain yang menentukan adalah keterjangkauan lokasi. Malam fotometrik merepresentasikan stabilitas transparansi langit, sementara visibilitas merupakan indikasi turbulensi atmosfer Bumi yang memengaruhi kualitas pengamatan. Untuk menetapkan Gunung Timau sebagai lokasi Observatorium Nasional, studi kualitas langit untuk pengamatan telah dilakukan selama lebih dari 7 tahun oleh para astronom dari ITB.[11]

Obnas Timau berada di kawasan Hutan Lindung Mutis Timau di kaki Gunung Timau di ketinggian sekitar 1300 meter di atas permukaan laut. Areanya seluas 34 hektar yang berada tiga desa: Desa Bitobe (Kec. Amfoang Tengah), Desa Honuk, dan Desa Faumes (Kec. Amfoang Barat Laut). Lokasi tersebut berada sekitar 60 km dari jalan negara yang menuju Timor Leste dan sekitar 130 km dari Kota Kupang (dalam radius 70 km dari Kota Kupang). Lokasi yang jauh dari kota memungkinkan dilakukannya pengamatan bintang atau objek langit lainnya tanpa gangguan polusi cahaya.[4] Kawasan Obnas Timau dikelilingi oleh kawasan Taman Nasional Mutis Timau.

Secara geomorfologi, Obnas Timau berada di daerah yang tergolong memiliki morfologi bergelombang landai dengan kemiringan 2% hingga 8%, serta dikelilingi oleh lereng cukup terjal di arah tenggara, timur laut, dan barat laut. Formasi Metan dan Bobonaro mendominasi geologi daerah tersebut. Adapun dari sudut pandang hayati, daerah tersebut berupa padang rumput yang berada dekat dengan ekosistem hutan pegunungan bawah. Selain sapi dan kuda yang diternakkan oleh masyarakat setempat, fauna seperti kuskus, rusa timor, dan babi hutan dapat ditemui di sekitar lokasi.[4]
Berikut ini alat-alat pengamatan yang telah dan akan dipasang di Obnas Timau.
| Instrumen | Fungsi | Status |
|---|---|---|
| Teleskop Timau | Mengamati benda-benda antariksa baik alami maupun buatan yang sangat redup. Teleskop ini cocok untuk pengamatan lanjutan (follow-up observation) dari teleskop-teleskop besar seperti LSST (The Large Synoptic Survey Telescope), GMT (Giant Magellan Telescope), TMT (Thirty Meter Telescope), dan lain-lain. | dalam pembangunan |
| Magnetometer | Mengukur kekuatan dan arah medan magnet bumi. | beroperasi |
| Sky Quality Meter (SQM) | Mengukur tingkat kecerlangan langit malam. | beroperasi |
| All-sky camera | Monitoring awan dan langit dalam medan pandang yang luas (full sky) | beroperasi |
| Weather station | Mengukur parameter-parameter meteorologis | beroperasi |
| Callisto | Monitoring semburan radio matahari. | 2 alat beroperasi |
| GISTM | Mengamati ionosfer berbasis Global Positioning System (GPS) dan jumlah elektron total ionosfer atau Total Electron Content (TEC). | beroperasi |
| Beberapa teleskop kecil dengan optik primer berukuran di bawah 1 meter. | Mengamati benda-benda langit | dalam persiapan, beberapa instrumen seperti teleskop optik 50 cm sudah diuji [12][13] |
Selain alat-alat di atas, rencananya di masa depan akan dipasang juga sebuah teleskop radio berukuran besar.[14]



Teleskop Timau akan dimanfaatkan untuk pengamatan lanjutan fenomena transien (supernova, flare, dsb), pencarian planet luar surya, hingga studi materi gelap pada galaksi. Selain itu, bersama teleskop-teleskop kecil lainnya, Teleskop Timau dapat digunakan juga untuk pengamatan, pemantauan, dan karakterisasi asteroid dan komet yang berpotensi bertabrakan dengan bumi juga pengamatan, pemantauan, dan karakterisasi benda-benda antariksa buatan seperti satelit dan sampah antariksa yang keduanya masuk dalam konteks Space Situational Awareness (SSA). Saat ini pengamatan asteroid-asteroid di dekat Bumi bukan hanya didorong oleh alasan keamanan tapi juga oleh alasan ekonomi dalam konteks asteroid mining.
Teleskop matahari yang rencananya akan dipasang beserta alal-alat lain baik yang sudah dipasang (magnetometer, Callisto, dan GISTM) akan digunakan untuk mengamati aspek lain dari SSA yakni efek dari cuaca antariksa (space weather) yang sangat dipengaruhi oleh aktivitas matahari di samping sinar kosmik. Pemantauan cuaca antariksa perlu dilakukan mengingat badai geomagnet dan gangguan ionosfer yang terjadi dapat mengacaukan transmisi listrik, telekomunikasi radio, hingga navigasi canggih berbasis satelit.
Selain itu, Obnas Timau juga dapat memberikan pelayanan efemeris terkait posisi benda langit sebagai fungsi waktu memanfaatkan teleskop-teleskop kecil yang dimilikinya. Observatorium ini dapat menerbitkan almanak astronomi nasional secara berkala atau dapat memberikan layanan efemeris sesuai permintaan pengguna. Kegiatan ini dapat diperluas dengan pengembangan teknik pengamatan hilal (sabit tipis Bulan) serta koordinasi dengan jejaring pengamatan nasional.[4] Pengamatan bersama bisa dilakukan dengan BMKG terkait penelitian cuaca, iklim, dan seismik.
Kolaborasi dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi baik di Indonesia maupun di luar negeri bisa dilakukan. Salah satu usulan terkait pemanfaatan Obnas Timau dari Undana adalah pengamatan eksoplanet, implementasi fisika citra pada teleskop, pengendalian dan otomasi jarak jauh, penelitian sensor muka gelombang Shack-Hartmann, teknik koreksi cermin elektromagnetik untuk teleskop, dan aktivitas matahari.[3]
