László Krasznahorkai adalah seorang novelis dan penulis skenario asal Hungaria, terkenal karena karya-karyanya yang rumit dan menantang, sering kali diberi label postmodern, dengan tema-tema distopia dan suasana melankolis Beberapa novelnya seperti Satantango (1985) dan The Melancholy of Resistance (1989) telah diadaptasi menjadi film layar lebar oleh Béla Tarr. Pada tahun 2025, ia menerima Penghargaan Nobel Kesusastraan "atas karya-karyanya yang memikat dan visioner, yang menegaskan kembali kekuatan seni di tengah teror apokaliptik."
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

László Krasznahorkai | |
|---|---|
| Lahir | 05 Januari 1954 Gyula, Békés, Republik Rakyat Hongaria |
| Pekerjaan | Novelis, penulis skenario |
| Bahasa | Hungaria, Jerman |
| Almamater | Eötvös Loránd (Universitas Budapest)[1] Universitas József Attila (JATE) (Universitas Szeged)[1] |
| Periode | 1985–sekarang |
| Genre | Novel, cerita pendek, skenario |
| Gerakan | Sastra postmodern |
| Penghargaan terkenal | International Booker Prize Penghargaan Kossuth |
| Pasangan | Anikó Pelyhe (m. 1990, cerai) Dorka Haller (m. 1997, cerai)[2] |
| Anak | 3 (Kata, Ágnes, dan Emma)[2] |
| Situs web | |
| krasznahorkai | |
László Krasznahorkai (Hongaria: [ˈlaːsloː ˈkrɒsnɒhorkɒi]; lahir 5 Januari 1954) adalah seorang novelis dan penulis skenario asal Hungaria, terkenal karena karya-karyanya yang rumit dan menantang, sering kali diberi label postmodern, dengan tema-tema distopia dan suasana melankolis[3] Beberapa novelnya seperti Satantango (1985) dan The Melancholy of Resistance (1989) telah diadaptasi menjadi film layar lebar oleh Béla Tarr. Pada tahun 2025, ia menerima Penghargaan Nobel Kesusastraan "atas karya-karyanya yang memikat dan visioner, yang menegaskan kembali kekuatan seni di tengah teror apokaliptik."[4]
Krasznahorkai lahir di Gyula, pada 5 Januari 1954[1][5] dari keluarga kelas menengah.[6] Ayahnya, György Krasznahorkai, adalah seorang pengacara, sementara ibunya, Júlia Pálinkás, bekerja sebagai administrator jaminan sosial.[2] Ayahnya memiliki darah Yahudi yang ia sembunyikan selama bertahun-tahun, dan baru mengungkapkan hal itu ke Krasznahorkai saat anaknya berusia sebelas tahun.[7]
Pada tahun 1972, Krasznahorkai lulus dari SMA Erkel Ferenc dengan spesialisasi di bidang Latin. Dari 1973 sampai 1976, dia belajar hukum di Universitas József Attila (sekarang bernama Universitas Szeged) lalu melanjutkan studi di Universitas Eötvös Loránd (ELTE) di Budapest.[1] Setelah itu, dari tahun 1978 sampai 1983, ia mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Hungaria di Fakultas Humaniora ELTE. Skripsinya membahas karya dan pengalaman penulis sekaligus jurnalis Sándor Márai (1900–1989) setelah melarikan diri dari rezim Komunis pada tahun 1948.[1] Selama masa kuliahnya sebagai mahasiswa sastra, Krasznahorkai sempat bekerja di sebuah penerbit bernama Gondolat Könyvkiadó.[5]
Sejak lulus kuliah, Krasznahorkai menjalani hidup sebagai penulis independen. Pada tahun 1985, novel pertamanya Satantango langsung mencuri perhatian, dan kesuksesan tersebut melambungkan namanya ke barisan terdepan dunia sastra Hungaria. Versi bahasa Inggrisnya bahkan menyabet penghargaan Best Translated Book Award pada 2013.[8]
Pada tahun 1987 menjadi momen penting baginya, untuk pertama kalinya ia dapat bepergian ke luar negeri dari Hungaria yang saat itu masih di bawah pemerintahan Komunis. Ia menghabiskan satu tahun di Berlin Barat dengan beasiswa DAAD. Setelah runtuhnya Blok Timur, hidupnya menjadi berpindah-pindah ke berbagai tempat.[8] Pada tahun 1990, ia akhirnya menghabiskan waktu cukup lama di Asia Timur mencari pengalaman di Mongolia serta Tiongkok yang akhirnya menjadi inspirasi penting untuk novel-novelnya seperti The Prisoner of Urga dan Destruction and Sorrow Beneath the Heavens. Ia pun berkali-kali kembali ke Tiongkok.[9]
Pada tahun 1993, novelnya The Melancholy of Resistance memenangkan Preis der SWR Bestenliste sebagai karya sastra terbaik tahun 1993.[8][10] Tiga tahun kemudian, ia diundang sebagai tamu kehormatan di Wissenschaftskolleg di Berlin.[9] Saat sedang menyelesaikan War and War, ia menjelajah Eropa. Penyair Allen Ginsberg banyak membantu Krasznahorkai bahkan menyediakan tempat tinggal di apartemen di New York, dan menurut Krasznahorkai saran-saran dari Ginsberg sangat berharga untuk menghidupkan ceritanya.[11]
Pada tahun 1996, 2000, dan 2005, ia tinggal selama enam bulan di Kyoto. Ketertarikannya pada estetika dan teori sastra Timur berdampak besar pada gaya penulisan dan tema-tema yang ia angkat.[12] Meski sering kembali ke Jerman dan Hungaria, Krasznahorkai lebih banyak tinggal lama di berbagai negara lain seperti Amerika Serikat, Spanyol, Yunani, dan Jepang. Semua pengalaman tersebut turut membentuk novelnya[13] yang berjudul Seiobo There Below yang rilis pada tahun 2014.[14]
Sejak tahun 1985, sutradara Béla Tarr yang juga merupakan teman dekat Krasznahorkai membuat film-film yang hampir seluruhnya diadaptasi dari karya-karyanya, termasuk Sátántangó dan Werckmeister Harmonies.[9] Tapi menurut pengakuan Krasznahorkai film The Turin Horse yang rilis tahun 2011 menjadi kolaborasi terakhir mereka.[15] Krasznahorkai juga bekerja sama erat dengan seniman Max Neumann, salah satunya dalam novel bergambar Chasing Homer (2021), yang disertai musik perkusi dari musisi jazz Szilveszter Miklós.[16]
Di dunia sastra internasional, Krasznahorkai diganjar banyak pujian. Susan Sontag menyebutnya sebagai "maestro Hungaria yang bisa disejajarkan dengan Gogol dan Melville".[8] Sementara itu W. G. Sebald mengatakan, "Pandangan dunia Krasznahorkai seuniversal Dead Souls-nya Gogol dan jauh melampaui segala kekhawatiran remeh sastra kontemporer."[17] Pada tahun 2015, ia dianugerahi Man Booker International Prize menjadikannya sebagai penulis Hungaria pertama yang meraih penghargaan tersebut.[10]
Setelah beberapa tahun tinggal di Berlin, Jerman di sana ia sempat menjadi dosen tamu selama enam bulan di Universitas Bebas Berlin. Krasznahorkai kini memilih hidup menyendiri, jauh dari keramaian, di perbukitan Szentlászló, Hungaria[2][18] Ia pernah menikah dengan Anikó Pelyhe pada tahun 1990, tapi pernikahan itu berakhir dengan perceraian. Kemudian, pada tahun 1997, ia menikah lagi dengan Dóra Kopcsányi, seorang sinolog dan desainer grafis.[2] Dari dua pernikahannya tersebut mereka memiliki tiga anak Kata, Ágnes dan Panni.[2]
He was born into a middle-class Jewish family (his father was a lawyer, his mother an employee of the social welfare ministry)