Mahkota Sultan Banten adalah salah satu regalia paling penting peninggalan Kesultanan Banten, kerajaan Islam besar di ujung barat Pulau Jawa yang berjaya dari abad ke-16 hingga ke-19. Mahkota ini menjadi simbol kekuasaan, legitimasi, dan kejayaan para sultan Banten, serta merefleksikan kekayaan budaya dan spiritualitas masyarakat Banten.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Mahkota Sultan Banten adalah salah satu regalia paling penting peninggalan Kesultanan Banten, kerajaan Islam besar di ujung barat Pulau Jawa yang berjaya dari abad ke-16 hingga ke-19.[1] Mahkota ini menjadi simbol kekuasaan, legitimasi, dan kejayaan para sultan Banten, serta merefleksikan kekayaan budaya dan spiritualitas masyarakat Banten.[2]
Mahkota ini pertama kali dipergunakan oleh Sultan Maulana Hasanuddin pada tahun 1552 dan menjadi pusaka kerajaan yang diwariskan secara turun-temurun hingga masa pemerintahan Sultan Muhammad Rafiuddin di awal abad ke-19. Dalam tradisi Kesultanan Banten, mahkota berfungsi sebagai atribut utama dalam upacara penobatan sultan, sekaligus merepresentasikan legitimasi kekuasaan yang mencakup otoritas politik, spiritual, dan kultural. Setelah keruntuhan kesultanan akibat perseteruan internal dan campur tangan VOC-Belanda pada abad ke-19, artefak ini kemudian menjadi koleksi Museum Nasional Indonesia.[3]
Mahkota Sultan Banten berbahan dasar emas murni berlapis perak, dihiasi 116 batu mulia termasuk berlian, batu mirah, zamrud, dan mutiara. Desainnya memadukan motif floral khas seni Islam (sulur daun dan pohon hayat) dengan pengaruh Hindu-Buddha yang tecermin pada puncak berbentuk kuncup teratai menyerupai wajra (simbol pencerahan Hindu), dilengkapi ornamen bulan sabit-bintang sebagai simbol Islam. Mahkota ini dibuat dengan teknik kerawangan (ukiran tembus), dengan lapisan dalam berupa penutup kepala perak beranyam benang emas.[4]
Secara filosofis, mahkota merepresentasikan kewibawaan, kebijaksanaan, keberanian pemimpin, serta prinsip petunjuk Ilahi dan keadilan yang harus diwujudkan dalam kepemimpinan.[4]
Mahkota Kesultanan Banten memainkan peran sentral dalam berbagai upacara kenegaraan dan keagamaan. Utamanya, mahkota dikenakan selama prosesi pelantikan sultan baru sebagai simbol legitimasi kekuasaan. Dalam konteks keagamaan, mahkota digunakan selama peringatan hari-hari besar Islam untuk meneguhkan integrasi antara otoritas politik dan spiritual kesultanan. Pada acara kenegaraan, termasuk penyambutan digniter asing dan penganugerahan gelar kebangsawanan, mahkota berfungsi sebagai representasi visual kedaulatan dan tata pemerintahan yang terstruktur. Dengan demikian, artefak ini menjadi penanda visual hierarki kekuasaan sekaligus cerminan sistem nilai yang menyatukan aspek politik dan religius dalam tata kelola kesultanan.[1]