Wiracarita Gilgamesh atau Epos Gilgamesh adalah sebuah wiracarita dari Mesopotamia kuno. Sejarah sastra Gilgamesh bermula dari lima puisi Sumeria tentang Gilgamesh, raja Uruk, beberapa di antaranya mungkin berasal dari era Dinasti Ketiga Ur. Kisah-kisah mandiri ini di kemudian hari digunakan sebagai bahan acuan bagi sebuah wiracarita gabungan dalam bahasa Akkadia. Versi paling awal yang bertahan dari wiracarita gabungan ini, yang dikenal sebagai versi "Babilonia Lama", berasal dari abad ke-18 SM dan dinamai berdasarkan insipit-nya, Shūtur eli sharrī. Hanya segelintir lauh karyanya yang masih utuh terawetkan. Versi Babilonia Standar yang muncul kemudian, dikompilasi oleh Sîn-lēqi-unninni, ditanggali antara abad ke-13 hingga ke-10 SM dan memuat insipit Sha naqba īmuru. Sekitar dua pertiga dari versi yang lebih panjang dengan dua belas lauh ini telah berhasil ditemukan. Beberapa salinan terbaiknya ditemukan di reruntuhan perpustakaan milik Raja Asyur abad ke-7 SM, Asyurbanipal.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Wiracarita Gilgamesh | |
|---|---|
Lauh Banjir Besar dari wiracarita Gilgamesh dalam bahasa Akadia | |
| Ditulis | ca 2100–1200 SM[1] |
| Negara | Mesopotamia |
| Bahasa | Awalnya ditulis dalam bahasa Sumeria, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Akadia |
| Jenis media | Lauh tanah liat |
| Teks utuh | |
| Wiracarita kerajaan Uruk |
|---|
|
| Bagian dari seri tentang |
| Agama di Mesopotamia |
|---|
| Topik terkait |
Wiracarita Gilgamesh atau Epos Gilgamesh adalah sebuah wiracarita dari Mesopotamia kuno. Sejarah sastra Gilgamesh bermula dari lima puisi Sumeria tentang Gilgamesh (varian "Bilgames" pernah diyakini sebagai bentuk Sumeria yang lebih awal[2]), raja Uruk, beberapa di antaranya mungkin berasal dari era Dinasti Ketiga Ur (ca 2100 SM).[1] Kisah-kisah mandiri ini di kemudian hari digunakan sebagai bahan acuan bagi sebuah wiracarita gabungan dalam bahasa Akkadia. Versi paling awal yang bertahan dari wiracarita gabungan ini, yang dikenal sebagai versi "Babilonia Lama", berasal dari abad ke-18 SM dan dinamai berdasarkan insipit-nya, Shūtur eli sharrī ("Melampaui Segala Raja"). Hanya segelintir lauh karyanya yang masih utuh terawetkan. Versi Babilonia Standar yang muncul kemudian, dikompilasi oleh Sîn-lēqi-unninni, ditanggali antara abad ke-13 hingga ke-10 SM dan memuat insipit Sha naqba īmuru[note 1] ("Dia yang Melihat Kedalaman", terj. har. "Dia yang Melihat Apa Yang Tak Diketahui"). Sekitar dua pertiga dari versi yang lebih panjang dengan dua belas lauh ini telah berhasil ditemukan. Beberapa salinan terbaiknya ditemukan di reruntuhan perpustakaan milik Raja Asyur abad ke-7 SM, Asyurbanipal.
Bagian pertama dari kisahnya memaparkan perihal Gilgamesh, raja Uruk, beserta Enkidu, seorang manusia liar yang diciptakan oleh para dewa untuk menghentikan Gilgamesh menindas rakyatnya. Usai Enkidu menjadi beradab berkat inisiasi seksual dengan Shamhat, ia melakukan perjalanan ke Uruk, tempat di mana ia menantang Gilgamesh dalam sebuah adu kekuatan. Gilgamesh memenangkan pertarungan tersebut; meskipun demikian, keduanya lalu menjalin persahabatan. Bersama-sama, mereka menempuh perjalanan enam hari menuju Hutan Aras yang legendaris, tempat di mana mereka pada akhirnya menumbangkan Sang Penjaga, Humbaba, dan menebang pohon Aras suci.[4] Dewi Ishtar lalu mengirimkan Banteng Surgawi untuk menghukum Gilgamesh lantaran menolak rayuannya. Gilgamesh dan Enkidu berhasil membunuh hewan tersebut, dan dalam prosesnya sekaligus menghina Ishtar. Para dewa pun memutuskan untuk menjatuhkan hukuman mati kepada Enkidu dengan menjangkitinya sebuah penyakit mematikan.
Pada paruh kedua wiracarita ini, penderitaan dan duka atas kematian Enkidu mendorong Gilgamesh untuk mengarungi perjalanan panjang sarat bahaya demi menyingkap rahasia kehidupan abadi. Pada akhirnya, ia berjumpa dengan Utnapishtim beserta istrinya, satu-satunya umat manusia yang selamat dari Bencana Air Bah yang diturunkan oleh para dewa (bdk. Atra-Hasis). Gilgamesh kemudian mempelajari darinya bahwa "Kehidupan, yang senantiasa engkau cari, takkan pernah engkau temukan. Sebab tatkala para dewa menciptakan manusia, mereka telah menitahkan kematian sebagai takdirnya, sementara kehidupan mereka genggam di tangan mereka sendiri".[5][6]
Wiracarita ini dipandang sebagai karya fundamental bagi agama dan tradisi hikayat kepahlawanan, dengan Gilgamesh yang menjelma sebagai purwarupa bagi pahlawan-pahlawan pada masa selanjutnya seperti Herakles (Herkules) dan wiracarita itu sendiri berfungsi sebagai rujukan yang memengaruhi Wiracarita Homeros.[7] Karya ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan ditampilkan dalam sejumlah karya fiksi populer.

...penemuan ini tampaknya ditakdirkan untuk memicu kontroversi yang sengit. Untuk saat ini, kalangan ortodoks bersuka cita, dan sangat terpikat oleh konfirmasi yang diberikannya terhadap sejarah Alkitab. Akan tetapi, sebagaimana telah ditunjukkan, sangatlah mungkin bahwa inskripsi Kasdim tersebut, seandainya asli, dapat dipandang sebagai pembenaran atas pernyataan bahwa terdapat beragam tradisi mengenai air bah di luar versi Alkitab, yang barangkali sama legendarisnya dengan yang lain.
The New York Times, halaman depan, 1872[8]

Sekitar 15.000 kepingan lauh huruf paku Asyur ditemukan di Perpustakaan Asyurbanipal di Niniwe oleh Austen Henry Layard, asistennya Hormuzd Rassam, dan W. K. Loftus pada awal dekade 1850-an.[9] Pada akhir dekade berikutnya, British Museum mempekerjakan George Smith untuk mempelajarinya. Pada tahun 1872, Smith membacakan pecahan-pecahan yang telah diterjemahkan di hadapan Society of Biblical Archaeology,[10] dan pada tahun 1875 serta 1876 ia menerbitkan terjemahan yang lebih lengkap,[11] di mana terbitan yang terakhir dipublikasikan dengan judul The Chaldaean Account of Genesis.[9] Tokoh utama Gilgamesh pada mulanya diperkenalkan kembali kepada dunia sebagai "Izdubar", sebelum logogram huruf paku pada namanya dapat dilafalkan secara akurat.[9][12] Pada tahun 1891, Paul Haupt menghimpun teks huruf paku tersebut, dan sembilan tahun berselang, orientalis Peter Jensen menyajikan sebuah edisi yang komprehensif; R. Campbell Thompson memutakhirkan kedua karya mereka pada tahun 1930. Selama dua dekade berikutnya, Samuel Noah Kramer merangkai ulang puisi-puisi Sumeria tersebut.[11]
Pada tahun 1998, seorang Asiriolog Amerika, Theodore Kwasman, menemukan sekeping bagian yang diyakini memuat baris-baris pertama wiracarita tersebut di ruang penyimpanan British Museum. Kepingan yang ditemukan pada tahun 1878 dan ditanggali antara tahun 600 SM hingga 100 SM itu, belum pernah diteliti oleh para pakar selama lebih dari satu abad sejak penemuannya.[13] Kepingan tersebut berbunyi, "Dia yang melihat segalanya, yang merupakan fondasi negeri, yang mengetahui (segalanya), bijaksana dalam segala hal: Gilgamesh."[14] Penemuan berbagai artefak (ca 2600 SM) yang terkait dengan Enmebaragesi dari Kish, yang disebutkan dalam legenda sebagai ayah dari salah satu musuh Gilgamesh, telah memberikan kredibilitas terhadap keberadaan historis Gilgamesh.[15]
Pada awal tahun 2000-an, Lauh Mimpi Gilgamesh diimpor secara ilegal ke Amerika Serikat. Menurut Departemen Kehakiman Amerika Serikat, lauh tersebut tertutup debu dan tidak dapat dibaca tatkala dibeli oleh seorang pedagang barang antik AS pada tahun 2003. Lauh tersebut dijual oleh seorang pedagang barang antik tak bernama pada tahun 2007 dengan sepucuk surat yang secara keliru menyatakan bahwa benda itu telah berada di dalam sebuah kotak berisi kepingan perunggu kuno yang dibeli dalam sebuah pelelangan pada tahun 1981.[16] Pada tahun 2014, Hobby Lobby membeli lauh tersebut secara pribadi untuk dipamerkan di Museum Alkitab di Washington, D.C.[16][17] Pada tahun 2019, Lauh Mimpi Gilgamesh disita oleh para pejabat AS dan dikembalikan ke Irak pada bulan September 2021.[18][19]
Perkembangan terkini dalam penggunaan perangkat lunak kecerdasan buatan telah mempercepat secara pesat proses penyingkapan kepingan-kepingan baru dari wiracarita ini yang tersebar, dan kerap kali belum terbaca, di berbagai museum di seluruh dunia.[20]

Beragam sumber dari rentang waktu lebih dari 2.000 tahun telah ditemukan. Puisi-puisi Sumeria paling awal saat ini secara umum dipandang sebagai kisah-kisah yang terpisah, alih-alih sebagai bagian dari satu wiracarita utuh.[21] Beberapa di antaranya mungkin berasal dari masa seawal Dinasti Ketiga Ur (ca 2100 SM).[22] Lauh-lauh Babilonia Lama (ca 1800 SM)[21] merupakan lauh tertua yang masih bertahan untuk narasi tunggal Wiracarita Gilgamesh.[23] Lauh-lauh Babilonia Lama yang lebih lawas serta versi Akkadia pada masa setelahnya menjadi sumber penting bagi terjemahan modern, dengan teks-teks awal utamanya digunakan untuk menambal kekosongan (lakuna) pada teks-teks yang lebih baru. Meskipun beberapa versi revisi berdasarkan penemuan-penemuan baru telah diterbitkan, wiracarita ini masih belum sepenuhnya utuh.[24] Analisis terhadap teks Babilonia Lama telah digunakan untuk merekonstruksi kemungkinan bentuk wiracarita ini pada masa yang lebih awal.[25] Versi Akkadia termutakhir, yang juga dikenal sebagai versi Babilonia Standar, terdiri atas dua belas lauh dan disunting oleh Sîn-lēqi-unninni,[26] yang diperkirakan hidup antara tahun 1300 SM hingga 1000 SM.[27]
Dari pelbagai sumber yang ditemukan, dua versi utama dari wiracarita ini telah berhasil direkonstruksi secara parsial: versi Babilonia Standar, atau Dia yang melihat kedalaman, serta versi Babilonia Lama, atau Melampaui segala raja. Lima puisi Sumeria awal seputar Gilgamesh telah dipulihkan sebagian, beberapa di antaranya memuat versi primitif dari episode-episode spesifik dalam versi Babilonia, sementara yang lain berisi kisah-kisah yang tidak saling berkaitan.
Versi Babilonia Standar ditemukan oleh Hormuzd Rassam di Perpustakaan Asyurbanipal di Niniwe pada tahun 1853. "Babilonia Standar" merujuk pada sebuah gaya bahasa yang digunakan untuk keperluan kesusastraan. Versi ini dikompilasi oleh Sin-leqi-unninni pada rentang waktu antara tahun 1300 hingga 1000 SM yang dihimpun dari teks-teks yang lebih kuno.[27][28] Salah satu sentuhan yang diberikan oleh Sin-leqi-unninni terhadap karya ini adalah dengan mengangkat perkara kefanaan ke permukaan, yang dengan demikian memungkinkan sang karakter untuk bergeser dari sekadar "seorang petualang menjadi sosok yang bijaksana."[28] Ilmuwan Brasil, Lins Brandão, memandang versi standar ini dalam konteks tersebut dapat dianggap sebagai "sastra sapiential," ("sastra hikmat"), sebuah genre yang lumrah dijumpai di kawasan Timur Tengah,[29][30] kendati pandangan ini belum sepenuhnya diterima secara luas.


Versi Babilonia Standar memiliki kalimat pembuka, atau insipit, yang berbeda dari versi yang lebih tua. Versi yang lebih tua diawali dengan kata-kata "Melampaui segala raja", sedangkan versi Babilonia Standar memuat "Dia yang melihat kedalaman" (ša naqba īmuru), dengan kata "kedalaman" merujuk pada misteri-misteri pengetahuan yang dibawa pulang oleh Gilgamesh sekembalinya dari perjumpaannya dengan Uta-Napishti (Utnapishtim) perihal Ea, sang mata air kebijaksanaan.[24][31] Gilgamesh dianugerahi pengetahuan perihal cara memuja para dewa, alasan mengapa kematian ditakdirkan bagi umat manusia, ciri-ciri seorang raja yang baik, serta cara menjalani kehidupan yang luhur. Kisah Utnapishtim, sang pahlawan dalam mitos air bah, juga dapat dijumpai dalam wiracarita Babilonia Atra-Hasis.[32][33] Versi Standar ini juga dikenal dengan sebutan iškar Gilgāmeš, "Seri Gilgamesh".[28]
Lauh ke-12 merupakan kelanjutan naratif dari ke-11 lauh aslinya, dan kemungkinan disisipkan di kemudian hari.[34] Lauh ini memiliki sedikit keterkaitan dengan ke-11 lauh wiracarita yang disusun secara apik tersebut; baris-baris pada bagian awal dari lauh pertama dikutip kembali pada bagian akhir lauh ke-11, sehingga memberikan kesan sirkuler dan sebuah tuntasnya kisah. Lauh ke-12 hampir menyerupai salinan dari cerita Sumeria yang lebih lawas, sebuah prekuel, yang menceritakan Gilgamesh mengutus Enkidu untuk mengambil sejumlah benda miliknya dari Dunia Bawah, lalu Enkidu kembali dalam wujud roh untuk memaparkan hakikat Dunia Bawah kepada Gilgamesh.
Dari segi bentuk, konvensi puitis yang dianut dalam versi Babilonia Standar tampak tidak konsisten dan masih menjadi pokok perdebatan di kalangan pakar. Walaupun demikian, terdapat penggunaan paralelisme yang ekstensif pada serangkaian dua atau tiga baris yang berdekatan, sebagaimana yang lazim dijumpai dalam kitab Mazmur Ibrani.
Ketika ditemukan pada abad ke-19, kisah Gilgamesh diklasifikasikan sebagai sebuah wiracarita Yunani, sebuah genre yang dikenal di Eropa, meskipun kisah ini mendahului budaya Yunani yang melahirkan wiracarita,[35] tepatnya, ketika Herodotos merujuk pada karya-karya Homeros dengan cara demikian.[36] Tatkala Alfred Jeremias menerjemahkan teks tersebut, ia bersikeras pada keterkaitannya dengan kitab Kejadian dengan menyematkan judul "Izdubar-Nimrod" dan dengan mengakui genrenya sebagai puisi kepahlawanan Yunani. Walaupun keterkaitan dengan Nimrod kemudian dihilangkan, pandangan mengenai "wiracarita Yunani" tetap dipertahankan.[12] Martin Litchfield West, pada tahun 1966, dalam kata pengantar untuk edisi Hesiodos karyanya, mengakui kedekatan bangsa Yunani dengan pusat konvergensi Timur Tengah: "Sastra Yunani adalah sebuah sastra Timur Dekat."[37]
Mempertimbangkan bagaimana teks ini dipandang dari sudut pandang zamannya adalah hal yang rumit, sebagaimana George Smith mengakui bahwa tidak ada "kata dalam bahasa Sumeria ataupun Akkadia untuk mitos atau narasi kepahlawanan, sama seperti tidak adanya pengakuan kuno terhadap narasi puitis sebagai sebuah genre."[38] Lins Brandão 2019 mengemukakan, meskipun dengan sedikit bukti yang mendukung, bahwa prolog "Dia yang Melihat Kedalaman" mengingatkan pada inspirasi dari Musai Yunani, kendati tidak ada campur tangan dari dewa-dewa Sumeria di sini.[39] Dalam pembahasan yang lebih populer, Sir Jonathan Sacks, Neil McGregor, dan BBC Radio 4 menafsirkan mitos air bah Wiracarita Gilgamesh memiliki jajaran dewa yang merupakan para misantropis yang rela menghukum mati umat manusia,[40]
Disebutkan pula secara tersurat bahwa Gilgamesh naik ke kedudukan "orang bijak kuno" (antediluvian atau masa sebelum air bah).[41] Lins Brandão melanjutkan, dengan mencatat bagaimana puisi ini konon "dipahat pada sebuah prasasti" ("narû"), yang pada mulanya "narû" dapat dipandang sebagai genre dari puisi tersebut,[41] dengan menimbang bahwa sang pembaca (atau juru tulis) harus meneruskan teks tersebut,[42] tanpa mengurangi ataupun menambahkan apa pun di dalamnya.[43]
Ringkasan ini didasarkan pada terjemahan Andrew George.[24]
Kisah ini memperkenalkan Gilgamesh, raja Uruk. Gilgamesh, yang dua pertiga dirinya adalah dewa dan sepertiganya adalah manusia, menindas rakyatnya, yang kemudian berseru kepada para dewa memohon pertolongan. Bagi para wanita muda di Uruk, penindasan ini berupa tindakan Gilgamesh yang memperkosa para pengantin wanita pada malam pertama pernikahan mereka. Bagi para pria muda (lauh tersebut rusak pada bagian ini), diduga bahwa Gilgamesh menguras tenaga mereka melalui berbagai permainan, adu kekuatan, atau barangkali kerja paksa dalam proyek-proyek pembangunan. Para dewa menanggapi jeritan rakyat dengan menciptakan sesosok makhluk yang setara dengan Gilgamesh, yang kelak mampu menghentikan penindasannya.
Sosok tersebut adalah Enkidu yang kekuatannya nyaris tak terkalahkan, diselimuti oleh rambut, dan hidup di alam liar bersama kawanan kerabat hewannya. Ia dipergoki oleh seorang pemburu, yang mata pencahariannya hancur lantaran Enkidu merusak seluruh perangkapnya. Pemburu tersebut lantas memberi tahu dewa matahari Shamash mengenai pria itu, dan diatur siasat agar Enkidu dirayu oleh Shamhat, seorang pelacur kuil, sebagai langkah pertama untuk menjinakkannya. Setelah enam hari tujuh malam (atau dua minggu, menurut kajian akademis yang lebih mutakhir[44]) memadu kasih, Enkidu menjadi 'lemah'; kawanannya melarikan diri ketakutan ke arah stepa. Enkidu terkejut mendapati kesendiriannya, tetapi Shamhat berupaya menghiburnya: "Janganlah bersedih, kini engkau telah memiliki pengetahuan, laiknya para dewa." Sementara itu, Gilgamesh memimpikan kedatangan seorang calon sahabat baru yang dikasihi dan ia memohon kepada ibunya, dewi Ninsun, untuk menafsirkan mimpi-mimpi tersebut.

Shamhat membawa Enkidu ke sebuah perkemahan gembala, mengajarinya agar menjadi beradab: rambutnya dipangkas, serta ia belajar menyantap makanan manusia dan menenggak bir. Di perkemahan gembala tersebut, yang gaya hidupnya telah ia biasakan, Enkidu didapuk sebagai penjaga malam. Mendengar dari seorang pejalan asing yang melintas ihwal perlakuan Gilgamesh terhadap para pengantin baru, ia naik pitam dan melakukan perjalanan ke Uruk untuk turun tangan di sebuah acara pernikahan. Tatkala Gilgamesh mencoba mendatangi bilik pengantin, Enkidu merintangi jalannya, dan mereka pun bertarung. Seusai pertarungan yang sengit, Enkidu mengakui kedigdayaan kekuatan Gilgamesh dan mereka pun bersahabat. Gilgamesh mengusulkan sebuah perjalanan menuju Hutan Aras untuk membinasakan manusia setengah dewa yang mengerikan, Humbaba, demi meraih ketenaran dan kehormatan. Meskipun telah diperingatkan oleh Enkidu dan dewan tetua, Gilgamesh sama sekali tidak gentar.
Para tetua memberikan petuah kepada Gilgamesh untuk perjalanannya. Gilgamesh mengunjungi ibunya, Ninsun, yang lantas memohon dukungan serta perlindungan dari dewa matahari Shamash bagi petualangan mereka. Ninsun mengangkat Enkidu sebagai putranya, dan Gilgamesh menitipkan instruksi bagi tata kelola kota Uruk selama kepergiannya.

Gilgamesh dan Enkidu melakukan perjalanan menuju Hutan Aras. Setiap beberapa hari mereka berkemah di sebuah gunung, dan menggelar ritual mimpi. Gilgamesh mengalami lima mimpi mengerikan tentang gunung-gunung yang runtuh, badai petir, banteng liar, serta seekor burung yang menyemburkan api. Terlepas dari adanya kemiripan antara sosok-sosok di dalam mimpinya dengan penggambaran awal mengenai Humbaba, Enkidu menafsirkan mimpi-mimpi tersebut sebagai pertanda baik, dan menampik bahwa wujud-wujud menakutkan itu melambangkan sang penjaga hutan. Tatkala mereka mendekati gunung aras tersebut, mereka mendengar raungan Humbaba, dan harus saling menguatkan agar tidak gentar.


Kedua pahlawan tersebut memasuki hutan aras. Humbaba, sang penjaga Hutan Aras, menghina dan mengancam mereka. Ia menuding Enkidu telah berkhianat, dan bersumpah untuk merobek perut Gilgamesh serta mengumpankan dagingnya kepada burung-burung. Gilgamesh dilanda ketakutan, tetapi berkat sejumlah kata-kata penguat dari Enkidu, pertempuran pun pecah. Gunung-gunung bergemuruh guncang dan langit pun berubah pekat. Dewa Shamash mengirimkan 13 mata angin untuk mengikat Humbaba, hingga akhirnya ia berhasil ditangkap. Humbaba memohon ampunan nyawa, dan Gilgamesh pun menaruh iba kepadanya. Ia menawarkan untuk menjadikan Gilgamesh sebagai raja hutan, sudi menebang pepohonan untuknya, serta bersedia menjadi budaknya. Akan tetapi, Enkidu berargumen bahwa Gilgamesh harus membinasakan Humbaba untuk meneguhkan reputasinya selamanya. Humbaba mengutuk keduanya dan Gilgamesh mengakhiri hidupnya dengan sebuah tebasan di leher, sekaligus menghabisi nyawa ketujuh putranya.[44] Kedua pahlawan itu menebang banyak pohon aras, termasuk sebuah pohon raksasa yang rencananya akan Enkidu jadikan sebagai pintu bagi kuil Enlil. Mereka lantas membuat sebuah rakit dan pulang berlayar menyusuri sungai Efrat sembari membawa pohon raksasa tersebut dan (kemungkinan) kepala Humbaba.
Gilgamesh menampik godaan sang dewi Ishtar lantaran perlakuan buruknya terhadap para kekasih terdahulunya seperti Dumuzi. Ishtar pun murka dan melarang Gilgamesh memasuki E-Ana, sekaligus mengganggu urusannya. Ishtar lalu meminta ayahnya, Anu, untuk mengirimkan Gulaana—sang Banteng Surgawi—guna membalaskan dendamnya. Tatkala Anu menolak keluhannya, Ishtar mengancam akan membangkitkan orang-orang mati yang jumlahnya kelak "melampaui mereka yang hidup" dan akan "memangsa mereka", serta menjerit dengan amat lantang hingga terdengar oleh seluruh langit dan bumi. Anu menyatakan bahwa bilamana ia menyerahkan Banteng Surgawi kepadanya, maka Uruk bakal dilanda paceklik selama 7 tahun. Ishtar menyediakannya perbekalan untuk 7 tahun sebagai imbalan atas banteng tersebut. Ishtar menuntun Banteng Surgawi menuju Uruk, dan hewan itu mengakibatkan kehancuran yang meluas. Minum tanpa henti seakan tiada puasnya, Banteng itu menyurutkan ketinggian sungai Efrat, dan mengeringkan rawa-rawa. Ia menganga lubang-lubang raksasa yang lantas menelan 300 pria. Tanpa bantuan campur tangan dewata, Enkidu dan Gilgamesh berhasil membunuhnya lalu mempersembahkan jantungnya kepada Shamash. Manakala Ishtar menjerit, Enkidu melemparkan salah satu paha belakang banteng itu ke arahnya. Seluruh kota Uruk berpesta pora, tetapi Enkidu malah mendapat sebuah mimpi buruk pertanda kesialan akan nasib masa depannya.
Dalam mimpi Enkidu, para dewa memutuskan bahwa salah satu pahlawan harus binasa sebagai ganjaran lantaran mereka telah membunuh Humbaba dan Banteng Surgawi. Meski Shamash telah melayangkan penentangan, Enkidu tetap divonis mati. Enkidu mengutuk pintu agung yang telah ia buat untuk kuil Enlil. Ia pun mengutuk sang pemburu dan Shamhat karena telah merenggutnya dari alam liar. Shamash lantas mengingatkan Enkidu ihwal bagaimana Shamhat memberinya makan serta pakaian, dan mempertemukannya dengan Gilgamesh. Shamash memberitahunya bahwa Gilgamesh akan menganugerahinya penghormatan yang agung pada pemakamannya, dan akan merana mengembara ke alam liar karena dirundung duka nestapa. Enkidu pun menyesali kutukannya dan berbalik memberkati Shamhat. Akan tetapi, dalam mimpi kedua, ia melihat dirinya ditawan menuju Dunia Bawah, sebuah "rumah debu" yang kelam di mana para penghuninya memakan tanah liat, dan mengenakan bulu burung sebagai pakaian, sembari diawasi oleh makhluk-makhluk mengerikan. Selama 12 hari lamanya, kondisi Enkidu kian memburuk. Pada akhirnya, seusai meratapi nasibnya yang tak bisa menyongsong maut secara heroik di medan laga, ia pun menghembuskan napas terakhirnya. Dalam sebaris bait masyhur dari wiracarita ini, Gilgamesh mendekap erat tubuh Enkidu dan menolak kenyataan bahwa ia telah tiada hingga seekor belatung jatuh dari hidung jenazah tersebut.
Gilgamesh melantunkan ratapan bagi Enkidu, di mana ia menyeru kepada gunung, hutan, ladang, sungai, satwa liar, dan seluruh jagat Uruk untuk berkabung atas sahabatnya. Mengenang kembali petualangan yang mereka lalui bersama, Gilgamesh mencabik-cabik rambut serta pakaiannya dalam duka yang mendalam. Ia menitahkan pembuatan sebuah patung duka cita, dan mempersembahkan harta bawaan kubur dari perbendaharaannya demi memastikan agar Enkidu mendapat sambutan yang layak di alam baka. Sebuah jamuan akbar digelar di mana harta benda tersebut dipersembahkan kepada para dewa Dunia Bawah. Tepat sebelum bagian teks yang terputus, terdapat sebuah petunjuk bahwa suatu sungai tengah dibendung, mengindikasikan sebuah pemakaman di dasar sungai, sebagaimana yang termaktub dalam puisi Sumeria yang setara, Kematian Gilgamesh.
Lauh sembilan diawali dengan Gilgamesh yang mengembara di alam liar berbalut kulit hewan, meratapi kepergian Enkidu. Lantaran kini didera ketakutan akan kematiannya sendiri, ia memutuskan untuk mencari Utnapishtim ("Sang Tersingkir"), guna menyingkap rahasia kehidupan abadi. Utnapishtim beserta istrinya adalah satu-satunya pasangan manusia ciptaan para dewa yang diperkenankan selamat dari bencana air bah besar dan bahkan dianugerahi keabadian dewata sebagai wujud rasa syukur atas persembahan kurban makanan kepada para dewa, sehingga Utnapishtim tampak identik dengan pendeta saleh Atra-Hasis.
Gilgamesh melintasi sebuah celah pegunungan di malam hari dan berpapasan dengan sekawanan singa. Sebelum memejamkan mata, ia memanjatkan doa memohon perlindungan kepada dewa bulan Sin. Kemudian, terbangun dari sebuah mimpi yang menguatkan tekadnya, ia membinasakan singa-singa tersebut dan menjadikan kulit mereka sebagai pakaian. Seusai menempuh perjalanan panjang nan sarat bahaya, Gilgamesh tiba di puncak kembar Gunung Mashu di ufuk barat bumi. Ia menjumpai terowongan dewa matahari Shamash, yang belum pernah dijejaki oleh manusia mana pun, dijaga oleh dua ekor monster kalajengking, yang tampaknya merupakan sepasang suami istri. Sang suami berupaya mencegah Gilgamesh melintas, tetapi sang istri turun tangan, mengutarakan simpati terhadap Gilgamesh, dan (menurut penyunting puisi tersebut, Benjamin Foster) mengizinkannya lewat.[46] Memasuki gerbang terowongan itu, ia menyusuri jalur Shamash dalam kegelapan gulita dan nyatanya berhasil mencapai pintu keluar di ufuk timur dalam kurun waktu 12 'jam ganda', tepat sebelum ia tersusul oleh sang dewa matahari, yang bisa saja membakarnya hidup-hidup. Terkesima, ia melangkah masuk ke Taman Para Dewa yang menakjubkan, sebuah firdaus tempat di mana pepohonan yang sarat akan permata-permata nan lezat tumbuh subur.
Gilgamesh berjumpa dengan pembuat bir wanita Siduri di kedainya. Pada mulanya ia menyangka bahwa pria itu adalah seorang pembunuh atau pencuri lantaran penampilannya yang acak-acakan, tetapi Gilgamesh menceritakan kepadanya perihal tujuan perjalanannya. Siduri berupaya mencegahnya meneruskan pencarian tersebut, tetapi kemudian mengutusnya untuk menemui Urshanabi sang tukang perahu, yang kelak membantunya mengarungi lautan menuju Utnapishtim. Gilgamesh, dalam amarah yang meledak tiba-tiba, menghancurkan jimat-jimat batu yang disimpan oleh Urshanabi. Gilgamesh menuturkan kisahnya, tetapi tatkala ia memohon bantuan, Urshanabi memberitahunya bahwa ia baru saja menghancurkan benda-benda yang dapat memandu mereka menyeberangi Perairan Maut, yang mana setetes sentuhannya saja membawa binasa. Urshanabi memerintahkan Gilgamesh untuk menebang 120 batang pohon dan merautnya menjadi galah sampan. Manakala mereka berlabuh di pulau tempat Utnapishtim bermukim, Gilgamesh mengisahkan kembali riwayatnya, seraya memohon pertolongan darinya. Utnapishtim justru menegurnya, dengan memaklumatkan bahwa melawan takdir lumrah umat manusia adalah hal yang sia-sia dan hanya akan merenggut sukacita kehidupan.

Gilgamesh mengamati bahwa Utnapishtim tampak tiada bedanya dengan dirinya sendiri, lantas bertanya kepadanya bagaimana ia merengkuh keabadiannya. Utnapishtim menjelaskan bahwa para dewa memutuskan untuk mendatangkan sebuah air bah raksasa. Demi menyelamatkan Utnapishtim, dewa Enki menitahkannya untuk membangun sebuah perahu. Ia memberinya rincian ukuran yang presisi, dan bahtera itu lantas didempul rapat dengan tir serta bitumen. Seluruh keluarganya naik ke atas bahtera bersama dengan para perajinnya dan "segala satwa di padang belantara". Badai yang mengamuk hebat kemudian bertiup yang lantas membuat para dewa lari ketakutan mundur ke langit. Ishtar meratapi kehancuran menyeluruh umat manusia, dan para dewa yang lain turut bertangis di sisinya. Badai tersebut berkecamuk selama enam hari enam malam, yang setelahnya "seluruh umat manusia berubah menjadi tanah liat". Utnapishtim menitikkan air mata manakala ia menyaksikan kehancuran tersebut. Bahteranya kandas di Gn. Nimush, dan ia lalu melepaskan seekor merpati, burung layang-layang, dan seekor gagak. Tatkala sang gagak tak kunjung kembali, ia membuka bahteranya dan membebaskan para penghuninya. Utnapishtim mempersembahkan kurban kepada para dewa, yang lantas mencium aroma harumnya dan berkumpul mengerumuni. Ishtar bersumpah bahwa sebagaimana ia takkan pernah melupakan kalung gilang-gemilang yang melingkar di lehernya, ia akan senantiasa mengenang masa ini. Ketika Enlil tiba, murka mendapati adanya penyintas, Ishtar pun mengecamnya lantaran menjadi dalang di balik air bah tersebut. Enki turut mencercanya karena telah menjatuhkan hukuman yang terlampau berlebihan. Enlil lantas memberkati Utnapishtim beserta istrinya, dan menganugerahi mereka kehidupan yang abadi. Kisah ini sebagian besar selaras dengan kisah air bah yang menjadi penutup pada Wiracarita Atra-Hasis.[47][33]
Inti pesannya tampaknya adalah bahwa tatkala Enlil menganugerahkan kehidupan abadi, hal tersebut merupakan sebuah karunia yang unik. Seolah ingin membuktikan hal ini, Utnapishtim menantang Gilgamesh untuk tetap terjaga selama enam hari tujuh malam. Gilgamesh tertidur, dan Utnapishtim memerintahkan istrinya untuk memanggang sepotong roti pada setiap hari saat ia tertidur, supaya ia tak dapat menyangkal kegagalannya untuk tetap terjaga. Gilgamesh, yang berupaya untuk menaklukkan kematian, nyatanya bahkan tak mampu menundukkan rasa kantuk. Seusai menitahkan Urshanabi sang tukang perahu untuk memandikan Gilgamesh dan memakaikannya jubah kerajaan, mereka pun bertolak menuju Uruk. Manakala mereka hendak beranjak, istri Utnapishtim meminta suaminya untuk memberikan sebuah cendera mata perpisahan. Utnapishtim lantas memberitahu Gilgamesh bahwa di dasar lautan hidup sejenis tanaman yang menyerupai kauk (boxthorn) yang kelak dapat membuatnya muda kembali. Gilgamesh, dengan mengikatkan bebatuan pada kakinya agar ia dapat berjalan di dasar laut, akhirnya berhasil mendapatkan tanaman tersebut. Gilgamesh bermaksud untuk menyelidiki apakah tanaman itu sungguh memiliki khasiat peremajaan seperti yang diyakini dengan mengujinya pada seorang pria tua setibanya ia kembali di Uruk.[48] Tatkala Gilgamesh singgah untuk mandi, tanaman itu dicuri oleh seekor ular, yang kemudian menanggalkan kulitnya sembari melata pergi. Gilgamesh menitikkan air mata meratapi kesia-siaan jerih payahnya, sebab kini ia telah kehilangan segenap asa akan keabadian. Ia pun kembali ke Uruk, tempat di mana pemandangan tembok-temboknya yang kokoh membangkitkannya untuk memuja maha karya abadi ini di hadapan Urshanabi.
Lauh ini pada pokoknya merupakan sebuah terjemahan Akkadia dari sebuah puisi Sumeria yang lebih lawas, "Gilgamesh dan Dunia Bawah" (juga dikenal sebagai "Gilgamesh, Enkidu, dan Dunia Bawah" serta varian-varian lainnya), meskipun telah disiratkan bahwa bagian ini bersumber dari sebuah versi tak dikenal dari cerita tersebut.[49] Muatan pada lauh terakhir ini tampak bertolak belakang dengan lauh-lauh sebelumnya: Enkidu masih hidup, padahal ia telah meregang nyawa pada bagian awal wiracarita. Lantaran hal ini, ketidakpaduannya dengan lauh-lauh lainnya, serta fakta bahwa bagian ini hampir menyerupai salinan dari versi yang lebih tua, lauh ini lantas dijuluki sebagai 'embel-embel anorganik' bagi wiracarita tersebut.[50] Alih-alih demikian, ada pula pandangan yang mengemukakan bahwa "tujuannya, kendati ditangani secara serampangan, adalah untuk menjelaskan kepada Gilgamesh (serta para pembaca) pelbagai ragam nasib orang mati di Alam Baka" dan dalam "sebuah upaya canggung untuk menghadirkan penyelesaian",[51] lauh ini mengaitkan Gilgamesh dalam wiracarita dengan Gilgamesh sang Raja Dunia Bawah,[52] serta menjadi "sebuah puncak pementasan dramatis di mana wiracarita dua belas lauh tersebut berakhir pada satu tema yang sama, yakni "melihat" (= memahami, menyingkap, dsb.), sebagaimana ia bermula."[53]
Gilgamesh mengeluh kepada Enkidu bahwa sejumlah barang miliknya (lauh tersebut tidak merincikan secara jelas wujud barangnya – beberapa terjemahan lain menyebutkan genderang dan bola) telah jatuh ke alam bawah. Enkidu menawarkan diri untuk mengambilnya kembali. Dengan suka cita, Gilgamesh memberitahu Enkidu tentang pantangan dan anjuran di alam bawah bilamana ia ingin bisa kembali. Nyatanya, Enkidu justru melanggar segenap pantangan yang dilarang untuk ia lakukan. Dunia Bawah pun menahannya. Gilgamesh memanjatkan doa kepada para dewa agar sudi mengembalikan sahabatnya. Enlil dan Suen membisu tiada menjawab, tetapi Enki dan Shamash memutuskan untuk turun tangan membantu. Shamash membelah sebuah rekaan pada permukaan bumi, dan roh Enkidu pun melompat keluar darinya. Lauh ini ditutup dengan Gilgamesh yang memberondong pertanyaan kepada Enkidu ihwal apa saja yang telah ia saksikan di alam bawah.
Versi wiracarita ini, yang dalam beberapa pecahannya disebut Melampaui segala raja, tersusun dari pelbagai lauh dan kepingan dari beragam asal-usul serta tingkat pelestarian.[54] Sebagian besar versinya masih belum utuh, dengan hilangnya sejumlah lauh, dan lauh-lauh yang ditemukan pun memiliki lakuna yang cukup besar. Lauh-lauh tersebut dinamai berdasarkan lokasi penyimpanannya saat ini atau tempat di mana mereka ditemukan.
Melampaui segala raja Lauh II, memiliki korelasi yang erat dengan lauh I–II dari versi Babilonia Standar. Gilgamesh menuturkan kepada ibunya, Ninsun, perihal dua mimpi yang dialaminya. Sang ibu menjelaskan bahwasanya mimpi-mimpi tersebut menjadi pertanda bahwa seorang pendamping baru akan segera tiba di Uruk. Sementara itu, Enkidu yang liar dan sang pendeta wanita (di sini disapa Shamkatum) memadu kasih. Sang pendeta menjinakkannya dengan ditemani oleh para gembala seraya menyuguhkan roti dan bir kepadanya. Enkidu lantas membantu para gembala dengan menjaga kawanan domba mereka. Mereka lalu menempuh perjalanan ke Uruk untuk menentang Gilgamesh dan menghentikan kesewenang-wenangannya. Enkidu dan Gilgamesh pun bertarung, tetapi Gilgamesh lantas menyudahi perkelahian tersebut. Enkidu kemudian menyanjung Gilgamesh.
Melampaui segala raja Lauh III, sebagiannya selaras dengan lauh II–III dari versi Babilonia Standar. Entah karena alasan apa (sebagian lauh tersebut rusak), Enkidu dirundung duka. Demi menghiburnya, Gilgamesh mengusulkan untuk pergi ke Hutan Pinus guna menebang pepohonan dan membunuh Humbaba (di sini dikenal sebagai Huwawa). Enkidu menolak, lantaran ia mengenal Huwawa dan menyadari betapa digdaya kekuatannya. Gilgamesh membujuk Enkidu dengan untaian kata-kata penguat, tetapi Enkidu tetap saja enggan. Mereka pun bersiap-siap, dan memanggil dewan tetua. Para tetua juga melayangkan penolakan, tetapi usai Gilgamesh berbicara kepada mereka, mereka akhirnya rela membiarkannya pergi. Setelah Gilgamesh memohon perlindungan kepada dewanya (Shamash), dan ia beserta Enkidu mempersenjatai diri, mereka pun berangkat berbekal restu serta petuah dari para tetua.
Kemungkinan merupakan versi lain dari isi Lauh Yale, yang pada praktiknya sudah tak dapat dipulihkan lagi.
Dalam perjalanan menuju hutan aras dan menantang Huwawa, Enkidu menafsirkan salah satu mimpi Gilgamesh.
Sejumlah kepingan dari dua versi/lauh yang berbeda mengisahkan bagaimana Enkidu menafsirkan salah satu mimpi Gilgamesh dalam perjalanan menuju Hutan Aras, serta percakapan mereka tatkala memasuki hutan tersebut.
Usai menaklukkan Huwawa, Gilgamesh mengurungkan niat untuk menghabisinya, dan mendesak Enkidu untuk memburu "tujuh aura" Huwawa. Enkidu meyakinkannya untuk membinasakan musuh mereka tersebut. Setelah membunuh Huwawa beserta ketujuh auranya, mereka menebangi sebagian hutan dan menemukan tempat persemayaman rahasia para dewa. Sisa dari lauh tersebut telah rusak.
Aura-aura tersebut tidak disinggung dalam versi Babilonia Standar, melainkan hadir dalam salah satu puisi Sumeria sebagai "putra-putra".
Sebagiannya tumpang tindih dengan kisah penebangan pohon dari lauh Ishchali.
Sebagian isinya bersinggungan dengan lauh IX–X dari versi Babilonia Standar. Gilgamesh meratapi kematian Enkidu sembari mengembara dalam pencariannya akan keabadian. Gilgamesh berdebat dengan Shamash ihwal betapa sia-sianya pencariannya itu. Selepas sebuah lakuna, Gilgamesh berbicara kepada Siduri perihal pencariannya dan perjalanannya untuk menjumpai Utnapishtim (di sini dipanggil Uta-na'ishtim). Siduri berupaya menyurutkan niat Gilgamesh dalam usahanya merengkuh kehidupan abadi, mendesaknya agar bersyukur dan mencukupkan diri dengan kenikmatan-kenikmatan sederhana dalam kehidupan.[5][55] Seusai satu lakuna lagi, Gilgamesh menghancurkan "batu-batu" pelindung dan berbincang dengan sang tukang perahu Urshanabi (di sini dipanggil Sur-sunabu). Usai perbincangan singkat, Sur-sunabu memintanya untuk memahat 300 batang dayung agar mereka dapat mengarungi perairan maut tanpa perlu mengandalkan "batu-batu" tersebut. Sisa bagian lauh ini telah hilang.
Teks pada kepingan Meissner Babilonia Lama (kepingan lauh Sippar yang tersisa dalam ukuran paling besar) telah digunakan untuk merekonstruksi kemungkinan bentuk yang lebih lawas dari Wiracarita Gilgamesh, dan telah dikemukakan bahwa "bentuk kisah yang lebih awal – bahkan lebih purba daripada yang terlestarikan pada kepingan Babilonia Lama tersebut – sangat mungkin berujung pada kisah Siduri yang memulangkan Gilgamesh ke Uruk..." serta "Utnapistim pada mulanya bukanlah bagian dari kisah tersebut."[56]
Terdapat lima kisah Gilgamesh yang masih lestari dalam wujud puisi-puisi yang lebih tua dalam bahasa Sumeria.[57] Karya-karya ini kemungkinan beredar secara mandiri, alih-alih dalam bentuk sebuah wiracarita yang menyatu. Sejumlah nama tokoh utama dalam puisi-puisi ini sedikit berbeda dari nama-nama Akkadia yang muncul kemudian; sebagai misal, nama yang tertulis adalah "Bilgames", bukan "Gilgamesh", dan terdapat beberapa perbedaan pada kisah-kisah dasarnya, seperti fakta bahwa Enkidu adalah pelayan Gilgamesh dalam versi Sumeria:
Terjemahan bahasa Arab langsung pertama dari lauh-lauh aslinya diterbitkan pada dekade 1960-an oleh arkeolog Irak, Taha Baqir.[60]
Nancy Katharine Sandars, seorang arkeolog dan ahli prasejarah Inggris, menerbitkan terjemahan populer dari Wiracarita Gilgamesh pada tahun 1960.[61] Sebagai seorang ilmuwan independen, Sandars tidak pernah menjadi akademisi universitas.
Karya Andrew George yang bertajuk The Babylonian Gilgamesh Epic: Introduction, Critical Edition and Cuneiform Texts merupakan terjemahan definitif modern ke dalam bahasa Inggris. Buku ini merupakan edisi kritis dua jilid yang diterbitkan oleh Oxford University Press pada tahun 2003. Sebuah ulasan buku oleh ilmuwan Cambridge, Eleanor Robson, menyatakan bahwa karya George adalah karya kritis paling signifikan mengenai Gilgamesh dalam kurun waktu 70 tahun terakhir.[62] George membedah kondisi material yang masih bertahan, dan menyajikan sebuah eksegesis lauh demi lauh, dengan terjemahan dua bahasa yang disandingkan berdampingan.
Pada tahun 2004, Stephen Mitchell menghadirkan terjemahan yang memuat ulasan terkait Perang Irak tahun 2003. Dalam sebuah ulasan oleh Mark Jarman, Jarman menyebutkan bahwa "Tatkala ia berupaya menarik garis kesejajaran antara sepak terjang para pahlawan, Gilgamesh dan Enkidu, dengan Amerika Serikat, kesejajaran tersebut rasanya tidak masuk akal."[63][64]
Pada tahun 2021, sebuah terjemahan karya Sophus Helle diterbitkan oleh Yale University Press.[65]
Beragam tema, unsur alur, serta tokoh di dalam Alkitab Ibrani diyakini memiliki korelasi dengan Wiracarita Gilgamesh – khususnya, kisah-kisah mengenai Taman Eden, petuah dari Pengkhotbah, serta narasi air bah Kejadian.
Garis kesejajaran antara kisah Enkidu/Shamhat dan Adam/Hawa telah lama diakui oleh para pakar.[66][67] Dalam kedua kisah tersebut, manusia diciptakan dari tanah oleh sesosok dewa dan hidup berdampingan dengan alam. Ia lantas dipertemukan dengan sesama manusia berjenis kelamin wanita yang kemudian menggodanya. Di dalam dua kisah itu sang pria menerima makanan dari sang wanita, menutupi ketelanjangannya, dan harus angkat kaki dari kediaman lamanya, tanpa bisa pernah kembali. Kehadiran seekor ular yang mencuri tanaman keabadian dari sang pahlawan pada bagian selanjutnya dari wiracarita ini menjadi titik kemiripan lainnya. Akan tetapi, sebuah perbedaan besar antara kedua kisah tersebut adalah bahwa bilamana Enkidu didera rasa sesal lantaran tergoda menjauhi alam liar, penyesalan ini hanyalah bersifat sementara: Setelah ditegur oleh dewa Shamash karena bersikap tidak tahu diuntung, Enkidu menarik kembali ucapannya dan memutuskan untuk memberikan berkat terakhirnya kepada sang wanita yang telah merayunya itu sebelum ia tutup usia. Hal ini berbanding terbalik dengan Adam, di mana kejatuhannya ke dalam dosa sebagian besar digambarkan sebagai ganjaran lantaran membangkang terhadap perintah Tuhan dan merupakan buah konsekuensi tak terelakkan dari hilangnya kepolosan perihal yang baik dan yang jahat.
Sejumlah pakar berpandangan adanya peminjaman langsung atas petuah Siduri oleh penulis Pengkhotbah.[68]
Sebuah pepatah langka tentang kekuatan seutas tali tiga lembar, "tali tiga lembar tidak mudah putus", lazim dijumpai di dalam kedua kitab tersebut. [butuh rujukan]
Andrew George mengemukakan bahwa narasi air bah Kejadian amat selaras dengan apa yang tertuang dalam Gilgamesh sehingga "tak ada yang meragukan" jika narasi tersebut bersumber dari sebuah catatan Mesopotamia.[69] Hal yang utamanya patut diperhatikan adalah bagaimana kisah air bah Kejadian mengekor kisah air bah Gilgamesh secara "poin demi poin dan dalam urutan yang serupa", bahkan tatkala cerita tersebut sebenarnya memungkinkan adanya alternatif-alternatif lain.[70] Dalam sebuah tafsir Taurat tahun 2001 yang diterbitkan atas nama Gerakan Yudaisme Konservatif, pakar rabi Robert Wexler menyatakan: "Asumsi paling masuk akal yang dapat kita kemukakan adalah bahwasanya baik Kejadian maupun Gilgamesh menggali bahannya dari sebuah tradisi bersama mengenai air bah yang eksis di Mesopotamia. Kisah-kisah ini lantas menemui simpangan seiring penuturan ulangnya."[71] Ziusudra, Utnapishtim, dan Nuh masing-masing adalah tokoh pahlawan dari legenda air bah Sumeria, Akkadia, dan Alkitab di kawasan Timur Dekat Kuno.
Banyak tokoh dalam Wiracarita tersebut memiliki kesejajaran dengan Alkitab, yang paling menonjol ialah Ninti, dewi Sumeria pelindung kehidupan, yang diciptakan dari tulang rusuk Enki demi menyembuhkannya usai ia menyantap bunga-bunga terlarang. Diyakini bahwasanya kisah ini menjadi pangkalan bagi kisah Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Adam di dalam Kitab Kejadian.[72] Esther J. Hamori, dalam karya bertajuk Echoes of Gilgamesh in the Jacob Story, turut mengklaim bahwa kisah Yakub dan Esau memiliki kesamaan dengan pergulatan antara Gilgamesh dan Enkidu.[73]
Gilgamesh disinggung dalam salah satu versi The Book of Giants yang berkaitan dengan Kitab Henokh. Versi Kitab Raksasa yang ditemukan di Qumran menyinggung sang pahlawan Sumeria Gilgamesh serta monster Humbaba bersama barisan Pengintai dan para raksasa.[74]
Sejumlah pakar telah menyoroti beragam tema, episode, serta sajak yang mengindikasikan bahwasanya Wiracarita Gilgamesh memberikan pengaruh yang substansial terhadap kedua puisi wiracarita yang dikaitkan dengan sosok Homeros. Menurut Tzvi Abusch dari Universitas Brandeis, puisi tersebut "memadukan kekuatan dan tragedi dari Iliad dengan pengembaraan serta keajaiban dari Odisseia. Ia merupakan sebuah mahakarya petualangan, namun sekaligus menjadi sebuah perenungan mendalam ihwal sejumlah persoalan fundamental eksistensi umat manusia."[75] Martin Litchfield West, dalam bukunya yang bertajuk The East Face of Helicon: West Asiatic Elements in Greek Poetry, berspekulasi bahwasanya ingatan tentang Gilgamesh kemungkinan telah menjangkau bangsa Yunani melalui sebuah puisi yang hilang perihal Herakles.[76][77]
Di dalam Roman Aleksander serta berbagai legenda Aleksander Agung pada masa setelahnya, Aleksander tengah mengemban sebuah pencarian untuk menemukan Mata Air Kehidupan agar menjadi abadi. Hal ini terilhami oleh mitos-mitos pencarian Gilgamesh akan kemudaan abadi demi menantang kefanaannya; kendati mendapat pengaruh tersebut, terdapat dua perbedaan utama. Yang pertama adalah bahwasanya Gilgamesh memburu tanaman kemudaan, sedangkan Aleksander mencari air kehidupan. Yang kedua adalah bahwa motif ular yang menanggalkan kulitnya dalam legenda Gilgamesh digantikan dalam legenda Aleksander oleh seekor ikan yang kembali hidup usai dibasuh di mata air tersebut. Alasan di balik perbedaan-perbedaan ini tak lepas dari adanya dorongan Kristenisasi yang turut andil dalam proses adaptasi legenda-legenda Gilgamesh.[78]
Wiracarita Gilgamesh telah mengilhami terlahirnya banyak karya sastra, seni, serta musik.[79][80] Barulah seusai Perang Dunia I, wiracarita Gilgamesh berhasil menjangkau khalayak modern, dan baru setelah berakhirnya Perang Dunia II, wiracarita ini ditampilkan dalam pelbagai ragam genre.[80] Film anime garapan Hayao Miyazaki pada tahun 1997 yang bertajuk Princess Mononoke sebagian kisahnya didasarkan pada episode Hutan Aras dari Wiracarita Gilgamesh.[81]
Taha Baqir published the first Arabic translation of Gilgamesh in 1962
Terjemahan (Usang dan yang lainnya)