Marie NDiaye adalah seorang novelis, dramawan, dan penulis skenario asal Prancis. Salah satu karyanya yang menonjol adalah saat ia ikut menulis skenario film Saint Omer bersama sang sutradara Alice Diop dan Amrita David. Pada bulan September 2022, film mereka terpilih sebagai perwakilan resmi Prancis untuk Film Internasional Terbaik di ajang Academy Awards ke-95.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Marie NDiaye | |
|---|---|
| Lahir | 04 Juni 1967 Pithiviers, Loiret, Prancis |
| Pekerjaan | Novelis, esais, dramawan |
| Periode | 1984–sekarang |
| Penghargaan terkenal | Nelly Sachs Prize (2015) |
| Pasangan | Jean-Yves Cendrey |
| Kerabat | Pap Ndiaye (brother) |
Marie NDiaye (lahir 4 Juni 1967) adalah seorang novelis, dramawan, dan penulis skenario asal Prancis. Salah satu karyanya yang menonjol adalah saat ia ikut menulis skenario film Saint Omer bersama sang sutradara Alice Diop dan Amrita David. Pada bulan September 2022, film mereka terpilih sebagai perwakilan resmi Prancis untuk Film Internasional Terbaik di ajang Academy Awards ke-95.
Ia menerbitkan novel pertamanya yang berjudul Quant au riche avenir, saat usianya baru menginjak 17 tahun. Pada tahun 2009, ia memenangkan penghargaan bergengsi Prix Goncourt. Karya dramanya yang berjudul Papa doit manger menjadi satu-satunya naskah teater dari penulis perempuan yang masih hidup yang masuk ke dalam repertoar tetap Comédie-Française.[1]
NDiaye lahir pada tahun 1967 di Pithiviers, Prancis, dari ibu berkebangsaan Prancis dan ayah asal Senegal. Ia tumbuh besar bersama ibunya dan sang kakak, Pap Ndiaye di pinggiran kota Paris. Kedua orang tuanya bertemu sewaktu sama-sama berkuliah di pertengahan tahun 60-an, tapi ayahnya pulang ke Senegal pas ia masih berusia satu tahun.[2]
Ia mulai nulis sejak umur 12. Ketika SMA, bakatnya ditemukan oleh Jerome Lindon, pendiri dari Éditions de Minuit, yang juga menerbitkan novel pertama NDiaye, Quant au riche avenir, pada tahun 1985.[3]
Sejak itu, dia terus produktif. Dia nulis enam novel lagi, semuanya diterbitkan oleh Minuit, terdapat pula satu kumpulan cerita pendek. Salah satu karya uniknya adalah Comédie classique, sebuah novel sepanjang 200 halaman yang ditulis dalam satu kalimat panjang tanpa henti, diterbitkan oleh Éditions P.O.L pada tahun 1988, saat itu usianya baru 21 tahun. Selain menulis novel, NDiaye juga aktif di dunia teater dan pernah kerja bersama sutradara Claire Denis untuk menulis naskah film White Material. Drama panggungnya Papa doit manger yang rilis tahun 2003 jadi istimewa karena merupakan drama kedua karya penulis perempuan yang masuk ke dalam repertoar tetap Comédie-Française.
Pada tahun 1998, NDiaye pernah menulis surat terbuka ke media. Dalam surat itu, ia menyatakan kalau novel La Sorcière, karyanya yang terbit dua tahun sebelumnya, sangat memengaruhi isi novel Naissance des fantômes, karya Marie Darrieussecq yang saat itu sedang naik daun.[4]
Puncaknya saat Trois femmes puissantes berhasil memenangkan Prix Goncourt tahun 2009—salah satu penghargaan paling prestisius di dunia sastra Prancis.[5][6][7]
Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan oleh Les Inrockuptibles pada tanggal 30 Agustus 2009, NDiaye menyatakan tentang Presiden Sarkozy,
"Aku merasa Prancis itu menyeramkan," katanya terus terang. “Fakta bahwa kami—aku, Jean-Yves Cendrey, dan ketiga anak kami—memilih tinggal di Berlin selama dua tahun, itu bukan tanpa alasan. Kami pergi tak lama setelah pemilu, sebagian besar karena Sarkozy, Meskipun aku sadar berkata begitu kedengarannya berlebihan. Tapi jujur aja, aku benci suasana yang penuh vulgaritas dan pengawasan ketat... Besson, Hortefeux, semua orang-orang itu, menurutku mereka mengerikan".[8]