Kuntul kerbau adalah sebuah klad kuntul bersebaran kosmopolitan dalam genus Ardea yang dapat ditemukan di kawasan tropis, subtropis, iklim sedang yang hangat, dan kian meluas ke wilayah iklim sedang yang lebih sejuk. Sebagaimana klasifikasi saat ini, klad tersebut mencakup dua spesies, yakni kuntul kerbau barat dan kuntul kerbau timur, meskipun sejumlah otoritas taksonomi menganggap keduanya sebagai satu spesies. Kendati memiliki kemiripan bulu dengan kuntul dari genus Egretta, baru-baru ini mereka diketahui secara genetik tergabung ke dalam genus Ardea, dan kini ditempatkan di sana. Berasal dari sejumlah wilayah di Asia, Afrika, dan Eropa paling selatan, kedua spesies ini telah mengalami perluasan sebaran yang pesat dan berhasil mengkolonisasi sebagian besar wilayah lain di dunia dalam satu abad terakhir.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Kuntul kerbau | |
|---|---|
| Kuntul kerbau barat (Ardea ibis) berbulu biak di Lahan Basah Wakodahatchee, Florida | |
| Kuntul kerbau timur (Ardea coromanda) berbulu biak di Jepang memperlihatkan rona merah pada kaki dan paruhnya, yang muncul pada puncak musim kawin | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Aves |
| Ordo: | Pelecaniformes |
| Famili: | Ardeidae |
| Subfamili: | Ardeinae |
| Genus: | Ardea Linnaeus, 1758 |
| Spesies | |
|
A. ibis (Linnaeus, 1758) | |
| Daerah sebaran kuntul kerbau berbiak tidak berbiak sepanjang tahun | |
Kuntul kerbau (sebelumnya genus Bubulcus) adalah sebuah klad kuntul (famili Ardeidae) bersebaran kosmopolitan dalam genus Ardea yang dapat ditemukan di kawasan tropis, subtropis, iklim sedang yang hangat, dan kian meluas ke wilayah iklim sedang yang lebih sejuk. Sebagaimana klasifikasi saat ini, klad tersebut mencakup dua spesies, yakni kuntul kerbau barat dan kuntul kerbau timur, meskipun sejumlah otoritas taksonomi (terutama di masa lalu) menganggap keduanya sebagai satu spesies. Kendati memiliki kemiripan bulu dengan kuntul dari genus Egretta, baru-baru ini mereka diketahui secara genetik tergabung ke dalam genus Ardea, dan kini ditempatkan di sana. Berasal dari sejumlah wilayah di Asia, Afrika, dan Eropa paling selatan, kedua spesies ini telah mengalami perluasan sebaran yang pesat dan berhasil mengkolonisasi sebagian besar wilayah lain di dunia dalam satu abad terakhir.
Mereka merupakan burung berwarna putih yang dihiasi dengan bulu hias berwarna kuning kecokelatan pada musim kawin. Mereka bersarang dalam koloni, biasanya di dekat badan air dan sering kali bersama burung perandai lainnya. Sarangnya berupa panggung dari ranting-ranting di pepohonan atau semak-semak. Kuntul kerbau mengeksploitasi habitat yang lebih kering dan terbuka dibandingkan spesies kuntul lainnya. Habitat mencari makan mereka meliputi padang rumput yang tergenang air secara musiman, padang penggembalaan, lahan pertanian, lahan basah, dan sawah. Mereka sering kali menyertai sapi atau mamalia besar lainnya, menangkap serangga dan mangsa vertebrata kecil yang terusik oleh keberadaan hewan-hewan tersebut. Sebagian populasinya melakukan migrasi dan sebagian lainnya menunjukkan pemencaran pascaberbiak.
Kuntul kerbau dewasa hanya memiliki sedikit pemangsa, tetapi sejumlah burung atau mamalia dapat menjarah sarang mereka, dan anakannya dapat mati karena kelaparan, defisiensi kalsium, atau gangguan dari burung besar lainnya. Kuntul kerbau menjalin hubungan khusus dengan sapi, yang meluas ke mamalia pemakan rumput besar lainnya; peningkatan peternakan ternak oleh manusia diyakini menjadi penyebab utama dari perluasan daerah sebaran mereka yang terjadi secara seketika. Kuntul kerbau menyingkirkan caplak dan lalat dari tubuh sapi lalu memakannya. Hal ini menguntungkan kedua organisme, tetapi juga turut andil dalam penyebaran penyakit hewan yang ditularkan melalui caplak.
Sebelum deskripsi Bubulcus oleh Charles Lucien Bonaparte pada tahun 1855,[2] kuntul kerbau barat telah dideskripsikan pada tahun 1758 oleh Carl Linnaeus dalam Systema Naturae-nya sebagai Ardea ibis,[3] sedangkan kuntul kerbau timur dideskripsikan pada tahun 1783 oleh Pieter Boddaert sebagai Cancroma coromanda. Nama generik mereka sebelumnya, yakni Bubulcus, berasal dari bahasa Latin yang berarti gembala, merujuk pada kedekatannya dengan sapi peliharaan layaknya sebutan umum mereka dalam bahasa Inggris.[4] Nama spesies ibis merupakan kata dari bahasa Latin dan Yunani yang pada mulanya merujuk pada burung lahan basah berwarna putih lainnya, yakni ibis suci,[5] tetapi keliru diterapkan pada kuntul kerbau barat.[6] Epitet coromanda merujuk pada Pesisir Koromandel di India.[6]
Kuntul kerbau timur dan barat pertama kali dipisahkan spesiesnya oleh McAllan dan Bruce pada tahun 1988,[7] tetapi tetap dianggap konsesifik (satu spesies) oleh hampir semua penulis taksonomi modern lainnya hingga diterbitkannya buku panduan yang berpengaruh, Birds of South Asia.[8] Kuntul kerbau timur berbiak di Asia bagian selatan dan timur serta Australasia, sedangkan spesies barat menempati sisa daerah sebaran kuntul kerbau lainnya, meliputi Asia bagian barat daya, Eropa, Afrika, dan benua Amerika.[9] Menurut daftar burung IOC, keduanya merupakan spesies monotipik. Beberapa otoritas taksonomi telah mengakui takson ketiga di Seychelles, yakni A. i. seychellarum, yang pertama kali dideskripsikan oleh Finn Salomonsen pada tahun 1934, tetapi takson ini sekarang dianggap bersinonim dengan A. ibis pada umumnya.[10][11]
Meskipun secara sepintas memiliki kesamaan penampilan, kuntul kerbau berkerabat lebih dekat dengan anggota lain dalam genus Ardea, yang terdiri dari cangak besar atau cangak sejati dan kuntul besar (A. alba), dibandingkan dengan mayoritas spesies bernama kuntul yang tergabung dalam genus Egretta.[12] Kasus hibridisasi yang langka dengan kuntul biru kecil (Egretta caerulea), kuntul kecil (E. garzetta), dan kuntul salju (E. thula) telah tercatat.[13]
Sebuah nama lama dalam bahasa Inggris untuk kuntul kerbau adalah buff-backed heron (cangak punggung kuning kecokelatan).[14]
Kuntul kerbau merupakan burung berkerabat cangak yang bertubuh gempal dengan rentang sayap mencapai 88–96 cm (34+1⁄2–38 in); mereka memiliki panjang 46–56 cm (18–22 in), dan berat 270–512 g (9+1⁄2–18 oz).[15] Mereka memiliki leher yang tebal dan relatif pendek, paruh yang kokoh, serta postur tubuh membungkuk. Burung dewasa yang sedang tidak berbiak umumnya memiliki bulu putih, paruh kuning, dan kaki kuning keabu-abuan. Selama musim kawin, burung kuntul kerbau barat dewasa menumbuhkan bulu-bulu hias berwarna oranye kekuningan di bagian punggung, dada, dan mahkota, sedangkan paruh, kaki, dan iris berubah menjadi merah cerah dalam waktu yang singkat sebelum masa berpasangan.[16] Kedua jenis kelamin tersebut terlihat serupa, tetapi pejantan sedikit lebih besar dan memiliki bulu biak yang sedikit lebih panjang ketimbang burung betina. Burung remaja belum menumbuhkan bulu-bulu hias berwarna dan beberapa di antaranya memiliki warna paruh hitam sesaat setelah bulu terbangnya tumbuh lengkap.[15][17] Populasi burung di Seychelles, yang didalihkan oleh sebagian ilmuwan sebagai subspesies yang valid A. i. seychellarum, awalnya dilaporkan berukuran lebih kecil dan bersayap lebih pendek dibandingkan bentuk lainnya, tetapi ternyata tidak berada di luar rentang variasi yang lazim dijumpai pada kuntul kerbau barat wilayah lain, khususnya di Afrika bagian timur.[10] Mereka juga memiliki pipi dan tenggorokan putih, layaknya A. ibis; bulu-bulu biaknya, yang pertama kali dilaporkan berwarna keemasan seperti halnya pada A. coromanda,[18] rupanya juga masih berada dalam rentang variasi A. ibis pada umumnya, dan tidak seluas yang terdapat pada A. coromanda.[10]
Kuntul kerbau timur berbeda dengan kuntul kerbau barat dalam ciri bulu biak, di mana warna kuning kecokelatan di kepalanya meluas hingga ke area pipi dan tenggorokan, dan bulu hiasnya berwarna jauh lebih keemasan. Paruh dan tarsus-nya rata-rata juga lebih panjang ketimbang A. ibis, meskipun dengan sedikit tumpang tindih dalam hal ukuran.[10][19]
Terdapat rekaman temuan sejumlah individu yang mengidap kelainan bulu secara abnormal, yakni berwarna abu-abu atau melanistik.[20][21]
Posisi matanya mampu memberikan penglihatan binokular bagi mereka saat sedang mencari mangsa,[22] dan penelitian fisiologis mengisyaratkan bahwa burung ini berkemungkinan mampu beraktivitas secara krepuskular maupun nokturnal (malam hari).[23] Karena telah beradaptasi untuk mencari makan di daratan, mereka tak lagi memiliki kemampuan mengoreksi refraksi atau pembiasan cahaya dari dalam air secara akurat selayaknya yang dimiliki oleh kerabat-kerabat mereka di lahan basah.[24]

Kuntul kerbau barat telah mengalami salah satu perluasan sebaran alami yang paling pesat dan luas jangkauannya di antara seluruh spesies burung.[25] Burung ini pada mulanya merupakan hewan asli di sejumlah wilayah di Spanyol bagian selatan dan Portugal, kawasan tropis dan subtropis di Afrika, serta kawasan tropis yang lembap dan subtropis di Asia. Pada akhir abad ke-19, spesies ini mulai memperluas daerah sebarannya ke bagian selatan Afrika, pertama kali berbiak di Provinsi Tanjung pada tahun 1908.[26] Kuntul kerbau pertama kali terlihat di benua Amerika, tepatnya di perbatasan Guiana dan Suriname pada tahun 1877, yang tampaknya telah terbang melintasi Samudra Atlantik.[9][15] Pada tahun 1930-an, spesies ini diperkirakan telah menetap dan mapan di daerah tersebut.[27] Kini, mereka tersebar luas di seluruh Brasil dan pertama kali ditemukan di wilayah utara negara tersebut pada tahun 1964, sedang mencari makan bersama kerbau.[28]
Kuntul kerbau barat pertama kali tiba di Amerika Utara pada tahun 1941 (penampakan awal ini pada mulanya diabaikan karena dianggap sebagai burung peliharaan yang lepas), berbiak di Florida pada tahun 1953, dan menyebar dengan pesat, berbiak untuk pertama kalinya di Kanada pada tahun 1962.[26] Saat ini, mereka umum terlihat hingga sejauh bagian barat California. Burung ini pertama kali tercatat berbiak di Kuba pada tahun 1957, di Kosta Rika pada tahun 1958, dan di Meksiko pada tahun 1963, meskipun kemungkinan besar mereka telah menetap sebelum waktu tersebut.[27] Di Eropa, populasi spesies ini secara historis sempat menyusut di Spanyol dan Portugal, tetapi pada akhir abad ke-20, populasinya meluas kembali melintasi Semenanjung Iberia, lalu mulai mengkolonisasi wilayah Eropa lainnya, yaitu Prancis bagian selatan pada tahun 1958, Prancis bagian utara pada tahun 1981, dan Italia pada tahun 1985.[26] Perbiakan di Britania Raya tercatat untuk pertama kalinya pada tahun 2008, hanya berselang satu tahun setelah lonjakan kedatangan yang terlihat pada tahun sebelumnya.[29][30] Pada tahun 2008, kuntul kerbau barat juga dilaporkan telah bermigrasi ke Irlandia untuk pertama kalinya.[31] Tren ini terus berlanjut dan kuntul kerbau barat menjadi semakin banyak di wilayah selatan Britania dengan lonjakan populasi dalam jumlah tertentu selama musim tidak berbiak pada 2007/08 dan 2016/17. Mereka kembali berbiak di Britania pada tahun 2017, menyusul lonjakan kedatangan pada musim dingin sebelumnya, dan kemungkinan besar akan menetap di sana.[32][33] Sejak tahun 1948, kuntul kerbau barat telah menjadi penghuni tetap di Israel; sebelum tahun 1948, mereka hanya sekadar pengunjung musim dingin.[34]
Kuntul kerbau timur juga telah memperluas sebarannya secara nyata. Di Australia, kolonisasi dimulai pada tahun 1940-an, ketika mereka menetap di bagian utara dan timur benua tersebut.[35] Burung ini mulai mengunjungi Selandia Baru secara rutin pada tahun 1960-an; saat ini, spesies tersebut berbiak di penjuru kedua negara tersebut, terkecuali di sejumlah wilayah Australia yang lebih gersang.
Perluasan sebaran yang masif dan pesat dari kedua jenis kuntul kerbau ini disebabkan oleh hubungan mereka dengan manusia dan hewan peliharaannya. Karena pada mulanya telah beradaptasi dengan hubungan komensal bersama hewan perenggut dan pemakan rumput berukuran besar, mereka dapat dengan mudah beralih pada sapi dan kuda peliharaan. Seiring dengan menyebarnya pemeliharaan hewan ternak di seluruh dunia, kuntul kerbau mampu menempati relung yang sebelumnya kosong.[36] Sebagian besar populasi kuntul kerbau melakukan migrasi dan pemencaran,[25] dan hal ini telah membantu perluasan sebaran genus tersebut. Kuntul kerbau pernah terlihat sebagai burung pengembara di berbagai kepulauan sub-Antarktika, termasuk Georgia Selatan, Marion, Sandwich Selatan, dan Orkney Selatan.[37] Kawanan kecil yang terdiri dari delapan ekor burung juga pernah terlihat di Fiji pada tahun 2008.[38]
Selain perluasan sebaran alaminya, kuntul kerbau telah sengaja diintroduksi ke beberapa daerah. Kuntul kerbau barat diintroduksi ke Hawaii pada tahun 1959, dan ke Kepulauan Chagos pada tahun 1955. Pelepasan yang berhasil juga dilakukan di Seychelles dan Rodrigues, tetapi upaya untuk mengintroduksikan mereka ke Mauritius berujung kegagalan. Sejumlah besar burung juga sempat dilepaskan oleh Kebun Binatang Whipsnade di Inggris, tetapi mereka tidak pernah berhasil menetap.[39]
Walaupun kuntul kerbau sesekali mencari makan di perairan dangkal, berbeda dengan sebagian besar cangak lainnya, mereka biasanya dapat ditemukan di ladang dan habitat padang rumput yang kering, mencerminkan ketergantungan pola makannya yang lebih besar pada serangga terestrial ketimbang mangsa akuatik.[40]
Sebagian populasi kuntul kerbau merupakan burung migran, sementara sebagian lainnya bersifat memencar (dispersif), dan membedakan keduanya bisa jadi hal yang sulit.[25] Di banyak wilayah, populasi burung ini dapat bersifat sedenter maupun migran. Di Belahan Bumi Utara, migrasi dilakukan dari iklim yang lebih sejuk ke daerah yang lebih hangat, tetapi kuntul kerbau yang bersarang di Australia bermigrasi ke wilayah yang lebih sejuk seperti Tasmania dan Selandia Baru pada musim dingin lalu kembali pada musim semi.[35] Migrasi di Afrika bagian barat terjadi sebagai respons terhadap curah hujan, dan di Amerika Selatan, burung-burung yang bermigrasi melakukan perjalanan ke selatan dari daerah berbiak mereka pada musim tidak berbiak.[25] Populasi di India bagian selatan tampaknya menunjukkan migrasi lokal sebagai respons terhadap angin muson. Mereka bergerak ke utara dari Kerala setelah bulan September.[41][42] Selama musim dingin, banyak burung terlihat terbang pada malam hari bersama kawanan blekok india (Ardeola grayii) di pesisir tenggara India[43] dan lonjakan kedatangan pada musim dingin juga tercatat di Sri Lanka.[8]
Burung-burung muda diketahui memencar hingga sejauh 5.000 km (3.000 mi) dari daerah berbiaknya. Kawanan burung ini dapat terbang menempuh jarak yang sangat jauh dan pernah terlihat melintasi laut dan samudra, termasuk di tengah Samudra Atlantik.[44]
Kuntul kerbau mengeluarkan panggilan rick-rack serak yang pelan di koloni perbiakan, tetapi di luar masa itu mereka sebagian besar terdiam.[25]

Kuntul kerbau bersarang dalam koloni, yang sering kali ditemukan di sekitar badan air.[25] Koloni tersebut biasanya ditemukan di kawasan berhutan dekat danau atau sungai, di rawa-rawa, atau di pulau-pulau kecil pedalaman maupun pesisir, dan terkadang berbagi tempat dengan burung lahan basah lainnya, seperti cangak, kuntul, ibis, dan pecuk. Musim kawin bervariasi di wilayah Asia Selatan.[8] Pembuatan sarang di India bagian utara dimulai bersamaan dengan datangnya musim hujan pada bulan Mei.[45] Musim kawin di Australia berlangsung dari bulan November hingga awal Januari, dengan satu pengeraman telur per musimnya.[46] Musim kawin di Amerika Utara berlangsung dari bulan April hingga Oktober.[25] Di Seychelles, musim kawin berlangsung dari bulan April hingga Oktober.[47]
Burung jantan melakukan pertunjukan di sebuah pohon di dalam koloni tersebut, menggunakan serangkaian perilaku ritual, seperti menggoyangkan ranting dan menunjuk ke langit (mengangkat paruhnya secara vertikal ke atas),[48] dan pasangan akan terbentuk dalam kurun waktu 3–4 hari. Pasangan yang baru akan dipilih pada setiap musim dan saat bersarang kembali akibat kegagalan sarang sebelumnya.[11] Sarangnya berupa panggung kecil yang tidak rapi dari tumpukan ranting di pepohonan atau semak-semak yang dibangun oleh kedua induknya. Ranting-ranting dikumpulkan oleh burung jantan lalu ditata oleh burung betina, serta aksi pencurian ranting merupakan hal yang lumrah terjadi.[17] Jumlah telur dalam satu sarang berkisar antara satu hingga lima butir, meskipun tiga atau empat butir adalah yang paling umum. Telur berwarna putih kebiruan pucat tersebut berbentuk oval dan berukuran 45 mm × 53 mm (1+3⁄4 in × 2 in).[46] Pengeraman berlangsung sekitar 23 hari, dengan kedua jenis kelamin saling berbagi tugas mengerami.[25] Anakannya tertutup sebagian oleh bulu bawah saat menetas, tetapi belum mampu mengurus diri mereka sendiri; mereka mulai mampu mengatur suhu tubuhnya pada umur 9–12 hari dan menumbuhkan bulu sepenuhnya pada umur 13–21 hari.[49] Mereka mulai meninggalkan sarang dan memanjat di sekitarnya pada usia 2 minggu, belajar terbang pada usia 30 hari, dan menjadi mandiri pada sekitar hari ke-45.[11]
Kuntul kerbau melakukan parasitisme indukan pada tingkat yang rendah, dan beberapa contoh kasus melaporkan bahwa telur kuntul kerbau diletakkan di sarang kuntul salju dan kuntul biru kecil, meskipun telur-telur ini jarang menetas.[25] Selain itu, bukti adanya parasitisme indukan intraspesifik pada tingkat rendah juga telah ditemukan, di mana burung betina bertelur di sarang kuntul kerbau lainnya. Tercatat telah terjadi hingga 30% kopulasi di luar pasangan.[50][51]
Faktor dominan yang menyebabkan kematian anakan di sarang adalah kelaparan. Persaingan antarsaudara dapat berlangsung sengit, dan di Afrika Selatan, anakan ketiga dan keempat tak terelakkan lagi akan mati kelaparan.[11] Pada habitat yang lebih kering dengan populasi amfibi yang lebih sedikit, asupan makannya mungkin kekurangan kandungan vertebrata yang memadai dan dapat menyebabkan kelainan tulang pada anakan yang sedang tumbuh akibat defisiensi kalsium.[52] Di Barbados, sarang-sarang burung ini sesekali dijarah oleh monyet vervet,[9] dan sebuah penelitian di Florida melaporkan gagak ikan serta tikus hitam sebagai kemungkinan penjarah sarang lainnya. Penelitian yang sama mengaitkan sejumlah kematian anakan dengan undan cokelat yang bersarang di sekitarnya, yang secara tak sengaja, namun sering kali, membuat sarang bergeser atau menyebabkan anakan terjatuh.[53] Di Australia, gagak torres, elang ekor baji, dan elang-laut dada-putih memangsa telur atau anakan burung ini, serta serangan caplak maupun infeksi virus juga dapat menjadi penyebab kematian lainnya.[17]
Kuntul kerbau memangsa berbagai macam hewan, utamanya serangga, khususnya belalang, jangkrik, lalat (dewasa dan belatung), kumbang, dan ngengat, serta laba-laba, katak, ikan, lobster air tawar, ular kecil, kadal, dan cacing tanah.[54][55][56][57] Dalam kejadian yang langka, mereka pernah teramati mencari buah ara yang matang di sepanjang cabang pohon beringin.[58] Mereka biasanya ditemukan bersama sapi serta hewan perenggut dan pemakan rumput berukuran besar lainnya, lalu menangkap makhluk-makhluk kecil yang terusik oleh keberadaan mamalia tersebut. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan mencari makan kuntul kerbau jauh lebih tinggi ketika mencari makan di dekat hewan besar dibandingkan saat mencari makan sendirian.[59] Saat mencari makan bersama sapi, terbukti bahwa mereka 3,6 kali lebih berhasil dalam menangkap mangsa daripada mencari makan sendirian. Kinerjanya serupa saat mengikuti mesin pertanian, tetapi burung ini terpaksa harus lebih banyak bergerak.[60] Dalam kondisi perkotaan, kuntul kerbau juga pernah teramati mencari makan dalam situasi yang tidak lazim seperti di area jalur kereta api.[61]
Seekor kuntul kerbau akan mempertahankan secara lemah area di sekitar hewan pemakan rumput dari burung lain dari spesies yang sama, tetapi jika area tersebut dikerumuni oleh kuntul lainnya, ia akan menyerah dan melanjutkan mencari makan di tempat lain. Ketika terdapat banyak hewan besar, kuntul kerbau secara selektif mencari makan di sekitar spesies yang bergerak sekitar 5–15 langkah per menit, menghindari kawanan yang bergerak lebih cepat maupun lebih lambat; di Afrika, kuntul kerbau secara selektif mencari makan di belakang zebra dataran, waterbuck, gnu biru, dan kerbau afrika.[62] Burung yang lebih dominan mencari makan paling dekat dengan inangnya, dan dengan demikian akan memperoleh lebih banyak makanan.[17]
Kuntul kerbau sesekali menunjukkan keserbagunaan dalam pola makannya. Di pulau-pulau yang memiliki koloni burung laut, burung ini akan memangsa telur dan anak dara laut serta burung laut lainnya.[39] Selama masa migrasi, mereka juga dilaporkan memakan burung daratan bermigrasi yang kelelahan.[63] Populasi burung ini di Seychelles juga melakukan sedikit praktik kleptoparasitisme, yakni mengejar anakan dara-laut hitam dan memaksa mereka memuntahkan makanannya.[64]
Pasangan karakara jambul pernah teramati mengejar kuntul kerbau yang sedang terbang, memaksa mereka turun ke tanah, dan membunuhnya.[65]
Daftar Merah IUCN memperlakukan mereka sebagai spesies tunggal. Mereka memiliki daerah sebaran yang luas, dengan perkiraan luasan sebaran global mencapai 355.000.000 km2 (100.000.000 sq mi). Populasi globalnya diperkirakan mencapai 3,8–6,7 juta individu. Atas alasan-alasan ini, kuntul kerbau dievaluasi sebagai spesies risiko rendah.[1] Perluasan dan penetapan populasi kuntul kerbau di daerah sebaran yang luas telah membuat mereka diklasifikasikan sebagai spesies invasif, meskipun hanya sedikit dampak yang tercatat sejauh ini, jika memang ada.[66]
Sebagai burung yang mencolok, kuntul kerbau memiliki banyak nama umum. Sebagian besar nama-nama ini berkaitan dengan kebiasaannya yang suka mengikuti sapi peliharaan dan hewan besar lainnya, dan ia dikenal dengan berbagai sebutan dalam bahasa Inggris seperti bangau sapi, burung sapi, atau cangak sapi, atau bahkan burung gajah maupun kuntul badak.[25] Namanya dalam bahasa Arab, abu qerdan, berarti "bapak caplak", sebuah nama yang diturunkan dari banyaknya jumlah parasit seperti caplak burung yang ditemukan di koloni perbiakannya.[25][67] Suku Maasai menganggap kehadiran kuntul kerbau dalam jumlah besar sebagai indikator kekeringan yang akan datang dan menggunakannya untuk memutuskan kapan harus memindahkan kawanan sapi mereka.[68]
Kuntul kerbau merupakan motif tradisional yang lazim dijumpai pada perahu penangkap ikan di kalangan nelayan pesisir timur Semenanjung Malaya yang memercayai mereka sebagai simbol keberuntungan dan rezeki.[69][70]
Kuntul kerbau adalah burung yang populer di kalangan peternak sapi karena peran yang dirasakan sebagai agen pengendalian hayati bagi parasit sapi seperti caplak dan lalat.[25] Sebuah penelitian di Australia menemukan bahwa kuntul kerbau mengurangi jumlah lalat yang mengganggu sapi dengan mematuknya langsung dari kulit.[71] Manfaat bagi hewan ternak inilah yang mendorong para peternak dan Dewan Pertanian dan Kehutanan Hawaii untuk melepaskan kuntul kerbau barat di Hawaii.[39][72][73]
Tidak semua interaksi antara manusia dan kuntul kerbau menguntungkan. Kuntul kerbau dapat menjadi bahaya keselamatan bagi pesawat terbang karena kebiasaannya mencari makan dalam kelompok besar di tepi berumput bandar udara,[74] dan spesies ini telah dikaitkan dengan penyebaran infeksi pada hewan seperti heartwater, penyakit bursal menular,[75] dan kemungkinan penyakit tetelo.[76][77]
A. capite laevi, corpore albo, rostro flavescente apice pedibusque nigris