Gereja Lutheran, yang juga dikenal sebagai Lutheranisme, adalah salah satu denominasi Protestanisme yang berasaskan kepada teologi Martin Luther, yakni tokoh biarawan dan reformator Jerman abad ke-16, yang upayanya untuk mereformasi teologi dan praktik Gereja Katolik meluncurkan Reformasi pada tahun 1517. Gereja-gereja Lutheran berpegang pada Alkitab dan Kredo Oikumenis, dengan doktrin Lutheran yang dijelaskan dalam Kitab Konkord. Lutheran menganggap diri mereka dalam kesinambungan dengan gereja apostolik dan meneguhkan tulisan-tulisan para Bapa Gereja dan empat konsili ekumenis pertama.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


| Bagian dari seri tentang |
| Gereja Lutheran |
|---|
|
|
| Bagian dari seri |
| Protestanisme |
|---|
|
|
Gereja Lutheran, yang juga dikenal sebagai Lutheranisme, adalah salah satu denominasi Protestanisme yang berasaskan kepada teologi Martin Luther, yakni tokoh biarawan dan reformator Jerman abad ke-16, yang upayanya untuk mereformasi teologi dan praktik Gereja Katolik meluncurkan Reformasi pada tahun 1517.[1] Gereja-gereja Lutheran berpegang pada Alkitab dan Kredo Oikumenis, dengan doktrin Lutheran yang dijelaskan dalam Kitab Konkord.[2] Lutheran menganggap diri mereka dalam kesinambungan dengan gereja apostolik dan meneguhkan tulisan-tulisan para Bapa Gereja dan empat konsili ekumenis pertama.[3][4][5]
Upaya reformasi Martin Luther dimulai ketika ia mengkritik praktik indulgensi Gereja Katolik Roma dengan menulis 95 dalil yang dipakukannya di pintu Gereja Seluruh Orang Kudus, Wittenberg, Jerman. Skisma antara Lutheranisme dan Katolik kemudian terbentuk dalam Maklumat Worms tahun 1521, yang membentuk prinsip formal Reformasi dan doktrin pembenaran, yang merupakan prinsip material bagi teologi Lutheran. Lutheranisme mengajarkan doktrin mengenai pembenaran yang diperoleh "hanya oleh Kasih Karunia melalui iman saja berdasarkan Kitab Suci saja". Doktrin ini menekankan bahwa hanya Kitab Suci yang menjadi otoritas terakhir dari semua hal yang berhubungan dengan iman. Hal ini bertentangan dengan Gereja Katolik Roma yang, melalui Konsili Trento, menyatakan bahwa otoritas terakhir datang dari Kitab Suci dan tradisi.[6] Sementara itu, Lutheranisme menganggap bahwa tradisi berada di bawa Kitab Suci dan dihargai karena perannya dalam pewartaan Injil.[7]
Gereja-gereja Lutheran mempertahankan banyak praktik liturgi dan ajaran sakramental Gereja Barat pra-Reformasi, dengan penekanan khusus terhadap Ekaristi, atau Perjamuan Kudus. Kendati demikian, Gereja Lutheran Timur umumnya menggunakan Ritus Bizantin.[8] Meski Lutheran tidak dogmatik terhadap jumlah sakramen, tetapi mereka umumnya mengakui tiga sakramen, yaitu baptis, pengakuan dosa, dan perjamuan kudus.[9][10][11][12] Gereja Lutheran mengajarkan regenerasi melalui baptisan, yaitu bahwa manusia "dibersihkan dari dosa-dosanya dan dilahirkan kembali serta diperbarui dalam Baptisan Kudus oleh Roh Kudus".[13] Lutheranisme juga mengajarkan bahwa pengudusan dimulai pada saat orang Kristen dibenarkan, dan sebagai hasil iman mereka yang hidup, orang Kristen harus melakukan perbuatan baik, yang diberi pahala oleh Tuhan.[14][15] Perbuatan dosa berat dapat membuat orang kehilangan keselamatan, kecuali bila mereka kembali kepada Tuhan melalui iman.[16] Dalam Gereja-gereja Lutheran, Jabatan Kunci yang dilaksanakan melalui pengakuan dosa dan absolusi adalah "otoritas yang telah diberikan Kristus kepada Gereja-Nya di bumi, yaitu untuk mengampuni dosa-dosa orang berdosa yang bertobat, tetapi menahan dosa-dosa orang yang masih belum bertobat".[17][18] Doktrin mengenai kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi melalui persatuan sakramental merupakan inti dari ajaran Lutheranisme, di mana ibadah (dikenal sebagai Pelayanan Ilahi) dilakukan secara rutin pada Hari Tuhan.[19][20]
Lutheranisme menjadi agama negara di berbagai negara di Eropa Utara, yang dimulai dari Prusia pada tahun 1525. Di Skandinavia, uskup-uskup Katolik Roma menerima reformasi Lutheran, dengan transformasi Lutheran diterima oleh uskup, imam, dan diaken gereja.[21][22] Tokoh-tokoh Lutheran yang berkontribusi terhadap pengembangan teologi Lutheran meliputi Martin Luther, Martin Chemnitz, Philipp Melanchthon, Joachim Westphal, Laurentis Petri, Olaus Petri, dan Laurentius Andreae.[23]
Lutheranisme telah berkontribusi dalam menciptakan berbagai himne dan seni rupa Kekristenan, juga berperan dalam pengembangan pendidikan.[24][25][26] Misi Kekristenan juga telah dibentuk oleh Lutheran di berbagai wilayah.[27] Gereja Lutheran juga mengoperasikan sekolah, perguruan tinggi, dan universitas Lutheran di penjuru dunia, ditambah juga rumah sakit dan panti asuhan.[28] Beberapa ordo keagamaan Lutheran, termasuk organisasi kerahiban dan konven, juga dibentuk dan hidup dalam komunitas yang hidup dalam doa dan bekerja.[29][30] Saat ini, jumlah penganut Kristen Lutheran mencapai 90 juta di seluruh dunia.[31][32]

Ajaran khas Martin Luther yang sering kali juga diakui sebagai ciri khas ajaran Reformasi disimpulkan dalam tiga sola, yaitu sola fide, sola gratia, dan sola scriptura, yang berarti "hanya iman", "hanya anugerah", dan "hanya Alkitab". Maksudnya, Luther menyatakan bahwa keselamatan manusia hanya diperoleh karena iman kepada karya anugerah Allah yang dikerjakan-Nya melalui Yesus Kristus, sebagaimana yang disaksikan oleh Alkitab. (Efesus 2:8-9 "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri")

Luther menentang praktik penyalahgunaan indulgensia (penghapusan hukuman sementara akibat dosa) pada saat itu. Luther menyatakan bahwa manusia diselamatkan bukan karena amal atau perbuatannya yang baik, melainkan semata-mata oleh karena anugerah Allah. Hal ini didasarkan pada perkataan Paulus dalam Surat Roma: "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa" (Roma 5:8)
Gereja Lutheran mengakui dua sakramen, yakni Baptisan dan Perjamuan Kudus. Katekismus Lutheran mengajarkan bahwa pembaptisan adalah karya Allah, berlandaskan perkataan dan janji Kristus; sehingga dilayankan baik bagi bayi maupun orang dewasa. Gereja Lutheran percaya bahwa roti dan anggur dalam tradisi ekaristi adalah sungguh-sungguh tubuh dan darah Kristus yang dianugerahkan kepada umat Kristiani untuk dimakan dan diminum, yang diperintahkan oleh Kristus sendiri.
Banyak Kaum Lutheran yang melestarikan pendekatan Liturgi terhadap Ekaristi. Komuni Kudus (atau Perjamuan Tuhan) dipandang sebagai tindakan sentral dari pemujaan Kristiani. Gereja Lutheran percaya bahwa roti dan anggur dalam perjamuan kudus hadir bersama dengan tubuh dan darah Yesus, bukannya menggantikan atau melambangkan tubuh dan darah-Nya belaka. Mereka mengaku dalam Apologi dari Pengakuan Augsburg:
Kami tidak menghapuskan Misa namun secara rohaniah mempertahankan dan membelanya. Di kalangan kami Misa dirayakan setiap Hari Tuhan dan pada hari-hari raya lainnya, bilamana Sakramen itu disediakan bagi orang-orang yang hendak mengambil bagian darinya, setelah mereka diperiksa dan diampuni. Kami juga mempertahankan bentuk-bentuk liturgis tradisional, seperti urut-urutan dalam pembacaan Alkitab, doa-doa, busana liturgi, dan hal-hal serupa lainnya. (Apologi dari Pengakuan Augsburg, Artikel XXIV.1)
Beberapa tokoh reformasi Protestan, khususnya Andreas Karlstadt, Huldrych Zwingli dan John Calvin serta muridnya, John Knox mendukung penyingkiran citra-citra religius dengan mendasarkan pendapat mereka pada larangan penyembahan berhala dan pembuatan citra pahatan dari Allah dalam Dekalog (Sepuluh Perintah Allah). Hasilnya, patung-patung dan gambar-gambar dirusak dalam serangan spontan individual maupun huru-hara ikonoklastis yang tidak sah. Meskipun demikian, dalam banyak kasus citra-citra religius disingkirkan secara baik-baik oleh otoritas sipil di kota-kota dan daerah-daerah teritorial Eropa yang baru saja direformasi.
Tidak seperti gereja Protestan lainnya, gereja Lutheran pada umumnya tidak begitu terhadap penggunaan semacam citra anti religius. Ini disebabkan oleh pernyataan Martin Luther sendiri bahwa orang-orang Kristen harus bebas untuk menggunakan semacam citra selama mereka tidak menyembahnya sebagai ganti Allah.
Gereja Lutheran di Indonesia hanya tersebar di pulau Sumatra saja, khususnya di Sumatera Utara, Rejang, dan Mentawai, yakni wilayah pelayanan misi RMG pada waktu itu. Di Indonesia, tidak ada gereja Lutheran otentik dengan alasan Gereja tersebut dipengaruhi gaya gereja Reformed Belanda dan warisan kolonial Belanda di Indonesia.
Gereja Lutheran di Sumatera Utara:
Gereja Lutheran di Kepulauan Nias:
Gereja Lutheran di luar Sumatera Utara:
Selain menjadi anggota Federasi Lutheran Sedunia (LWF), banyak dari gereja-gereja di atas yang juga menjadi anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia.
Examples that Chemnitz cites include making the sign of the cross, turning to the east in prayer, the renunciation of Satan in Baptism, and others. Other ancient customs and practices clearly do have their origins already in the New Testament, such as replacing the Jewish Sabbath with Sunday as the regular weekly day for worship, also the laying on of hands when ordaining, installing and commissioning a minister of the gospel for public service in the church (1 Timothy 4:12; 2 Timothy 1:6). In Christian freedom, we may observe such ceremonies as they serve the preaching of the gospel. The only traditions Lutherans object to are those that pertain to doctrine and Christian life, have no foundation in Scripture, and are used as sources of doctrines—placed on the same level as the doctrines clearly taught in Scripture.
In the Byzantine world, however, this pattern of worship would not be informed by the liturgical history of the Latin church, as with the Reformation-era church orders, but by the liturgical history of the Byzantine church. (This was in fact what occurred with the Ukrainian Evangelical Church of the Augsburg Confession, which published in its 1933 Ukrainian Evangelical Service Book the first ever Lutheran liturgical order derived from the historic Eastern Rite.)Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
...generally in the Lutheran Christian tradition we speak of three sacraments.Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Unitl that final revelation of the church, when it will be revealed to be what the apostles have said it is, the church proclaims the gospel and administers the sacraments (especially baptism, the Lord's Supper [also called Holy Communion or the Eucharist], and Holy Absolution [the formal proclamation of the forgiveness of sins)—all for the sake of calling people to faith, hope, and love and keeping them united with Christ and with one anothe rin the one church of Christ. And where the gospel is proclaimed and the sacraments administered in accord with that gospel, there the church truly is. Indeed, the Holy Spirit acts through the word and the sacraments, in Luther's phrase, "to call, gather, enlighten, and sanctify the whole Christian church on earth" (the church is not a Platonic reality) and keep it united to Christ. Because of the power of the Spirit to create and preserve the church, even the gates of hell cannot prevail against it (Mt. 16.18).
When Luther turned his attention to the number of sacraments in his 1520 treatise "The Babylonian Captivity of the Church," he reduced them from the seven recognized by the Roman Catholic Church. ... he reduced the valid sacraments from seven to three: "baptism, penance, and the bread"
Furthermore, the Lutheran Church also thoroughly teaches that we are cleansed of our sins and born again and renewed in Holy Baptism by the Holy Ghost. But she also teaches that whoever is baptized must, though daily contrition and repentance, drown The Old Adam so that daily a new man come forth and arise who walks before God in righteousness and purity forever. She teaches that whoever lives in sins after his baptism has again lost the grace of baptism.
In this "sacramental union," Lutherans taught, the body and blood of Christ are so truly united to the bread and wine of the Holy Communion so that the two may be identified. They are at the same time body and blood, bread and wine. This divine food is given, more-over, not just for the strengthening of faith, nor only as a sign of our unity in faith, nor merely as an assurance of the forgiveness of sin. Even more, in this sacrament the Lutheran Christian receives the very body and blood of Christ for the strengthening of the union of faith. The "real presence" of Christ in the Holy Sacrament is the means by which the union of faith, effected by God's Word and the sacrament of baptism, is strengthened and maintained.
In Sweden the apostolic succession was preserved because the Catholic bishops were allowed to stay in office, but they had to approve changes in the ceremonies.
The churches of Sweden and Finland retained bishops and the conviction of being in continuity with the apostolic succession