Keberuntungan berpihak pada yang berani merupakan terjemahan dari peribahasa bahasa Latin audentes Fortuna iuvat beserta variasinya. Ungkapan ini menyatakan gagasan bahwa keberanian dan tindakan berinisiatif sering dikaitkan dengan hasil yang menguntungkan. Dalam budaya Barat, frasa tersebut banyak digunakan sebagai slogan, khususnya dalam konteks militer, untuk menekankan nilai keberanian. Selain itu, ungkapan ini juga digunakan sebagai moto pada lambang berbagai keluarga dan klan. Secara historis, audentes Fortuna iuvat pernah berfungsi sebagai moto bagi sejumlah universitas, lembaga akademik, serta asosiasi rekreasi.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Keberuntungan berpihak pada yang berani merupakan terjemahan dari peribahasa bahasa Latin audentes Fortuna iuvat beserta variasinya. Ungkapan ini menyatakan gagasan bahwa keberanian dan tindakan berinisiatif sering dikaitkan dengan hasil yang menguntungkan. Dalam budaya Barat, frasa tersebut banyak digunakan sebagai slogan, khususnya dalam konteks militer, untuk menekankan nilai keberanian. Selain itu, ungkapan ini juga digunakan sebagai moto pada lambang berbagai keluarga dan klan. Secara historis, audentes Fortuna iuvat pernah berfungsi sebagai moto bagi sejumlah universitas, lembaga akademik, serta asosiasi rekreasi.
Peribahasa audentes Fortuna iuvat merupakan ungkapan bahasa Latin yang memiliki beberapa variasi bentuk dengan perbedaan kata yang relatif kecil, namun mengandung makna yang pada dasarnya serupa. Variasi tersebut antara lain;
Bentuk terakhir digunakan oleh tokoh Turnus dalam wiracarita Aeneids karya Publius Vergilius Maro.[1] Dalam kebudayaan Romawi kuno, Fortuna merujuk pada konsep keberuntungan sekaligus nama dewi yang menjadi personifikasinya.
Bentuk lain dari peribahasa ini, fortes Fortuna adiuvat yang dapat diterjemahkan sebagai “keberuntungan berpihak pada yang kuat atau berani”, ditemukan dalam drama komedi Phormio karya Terentius yang berasal dari abad ke-2 SM.[2] Ovidius kemudian mengembangkan gagasan tersebut dalam karya didaktiknya Ars Amatoria melalui ungkapan audentem Forsque Venusque iuvat, yang menyatakan bahwa baik keberuntungan maupun Venus berpihak kepada orang yang berani.
Plinius Muda mencatat bahwa pamannya, Plinius Tua, menggunakan ungkapan fortes fortuna iuvat ketika memutuskan untuk memimpin armada guna menyelidiki letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 M, dengan tujuan membantu Pomponianus.[3][4] Peristiwa tersebut berakhir dengan wafatnya Plinius Tua selama ekspedisi berlangsung.
Ungkapan Latin lain yang memiliki keterkaitan makna adalah Fortuna eruditis favet (“keberuntungan berpihak pada pikiran yang siap”).[5] Gagasan ini dikenal luas melalui pernyataan Louis Pasteur, yang menyatakan bahwa dalam bidang pengamatan ilmu, keberuntungan hanya berpihak kepada mereka yang telah memiliki kesiapan intelektual.
Dalam karya Sang Penguasa, Niccolò Machiavelli juga membahas peran keberanian dalam menghadapi ketidakpastian, dengan menekankan bahwa tindakan berani lebih menentukan dibandingkan sikap terlalu berhati-hati dalam merespons perubahan keadaan.[6][7]
Pepatah ini juga sering dikaitkan dengan gagasan yang dikaitkan kepada filsuf (Yunani kuno:Τόλμα πρήξιος αρχή, τύχη δε τέλεος κυρίη Demokritos: Tólma préxios arché, túche de téleos kuríe), yang menyatakan bahwa keberanian merupakan awal dari suatu tindakan, sementara keberuntungan menentukan hasil akhirnya.