Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Kolotomi

Dalam teori gamelan, kolotomi adalah pola ritmis yang memiliki struktur yang bersifat tetap dalam sebuah gendhing. Terdapat sejumlah cakrik (bentuk/struktur) gendhing yang memiliki ciri khas yang sangat bervariasi dalam panjang dan kompleksitasnya; tetapi, semuanya memiliki beberapa karakteristik kolotomis. Struktur ini menjadi landasan utama dalam gendhing yang mengatur jalannya tempo permainan melalui siklus gong. Kolotomi dipahami sebagai sebuah siklus berulang yang durasinya bervariasi, mulai dari hitungan detik hingga beberapa menit. Siklus ini dibatasi oleh gong besar, yang berfungsi sebagai jangkar bagi keseluruhan musik. Di dalam siklus ini, terdapat pembagian ketukan yang dilakukan oleh berbagai instrumen gong lainnya, baik yang digantung maupun yang diletakkan secara horizontal, guna menciptakan kerangka ritmis yang sistematis dan terorganisasi.

Wikipedia article
Diperbarui 18 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Pada notasi gamelan ini, baris ketiga adalah notasi balungan, sedangkan baris keempat adalah penempatan tabuhan alat musik kolotomi, dengan p melambangkan kempyang, t melambangkan kethuk, dan N melambangkan kenong.[1] Mainkan perkiraanⓘ

Dalam teori gamelan, kolotomi adalah pola ritmis yang memiliki struktur yang bersifat tetap dalam sebuah gendhing. Terdapat sejumlah cakrik (bentuk/struktur) gendhing yang memiliki ciri khas yang sangat bervariasi dalam panjang dan kompleksitasnya; tetapi, semuanya memiliki beberapa karakteristik kolotomis. Struktur ini menjadi landasan utama dalam gendhing yang mengatur jalannya tempo permainan melalui siklus gong. Kolotomi dipahami sebagai sebuah siklus berulang yang durasinya bervariasi, mulai dari hitungan detik hingga beberapa menit. Siklus ini dibatasi oleh gong besar, yang berfungsi sebagai jangkar bagi keseluruhan musik. Di dalam siklus ini, terdapat pembagian ketukan yang dilakukan oleh berbagai instrumen gong lainnya, baik yang digantung maupun yang diletakkan secara horizontal, guna menciptakan kerangka ritmis yang sistematis dan terorganisasi.[2]

Kompleksitas musik gamelan dibangun di atas kerangka kolotomis ini melalui teknik pembagian ketukan ritmis, repetisi, serta pergeseran fase. Selain lapisan kolotomik, terdapat pula lapisan melodi linear yang dikonstruksi berdasarkan aturan idiomatik tertentu. Proses kreatif ini sangat bergantung pada kerangka konseptual yang disebut pathet. Meskipun secara sederhana sering disamakan dengan konsep "tangga nada" dalam musik Barat, pathet sebenarnya memiliki konotasi yang jauh lebih luas dan mendalam dalam menentukan nuansa serta karakter dari sebuah komposisi gamelan.[2]

Struktur kolotomik tidak hanya berfungsi sebagai pengatur ritme, tetapi juga memberikan identitas dan klasifikasi pada karya gamelan tradisional. Struktur formal ini membentuk berbagai subgenre musik yang memiliki fungsi spesifik dalam seni tari maupun drama. Nama-nama struktur kolotomik, seperti lancaran, bubaran, ketawang, dan ladrang, biasanya dicantumkan dalam judul gendhing bersama dengan informasi laras dan pathet-nya. Siklus ini akan terus diulang hingga pemain kendang dan keprak sebagai pemimpin ansambel memberikan aba-aba melalui perubahan tempo atau pathet untuk berpindah ke bagian baru atau mengakhiri komposisi tersebut.[2]

Alat musik yang digunakan

Salah satu karakteristik unik dari pola kolotomik adalah sifatnya yang berorientasi pada titik akhir. Artinya, bagian-bagian musik dalam gamelan cenderung mengantisipasi penanda struktural (seperti jatuhnya suara gong besar) daripada sekadar meresponsnya. Hal ini terlihat pada cara wiyaga memperlakukan sebuah pola: jika suatu pola diperluas atau dibagi lagi, fasenya akan digeser ke belakang. Penyesuaian ini dilakukan agar titik akhir dari pola tersebut tetap selaras dan bertepatan dengan denyut utama, yakni gong besar, memastikan kohesi ritmis tetap terjaga meskipun terjadi variasi internal yang rumit.[2]

Dalam terminologi gamelan Jawa, alat-alat musik kolotomis dalam gamelan seluruhnya digolongkan sebagai pamangku wirama. Dalam gamelan Jawa, alat musik yang tergolong sebagai pamangku wirama adalah gong besar, gong suwukan, kempul, kenong, kempyang dan kethuk, bende campur, penonthong, dan engkuk kemong.[3]

Penggunaan istilah

Kata ini diserap dari kata bahasa Inggris colotomycode: en is deprecated dan pada gilirannya kemungkinan diserap dari kata bahasa Belanda yang serupa,[4] dan kata ini berasal dari kata bahasa Yunani coloncode: el is deprecated "satuan irama" dan tomicode: el is deprecated "pembagian",[5] oleh pakar etnomusikologi Jaap Kunst.[6] Meski kata ini banyak digunakan dalam teori musik Indonesia, kata tersebut juga dipakai di berbagai tradisi musik lainnya. Kolotomi juga telah digunakan untuk menjelaskan alat musik Jepang gagaku dan alat musik Thai piphat.[7]

Referensi

  1. ↑ Lindsay 1992, hlm. 49.
  2. 1 2 3 4 Matthews 2018, hlm. 81.
  3. ↑ Kunst 2013.
  4. ↑ Pickvance 2005, hlm. 63.
  5. ↑ Spiller 2004, hlm. 69.
  6. ↑ Malm 1977, hlm. 43.
  7. ↑ Malm 1977, hlm. 194-195.

Daftar pustaka

  • Kunst, Jaap (1949). Music in Java: Its History, Its Theory and Its Technique (Edisi 2nd ed). Dordrecht: Springer Netherlands. ISBN 978-94-017-7130-6. ;
  • Lindsay, Jennifer (1992). Javanese Gamelan. ISBN 0-19-588582-1.
  • Malm, William P (1977). Music Cultures of the Pacific, the Near East, and Asia (Edisi 2). Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.
  • Matthews, C. (2018). "Algorithmic thinking and Central Javanese gamelan". Dalam Dean, R.T. (ed.). The Oxford Handbook of Algorithmic Music (Edisi 2). Oxford: Oxford University Press. ISBN 9780190226992. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Pickvance, Richard (2005). A Gamelan Manual: A Player's Guide to the Central Javanese Gamelan. ISBN 9780955029509.
  • Spiller, Henry (2004). Gamelan: The Traditional Sounds of Indonesia. Vol. 1. ISBN 9781851095063.
  • l
  • b
  • s
Gamelan
Teori
  • Cengkok
  • Imbal-imbalan dan kotekan
  • Laras dan pathet
    • Pelog
    • Slendro
  • Gatra
  • Gendhing
  • Kolotomi
  • Notasi gamelan
  • Sekaran
  • Sèlèh
  • Wirama
  • Wiyaga
Gamelan Jawa
Musicians performing musical ensemble, bas-relief of Borobudur.
A Java-Bali style Gong, hanging in a frame.
Genre dan
ansambel
  • Angklung
  • Bebonangan
  • Baleganjur
  • Degung
  • Gadhon
  • Gambang
  • Gender wayang
  • Gong gede
  • Gong kebyar
  • Jegog
  • Joged bumbung
  • Keraton
    • Surakarta
    • Yogyakarta
  • Kodhok ngorek
  • Monggang
  • Slendro
  • Sekaten
  • Selonding
  • Semar pagulingan
  • Siteran
  • Daftar ansambel AS
Musisi
  • Evan Ziporyn
  • Gamelan Sekar Jaya
  • Gamelan Son of Lion
  • I Nyoman Windha
  • K. P. H. Notoprojo
  • Sumarsam
  • Michael Tenzer
  • K.R.T. Wiroguno
Alat musik
Kolotomi dan
penanda khusus
  • Bende
  • Engkuk kemong
  • Jengglong
  • Kajar dan kempli
  • Kemong
  • Kempul
  • Kempyang dan kethuk
  • Kenong
  • Gong
    • Gong besar
Instrumen balungan
atau melodi
  • Bonang
    • Barung
    • Panembung
  • Saron
    • Demung
    • Barung
  • Slenthem
  • Slentho
  • Reyong
Instrumen panerusan
  • Bonang panerus
  • Celempung
  • Cluring
  • Gangsa
  • Gendèr
  • Gambang
    • Gangsa
  • Kompang
  • Peking
  • Rebab
  • Siter
  • Suling
Tak bernada
  • Kendang
    • Ciblon
    • Gendhing
    • Ketipung
    • Kulanter
  • Beduk
  • Kecer
  • Kemanak
  • Keprak
  • Klinthing robyong / Gentorag
  • Rojeh
  • Tambur
Vokal dan
tepuk tangan
  • Gerongan
  • Sinden
  • Alok
  • Senggakan
  • Keplok
Tata gendhing
  • Bubaran
  • Gangsaran
  • Ketawang
  • Ladrang
  • Lancaran
Komposisi
terkenal
  • Gangsaran Roning Tawang
  • Gendhing gati
  • Gendhing penghormatan Yogyakarta
    • Prabu Mataram
    • Raja Manggala
  • Puspawarna
  • Udan Mas

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Alat musik yang digunakan
  2. Penggunaan istilah
  3. Referensi
  4. Daftar pustaka

Artikel Terkait

Panerusan

lainnya, tetapi sekaran lebih sering muncul pada bagian akhir kenongan atau kolotomi lainnya. Pemain bonang barung dapat membuat variasi terhadap garap tabuhannya

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026