Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Keraton Sumedang Larang

Keraton Sumedang Larang adalah sebuah keraton yang dibangun di bekas kediaman raja Kusumadinata II atau juga dikenal sebagai Prabu Geusan Ulun yang berada di Jl. Prabu Geusan Ulun No. 40, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Indonesia.

bangunan kuil di Indonesia
Diperbarui 30 Mei 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Keraton Sumedang Larang
Infotaula de geografia políticaKeraton Sumedang Larang
museum Suntingan nilai di Wikidata

Tempat
Wikipedia | Kode sumber | Tata penggunaan
Koordinat: 6°51′39.50690″S 107°55′14.95913″E / 6.8609741389°S 107.9208219806°E / -6.8609741389; 107.9208219806 
Negara berdaulatIndonesia
Provinsi di IndonesiaJawa Barat Suntingan nilai di Wikidata
NegaraIndonesia Suntingan nilai di Wikidata
Geografi
Luas wilayah2,3 ha Suntingan nilai di Wikidata[convert: unit tak dikenal]&lt;</span>span class<span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwBg\">=</span><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwBw\">\"</span>peni"}]]}'/>
Sejarah
Pembuatan1950 Suntingan nilai di Wikidata
Peresmian13 Maret 1974 Suntingan nilai di Wikidata
Informasi tambahan
Kode pos45311 Suntingan nilai di Wikidata
Zona waktu
UTC+7 Suntingan nilai di Wikidata
Lain-lain

Situs webLaman resmi
Instagram: prabu_geusan_ulun_museum Modifica els identificadors a Wikidata

Keraton Sumedang Larang adalah sebuah keraton yang dibangun di bekas kediaman raja Kusumadinata II atau juga dikenal sebagai Prabu Geusan Ulun yang berada di Jl. Prabu Geusan Ulun No. 40, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Indonesia.[1]

Sejarah

Keris Naga Sasra yang digunakan oleh Pangeran Kornel (Pangeran Kusumahdinata IX) saat bersalaman menggunakan tangan kiri (gestur ini petanda adanya perlawanan terhadap kebijakan Belanda dalam pembangunan Jalan Raya Pos dengan Gubernur Jenderal Daendels pada peristiwa Cadas Pangeran).
Kujang Wayang adalah salah satu dari beberapa koleksi kujang yang dimiliki oleh MPGU. MPGU memiliki koleksi macam-macam kujang paling lengkap di Jawa Barat
Keris Panunggul Naga adalah Keris milik Prabu Geusan Ulun yang merupakan raja Kerajaan Sumedang Larang yang terakhir

Peninggalan benda-benda bersejarah dan barang-barang pusaka Leluhur Sumedang, sejak Raja-raja Kerajaan Sumedang Larang dan Bupati-bupati yang memerintah Kabupaten Sumedang dahulu, merupakan koleksi yang membanggakan dan besar artinya bagi kita semua, terlebih bagi keluarga Sumedang.

Kumpulan benda-benda tersebut disimpan di Yayasan Pangeran Sumedang sejak tahun 1955.

Timbullah suatu gagasan, ingin memperlihatkan kepada masyarakat Sumedang khususnya dan masyarakat di luar Sumedang pada umumnya, bahwa di Sumedang dahulu terdapat kerajaan besar yaitu Kerajaan Sumedang Larang, dengan melihat benda-benda peninggalan Raja-raja tersebut dan sebagainya.

Gagasan tersebut ditanggapi dengan penuh keyakinan oleh keluarga, maka direncanakan membuat museum. Setelah diadakan persiapan-persiapan yang matang dan terencana, lima tahun setelah tahun 1968 baru terlaksana, tepatnya tanggal 11 Nopember 1973 Museum Keluarga berdiri.

Museum tersebut diberi nama Museum Yayasan Pangeran Sumedang, dan dikelola langsung oleh Yayasan Pangeran Sumedang. Pada tahun 1974, di Sumedang diadakan Seminar Sejarah oleh ahli-ahli sejarah se-Jawa Barat dan diikuti ahli sejarah dari Yayasan Pangeran Sumedang, dalam seminar tersebut dibahas nama museum Sumedang. Diusulkan nama museum adalah seorang tokoh dalam Sejarah Sumedang, ternyata yang disepakati nama Raja Sumedang Larang terakhir yang memerintah Kerajaan Sumedang Larang dari tahun 1578 - 1601, yaitu Prabu Geusan Oeloen.

Kemudian nama museum menjadi Museum Prabu Geusan Ulun dengan ejaan baru untuk memudahkan generasi baru membacanya.

Gedung yang dipergunakan untuk museum yaitu Gedung Srimanganti, Bumi Kaler, Gedung Gendeng dan Gedung Gamelan. Pada tahun 1980, Pemerintah melalui Dinas Jawatan Permuseuman dan Kepurbakalaan Kebudayaan Jawa Barat, mengulurkan tangan dan memugar Gedung Srimanganti dan Bumi Kaler.

Pada hari Rabu tanggal 21 April 1982, Direktur Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. DR. Haryati Soebadio, meresmikan dan menyerahkan kedua bangunan yang selesai dipugar kepada Yayasan Pangeran Sumedang dan bernaung di bawah Momenten Ordonnatie Nomor 19 Tahun 1931 (Staatsblad Tahun 1931 Nomor 238).

Lokasi

Museum Prabu Geusan Ulun terletak di tengah kota Sumedang, 50 meter dari Alun-alun ke sebelah selatan, berdampingan dengan Gedung Bengkok atau Gedung Negara dan berhadapan dengan Gedung-gedung Pemerintah. Jarak dari Bandung 45 kilometer, sedangkan jarak dari Cirebon 85 kilometer. Jarak tempuh dari Bandung 1 jam, sedangkan dari Cirebon 2 jam.

Tata Bangunan

Museum Prabu Geusan Ulun dikelilingi tembok/ dinding yang tingginya 2,5 meter, dibuat pada tanggal 16 Agustus 1797. Luas halaman Museum seluas 1,88 ha, dengan dihiasi taman-taman dan ditanami pohon-pohon langka. Gedung yang berada di sekitarnya terdiri dari:

Srimanganti

Didirikan pada tahun 1706, masa pemerintahan Dalem Adipati Tanumaja dari tahun 1706 - 1709. Pendirian gedung tersebut direncanakan oleh Rangga Gempol III atau Pangeran Panembahan yang memerintah dari tahun 1656 - 1706, yang pernah diserbu oleh pasukan gabungan Banten yang dipimpin oleh Cilikwidara. Sejak selesai dibangun, maka pusat pemerintahan pindah ke daerah baru yang disebut Regol. Sejak itu Srimanganti dijadikan gedung tempat tinggal dan kantor oleh para bupati tempo dulu, sedangkan untuk pemukiman keluarga dibangunlah Bumi Kaler.

Gedung Bengkok / Gedung Negara

Didirikan pada tahun 1850, masa pemerintahan Pangeran Soeria Koesoemah Adinata (Pangeran Soegih) dari tahun 1836 - 1882. Gedung tersebut didirikan di atas tanah dia untuk keperluan upacara-upacara resmi, peristirahatan bagi tamu-tamu dari Jakarta jika berkunjung ke Sumedang.

Halaman Gedung Bengkok cukup luas, di depan dibuat taman-taman dan ditanami dengan pelbagai buah-buahan. Di bagian barat didirikan Panggung Gamelan untuk menyimpan gamelan-gamelan kuno. Di bagian belakang sebelah barat, sekarang SMP Negeri 2 Sumedang memajang istal kuda dan tempat menyimpan kereta-kereta, diantaranya Kereta Naga Paksi. Sedangkan di belakang gedung dibuat kolam yang besar disebut Empang, yang kedalamannya setinggi bambu dan berbentuk kerucut.

Empang

Di tepi Empang, dibangun Bale Kambang, tempat istirahat bagi keluarga para Bupati dan Tamu-tamu Agung, sambil memancing ikan dengan dihibur Gamelan Buhun atau Degung. Masa pemerintahan Pangeran Aria Soeria Atmadja dari tahun 1882 - 1919, ikan yang ada di Empang diganti dengan Ikan Kancra, sehingga merupakan peternakan ikan Kancra yang beratnya bisa mencapai 10 atau 15 kilogram. Ikan Kancra tersebut diambil setiap bulan Mulud, untuk keperluan pesta Maulid Nabi Muhammad SAW yang dibagikan kepada fakir miskin dan sebagainya.

Bumi Kaler

Didirikan tahun 1850, masa pemerintahan Pangeran Soeria Koesoemah Adinata (Pangeran Soegih) dari tahun 1836 - 1882. Berhadapan dengan Bumi Kidul, sayangnya pada masa pemerintahan Pangeran Aria Soeria Atmadja (Pangeran Mekkah) Bumi Kidul dibongkar karena lapuk dimakan umur. Bumi Kaler dibuat keseluruhan dari kayu jati, dan di atas tiang bentuknya khas rumah orang Sunda. Dengan ruangan-ruangan dan kamar-kamar yang luas, sedangkan jendela dan pintu-pintunya tinggi-tinggi.

Gedung Yayasan Pangeran Sumedang

Didirikan tahun 1955, Yayasan Pangeran Sumedang yang mengelola seluruh wakaf Pangeran Aria Soeria Atmadja dan Museum Prabu Geusan Ulun juga makam-makam seperti:

  • Makam Gunung Puyuh
  • Makam Gunung Ciung Pasaran Gede
  • Makam Gunung Lingga
  • Makam Dayeuh Luhur
  • Makam Manangga
  • Makam Panday
  • Makam Sunan Pada - Karedok
  • Makam Nyai Mas Gedeng Waru - Cigobang
  • Makam Prabu Gajah Agung - Cicanting, Kampung Sukamenak, Kecamatan Darmaraja
  • Makam Prabu Lembu Agung - Cipaku, Kecamatan Darmaraja

Gedung Gendeng

Didirikan tahun 1850 dan dipugar tahun 1950. Gedung tersebut aslinya dibuat dari:

  • Lantai merah
  • Dinding bilik
  • Tiang kayu jati
  • Atap genting

Tempat menyimpan barang-barang pusaka, senjata-senjata dan gamelan kuno.

Gedung Kereta

Pada akhir tahun 1996 Gedung kereta di kompleks museum Prabu Geusan Ulun akhirnya dibangun untuk menyimpan kereta replika kereta Naga Paksi yang dibuat oleh Elang Yusuf Dendabrata [2]

Gedung Gamelan

Didirikan tahun 1973 oleh Pemerintah Daerah Sumedang atas sumbangan dari Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Bapak H. Ali Sadikin. Gedung tersebut diperuntukkan tempat menyimpan gamelan-gamelan dan tempat berlatih tari-tarian.

Lumbung Padi

Semula Lumbung Padi terletak di luar benteng di tepi Empang, demi keamanan kemudian dipindahkan ke dalam komplek di dalam benteng. Lumbung tersebut dipergunakan tempat menyimpan padi hasil dari sawah-sawah wakaf Pangeran Aria Soeria Atmadja Padi tersebut dipergunakan untuk menyumbang warga-warga yang tidak mampu, sampai sekarang tercatat sejumlah 180 keluarga yang disumbang, besarnya hampir 12 ton per bulan. Dan keperluan pemeliharaan pusaka-pusaka, wakaf dan pelestarian seluruh wakaf Pangeran Aria Soeria Atmadja.

Koordinat Lokasi

Koordinat: 6° 51' 7" S, 107° 55' 13" E

Referensi

  1. ↑ "DAFTAR MUSEUM KEBUDAYAAN PER KEC. Sumedang Selatan". Pusdatin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Diakses tanggal 30 Mei 2025. ;
  2. ↑ Suryaman, Raden Nanang, dkk. 1996. Mengenal Museum Prabu Geusan Ulun serta Riwayat Leluhur Sumedang. Sumedang: Yayasan Pangeran Sumedang

Sumber tertulis

  • Brosur Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang, Cetakan ke-2 1989, R.M. Abdullah Kartadibrata, Yayasan Pangeran Sumedang, Museum Prabu Geusan Ulun.
  • (Indonesia) "Museum Prabu geusan Ulun". Diarsipkan dari asli (php) tanggal 2014-05-05. Diakses tanggal 2012-08-18.
  • Sejarah Singkat Sumedang Situs resmi Pemerintah Kabupaten Sumedang
  • Museum Prabu Geusan Ulun Diarsipkan 2015-01-17 di Wayback Machine. Situs resmi Dinas Parawisata dan Kebudayaan, Pemerintah Prov. Jawa Barat.
  • Museum Prabu Geusan Ulun Diarsipkan 2015-06-02 di Wayback Machine. Situs resmi Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang.
  • Sejarah Sumedang by Sukmayadi.
  • Pangeran Aria Soeria Atmadja Diarsipkan 2015-01-17 di Wayback Machine. Wewengkon Sumedang.

Pranala luar

  • (Indonesia) Undang Undang Republik Indonesia - Nomor 5 Tahun 1992 - Cagar Budaya[pranala nonaktif permanen]
  • l
  • b
  • s
Istana di Indonesia
Sumatra
  • Istana Maimun
  • Istana Niat Lima Laras
  • Istano Basa Pagaruyung
  • Istano Silinduang Bulan
  • Istana Siak Sri Indrapura
  • Istana Sayap Pelalawan
  • Istana Rokan
  • Istana Gunung Sahilan
Jawa
Jakarta
  • Istana Negara Jakarta
  • Istana Merdeka
  • Istana Wakil Presiden Jakarta
Cirebon
  • Keraton Kasepuhan
  • Keraton Kanoman
  • Keraton Kacirebonan
Yogyakarta
  • Gedung Agung
  • Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
  • Pura Pakualaman
Surakarta
  • Keraton Surakarta Hadiningrat
  • Pura Mangkunegaran
Kota lainnya
  • Istana Bogor
  • Istana Cipanas
  • Istana Palabuhanratu
  • Keraton Sumedang Larang
Kalimantan
Nusantara
  • Istana Negara Nusantara
  • Istana Garuda
  • Istana Wakil Presiden Nusantara
Kota lainnya
  • Kedaton Kutai Kartanegara
  • Museum Mulawarman
  • Museum Sadurengas
  • Istana Gunung Tabur
  • Istana Sambaliung
  • Istana Alwatzikubillah
  • Istana Amantubillah
  • Istana Kadriyah
  • Istana Surya Negara
  • Istana Matan
  • Istana Kuning
Bali
  • Istana Tampaksiring
  • Istana Klungkung
  • Puri Agung Denpasar
  • Puri Agung Pemecutan
  • Puri Agung Kesiman
  • Puri Agung Tabanan
  • Puri Saren Agung Ubud
  • Taman Sukasada Karangasem
  • Tirta Gangga
Sulawesi
  • Ballaʼ Lompoa
  • Istana Datu Luwu
  • Istana Malige
  • Keraton Buton
Pulau lain
  • Istana Bala Kuning
  • Istana Dalam Loka
  • Istana Kesultanan Ternate
  • Istana Kesultanan Tidore
  • Keraton Sumenep

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Lokasi
  3. Tata Bangunan
  4. Srimanganti
  5. Gedung Bengkok / Gedung Negara
  6. Empang
  7. Bumi Kaler
  8. Gedung Yayasan Pangeran Sumedang
  9. Gedung Gendeng
  10. Gedung Kereta
  11. Gedung Gamelan
  12. Lumbung Padi
  13. Koordinat Lokasi
  14. Referensi
  15. Sumber tertulis
  16. Pranala luar

Artikel Terkait

Kuil Hindu di Indonesia

India ke Indonesia pada abad ke-19, sejumlah kuil bergaya India didirikan di berbagai kota di Indonesia, terutama di Medan dan Jakarta. Kuil-kuil Hindu India

Kuil Hirohara

bekas kuil Shinto peninggalan masa pendudukan Jepang di kota Medan; satu-satunya kuil Shinto yang masih bertahan di Asia Tenggara sejak menyerahnya Jepang

Horyuji

bangunan kuil di Jepang

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026