Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiObservatorium Nasional Timau
Artikel Wikipedia

Observatorium Nasional Timau

Observatorium Nasional Timau adalah observatorium astronomi nasional yang terletak di kaki Gunung Timau, Kecamatan Amfoang Tengah, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ia berada sekitar 130 kilometer (81 mi) di timur laut Kota Kupang, di lahan perbukitan seluas 34 hektar, di ketinggian 1.347 m (4.419 ft) di atas permukaan laut. Observatorium ini dikelola oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan berfungsi sebagai pusat observasi ilmiah, penelitian, serta program edukasi dan sosialisasi astronomi dan ilmu keantariksaan lainnya.

observatorium di Indonesia
Diperbarui 21 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Observatorium Nasional Timau
Observatorium Nasional Timau
Gedung Teleskop Timau
Wikipedia | Kode sumber | Tata penggunaan
Koordinat: 9°35′49.61105″S 123°56′49.99366″E / 9.5971141806°S 123.9472204611°E / -9.5971141806; 123.9472204611
OrganisasiBadan Riset dan Inovasi Nasional
LokasiGunung Timau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur
Koordinat9°35′49.5″S 123°56′50.2″E / 9.597083°S 123.947278°E / -9.597083; 123.947278
Ketinggian1,347 m (4,419 ft)
DidirikanDalam pembangunan
Situs webwww.brin.go.id
Teleskop
Teleskop Timaureflektor
Observatorium Nasional Timau di Indonesia
Observatorium Nasional Timau
Location of Observatorium Nasional Timau
Commons page Media terkait dari Wikimedia Commons
[sunting di Wikidata]

Observatorium Nasional Timau adalah observatorium astronomi nasional yang terletak di kaki Gunung Timau, Kecamatan Amfoang Tengah, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ia berada sekitar 130 kilometer (81 mi) di timur laut Kota Kupang, di lahan perbukitan seluas 34 hektar, di ketinggian 1.347 m (4.419 ft) di atas permukaan laut. Observatorium ini dikelola oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan berfungsi sebagai pusat observasi ilmiah, penelitian, serta program edukasi dan sosialisasi astronomi dan ilmu keantariksaan lainnya.

Obnas Timau (demikian observatorium ini biasa disingkat) berada di dalam area Hutan Lindung Mutis Timau. Untuk menjaga agar observatorium bisa beroperasi di bawah langit yang gelap (bebas dari polusi cahaya) dalam waktu lama maka telah digagas konsep sebuah taman langit gelap yang areanya berada di sekeliling kawasan observatorium. Taman ini rencananya akan dinamakan Taman Langit Gelap Nasional. Dengan demikian, fungsi riset dan edukasi (atau wisata edukasi) akan difasilitasi oleh Obnas Timau adapun fungsi wisata secara umum akan difasilitasi lewat Taman Langit Gelap Nasional.

Observatorium Nasional Timau merupakan observatorium besar kedua di Indonesia setelah Observatorium Bosscha di Lembang, Bandung Barat. Instrumen utamanya adalah sebuah teleskop optik dengan cermin berdiameter 3,8 meter. Saat instalasinya rampung yang ditargetkan sebelum akhir tahun 2025, teleskop yang dinamakan Teleskop Timau ini akan menjadi teleskop optik terbesar di Asia Tenggara.[1] Dengan peralatan modern yang dimilikinya yang beroperasi dalam lingkungan dengan fraksi jumlah langit cerah yang tinggi (terutama untuk daerah tropis) dan polusi cahaya yang sangat rendah,[2] observatorium ini diharapkan dapat menjadi salah satu pusat riset astronomi tingkat internasional.

Kawasan Obnas Timau saat ini masih dalam tahap pembangunan dan belum beroperasi penuh.

Papan nama Taman Nasional Mutis Timau yang berada di dekat Observatorium Nasional Timau.

Sejarah

Sejarah Obnas Timau tidak terlepas dari disahkannya Undang-Undang Republik Indonesia No. 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan yang membuka lebar peluang bagi perkembangan astronomi di Indonesia. Undang-Undang ini mengamanatkan bangsa Indonesia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi keantariksaan, termasuk astronomi dan astrofisika.[3]

Sebenarnya wacana pengembangan teleskop optik berdiameter di atas 2 meter di Indonesia telah ada semenjak pertengahan 1980-an.[4] Adapun ide pendirian observatorium baru di Indonesia makin mencuat ketika kondisi langit di atas Observatorium Bosscha di Lembang dipandang tidak lagi ideal. Akhirnya pada tahun 2013, tahun disahkannya Undang-Undang Keantariksaan, perwakilan Prodi Astronomi ITB menyampaikan gagasan untuk membangun sebuah observatorium nasional di kaki Gunung Timau ke LAPAN. Prof Thomas Djamaluddin yang menjabat sebagai Deputi Sains saat itu menyatakan persetujuannya.[5]

Alasan yang digunakan untuk mendukung gagasan tersebut adalah:

  1. Perlu ada observatorium baru yang melengkapi keberadaan Observatorium Bosscha di Lembang, Jawa Barat.
  2. Wilayah Nusa Tenggara Timur merupakan wilayah yang paling kering dengan malam cerah yang paling panjang dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia.
  3. Kawasan gunung Timau masih tergolong gelap (jauh dari polusi cahaya) namun mudah dicapai dari Kupang sehingga memudahkan operasional observatorium.

Tahun 2014 saat Thomas Djamaluddin menjabat sebagai Kepala LAPAN, usulan pembangunan Observatorium Nasional dimatangkan dengan menambahkan alasan strategis "pemberdayaan kawasan Timur Indonesia" sesuai dengan prioritas pembangunan Indonesia.[5]

Dengan demikian, gagasan pendirian Obnas Timau bertujuan ganda yakni mendorong kemajuan ilmu keantariksaan serta mendorong pemerataan riset dan pemberdayaan kawasan timur Indonesia. Tujuan kedua ini diharapkan bisa dicapai lewat Taman Langit Gelap Nasional yang juga berfungsi sebagai zona pendukung observatorium.

Selanjutnya, penyusunan rencana rinci Obnas Timau dilakukan oleh LAPAN bersama tim ITB. Untuk menyiapkan pelaksanaannya, dilakukan penandatangan Nota Kesepahaman antara LAPAN dengan ITB, Undana, Pemerintah Provinsi NTT, dan Pemerintah Kabupaten Kupang. Sebagai teleskopnya, dipilih yang sejenis dengan teleskop modern yang baru pertama kali dikembangkan di Jepang oleh Universitas Kyoto. Teleskop tersebut adalah Teleskop Seimei yang berada di Observatorium Okayama.[5]

Sebelum integrasi LAPAN ke BRIN pada tahun 2021, Observatorium Nasional Timau dikelola oleh Balai Pengelola Observatorium Nasional (BPON) Kupang.[6] Selain berfungsi untuk mengelola fasilitas dan riset di Obnas Timau, BPON juga aktif mensosialisasikan keilmuan astronomi dan kesadaran untuk menjaga langit gelap kepada masyarakat[7] melalui pengamatan publik[8] dan sosialisasi kepada masyarakat lokal sekitar observatorium bersama Tim Ekuator (Edukasi Ilmu Astronomi dan Antariksa untuk Timor).[9][10]

Kronologi pembangunan

Pembangunan Obnas Timau dimulai sejak tahun 2015. Khusus instrumen utamanya, prosesnya mengalami beberapa kendala sehingga penyelesaiannya mesti bergeser dari target awal yakni tahun 2020. Kendala utama yang dialami adalah:

  1. Perlu perbaikan dan penguatan jalan akses.
  2. Kendala teknis dalam produksi cermin dan kamera di Jepang.
  3. Pandemi COVID-19 yang menghambat logistik global.
  4. Badai Seroja yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur pada April 2021.

Berikut adalah rangkaian peristiwa utama dalam sejarah pembangunan Obnas Timau:

  • 2015: Pembangunan dimulai di dua lokasi: Desa Oelnasi (Kantor Obnas) dan Kec. Amfoang (Obnas Timau); penandatangan Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerjasama 5 pihak (LAPAN, ITB, Undana, Pemprov NTT, dan Pemkab Kupang).
  • 2016: Masterplan Obnas Timau dan Kantor Obnas; dokumen amdal Obnas; hibah tanah untuk Kantor Obnas.
  • 2017: Penandatanganan kontrak pembangunan teleskop utama dengan diameter 3,8 meter (Teleskop Timau) dengan target selesai 2020 (teleskop dibuat di Jepang); dokumen UKL-UPL Kantor Obnas.
  • 2018: Pembangunan gedung teleskop dimulai dan direncanakan selesai pada 2019; IPPKH dan penetapan area kerja Obnas Timau; pelaksanaan tata batas Obnas Timau; progres teleskop di Jepang.
  • 2019: Pembangunan gedung teleskop dihentikan di 92% menunggu kubah dipasang; komponen-komponen kubah teleskop dikirim dari Jepang dan disimpan di Kantor Obnas karena kondisi jalan dan jembatan ke Timau belum memungkinkan; progres teleskop di Jepang.
  • 2020: Pembangunan jalan sepanjang 2 km oleh BPJN Kupang; progres teleskop di Jepang menunggu kubah dipasang.
  • 2021: Review kontrak dengan kontraktor teleskop dan kontraktor gedung; penyempurnaan cermin utama dan sekunder di Jepang; pembangunan jalan sepanjang 15,3 km oleh BPJN Kupang; integrasi LAPAN ke BRIN.
  • 2022: Perbaikan Jembatan Kali Kering dan Jembatan Oelopano; instalasi kubah dilakukan setelah crane-50 ton bisa ke Timau; lanjutan pembangunan gedung teleskop.
  • 2023: Instalasi teleskop dilakukan setelah cermin, dudukan, dan komponen-komponen lain tiba di Timau; gedung teleskop dinyatakan selesai dibangun; internet terpasang.
  • 2024: Progres kamera di Jepang; penyempurnaan gedung teleskop di antaranya dengan pemasangan sandwich panel; listrik PLN terpasang.
  • Maret 2025: Seluruh segmen cermin utama teleskop (20 keping) berhasil dipasang dan telescope balancing selesai dilakukan yang menandai progres instalasi telah mencapai ~75%; penyempurnaan gedung teleskop dan renovasi wisma.
  • Target akhir 2025: Pemasangan kamera dan penyelesaian instalasi Teleskop Timau.

Per Juli 2025, instalasi seluruh komponen teleskop sudah selesai dilakukan kecuali kamera yang masih berada di Jepang.

Linimasa pembangunan Observatorium Nasional Timau per Agustus 2025.
Instalasi kubah Teleskop Timau pada 17 Sept 2022.

Lokasi dan kondisi lingkungan

Penentuan lokasi sebuah observatorium bukanlah perkara mudah karena ada banyak aspek yang perlu dipertimbangkan. Tiga yang paling utama adalah banyaknya jumlah malam cerah per tahun, tingkat kegelapan langit di atas observatorium, dan stabilitas atmosfer di atas observatorium. Untuk Obnas Timau, aspek lain yang menentukan adalah keterjangkauan lokasi. Malam fotometrik merepresentasikan stabilitas transparansi langit, sementara visibilitas merupakan indikasi turbulensi atmosfer Bumi yang memengaruhi kualitas pengamatan. Untuk menetapkan Gunung Timau sebagai lokasi Observatorium Nasional, studi kualitas langit untuk pengamatan telah dilakukan selama lebih dari 7 tahun oleh para astronom dari ITB.[11]

Di kawasan Observatorium Nasional Timau, hewan ternak bebas berkeliaran mencari rumput.

Obnas Timau berada di kawasan Hutan Lindung Mutis Timau di kaki Gunung Timau di ketinggian sekitar 1300 meter di atas permukaan laut. Areanya seluas 34 hektar yang berada tiga desa: Desa Bitobe (Kec. Amfoang Tengah), Desa Honuk, dan Desa Faumes (Kec. Amfoang Barat Laut). Lokasi tersebut berada sekitar 60 km dari jalan negara yang menuju Timor Leste dan sekitar 130 km dari Kota Kupang (dalam radius 70 km dari Kota Kupang). Lokasi yang jauh dari kota memungkinkan dilakukannya pengamatan bintang atau objek langit lainnya tanpa gangguan polusi cahaya.[4] Kawasan Obnas Timau dikelilingi oleh kawasan Taman Nasional Mutis Timau.

Tipikal langit di atas kawasan Observatorium Nasional Timau saat tidak ada gangguan bulan tapi ada sedikit awan.

Secara geomorfologi, Obnas Timau berada di daerah yang tergolong memiliki morfologi bergelombang landai dengan kemiringan 2% hingga 8%, serta dikelilingi oleh lereng cukup terjal di arah tenggara, timur laut, dan barat laut. Formasi Metan dan Bobonaro mendominasi geologi daerah tersebut. Adapun dari sudut pandang hayati, daerah tersebut berupa padang rumput yang berada dekat dengan ekosistem hutan pegunungan bawah. Selain sapi dan kuda yang diternakkan oleh masyarakat setempat, fauna seperti kuskus, rusa timor, dan babi hutan dapat ditemui di sekitar lokasi.[4]

Fasilitas riset

Berikut ini alat-alat pengamatan yang telah dan akan dipasang di Obnas Timau.

Instrumen Fungsi Status
Teleskop Timau Mengamati benda-benda antariksa baik alami maupun buatan yang sangat redup. Teleskop ini cocok untuk pengamatan lanjutan (follow-up observation) dari teleskop-teleskop besar seperti LSST (The Large Synoptic Survey Telescope), GMT (Giant Magellan Telescope), TMT (Thirty Meter Telescope), dan lain-lain. dalam pembangunan
Magnetometer Mengukur kekuatan dan arah medan magnet bumi. beroperasi
Sky Quality Meter (SQM) Mengukur tingkat kecerlangan langit malam. beroperasi
All-sky camera Monitoring awan dan langit dalam medan pandang yang luas (full sky) beroperasi
Weather station Mengukur parameter-parameter meteorologis beroperasi
Callisto Monitoring semburan radio matahari. 2 alat beroperasi
GISTM Mengamati ionosfer berbasis Global Positioning System (GPS) dan jumlah elektron total ionosfer atau Total Electron Content (TEC). beroperasi
Beberapa teleskop kecil dengan optik primer berukuran di bawah 1 meter. Mengamati benda-benda langit dalam persiapan, beberapa instrumen seperti teleskop optik 50 cm sudah diuji [12][13]

Selain alat-alat di atas, rencananya di masa depan akan dipasang juga sebuah teleskop radio berukuran besar.[14]

Sampel hasil dari SQM yang terpasang di Observatorium Nasional Timau. Efek awan terlihat terutama pada paruh awal malam.
Langit di atas Observatorium Nasional Timau pada 24 Juli 2025 menjelang tengah malam hasil rekaman all-sky camera yang terpasang di sana.
Tampilan Teleskop Timau pada 13 Maret 2025 setelah seluruh segmen cermin sebanyak 20 buah berhasil dipasang.

Penelitian dan kontribusi ilmiah

Teleskop Timau akan dimanfaatkan untuk pengamatan lanjutan fenomena transien (supernova, flare, dsb), pencarian planet luar surya, hingga studi materi gelap pada galaksi. Selain itu, bersama teleskop-teleskop kecil lainnya, Teleskop Timau dapat digunakan juga untuk pengamatan, pemantauan, dan karakterisasi asteroid dan komet yang berpotensi bertabrakan dengan bumi juga pengamatan, pemantauan, dan karakterisasi benda-benda antariksa buatan seperti satelit dan sampah antariksa yang keduanya masuk dalam konteks Space Situational Awareness (SSA). Saat ini pengamatan asteroid-asteroid di dekat Bumi bukan hanya didorong oleh alasan keamanan tapi juga oleh alasan ekonomi dalam konteks asteroid mining.

Teleskop matahari yang rencananya akan dipasang beserta alal-alat lain baik yang sudah dipasang (magnetometer, Callisto, dan GISTM) akan digunakan untuk mengamati aspek lain dari SSA yakni efek dari cuaca antariksa (space weather) yang sangat dipengaruhi oleh aktivitas matahari di samping sinar kosmik. Pemantauan cuaca antariksa perlu dilakukan mengingat badai geomagnet dan gangguan ionosfer yang terjadi dapat mengacaukan transmisi listrik, telekomunikasi radio, hingga navigasi canggih berbasis satelit.

Selain itu, Obnas Timau juga dapat memberikan pelayanan efemeris terkait posisi benda langit sebagai fungsi waktu memanfaatkan teleskop-teleskop kecil yang dimilikinya. Observatorium ini dapat menerbitkan almanak astronomi nasional secara berkala atau dapat memberikan layanan efemeris sesuai permintaan pengguna. Kegiatan ini dapat diperluas dengan pengembangan teknik pengamatan hilal (sabit tipis Bulan) serta koordinasi dengan jejaring pengamatan nasional.[4] Pengamatan bersama bisa dilakukan dengan BMKG terkait penelitian cuaca, iklim, dan seismik.

Kolaborasi dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi baik di Indonesia maupun di luar negeri bisa dilakukan. Salah satu usulan terkait pemanfaatan Obnas Timau dari Undana adalah pengamatan eksoplanet, implementasi fisika citra pada teleskop, pengendalian dan otomasi jarak jauh, penelitian sensor muka gelombang Shack-Hartmann, teknik koreksi cermin elektromagnetik untuk teleskop, dan aktivitas matahari.[3]

Fasilitas lain

  • Wisma 2 lantai dengan kapasitas 16 penghuni (saat ini). Semua kamar terletak di lantai 1. Adapun lantai 2 digunakan sebagai musalla dan tempat berolahraga.
Wisma Obnas Timau pada 26 Juli 2025.

Lihat juga

  • Observatorium Bosscha
  • Teleskop Seimei
  • Teleskop Timau
  • Teleskop Zeiss

Referensi

  1. ↑ Humas BRIN (2023-09-28). "BRIN Kenalkan Teleskop 3,8 meter di Timau". BRIN. Diakses tanggal 2025-07-26.
  2. ↑ indonesia.go.id (2023-07-22). "Observatorium Timau, "Mata Langit" Baru Indonesia". indonesia.go.id. Diakses tanggal 2025-07-11.
  3. 1 2 langitselatan (2017-08-11). "Observatorium Nasional Timau, Pengawas Langit dari Timor". langitselatan. Diakses tanggal 2025-07-11.
  4. 1 2 3 4 Tim Penyusun (2017). Selayang Pandang Observatorium Nasional Timau. PT Gramedia, Jakarta. ISBN 978-602-424-732-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. 1 2 3 Djamaluddin, Thomas (2024-05-27). "Catatan Sejarah Pembangunan Observatorium Nasional Timau". Dokumentasi T. Djamaluddin. Diakses tanggal 2025-07-26.
  6. ↑ "Peraturan Lembaga Penerbangan Dan Antariksa Nasional Nomor 5 Tahun 2020". 2022-01-07. Diakses tanggal 2025-07-27.
  7. ↑ Puspita, Ratna (Sabtu, 07 Agustus 2021). "BPON Kupang: Langit Gelap Permudah Amati Objek Langit". Diakses tanggal 27 Juli 2025.
  8. ↑ antaranews.com (2021-08-06). "BPON: Pelihara langit gelap amati objek langit lebih jelas dan indah". Antara News. Diakses tanggal 2025-07-27.
  9. ↑ Yamani, Avivah (2017-11-10). "Astronomi, Gerbang Edukasi & Wisata Langit Timor Barat". langitselatan. Diakses tanggal 2025-07-27.
  10. ↑ "Dosen Undana Jelaskan Fungsi Mobil Ekuator di Observatorium Timau". Tempo. 24 Juli 2025 | 11.04 WIB. Diakses tanggal 2025-07-27.
  11. ↑ nationalgeographic (2017-11-09). "Observatorium Nasional Timau, Pengawas Langit dari Timor". nationalgeographic.grid.id. Diakses tanggal 2025-07-11.
  12. ↑ Bumbungan, M T; Priyatikanto, R P; Danarianto, M D; Saputra, M B; Rohmah, F; Murti, M D; Mumtahana, F; Nurzaman, M Z; Legita, N D (2019-05-01). "Two 0.5-m robotic telescopes for Timau National Observatory in eastern Indonesia". Journal of Physics: Conference Series. 1231 (1): 012008. doi:10.1088/1742-6596/1231/1/012008. ISSN 1742-6588.
  13. ↑ Danarianto & Saputra (2022). "Teleskop 50-cm Observatorium Nasional Timau: Performa dan Status Terkini". Jurnal Sains Dirgantara. 19 (2): 21–30.
  14. ↑ Humas BRIN (2024-06-07). "BRIN Rencanakan Pembangunan Teleskop Radio di Observatorium Nasional Timau". BRIN. Diakses tanggal 2025-07-25.

Pranala luar

  • Mt. Timau observatory project reaches for stars, teleskop terbesar di Asia Tenggara sedang dibangun di Timor, NTT.
  • Citra terbaru langit di Obnas Timau
  • Video timelapse langit malam terakhir di Obnas Timau
  • Profil tingkat kecerlangan malam terakhir di Obnas Timau
  • Parameter meteorologis terbaru di Obnas Timau
  • Parameter meteorologis bulan berjalan di Obnas Timau
  • Portal Indonesia

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Kronologi pembangunan
  3. Lokasi dan kondisi lingkungan
  4. Fasilitas riset
  5. Penelitian dan kontribusi ilmiah
  6. Fasilitas lain
  7. Lihat juga
  8. Referensi
  9. Pranala luar

Artikel Terkait

Observatorium Bosscha

Observatorium di Bandung Barat, Jawa Barat, Indonesia

Observatorium 70

Observatorium 70 adalah sebuah observatorium swasta yang terletak di Jakarta, Indonesia. Didirikan pada tahun 1970, observatorium ini dikenal sebagai

Premana Premadi

dosen, peneliti dan astronom

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026