Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiKuntul kerbau
Artikel Wikipedia

Kuntul kerbau

Kuntul kerbau adalah sebuah klad kuntul bersebaran kosmopolitan dalam genus Ardea yang dapat ditemukan di kawasan tropis, subtropis, iklim sedang yang hangat, dan kian meluas ke wilayah iklim sedang yang lebih sejuk. Sebagaimana klasifikasi saat ini, klad tersebut mencakup dua spesies, yakni kuntul kerbau barat dan kuntul kerbau timur, meskipun sejumlah otoritas taksonomi menganggap keduanya sebagai satu spesies. Kendati memiliki kemiripan bulu dengan kuntul dari genus Egretta, baru-baru ini mereka diketahui secara genetik tergabung ke dalam genus Ardea, dan kini ditempatkan di sana. Berasal dari sejumlah wilayah di Asia, Afrika, dan Eropa paling selatan, kedua spesies ini telah mengalami perluasan sebaran yang pesat dan berhasil mengkolonisasi sebagian besar wilayah lain di dunia dalam satu abad terakhir.

spesies burung
Diperbarui 14 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kuntul kerbau

Kuntul kerbau
Kuntul kerbau barat (Ardea ibis) berbulu biak di Lahan Basah Wakodahatchee, Florida
Kuntul kerbau timur (Ardea coromanda) berbulu biak di Jepang memperlihatkan rona merah pada kaki dan paruhnya, yang muncul pada puncak musim kawin
Status konservasi

Risiko Rendah  (IUCN 3.1)[1]
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Pelecaniformes
Famili: Ardeidae
Subfamili: Ardeinae
Genus: Ardea
Linnaeus, 1758
Spesies

A. ibis (Linnaeus, 1758)
A. coromanda (Boddaert, 1783)

Daerah sebaran kuntul kerbau      berbiak     tidak berbiak     sepanjang tahun
Artikel takson sembarang

Kuntul kerbau (sebelumnya genus Bubulcus) adalah sebuah klad kuntul (famili Ardeidae) bersebaran kosmopolitan dalam genus Ardea yang dapat ditemukan di kawasan tropis, subtropis, iklim sedang yang hangat, dan kian meluas ke wilayah iklim sedang yang lebih sejuk. Sebagaimana klasifikasi saat ini, klad tersebut mencakup dua spesies, yakni kuntul kerbau barat dan kuntul kerbau timur, meskipun sejumlah otoritas taksonomi (terutama di masa lalu) menganggap keduanya sebagai satu spesies. Kendati memiliki kemiripan bulu dengan kuntul dari genus Egretta, baru-baru ini mereka diketahui secara genetik tergabung ke dalam genus Ardea, dan kini ditempatkan di sana. Berasal dari sejumlah wilayah di Asia, Afrika, dan Eropa paling selatan, kedua spesies ini telah mengalami perluasan sebaran yang pesat dan berhasil mengkolonisasi sebagian besar wilayah lain di dunia dalam satu abad terakhir.

Mereka merupakan burung berwarna putih yang dihiasi dengan bulu hias berwarna kuning kecokelatan pada musim kawin. Mereka bersarang dalam koloni, biasanya di dekat badan air dan sering kali bersama burung perandai lainnya. Sarangnya berupa panggung dari ranting-ranting di pepohonan atau semak-semak. Kuntul kerbau mengeksploitasi habitat yang lebih kering dan terbuka dibandingkan spesies kuntul lainnya. Habitat mencari makan mereka meliputi padang rumput yang tergenang air secara musiman, padang penggembalaan, lahan pertanian, lahan basah, dan sawah. Mereka sering kali menyertai sapi atau mamalia besar lainnya, menangkap serangga dan mangsa vertebrata kecil yang terusik oleh keberadaan hewan-hewan tersebut. Sebagian populasinya melakukan migrasi dan sebagian lainnya menunjukkan pemencaran pascaberbiak.

Kuntul kerbau dewasa hanya memiliki sedikit pemangsa, tetapi sejumlah burung atau mamalia dapat menjarah sarang mereka, dan anakannya dapat mati karena kelaparan, defisiensi kalsium, atau gangguan dari burung besar lainnya. Kuntul kerbau menjalin hubungan khusus dengan sapi, yang meluas ke mamalia pemakan rumput besar lainnya; peningkatan peternakan ternak oleh manusia diyakini menjadi penyebab utama dari perluasan daerah sebaran mereka yang terjadi secara seketika. Kuntul kerbau menyingkirkan caplak dan lalat dari tubuh sapi lalu memakannya. Hal ini menguntungkan kedua organisme, tetapi juga turut andil dalam penyebaran penyakit hewan yang ditularkan melalui caplak.

Taksonomi

Sebelum deskripsi Bubulcus oleh Charles Lucien Bonaparte pada tahun 1855,[2] kuntul kerbau barat telah dideskripsikan pada tahun 1758 oleh Carl Linnaeus dalam Systema Naturae-nya sebagai Ardea ibis,[3] sedangkan kuntul kerbau timur dideskripsikan pada tahun 1783 oleh Pieter Boddaert sebagai Cancroma coromanda. Nama generik mereka sebelumnya, yakni Bubulcus, berasal dari bahasa Latin yang berarti gembala, merujuk pada kedekatannya dengan sapi peliharaan layaknya sebutan umum mereka dalam bahasa Inggris.[4] Nama spesies ibis merupakan kata dari bahasa Latin dan Yunani yang pada mulanya merujuk pada burung lahan basah berwarna putih lainnya, yakni ibis suci,[5] tetapi keliru diterapkan pada kuntul kerbau barat.[6] Epitet coromanda merujuk pada Pesisir Koromandel di India.[6]

Kuntul kerbau timur dan barat pertama kali dipisahkan spesiesnya oleh McAllan dan Bruce pada tahun 1988,[7] tetapi tetap dianggap konsesifik (satu spesies) oleh hampir semua penulis taksonomi modern lainnya hingga diterbitkannya buku panduan yang berpengaruh, Birds of South Asia.[8] Kuntul kerbau timur berbiak di Asia bagian selatan dan timur serta Australasia, sedangkan spesies barat menempati sisa daerah sebaran kuntul kerbau lainnya, meliputi Asia bagian barat daya, Eropa, Afrika, dan benua Amerika.[9] Menurut daftar burung IOC, keduanya merupakan spesies monotipik. Beberapa otoritas taksonomi telah mengakui takson ketiga di Seychelles, yakni A. i. seychellarum, yang pertama kali dideskripsikan oleh Finn Salomonsen pada tahun 1934, tetapi takson ini sekarang dianggap bersinonim dengan A. ibis pada umumnya.[10][11]

Meskipun secara sepintas memiliki kesamaan penampilan, kuntul kerbau berkerabat lebih dekat dengan anggota lain dalam genus Ardea, yang terdiri dari cangak besar atau cangak sejati dan kuntul besar (A. alba), dibandingkan dengan mayoritas spesies bernama kuntul yang tergabung dalam genus Egretta.[12] Kasus hibridisasi yang langka dengan kuntul biru kecil (Egretta caerulea), kuntul kecil (E. garzetta), dan kuntul salju (E. thula) telah tercatat.[13]

Sebuah nama lama dalam bahasa Inggris untuk kuntul kerbau adalah buff-backed heron (cangak punggung kuning kecokelatan).[14]

Deskripsi

Kuntul kerbau merupakan burung berkerabat cangak yang bertubuh gempal dengan rentang sayap mencapai 88–96 cm (34+1⁄2–38 in); mereka memiliki panjang 46–56 cm (18–22 in), dan berat 270–512 g (9+1⁄2–18 oz).[15] Mereka memiliki leher yang tebal dan relatif pendek, paruh yang kokoh, serta postur tubuh membungkuk. Burung dewasa yang sedang tidak berbiak umumnya memiliki bulu putih, paruh kuning, dan kaki kuning keabu-abuan. Selama musim kawin, burung kuntul kerbau barat dewasa menumbuhkan bulu-bulu hias berwarna oranye kekuningan di bagian punggung, dada, dan mahkota, sedangkan paruh, kaki, dan iris berubah menjadi merah cerah dalam waktu yang singkat sebelum masa berpasangan.[16] Kedua jenis kelamin tersebut terlihat serupa, tetapi pejantan sedikit lebih besar dan memiliki bulu biak yang sedikit lebih panjang ketimbang burung betina. Burung remaja belum menumbuhkan bulu-bulu hias berwarna dan beberapa di antaranya memiliki warna paruh hitam sesaat setelah bulu terbangnya tumbuh lengkap.[15][17] Populasi burung di Seychelles, yang didalihkan oleh sebagian ilmuwan sebagai subspesies yang valid A. i. seychellarum, awalnya dilaporkan berukuran lebih kecil dan bersayap lebih pendek dibandingkan bentuk lainnya, tetapi ternyata tidak berada di luar rentang variasi yang lazim dijumpai pada kuntul kerbau barat wilayah lain, khususnya di Afrika bagian timur.[10] Mereka juga memiliki pipi dan tenggorokan putih, layaknya A. ibis; bulu-bulu biaknya, yang pertama kali dilaporkan berwarna keemasan seperti halnya pada A. coromanda,[18] rupanya juga masih berada dalam rentang variasi A. ibis pada umumnya, dan tidak seluas yang terdapat pada A. coromanda.[10]

Kuntul kerbau timur berbeda dengan kuntul kerbau barat dalam ciri bulu biak, di mana warna kuning kecokelatan di kepalanya meluas hingga ke area pipi dan tenggorokan, dan bulu hiasnya berwarna jauh lebih keemasan. Paruh dan tarsus-nya rata-rata juga lebih panjang ketimbang A. ibis, meskipun dengan sedikit tumpang tindih dalam hal ukuran.[10][19]

Terdapat rekaman temuan sejumlah individu yang mengidap kelainan bulu secara abnormal, yakni berwarna abu-abu atau melanistik.[20][21]

Posisi matanya mampu memberikan penglihatan binokular bagi mereka saat sedang mencari mangsa,[22] dan penelitian fisiologis mengisyaratkan bahwa burung ini berkemungkinan mampu beraktivitas secara krepuskular maupun nokturnal (malam hari).[23] Karena telah beradaptasi untuk mencari makan di daratan, mereka tak lagi memiliki kemampuan mengoreksi refraksi atau pembiasan cahaya dari dalam air secara akurat selayaknya yang dimiliki oleh kerabat-kerabat mereka di lahan basah.[24]

Sebaran dan habitat

Perluasan daerah sebaran di benua Amerika

Kuntul kerbau barat telah mengalami salah satu perluasan sebaran alami yang paling pesat dan luas jangkauannya di antara seluruh spesies burung.[25] Burung ini pada mulanya merupakan hewan asli di sejumlah wilayah di Spanyol bagian selatan dan Portugal, kawasan tropis dan subtropis di Afrika, serta kawasan tropis yang lembap dan subtropis di Asia. Pada akhir abad ke-19, spesies ini mulai memperluas daerah sebarannya ke bagian selatan Afrika, pertama kali berbiak di Provinsi Tanjung pada tahun 1908.[26] Kuntul kerbau pertama kali terlihat di benua Amerika, tepatnya di perbatasan Guiana dan Suriname pada tahun 1877, yang tampaknya telah terbang melintasi Samudra Atlantik.[9][15] Pada tahun 1930-an, spesies ini diperkirakan telah menetap dan mapan di daerah tersebut.[27] Kini, mereka tersebar luas di seluruh Brasil dan pertama kali ditemukan di wilayah utara negara tersebut pada tahun 1964, sedang mencari makan bersama kerbau.[28]

Kuntul kerbau barat pertama kali tiba di Amerika Utara pada tahun 1941 (penampakan awal ini pada mulanya diabaikan karena dianggap sebagai burung peliharaan yang lepas), berbiak di Florida pada tahun 1953, dan menyebar dengan pesat, berbiak untuk pertama kalinya di Kanada pada tahun 1962.[26] Saat ini, mereka umum terlihat hingga sejauh bagian barat California. Burung ini pertama kali tercatat berbiak di Kuba pada tahun 1957, di Kosta Rika pada tahun 1958, dan di Meksiko pada tahun 1963, meskipun kemungkinan besar mereka telah menetap sebelum waktu tersebut.[27] Di Eropa, populasi spesies ini secara historis sempat menyusut di Spanyol dan Portugal, tetapi pada akhir abad ke-20, populasinya meluas kembali melintasi Semenanjung Iberia, lalu mulai mengkolonisasi wilayah Eropa lainnya, yaitu Prancis bagian selatan pada tahun 1958, Prancis bagian utara pada tahun 1981, dan Italia pada tahun 1985.[26] Perbiakan di Britania Raya tercatat untuk pertama kalinya pada tahun 2008, hanya berselang satu tahun setelah lonjakan kedatangan yang terlihat pada tahun sebelumnya.[29][30] Pada tahun 2008, kuntul kerbau barat juga dilaporkan telah bermigrasi ke Irlandia untuk pertama kalinya.[31] Tren ini terus berlanjut dan kuntul kerbau barat menjadi semakin banyak di wilayah selatan Britania dengan lonjakan populasi dalam jumlah tertentu selama musim tidak berbiak pada 2007/08 dan 2016/17. Mereka kembali berbiak di Britania pada tahun 2017, menyusul lonjakan kedatangan pada musim dingin sebelumnya, dan kemungkinan besar akan menetap di sana.[32][33] Sejak tahun 1948, kuntul kerbau barat telah menjadi penghuni tetap di Israel; sebelum tahun 1948, mereka hanya sekadar pengunjung musim dingin.[34]

Kuntul kerbau timur juga telah memperluas sebarannya secara nyata. Di Australia, kolonisasi dimulai pada tahun 1940-an, ketika mereka menetap di bagian utara dan timur benua tersebut.[35] Burung ini mulai mengunjungi Selandia Baru secara rutin pada tahun 1960-an; saat ini, spesies tersebut berbiak di penjuru kedua negara tersebut, terkecuali di sejumlah wilayah Australia yang lebih gersang.

Perluasan sebaran yang masif dan pesat dari kedua jenis kuntul kerbau ini disebabkan oleh hubungan mereka dengan manusia dan hewan peliharaannya. Karena pada mulanya telah beradaptasi dengan hubungan komensal bersama hewan perenggut dan pemakan rumput berukuran besar, mereka dapat dengan mudah beralih pada sapi dan kuda peliharaan. Seiring dengan menyebarnya pemeliharaan hewan ternak di seluruh dunia, kuntul kerbau mampu menempati relung yang sebelumnya kosong.[36] Sebagian besar populasi kuntul kerbau melakukan migrasi dan pemencaran,[25] dan hal ini telah membantu perluasan sebaran genus tersebut. Kuntul kerbau pernah terlihat sebagai burung pengembara di berbagai kepulauan sub-Antarktika, termasuk Georgia Selatan, Marion, Sandwich Selatan, dan Orkney Selatan.[37] Kawanan kecil yang terdiri dari delapan ekor burung juga pernah terlihat di Fiji pada tahun 2008.[38]

Selain perluasan sebaran alaminya, kuntul kerbau telah sengaja diintroduksi ke beberapa daerah. Kuntul kerbau barat diintroduksi ke Hawaii pada tahun 1959, dan ke Kepulauan Chagos pada tahun 1955. Pelepasan yang berhasil juga dilakukan di Seychelles dan Rodrigues, tetapi upaya untuk mengintroduksikan mereka ke Mauritius berujung kegagalan. Sejumlah besar burung juga sempat dilepaskan oleh Kebun Binatang Whipsnade di Inggris, tetapi mereka tidak pernah berhasil menetap.[39]

Walaupun kuntul kerbau sesekali mencari makan di perairan dangkal, berbeda dengan sebagian besar cangak lainnya, mereka biasanya dapat ditemukan di ladang dan habitat padang rumput yang kering, mencerminkan ketergantungan pola makannya yang lebih besar pada serangga terestrial ketimbang mangsa akuatik.[40]

  • Kawanan besar kuntul kerbau barat di sebuah pohon di Jacutinga, Minas Gerais, Brasil
    Kawanan besar kuntul kerbau barat di sebuah pohon di Jacutinga, Minas Gerais, Brasil
  • Kuntul kerbau timur di India, dengan bulu hias oranyenya yang tegak
    Kuntul kerbau timur di India, dengan bulu hias oranyenya yang tegak
  • Kuntul kerbau barat di Prancis bagian selatan, dengan bulu musim dingin; kedua spesies tersebut tidak mudah dibedakan saat berada dalam wujud bulu ini
    Kuntul kerbau barat di Prancis bagian selatan, dengan bulu musim dingin; kedua spesies tersebut tidak mudah dibedakan saat berada dalam wujud bulu ini
  • Kuntul kerbau timur di Chennai, India, dengan bulu musim dingin;
    Kuntul kerbau timur di Chennai, India, dengan bulu musim dingin;
  • Kuntul kerbau barat remaja di Maui; pada sebagian individu, paruhnya berwarna hitam untuk waktu yang singkat setelah bulu terbangnya tumbuh lengkap
    Kuntul kerbau barat remaja di Maui; pada sebagian individu, paruhnya berwarna hitam untuk waktu yang singkat setelah bulu terbangnya tumbuh lengkap

Migrasi dan pergerakan

Sebagian populasi kuntul kerbau merupakan burung migran, sementara sebagian lainnya bersifat memencar (dispersif), dan membedakan keduanya bisa jadi hal yang sulit.[25] Di banyak wilayah, populasi burung ini dapat bersifat sedenter maupun migran. Di Belahan Bumi Utara, migrasi dilakukan dari iklim yang lebih sejuk ke daerah yang lebih hangat, tetapi kuntul kerbau yang bersarang di Australia bermigrasi ke wilayah yang lebih sejuk seperti Tasmania dan Selandia Baru pada musim dingin lalu kembali pada musim semi.[35] Migrasi di Afrika bagian barat terjadi sebagai respons terhadap curah hujan, dan di Amerika Selatan, burung-burung yang bermigrasi melakukan perjalanan ke selatan dari daerah berbiak mereka pada musim tidak berbiak.[25] Populasi di India bagian selatan tampaknya menunjukkan migrasi lokal sebagai respons terhadap angin muson. Mereka bergerak ke utara dari Kerala setelah bulan September.[41][42] Selama musim dingin, banyak burung terlihat terbang pada malam hari bersama kawanan blekok india (Ardeola grayii) di pesisir tenggara India[43] dan lonjakan kedatangan pada musim dingin juga tercatat di Sri Lanka.[8]

Burung-burung muda diketahui memencar hingga sejauh 5.000 km (3.000 mi) dari daerah berbiaknya. Kawanan burung ini dapat terbang menempuh jarak yang sangat jauh dan pernah terlihat melintasi laut dan samudra, termasuk di tengah Samudra Atlantik.[44]

Ekologi dan perilaku

Sejumlah panggilan kontak di tempat bertengger malam hari kuntul kerbau barat.

Suara

Kuntul kerbau mengeluarkan panggilan rick-rack serak yang pelan di koloni perbiakan, tetapi di luar masa itu mereka sebagian besar terdiam.[25]

Perbiakan

Telur kuntul kerbau barat, MHNT, dari Maroko

Kuntul kerbau bersarang dalam koloni, yang sering kali ditemukan di sekitar badan air.[25] Koloni tersebut biasanya ditemukan di kawasan berhutan dekat danau atau sungai, di rawa-rawa, atau di pulau-pulau kecil pedalaman maupun pesisir, dan terkadang berbagi tempat dengan burung lahan basah lainnya, seperti cangak, kuntul, ibis, dan pecuk. Musim kawin bervariasi di wilayah Asia Selatan.[8] Pembuatan sarang di India bagian utara dimulai bersamaan dengan datangnya musim hujan pada bulan Mei.[45] Musim kawin di Australia berlangsung dari bulan November hingga awal Januari, dengan satu pengeraman telur per musimnya.[46] Musim kawin di Amerika Utara berlangsung dari bulan April hingga Oktober.[25] Di Seychelles, musim kawin berlangsung dari bulan April hingga Oktober.[47]

Burung jantan melakukan pertunjukan di sebuah pohon di dalam koloni tersebut, menggunakan serangkaian perilaku ritual, seperti menggoyangkan ranting dan menunjuk ke langit (mengangkat paruhnya secara vertikal ke atas),[48] dan pasangan akan terbentuk dalam kurun waktu 3–4 hari. Pasangan yang baru akan dipilih pada setiap musim dan saat bersarang kembali akibat kegagalan sarang sebelumnya.[11] Sarangnya berupa panggung kecil yang tidak rapi dari tumpukan ranting di pepohonan atau semak-semak yang dibangun oleh kedua induknya. Ranting-ranting dikumpulkan oleh burung jantan lalu ditata oleh burung betina, serta aksi pencurian ranting merupakan hal yang lumrah terjadi.[17] Jumlah telur dalam satu sarang berkisar antara satu hingga lima butir, meskipun tiga atau empat butir adalah yang paling umum. Telur berwarna putih kebiruan pucat tersebut berbentuk oval dan berukuran 45 mm × 53 mm (1+3⁄4 in × 2 in).[46] Pengeraman berlangsung sekitar 23 hari, dengan kedua jenis kelamin saling berbagi tugas mengerami.[25] Anakannya tertutup sebagian oleh bulu bawah saat menetas, tetapi belum mampu mengurus diri mereka sendiri; mereka mulai mampu mengatur suhu tubuhnya pada umur 9–12 hari dan menumbuhkan bulu sepenuhnya pada umur 13–21 hari.[49] Mereka mulai meninggalkan sarang dan memanjat di sekitarnya pada usia 2 minggu, belajar terbang pada usia 30 hari, dan menjadi mandiri pada sekitar hari ke-45.[11]

Kuntul kerbau melakukan parasitisme indukan pada tingkat yang rendah, dan beberapa contoh kasus melaporkan bahwa telur kuntul kerbau diletakkan di sarang kuntul salju dan kuntul biru kecil, meskipun telur-telur ini jarang menetas.[25] Selain itu, bukti adanya parasitisme indukan intraspesifik pada tingkat rendah juga telah ditemukan, di mana burung betina bertelur di sarang kuntul kerbau lainnya. Tercatat telah terjadi hingga 30% kopulasi di luar pasangan.[50][51]

Faktor dominan yang menyebabkan kematian anakan di sarang adalah kelaparan. Persaingan antarsaudara dapat berlangsung sengit, dan di Afrika Selatan, anakan ketiga dan keempat tak terelakkan lagi akan mati kelaparan.[11] Pada habitat yang lebih kering dengan populasi amfibi yang lebih sedikit, asupan makannya mungkin kekurangan kandungan vertebrata yang memadai dan dapat menyebabkan kelainan tulang pada anakan yang sedang tumbuh akibat defisiensi kalsium.[52] Di Barbados, sarang-sarang burung ini sesekali dijarah oleh monyet vervet,[9] dan sebuah penelitian di Florida melaporkan gagak ikan serta tikus hitam sebagai kemungkinan penjarah sarang lainnya. Penelitian yang sama mengaitkan sejumlah kematian anakan dengan undan cokelat yang bersarang di sekitarnya, yang secara tak sengaja, namun sering kali, membuat sarang bergeser atau menyebabkan anakan terjatuh.[53] Di Australia, gagak torres, elang ekor baji, dan elang-laut dada-putih memangsa telur atau anakan burung ini, serta serangan caplak maupun infeksi virus juga dapat menjadi penyebab kematian lainnya.[17]

Makanan

  • Kuntul kerbau barat sedang memakan kadal di Turki. Berbeda dengan kebanyakan cangak lainnya, mereka sering mencari makan di tanah yang kering.
    Kuntul kerbau barat sedang memakan kadal di Turki. Berbeda dengan kebanyakan cangak lainnya, mereka sering mencari makan di tanah yang kering.
  • Asosiasi alami kuntul kerbau terbentuk bersama mamalia besar: bersama kerbau afrika di Uganda.
    Asosiasi alami kuntul kerbau terbentuk bersama mamalia besar: bersama kerbau afrika di Uganda.
  • Komensalisme dengan manusia, tahap 1: kuntul kerbau timur bersama sapi peliharaan di India.
    Komensalisme dengan manusia, tahap 1: kuntul kerbau timur bersama sapi peliharaan di India.
  • Komensalisme dengan manusia, tahap 2: mesin pemotong rumput yang menjadi pengganti mamalia besar. Gambia.
    Komensalisme dengan manusia, tahap 2: mesin pemotong rumput yang menjadi pengganti mamalia besar. Gambia.
  • Komensalisme yang lebih mendalam dengan manusia: kuntul kerbau barat menunggu sisa makanan di pasar ikan Victoria, Seychelles.
    Komensalisme yang lebih mendalam dengan manusia: kuntul kerbau barat menunggu sisa makanan di pasar ikan Victoria, Seychelles.

Kuntul kerbau memangsa berbagai macam hewan, utamanya serangga, khususnya belalang, jangkrik, lalat (dewasa dan belatung), kumbang, dan ngengat, serta laba-laba, katak, ikan, lobster air tawar, ular kecil, kadal, dan cacing tanah.[54][55][56][57] Dalam kejadian yang langka, mereka pernah teramati mencari buah ara yang matang di sepanjang cabang pohon beringin.[58] Mereka biasanya ditemukan bersama sapi serta hewan perenggut dan pemakan rumput berukuran besar lainnya, lalu menangkap makhluk-makhluk kecil yang terusik oleh keberadaan mamalia tersebut. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan mencari makan kuntul kerbau jauh lebih tinggi ketika mencari makan di dekat hewan besar dibandingkan saat mencari makan sendirian.[59] Saat mencari makan bersama sapi, terbukti bahwa mereka 3,6 kali lebih berhasil dalam menangkap mangsa daripada mencari makan sendirian. Kinerjanya serupa saat mengikuti mesin pertanian, tetapi burung ini terpaksa harus lebih banyak bergerak.[60] Dalam kondisi perkotaan, kuntul kerbau juga pernah teramati mencari makan dalam situasi yang tidak lazim seperti di area jalur kereta api.[61]

Seekor kuntul kerbau akan mempertahankan secara lemah area di sekitar hewan pemakan rumput dari burung lain dari spesies yang sama, tetapi jika area tersebut dikerumuni oleh kuntul lainnya, ia akan menyerah dan melanjutkan mencari makan di tempat lain. Ketika terdapat banyak hewan besar, kuntul kerbau secara selektif mencari makan di sekitar spesies yang bergerak sekitar 5–15 langkah per menit, menghindari kawanan yang bergerak lebih cepat maupun lebih lambat; di Afrika, kuntul kerbau secara selektif mencari makan di belakang zebra dataran, waterbuck, gnu biru, dan kerbau afrika.[62] Burung yang lebih dominan mencari makan paling dekat dengan inangnya, dan dengan demikian akan memperoleh lebih banyak makanan.[17]

Kuntul kerbau sesekali menunjukkan keserbagunaan dalam pola makannya. Di pulau-pulau yang memiliki koloni burung laut, burung ini akan memangsa telur dan anak dara laut serta burung laut lainnya.[39] Selama masa migrasi, mereka juga dilaporkan memakan burung daratan bermigrasi yang kelelahan.[63] Populasi burung ini di Seychelles juga melakukan sedikit praktik kleptoparasitisme, yakni mengejar anakan dara-laut hitam dan memaksa mereka memuntahkan makanannya.[64]

Ancaman

Pasangan karakara jambul pernah teramati mengejar kuntul kerbau yang sedang terbang, memaksa mereka turun ke tanah, dan membunuhnya.[65]

Status

Daftar Merah IUCN memperlakukan mereka sebagai spesies tunggal. Mereka memiliki daerah sebaran yang luas, dengan perkiraan luasan sebaran global mencapai 355.000.000 km2 (100.000.000 sq mi). Populasi globalnya diperkirakan mencapai 3,8–6,7 juta individu. Atas alasan-alasan ini, kuntul kerbau dievaluasi sebagai spesies risiko rendah.[1] Perluasan dan penetapan populasi kuntul kerbau di daerah sebaran yang luas telah membuat mereka diklasifikasikan sebagai spesies invasif, meskipun hanya sedikit dampak yang tercatat sejauh ini, jika memang ada.[66]

Hubungan dengan manusia

Sebagai burung yang mencolok, kuntul kerbau memiliki banyak nama umum. Sebagian besar nama-nama ini berkaitan dengan kebiasaannya yang suka mengikuti sapi peliharaan dan hewan besar lainnya, dan ia dikenal dengan berbagai sebutan dalam bahasa Inggris seperti bangau sapi, burung sapi, atau cangak sapi, atau bahkan burung gajah maupun kuntul badak.[25] Namanya dalam bahasa Arab, abu qerdan, berarti "bapak caplak", sebuah nama yang diturunkan dari banyaknya jumlah parasit seperti caplak burung yang ditemukan di koloni perbiakannya.[25][67] Suku Maasai menganggap kehadiran kuntul kerbau dalam jumlah besar sebagai indikator kekeringan yang akan datang dan menggunakannya untuk memutuskan kapan harus memindahkan kawanan sapi mereka.[68]

Kuntul kerbau merupakan motif tradisional yang lazim dijumpai pada perahu penangkap ikan di kalangan nelayan pesisir timur Semenanjung Malaya yang memercayai mereka sebagai simbol keberuntungan dan rezeki.[69][70]

Kuntul kerbau adalah burung yang populer di kalangan peternak sapi karena peran yang dirasakan sebagai agen pengendalian hayati bagi parasit sapi seperti caplak dan lalat.[25] Sebuah penelitian di Australia menemukan bahwa kuntul kerbau mengurangi jumlah lalat yang mengganggu sapi dengan mematuknya langsung dari kulit.[71] Manfaat bagi hewan ternak inilah yang mendorong para peternak dan Dewan Pertanian dan Kehutanan Hawaii untuk melepaskan kuntul kerbau barat di Hawaii.[39][72][73]

Tidak semua interaksi antara manusia dan kuntul kerbau menguntungkan. Kuntul kerbau dapat menjadi bahaya keselamatan bagi pesawat terbang karena kebiasaannya mencari makan dalam kelompok besar di tepi berumput bandar udara,[74] dan spesies ini telah dikaitkan dengan penyebaran infeksi pada hewan seperti heartwater, penyakit bursal menular,[75] dan kemungkinan penyakit tetelo.[76][77]

Referensi

  1. 1 2 BirdLife International (2019). "Bubulcus ibis". 2019 e.T22697109A155477521. doi:10.2305/IUCN.UK.2019-3.RLTS.T22697109A155477521.en.
  2. ↑ Bonaparte, Charles Lucien (1855). "[untitled]". Annales des Sciences Naturelles comprenant la zoologie (dalam bahasa Prancis). 4 (1): 141.
  3. ↑ Linnaeus, C. (1758). Systema naturae per regna tria naturae, secundum classes, ordines, genera, species, cum characteribus, differentiis, synonymis, locis. Tomus I. Editio decima, reformata (dalam bahasa Latin). Holmiae [Stockholm]: Laurentii Salvii. hlm. 144. A. capite laevi, corpore albo, rostro flavescente apice pedibusque nigris
  4. ↑ Valpy, Francis Edward Jackson (1828). An Etymological Dictionary of the Latin Language. London; A. J. Valpy. hlm. 56.
  5. ↑ "Ibis". Webster's Online Dictionary. Webster's. Diakses tanggal 15 March 2008.
  6. 1 2 Jobling, James A (2010). The Helm Dictionary of Scientific Bird Names. London: Christopher Helm. hlm. 201. ISBN 978-1-4081-2501-4.
  7. ↑ McAllan, I.A.W.; Bruce, M.D. (1988). The birds of New South Wales, a working list. Turramurra, N.S.W.: Biocon Research Group in association with the New South Wales Bird Atlassers. ISBN 0-9587516-0-9.
  8. 1 2 3 Rasmussen, Pamela C.; Anderton, John C. (2005). Birds of South Asia. The Ripley Guide. Smithsonian Institution and Lynx Edicions. hlm. 58. ISBN 84-87334-67-9.
  9. 1 2 3 Krebs, Elizabeth A.; Riven-Ramsey, Deborah; Hunte, W. (1994). "The Colonization of Barbados by Cattle Egrets (Bubulcus ibis) 1956–1990". Colonial Waterbirds. 17 (1). Waterbird Society: 86–90. doi:10.2307/1521386. JSTOR 1521386.
  10. 1 2 3 4 Vaurie, Charles (1963). Systematic notes on the Cattle Egret (Bubulcus ibis). Vol. 83. British Ornithologists' Club. ISSN 0007-1595. Diakses tanggal 22 June 2025.
  11. 1 2 3 4 Kushlan, James A.; Hancock, James (2005). Herons. Oxford University Press. ISBN 0-19-854981-4.
  12. ↑ Sheldon, F.H. (1987). "Phylogeny of herons estimated from DNA-DNA hybridization data". The Auk. 104 (1): 97–108. doi:10.2307/4087238. JSTOR 4087238.
  13. ↑ McCarthy, Eugene M. (2006). Handbook of Avian Hybrids of the World. Oxford University Press. hlm. 190. ISBN 0-19-518323-1.
  14. ↑ "Western Cattle Egret". Avibase. Diakses tanggal 3 May 2020.
  15. 1 2 3 "Cattle Egret". All About Birds. Cornell Lab of Ornithology. Diakses tanggal 28 February 2008.
  16. ↑ Krebs, E.A.; Hunte, W.; Green, D.J. (2004). "Plume variation, breeding performance and extra-pair copulations in the cattle egret". Behaviour. 141 (4): 479–499. doi:10.1163/156853904323066757. S2CID 35761953.
  17. 1 2 3 4 McKilligan, Neil (2005). Herons, Egrets and Bitterns: Their Biology and Conservation in Australia (PDF extract). CSIRO Publishing. hlm. 88–93. ISBN 0-643-09133-5.
  18. ↑ Drury, William H.; Morgan, Allen H.; Stackpole, Richard (July 1953). "Occurrence of an African Cattle Egret (Ardeola ibis ibis) in Massachusetts" (PDF). The Auk. 70 (3): 364–365. doi:10.2307/4081328. JSTOR 4081328.
  19. ↑ Biber, Jean-Pierre. "Bubulcus ibis (Linnaeus, 1758)" (PDF). Appendix 3. CITES. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 10 April 2008. Diakses tanggal 16 March 2008.
  20. ↑ Willoughby, P. J. (2001). "Melanistic Cattle Egret". British Birds. 94: 390–391.
  21. ↑ Herkenrath, Peter (2002). "Another melanistic cattle egret" (PDF). British Birds. 95: 531. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 15 March 2016. Diakses tanggal 21 April 2015.
  22. ↑ Martin, G.R.; Katzir, G. (1994). "Visual Fields and Eye Movements in Herons (Ardeidae)". Brain, Behavior and Evolution. 44 (2): 74–85. doi:10.1159/000113571. PMID 7953610.
  23. ↑ Rojas, L.M.; McNeil, R.; Cabana, T.; Lachapelle, P. (1999). "Behavioral, Morphological and Physiological Correlates of Diurnal and Nocturnal Vision in Selected Wading Bird Species". Brain, Behavior and Evolution. 53 (5–6): 227–242. doi:10.1159/000006596. PMID 10473901. S2CID 21430848.
  24. ↑ Katzir, G.; Strod, T.; Schectman, E.; Hareli, S.; Arad, Z. (1999). "Cattle egrets are less able to cope with light refraction than are other herons". Animal Behaviour. 57 (3): 687–694. doi:10.1006/anbe.1998.1002. PMID 10196060. S2CID 11941872.
  25. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Telfair II, Raymond C. (2006). Poole, A. (ed.). "Cattle Egret (Bubulcus ibis)". The Birds of North America Online. Ithaca: Cornell Lab of Ornithology. doi:10.2173/bna.113. Diarsipkan dari versi asli pada 17 May 2008. Pemeliharaan CS1: BOT: status url asli tidak diketahui (link)
  26. 1 2 3 Martínez-Vilalta, A.; Motis, A. (1992). "Family Ardeidae (Herons)". Dalam del Hoyo, J.; Elliot, A.; Sargatal, J. (ed.). Handbook of the Birds of the World. Vol. 1: Ostrich to Ducks. Lynx Edicions. hlm. 401–402. ISBN 84-87334-09-1.
  27. 1 2 Crosby, G. (1972). "Spread of the Cattle Egret in the Western Hemisphere" (PDF). Journal of Field Ornithology. 43 (3): 205–212. doi:10.2307/4511880. JSTOR 4511880.
  28. ↑ Del Lama, Silvia (April 2014). "Colonization of Brazil by the cattle egret (Bubulcus ibis) revealed by mitochondrial DNA". NeoBiota. 21: 49–63. doi:10.3897/neobiota.21.4966 – via ResearchGate.
  29. ↑ "First cattle egrets breed in UK". BBC News. 23 July 2008. Diakses tanggal 24 July 2008.
  30. ↑ Nightingale, Barry; Dempsey, Eric (2008). "Recent reports" (PDF). British Birds. 101 (2): 108. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 1 November 2023. Diakses tanggal 4 November 2016.
  31. ↑ Barrett, Anne (15 January 2008). "Flying in ... to make new friends down on the farm". Irish Independent.
  32. ↑ "Cattle Egrets breeding in Cheshire". Rare Bird Alert. Diakses tanggal 4 August 2017.
  33. ↑ Moss, Stephen (29 June 2019). "Hello exotic egrets, farewell mountain butterflies as fauna revolution hits UK". The Guardian.
  34. ↑ Arnold, Paula (1962). Birds of Israel. Haifa, Israel: Shalit Publishers Ltd. hlm. 17.
  35. 1 2 Maddock, M. (1990). "Cattle Egrets: South to Tasmania and New Zealand for the winter" (PDF). Notornis. 37 (1): 1–23. doi:10.63172/156648pnhkft. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 31 August 2021. Diakses tanggal 2 January 2015.
  36. ↑ Botkin, D.B. (2001). "The naturalness of biological invasions". Western North American Naturalist. 61 (3): 261–266.
  37. ↑ Silva, M.P.; Coria, N.E.; Favero, M.; Casaux, R.J. (1995). "New Records of Cattle Egret Bubulcus ibis, Blacknecked Swan Cygnus melancoryhyphus and White-rumped Sandpiper Calidris fuscicollis from the South Shetland Islands, Antarctica" (PDF). Marine Ornithology. 23: 65–66. doi:10.5038/2074-1235.23.1.326.
  38. ↑ Dutson, G.; Watling, D. (2007). "Cattle egrets (Bubulcus ibis) and other vagrant birds in Fiji" (PDF). Notornis. 54 (4): 54–55. doi:10.63172/544476phrjfg. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 22 February 2013.
  39. 1 2 3 Lever, C. (1987). Naturalised Birds of the World. Harlow, Essex: Longman Scientific & Technical. hlm. 15–17. ISBN 0-582-46055-7.
  40. ↑ Mullarney, Killian; Svensson, Lars; Zetterström, Dan; Grant, Peter J. (2001). Birds of Europe. Princeton University Press. ISBN 0-691-05054-6.
  41. ↑ Seedikkoya, K.; Azeez, P.A.; Shukkur, E.A.A. (2005). "Cattle Egret Bubulcus ibis habitat use and association with cattle" (PDF). Forktail. 21: 174–176.
  42. ↑ Kushlan, James A.; Hafner, Heinz (2000). Heron Conservation. Academic Press. hlm. 64–65. ISBN 0-12-430130-4.
  43. ↑ Santharam, V. (1988). "Further notes on the local movements of the Pond Heron Ardeola grayii". Newsletter for Birdwatchers. 28 (1–2): 8–9.
  44. ↑ Arendt, Wayne J. (1988). "Range Expansion of the Cattle Egret (Bubulcus ibis) in the Greater Caribbean Basin". Colonial Waterbirds. 11 (2). Waterbird Society: 252–262. doi:10.2307/1521007. JSTOR 1521007.
  45. ↑ Hilaluddin; Kaul, Rahul; Hussain, Mohd Shah; Imam, Ekwal; Shah, Junid N.; Abbasi, Faiza; Shawland, Tahir A. (2005). "Status and distribution of breeding cattle egret and little egret in Amroha using density method" (PDF). Current Science. 88 (25): 1239–1243.
  46. 1 2 Beruldsen, G. (2003). Australian Birds: Their Nests and Eggs. Kenmore Hills, Queensland: self. hlm. 182. ISBN 0-646-42798-9.
  47. ↑ Skerrett, A.; Bullock, I.; Disley, T. (2001). Birds of the Seychelles. Helm Field Guides. ISBN 0-7136-3973-3.
  48. ↑ Marchant, S.; Higgins, P.J. (1990). Handbook of Australian, New Zealand and Antarctic Birds. Vol. 1 (Ratites to Ducks). Oxford University Press. ISBN 0-19-553068-3.
  49. ↑ Hudson, Jack W.; Dawson, William R.; Hill, Richard W. (1974). "Growth and development of temperature regulation in nestling cattle egrets". Comparative Biochemistry and Physiology A. 49 (4): 717–720. doi:10.1016/0300-9629(74)90900-1. PMID 4154173.
  50. ↑ Fujioka, M.; Yamagishi, S. (1981). "Extra-marital and pair copulations in cattle egret". The Auk. 98 (1): 134–144. doi:10.1093/auk/98.1.134. JSTOR 4085616.
  51. ↑ McKilligan, N.G. (1990). "Promiscuity in the cattle egret (Bubulcus ibis)". The Auk. 107 (2): 334–341. doi:10.2307/4087617. JSTOR 4087617.
  52. ↑ Phalen, David N.; Drew, Mark L.; Contreras, Cindy; Roset, Kimberly; Mora, Miguel (2005). "Naturally occurring secondary nutritional hyperparathyroidism in cattle egrets (Bubulcus ibis) from central Texas". Journal of Wildlife Diseases. 41 (2): 401–415. doi:10.7589/0090-3558-41.2.401. PMID 16107676.
  53. ↑ Maxwell, G.R. II; Kale, H.W. II (1977). "Breeding biology of five species of herons in coastal Florida". The Auk. 94 (4): 689–700. doi:10.2307/4085265. JSTOR 4085265.
  54. ↑ Seedikkoya, K.; Azeez, P.A.; Shukkur, E.A.A. (2007). "Cattle egret as a biocontrol agent". Zoos' Print Journal. 22 (10): 2864–2866. doi:10.11609/jott.zpj.1731.2864-6.
  55. ↑ Hosein, Melinda (2012). The Online Guide to the Animals of Trinidad and Tobago (PDF). hlm. 1–4.
  56. ↑ Siegfried, W.R. (1971). "The Food of the Cattle Egret". Journal of Applied Ecology. 8 (2). British Ecological Society: 447–468. Bibcode:1971JApEc...8..447S. doi:10.2307/2402882. JSTOR 2402882.
  57. ↑ Fogarty, Michael J.; Hetrick, Willa Mae (1973). "Summer Foods of Cattle Egrets in North Central Florida". The Auk. 90 (2): 268–280. JSTOR 4084294.
  58. ↑ Chaturvedi, N. (1993). "Dietary of the cattle egret Bubulcus ibis coromandus (Boddaert)". Journal of the Bombay Natural History Society. 90 (1): 90.
  59. ↑ Grubb, T. (1976). "Adaptiveness of Foraging in the Cattle Egret". Wilson Bulletin. 88 (1): 145–148. JSTOR 4160720.
  60. ↑ Dinsmore, James J. (1973). "Foraging Success of Cattle Egrets, Bubulcus ibis". American Midland Naturalist. 89 (1). The University of Notre Dame: 242–246. doi:10.2307/2424157. JSTOR 2424157.
  61. ↑ Devasahayam, A. (2009). "Foraging behaviour of cattle egret in an unusual habitat". Newsletter for Birdwatchers. 49 (5): 78.
  62. ↑ Burger, J.; Gochfeld, M. (1993). "Making Foraging Decisions: Host Selection by Cattle Egrets Bubulcus ibis". Ornis Scandinavica. 24 (3). Blackwell Publishing: 229–236. doi:10.2307/3676738. JSTOR 3676738.
  63. ↑ Cunningham, R.L. (1965). "Predation on birds by the Cattle Egret" (PDF). The Auk. 82 (3): 502–503. doi:10.2307/4083130. JSTOR 4083130. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 20 March 2014. Diakses tanggal 22 February 2013.
  64. ↑ Feare, C.J. (1975). "Scavenging and kleptoparasitism as feeding methods on Seychelles Cattle Egrets, Bubulcus ibis". Ibis. 117 (3): 388. doi:10.1111/j.1474-919X.1975.tb04229.x.
  65. ↑ de Godoy, Fernando Igor; Macarrão, Arthur; Costa, Julio César (June 2020). "Hunting behaviour of Southern Caracara Caracara plancus on medium-sized birds". Cotinga. 42: 28–30.
  66. ↑ "Bubulcus ibis (bird)". Global Invasive Species Database. Diarsipkan dari asli tanggal 4 March 2016. Diakses tanggal 6 February 2008.
  67. ↑ McAtee, Waldo Lee (October 1925). "The Buff-backed Egret (Ardea ibis L., Arabic Abu Qerdan) as a Factor in Egyptian Agriculture" (PDF). The Auk. 42 (4): 603–604. doi:10.2307/4075029. JSTOR 4075029.
  68. ↑ Tidemann, Sonia; Gosler, Andrew, ed. (2010). Ethno-ornithology: Birds, Indigenous Peoples, Culture and Society. Routledge. hlm. 288.
  69. ↑ Puteh, Kijang (Jan 1969). "Spirits of the Bangau". The Straits Times Annual. hlm. 70–1.
  70. ↑ Noor, Farish; Khoo, Eddin (2003). Spirit of Wood: The Art of Malay Woodcarving. Periplus. hlm. 208. ISBN 978-1-4629-0677-2.
  71. ↑ McKilligan, N.G. (1984). "The food and feeding ecology of the Cattle Egret Ardeola ibis when nesting in south-east Queensland". Australian Wildlife Research. 11 (1): 133–144. doi:10.1071/WR9840133.
  72. ↑ Berger, A.J. (1972). Hawaiian Birdlife. Honolulu: University of Hawaii Press. ISBN 0-8248-0213-6.
  73. ↑ Breese, P.L. (1959). "Information on Cattle Egret, a Bird New to Hawaii". Elepaio. 20. Hawaii Audubon Society: 33–34.
  74. ↑ Paton, P.; Fellows, D.; Tomich, P. (1986). "Distribution of Cattle Egret Roosts in Hawaii With Notes on the Problems Egrets Pose to Airports". Elepaio. 46 (13): 143–147.
  75. ↑ Fagbohun, O.A.; Owoade, A.A.; Oluwayelu, D.O.; Olayemi, F.O. (2000). "Serological survey of infectious bursal disease virus antibodies in cattle egrets, pigeons and Nigerian laughing doves". African Journal of Biomedical Research. 3 (3): 191–192.
  76. ↑ "Heartwater" (PDF). Animal and Plant Health Inspection Service. U.S. Department of Agriculture. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 23 May 2006. Diakses tanggal 13 April 2008.
  77. ↑ Fagbohun, O.A.; Oluwayelu, D.O.; Owoade, A.A.; Olayemi, F.O. (2000). "Survey for antibodies to Newcastle Disease virus in cattle egrets, pigeons and Nigerian laughing doves" (PDF). African Journal of Biomedical Research. 3: 193–194.

Pranala luar

  • Ageing and sexing (PDF) by Javier Blasco-Zumeta & Gerd-Michael Heinze
  • Cattle Egret - The Atlas of Southern African Birds
  • Galeri foto Kuntul kerbau di VIREO (Drexel University)
  • Portal Burung
  • Portal Hewan
  • Portal Biologi
Pengidentifikasi takson
Bubulcus
  • Wikidata: Q947895
  • Wikispecies: Bubulcus
  • AFD: Bubulcus
  • Avibase: 88B71B47CACCD2EB
  • BOLD: 4581
  • CoL: 3DQY
  • EoL: 45511346
  • EPPO: 1BUBUG
  • Fauna Europaea (new): 75ddeee0-f7a3-4075-94af-1abe9d7031d4
  • GBIF: 2480829
  • iNaturalist: 5016
  • ITIS: 174802
  • NBN: NHMSYS0000530215
  • NCBI: 110667
  • NZOR: d7f60a3e-f290-42f4-9bf8-691df07d8f18
  • Open Tree of Life: 729501
  • Plazi: 176A5D5B-B7F3-E31C-0190-47D7A5A1186F
  • WoRMS: 159741
  • ZooBank: 2C4A73EB-2325-4A0E-BF5D-459522B587AD
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Nasional
  • Israel
Lain-lain
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Taksonomi
  2. Deskripsi
  3. Sebaran dan habitat
  4. Migrasi dan pergerakan
  5. Ekologi dan perilaku
  6. Suara
  7. Perbiakan
  8. Makanan
  9. Ancaman
  10. Status
  11. Hubungan dengan manusia
  12. Referensi
  13. Pranala luar

Artikel Terkait

Burung

binatang dari tetrapoda

Burung cinta

genus burung

Burung unta biasa

Spesies burung besar yang tidak bisa terbang

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026