Puncak adalah sebuah jalur pegunungan yang membentang dari Kabupaten Bogor hingga Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Indonesia. Jalur ini menghubungkan Kota Bogor dan Bandung, serta melintasi wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur. Puncak terletak di antara Gunung Gede–Pangrango di selatan dan Pegunungan Jonggol di utara. Titik tertinggi jalur ini berada pada ketinggian sekitar 1.500 meter.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Puncak adalah sebuah jalur pegunungan yang membentang dari Kabupaten Bogor hingga Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Indonesia. Jalur ini menghubungkan Kota Bogor dan Bandung, serta melintasi wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur. Puncak terletak di antara Gunung Gede–Pangrango di selatan dan Pegunungan Jonggol di utara. Titik tertinggi jalur ini berada pada ketinggian sekitar 1.500 meter.
Puncak merupakan kawasan yang mencakup beberapa kecamatan di Kabupaten Bogor, seperti Cisarua, Ciawi, dan Megamendung, dan beberapa kecamatan di Kabupaten Cianjur, seperti Cipanas, Pacet, dan lainnya. Semua kecamatan tersebut dihubungkan oleh jalan utama, Jalan Raya Puncak.

Wilayah Puncak berada di kaki dan lereng utara hingga timur laut pegunungan Gede-Pangrango, yang menyambung ke Pegunungan Jonggol di sebelah utara dan barat lautnya. Wilayah ini berada pada ketinggian rata-rata 700-1.800 m di atas permukaan laut dengan suhu udaranya yang rata-rata mencapai 14-20 derajat Celcius. Selain itu, daerah Puncak juga dikelilingi oleh beberapa gunung lain, yaitu Gunung Kencana (1804 m), Gunung Baud Jonggol atau Puncak Jonggol Tanggeuhan (1884 m) yang merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Jonggol, serta Gunung Salak (2.221 m) yang berada jauh di seberang barat Wilayah Puncak.
Toponimi Puncak telah disebut-sebut dalam Naskah Bujangga Manik,[1]: 418 suatu karya sastra berbahasa Sunda yang diperkirakan ditulis pada abad ke-15. Disebutkan, dalam perjalanan pertamanya, Bujangga Manik sempat beristirahat di suatu tempat bernama Puncak, sambil memandang ke arah "Bukit Ageung", yakni kompleks gunung Gede-Pangrango, yang merupakan "hulu wano na Pakuan" (tempat yang tertinggi di wilayah Pakuan).[1]: 418–419
Jalur utama jalan negara di wilayah ini kemudian dibangun dengan mengikuti trase jalan tradisional, yakni pada masa pembangunan Jalan Raya Pos (De Groote Postweg) di bawah perintah Daendels, yang dimulai pada tahun 1808.[2]: 699 Khususnya ruas "Tjiceroa tot Tjanjour" (Cisarua hingga Cianjur) memerlukan biaya yang paling mahal dan pekerja yang paling banyak.[2]: 701
Akan tetapi hasilnya tidak mengecewakan. Pembukaan jalur kawasan Puncak hingga Cibodas dan Cipanas memungkinkan eksplorasi kekayaan alam gunung-gunung di wilayah ini,[3]: 2–5, [4]: 86 serta pemanfaatan wilayah-wilayah ini sebagai tempat percobaan pengembangan tanaman-tanaman subtropis.[5]
Puncak adalah wilayah yang luas di sekitar perbatasan Kabupaten Bogor dengan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Adapun kecamatan yang termasuk pada wilayah tersebut adalah:
Daerah Puncak memiliki kontur alam yang unik. Hampir sebagian besar wilayah ini diselimuti perkebunan teh dengan latar belakang pegunungan. Keindahan alam daerah ini memukau Presiden Soekarno, sehingga ia membangun sebuah restoran untuk menikmati keindahan alam Puncak, yang kemudian diberi nama Restoran Riung Gunung. Selain itu, terdapat juga tempat-tempat rekreasi dan agrowisata yang indah, antara lain Perkebunan Teh Gunung Mas dan Gantole (Paralayang). Di daerah Puncak juga terdapat berbagai tempat wisata menarik di antaranya Taman Safari Indonesia, Taman Bunga Nusantara, Kebun Raya Cibodas, Telaga Warna, Taman Wisata Matahari dan terdapat sebuah masjid yang indah dengan arsitektur yang khas dan sederhana yaitu Masjid Atta'awun. Di daerah ini juga terdapat banyak sekali villa dan hotel yang dimiliki oleh investor dan warga sekitar untuk tempat beristirahatnya pengunjung.
Daerah Puncak dapat dicapai dari Jakarta dan Bandung melalui Jalan Nasional Rute 8. Selain itu, daerah ini juga dapat diakses melalui Jalan Tol Jagorawi dan Jalan Tol Bocimi. Jalan menuju Puncak sering mengalami kemacetan setiap akhir pekan dan liburan panjang, sehingga muncul jasa joki "jalan tikus" yang menunjukkan jalur alternatif untuk menghindari kemacetan. Joki tersebut memasang tarif Rp100.000 untuk rute Pandansari-Citengkorak sepanjang 5 km dan Rp300.000 untuk rute Ciawi-Bendungan sepanjang 12 km. Kendati demikian, Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Bogor, Ajun Komisaris Muhammad Chaniago, tidak menganjurkan pengendara untuk melintasi jalan alternatif karena jalan itu berkelok dan curam serta melewati perkampungan warga.[6]


