Masjid Banyusumurup adalah sebuah masjid bersejarah yang terletak di dalam kompleks Pemakaman Banyusumurup, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Masjid ini dibangun pada tahun 1668, pada masa pemerintahan Amangkurat I, penguasa Kesultanan Mataram yang juga disebut sebagai arsitek masjid tersebut.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Masjid Banyusumurup | |
|---|---|
ꦩꦱ꧀ꦗꦶꦢ꧀ꦧꦚꦸꦱꦸꦩꦸꦫꦸꦥ꧀ | |
Tampak perspektif Masjid Banyusumurup, 2026 | |
Koordinat: 7°55′46.70555″S 110°23′44.94991″E / 7.9296404306°S 110.3958194194°E / -7.9296404306; 110.3958194194Lihat peta diperbesar Koordinat: 7°55′46.70555″S 110°23′44.94991″E / 7.9296404306°S 110.3958194194°E / -7.9296404306; 110.3958194194Lihat peta diperkecil | |
| Agama | |
| Afiliasi | Islam |
| Provinsi | Daerah Istimewa Yogyakarta |
| Lokasi | |
| Lokasi | Jalan Kompleks Makam Banyusumurup №1, Bantul, Indonesia |
| Negara | Indonesia |
| Arsitektur | |
| Arsitek | Amangkurat I |
| Tipe | Masjid |
| Gaya | Jawa Kuno; perpaduan antara bentuk Joglo dan Limasan |
| Didirikan | 1668 |
Masjid Banyusumurup (bahasa Jawa: ꦩꦱ꧀ꦗꦶꦢ꧀ꦧꦚꦸꦱꦸꦩꦸꦫꦸꦥ꧀code: jv is deprecated ) adalah sebuah masjid bersejarah yang terletak di dalam kompleks Pemakaman Banyusumurup,[1] Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Masjid ini dibangun pada tahun 1668, pada masa pemerintahan Amangkurat I (Sunan Amangkurat Agung),[2] penguasa Kesultanan Mataram yang juga disebut sebagai arsitek masjid tersebut.[3]
Masjid ini berdiri di kawasan perbukitan terpencil di Lembah Mangunan yang berdekatan dengan kompleks Makam Banyusumurup, tempat dimakamkannya tokoh-tokoh yang dianggap musuh negara oleh Amangkurat I, termasuk Pangeran Pekik,[4] bangsawan Surabaya yang pernah menjadi mertua Sultan Agung.[5] Makam ini menjadi saksi sejarah intrik politik dan perebutan kekuasaan di lingkungan istana Mataram pada abad ke-17.
Pembangunan masjid ini dimaksudkan untuk memperbaiki citra Amangkurat I di mata masyarakat setelah berbagai peristiwa politik pada masa pemerintahannya. Masjid berukuran kecil ini dibangun dengan arsitektur tradisional Jawa berbentuk joglo, dengan empat tiang utama dari kayu jati berukuran 19 × 19 sentimeter yang berdiri di atas batu. Di puncak atapnya bertengger mustaka kuno, sementara seluruh kerangka bangunan, termasuk serambi yang berbentuk limasan, terbuat dari kayu jati lawas.
Pada masa awal, atap masjid menggunakan bahan bambu, tetapi kini telah diganti dengan genteng. Beberapa elemen asli yang masih dipertahankan hingga kini antara lain bedug dan mustaka. Renovasi besar dilakukan pada tahun 2000, termasuk penggantian lantai semen menjadi ubin berlapis keramik.[3][6]
Kompleks Pemakaman Banyusumurup terdiri atas dua halaman yang dikelilingi tembok bata. Halaman utama (halaman I) memuat sekitar 52 makam tokoh-tokoh penting, di antaranya: