Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei adalah seorang politikus dan ulama Syiah Dua Belas Imam Iran yang menjabat sebagai Pemimpin Agung Iran sejak 8 Maret 2026. Ia merupakan putra kedua dari pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ali Khamenei, yang wafat pada 28 Februari 2026 akibat terbunuh dalam serangan Israel–Amerika Serikat terhadap Iran pada tahun 2026.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Mojtaba Khamenei | |
|---|---|
مجتبی خامنهای | |
Mojtaba pada tahun 2026 | |
| Pemimpin Agung Iran ke-3 | |
| Mulai menjabat 8 Maret 2026 | |
| Presiden | Masoud Pezeshkian |
| Wakil Kepala Staf Pemimpin Agung (Bidang Politik dan Keamanan) | |
| Masa jabatan 21 Agustus 2008[b] – 8 Maret 2026 | |
| Pemimpin Agung |
|
| Kepala Staf | Mohammad Mohammadi Golpayegani |
Pendahulu Jabatan baru Pengganti Petahana | |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 8 September 1969 Masyhad, Iran |
| Suami/istri | |
| Anak | 3 |
| Orang tua |
|
| Kerabat | Keluarga Khamenei |
| Pendidikan | Hauzah Qom |
| Afiliasi politik | Front Stabilitas Revolusi Islam (patron)[2] |
| Tanda tangan | |
| Karier militer | |
| Pihak | |
| Dinas/cabang | |
| Masa dinas |
|
| Satuan | |
| Komando |
|
| Pertempuran/perang | |
| Kehidupan religius | |
| Agama | Islam |
| Denominasi | Syiah Dua Belas Imam |
| Mazhab | Ja'fari |
| Kepercayaan | Ushuli |
|
| |
Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei (bahasa Persia: سید مجتبی حسینی خامنهایcode: fa is deprecated ; pengucapan Persia: [moj.tæ.bɒː hosejniː xɒːmeneʔiː]; lahir 8 September 1969) adalah seorang politikus dan ulama Syiah Dua Belas Imam Iran yang menjabat sebagai Pemimpin Agung Iran sejak 8 Maret 2026.[3] Ia merupakan putra kedua dari pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ali Khamenei, yang wafat pada 28 Februari 2026 akibat terbunuh dalam serangan Israel–Amerika Serikat terhadap Iran pada tahun 2026.
Khamenei dipilih sebagai pemimpin agung ketiga dalam sejarah Republik Islam Iran oleh Majelis Ahli pada awal Maret 2026. Sebelum menjabat sebagai pemimpin tertinggi, ia dikenal sebagai tokoh berpengaruh di balik layar dalam struktur kekuasaan Iran dan memiliki hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).[4]
Selama beberapa dekade sebelum pengangkatannya, ia jarang memegang jabatan resmi dalam pemerintahan tetapi dianggap sebagai salah satu figur paling berpengaruh di sekitar kantor Pemimpin Agung dan memainkan peran penting dalam dinamika politik Iran.[5]
Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, sebuah kota suci bagi umat Muslim Syiah di timur laut Iran.[6] Ia dibesarkan dalam keluarga ulama yang memiliki peran penting dalam perkembangan politik Iran modern.[7] Ayahnya, Ali Khamenei, merupakan tokoh penting dalam Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi.[8]
Setelah revolusi, Ali Khamenei menjabat sebagai Presiden Iran dari tahun 1981 hingga 1989 sebelum kemudian menjadi Pemimpin Agung Iran setelah wafatnya Ruhollah Khomeini.[9]
Mojtaba menghabiskan masa mudanya di Teheran sebelum melanjutkan pendidikan agama di Seminari Qom, salah satu pusat pendidikan Islam Syiah paling penting di dunia.[10] Di seminari tersebut ia mempelajari berbagai disiplin ilmu keislaman seperti fikih, usul fikih, tafsir Al-Qur'an, teologi Syiah, dan filsafat Islam.[11]
Selama tahap akhir Perang Iran–Irak (1980–1988), Mojtaba dilaporkan bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam.[12] Ia bertugas dalam unit yang berpartisipasi dalam operasi militer selama tahap akhir konflik tersebut.[13] Pengalaman militernya mempererat hubungannya dengan sejumlah komandan IRGC yang kemudian menjadi tokoh penting dalam politik Iran.[14][15]
Setelah berakhirnya perang Iran–Irak, Mojtaba lebih banyak berfokus pada pendidikan agama dan aktivitas akademik di seminari Qom.[16] Ia dikenal mengikuti kegiatan pengajaran serta diskusi ilmiah mengenai hukum Islam dan teologi Syiah.[17] Beberapa media Iran pada awal dekade 2020-an mulai menyebutnya dengan gelar ayatollah, meskipun status keulamaannya masih menjadi perdebatan di kalangan ulama Syiah.[18]
Mojtaba mulai menarik perhatian pengamat politik internasional pada awal 2000-an meskipun ia tidak memegang jabatan resmi dalam pemerintahan Iran.[19] Ia sering disebut sebagai tokoh penting dalam lingkaran kekuasaan di kantor Pemimpin Agung Iran.[20]
Namanya semakin dikenal setelah Pemilihan Presiden Iran 2005 yang dimenangkan oleh Mahmoud Ahmadinejad.[21][22] Sejumlah analis politik berpendapat bahwa ia memiliki pengaruh dalam memperkuat dukungan dari kelompok konservatif dan militer terhadap Ahmadinejad.[23]
Pada tahun 2009, Iran mengalami demonstrasi besar yang dikenal sebagai protes pemilu Iran 2009 setelah hasil pemilihan presiden dipersengketakan oleh pihak oposisi.[24] Beberapa tokoh oposisi menuduh Mojtaba memiliki hubungan dengan aparat keamanan yang terlibat dalam penindasan demonstrasi tersebut.[25][26]
Pada tahun 2019, pemerintah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Mojtaba Khamenei sebagai bagian dari paket sanksi yang menargetkan individu yang dianggap dekat dengan Pemimpin Agung Iran.[27] Departemen Keuangan Amerika Serikat menuduhnya berperan dalam memperkuat struktur kekuasaan ayahnya dan mendukung kebijakan pemerintah Iran terhadap oposisi politik.[28]
Mojtaba Khamenei menikah dengan Zahra Haddad Adel, putri dari politikus konservatif Iran Gholam-Ali Haddad-Adel,[29][30] yang pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Islam.[31][32]
Ia dikenal sebagai sosok yang sangat tertutup dan jarang tampil di hadapan publik atau memberikan wawancara kepada media.[33]
The daughter of Gholam Ali Haddad-Adel, the current parliamentary speaker, is married to Mojtaba Khamenei, son of the supreme leader, Ayatollah Ali Khamenei.
Gholam Ali Haddad Adel, who is Mojtaba Khamenei's (Ayatollah Khamenei's son) father-in-law
| Jabatan politik | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Ali Khamenei |
Pemimpin Agung Iran 2026–sekarang |
Petahana |