Kajian Asia Tenggara mengacu pada penelitian dan pendidikan mengenai bahasa, budaya, dan sejarah dari berbagai negara serta kelompok etnis di Asia Tenggara. Beberapa lembaga menyebut disiplin ini sebagai Kajian ASEAN karena sebagian besar negara yang dipelajari merupakan anggota dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara atau ASEAN. Definisi mengenai wilayah mana saja yang membentuk Asia Tenggara berbeda-beda di kalangan akademisi, yang terkadang mengaburkan batas antara kajian Asia Tenggara dengan kajian kawasan lainnya seperti kajian Oriental dan Kajian pascakolonial. Kajian Asia Tenggara menggabungkan antropologi, kajian agama, linguistik, dan hubungan internasional.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Kajian Asia Tenggara (bahasa Inggris: [Southeast Asian studies; SEAS] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan)) mengacu pada penelitian dan pendidikan mengenai bahasa, budaya, dan sejarah dari berbagai negara serta kelompok etnis di Asia Tenggara. Beberapa lembaga menyebut disiplin ini sebagai Kajian ASEAN karena sebagian besar negara yang dipelajari merupakan anggota dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara atau ASEAN. Definisi mengenai wilayah mana saja yang membentuk Asia Tenggara berbeda-beda di kalangan akademisi, yang terkadang mengaburkan batas antara kajian Asia Tenggara dengan kajian kawasan lainnya seperti kajian Oriental dan Kajian pascakolonial. Kajian Asia Tenggara menggabungkan antropologi, kajian agama, linguistik, dan hubungan internasional.
Batasan wilayah Asia Tenggara sering diperdebatkan karena adanya kesamaan sejarah, budaya, dan linguistik antara beberapa kelompok di Asia Tenggara dengan wilayah tetangganya seperti India dan Tiongkok. Banyak sarjana kajian Asia Tenggara mengandalkan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) untuk membuat daftar konkret negara-negara yang masuk dalam payung Asia Tenggara.[1] Hingga tahun 2016, anggota ASEAN meliputi Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, dan Vietnam.[2]
Meskipun istilah "Asia Tenggara" pertama kali digunakan dalam kaitannya dengan wilayah saat ini oleh pendeta dan pendidik Amerika, Howard Malcom, pada tahun 1837, wilayah yang sekarang disebut sebagai Asia Tenggara dulunya dipisahkan antara India dan Timur Jauh oleh para sarjana berbahasa Inggris sebelum Perang Dunia Kedua. Wilayah ini kurang ditekankan sebagai bidang kajian karena adanya kepentingan nasional (kolonial) di wilayah tersebut.[3] Penyelidikan awal terhadap budaya dan tradisi Asia Tenggara terutama dilakukan oleh sarjana Jerman dan Austria yang memiliki akses lebih besar ke wilayah tersebut karena negara asal mereka tidak memiliki koloni di sana.[3] Kepentingan strategis dari berbagai lokasi di Asia Tenggara seperti Hindia Belanda dan Filipina selama Perang Dunia Kedua menarik perhatian besar dari Barat. Perhatian baru ini menyebabkan pembentukan Komando Asia Tenggara (SEAC) pimpinan Mountbatten pada tahun 1943, dan penerbitan peta Asia Tenggara pertama oleh National Geographic Society pada tahun 1944.
Segera setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua, permulaan Perang Dingin sempat mengalihkan perhatian lembaga pemikir dan organisasi intelijen Amerika Serikat dari Asia Tenggara. Peristiwa seperti Revolusi Tiongkok 1949 dan ketakutan akan penyebaran komunisme memusatkan kembali sebagian besar fokus pendanaan ke Tiongkok dan Uni Soviet. Hal ini membawa dua dampak: meskipun pendanaan dan komitmen korporasi ke wilayah tersebut menurun, pengawasan juga berkurang; para peneliti di Barat bebas untuk mengejar sebagian besar minat penelitian mereka tanpa keberatan dari sponsor mereka.[4]
Di Jepang, kajian Asia Tenggara menjadi bidang kajian yang lebih konkret pada periode setelah kolonisasi Jepang di wilayah tersebut selama Perang Pasifik. Pusat Kajian Asia Tenggara di Universitas Kyoto didirikan pada tahun 1963, dan Himpunan Sejarah Asia Tenggara Jepang didirikan pada tahun 1966.[5] Di Amerika Serikat, bangkitnya komunisme di Vietnam dan Laos membawa kajian Asia Tenggara ke garis depan akademisi dan politik.[6] Di Korea, para akademisi mulai membentuk kelompok yang berfokus pada wilayah Asia Tenggara pada tahun 1990-an. Pada tahun 1991, didirikan Asosiasi Studi Asia Tenggara Korea (KASEAS). Studi Asia Tenggara di Korea Selatan terutama berfokus pada hubungan Asia Tenggara dengan wilayah lain di Asia, migrasi lintas batas di dalam dan di luar Asia Tenggara, serta penyebaran Gelombang Korea di wilayah tersebut.[7]
Southeast Asian Studies juga merupakan nama bahasa Inggris dari jurnal ilmiah Jepang Tonan Ajia Kenkyu. Jurnal ini telah diterbitkan sejak tahun 1963 oleh Pusat Studi Asia Tenggara di Universitas Kyoto.
Universitas-universitas yang menawarkan kajian Asia Tenggara terdaftar berdasarkan wilayah: