Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Kaba Cindua Mato

Kaba Cindua Mato adalah sebuah cerita rakyat berbentuk kaba dari Minangkabau. Kaba ini mengisahkan petualangan tokoh utamanya, yaitu Cindua Mato dalam membela kebenaran. Cerita ini masih digemari dan telah banyak dibahas para peneliti. Kaba Cindua Mato menggambarkan keadaan ideal Kerajaan Pagaruyung menurut pandangan orang Minangkabau.

Wikipedia article
Diperbarui 3 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Silakan kembangkan artikel ini semampu Anda. Merapikan artikel dapat dilakukan dengan wikifikasi atau membagi artikel ke paragraf-paragraf. Jika sudah dirapikan, silakan hapus templat ini. (2011) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Kaba Cindua Mato" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR

Kaba Cindua Mato adalah sebuah cerita rakyat berbentuk kaba dari Minangkabau. Kaba ini mengisahkan petualangan tokoh utamanya, yaitu Cindua Mato dalam membela kebenaran. Cerita ini masih digemari dan telah banyak dibahas para peneliti.[1] Kaba Cindua Mato menggambarkan keadaan ideal Kerajaan Pagaruyung menurut pandangan orang Minangkabau.[2]

Edisi

  • Edisi cetak tertua kaba ini adalah yang dicatat oleh van der Toorn, berjudul Tjindur Mato, Minangkabausch-Maleische Legende. Edisi ini hanya memuat sepertiga saja dari manuskrip asli yang tebalnya 500 halaman. Pada 1904, Datuk Garang menerbitkan edisi lengkap kaba ini di Semenanjung Malaya dalam aksara Jawi. Edisi ini mirip dengan versi van der Toorn. Edisi Datuk Garang didasarkan pada manuskrip milik keluarga dari seseorang yang bernama Tuanku Laras di daerah timur Minangkabau.[2] Edisi lain adalah Saripado (1930), Madjoindo (1964), Endah (1967), Singgih (1972) dan Penghulu (1982). Cerita ini juga telah disadur ke dalam bentuk sandiwara oleh Moeis (1924), Penghulu (1955), dan Hadi (1977 dan dalam Esten, 1992).[1]
  • Cindurmato dari Minangkabau oleh Agustar Idris Datuk Pangka Paduko Maharajolelo (cetakan 1, Pertja 1995).
  • Naskah kaba ini tersimpan di berbagai perpustakaan, antara lain Jakarta (Juynboll, 1899) dan Leiden (Van Ronkel, 1921).[1]
  • Komik Indonesia, Hikajat Tjindoer Mata oleh R.L.A. Oesman (Pustaka Timoer, 1941-1942).[3]

Tokoh-tokoh utama

  • Bundo Kanduang adalah gelar bagi Puti Panjang Rambut II. Ia adalah putri dari Maharaja Wijayawarman yang bergelar Tuanku Maharaja Sakti I, Dewang Pandan Putrawana, sepupu dari Ananggawarman.
  • Dang Tuanku 'Sutan Rumanduang' adalah Raja Pagaruyung, putra Bundo Kanduang dengan Bujang Salamat alias Hyang Indera Jati dari dinasti Makhudum di Sumanik. Dia ditunangkan dengan Puti Bungsu—sepupunya--,anak dari pamannya Rajo Mudo. Nama lainnya Rajo Megat alias Sutan Saktai Gelar Rajo Jonggor dan berkuasa di Renah Sekalawi (Lebong) kira-kira kurang lebih 40 km dari Lunang sebagai Raja Jang Tiang Pat Petuloi ke I.
  • Cindua Mato seperti Dang Tuanku terlahir setelah ibunya, Kembang Bendahari, sepupu dari Bundo Kandung. Karena itu dia juga dapat dipandang sebagai saudara Dang Tuanku.
  • Imbang Jayo adalah raja Sungai Ngiang, daerah rantau Minangkabau sebelah selatan, yakni di sekitar Sangir dan Kerinci. Dia berusaha merebut Puti Bungsu yang sudah ditunangkan dengan Dang Tuanku dengan menyebarkan desas-desus bahwa Raja Pagaruyung tersebut menderita suatu penyakit.
  • Tiang Bungkuak adalah ayah Imbang Jayo yang sakti dan kebal. Namun, pada akhirnya Cindua Mato menemukan kelemahannya.

Sinopsis

Cindua Mato dan Dang Tuangku adalah dua sahabat yang tumbuh bersama. Dang Tuangku adalah putra pewaris Kerajaan Pagaruyuang, sedangkan Cindua Mato tumbuh menjadi ksatria yang kelak menjadi hulubalang di kerajaan sekondannya tersebut.

Beranjak dewasa, keduanya tumbuh menjadi pemuda yang tangguh dan gemar bermain di gelangang. Suatu ketika, keduanya hadir di gelanggang perhelatan Datuk Bandaro. Dang Tuangku hadir mewakili Bundo Kanduang, yang memimipin kerajaan Pagaruyuang masa itu. Saat Dang Tuangku tengah bertemu dengan yang punya helat, Cindua Mato mendengar berita miring tentang Puti Bungsu di Renah Sekalawi, tunangan tuannya (Dang Tuangku) akan dipersunting oleh Imbang Jayo.

Dang Tuangku bukan tak mendengar bisik-bisik di gelanggang, Ia pulang dengan marah memuncak. Kabar itu ternyata benar adanya, setelah Bundo Kanduang menerima undangan kenduri Imbang Jayo dan Putri Bungsu, tunangannya.

Cindua Mato kemudian diutus Bundo Kanduang untuk mengantarkan seserahan dan hadiah pernikahan, mengingat anaknya Dang Tuangku tentu tidak mungkin bisa mengantarkan hadiah untuk pernikahan tunangannya sendiri. Dengan berat hati Cindua Mato menaati perintah kerajaan, Ia tak sampai hati akan nasib mandan-nya, Dang Tuangku.

Sampai di pesta pernikahan, Cindua Mato menggunakan ilmunya dan memanipulasi cuaca. Terjadilah badai besar membawa hujan lebat sehingga membanjiri perhelatan tersebut. Momen tersebut digunakan Cindua Mato untuk menculik Putri Bungsu, kemudian dibawa lari ke Pagaruyung.

Tindakan Cindua Mato tentu mengundang peperangan. Benar saja, kemudian Imbang Jayo dan pasukannya datang mengepung Pagaruyuang. Dang Tuangku, yang merencanakan penculikan dari awal pun sudah siap menunggu pasukan perang tersebut.

Terjadilah peperangan antara dua kerajaan tersebut. Singkat cerita, Imbang Jayo tewas dalam gencatan senjata tersebut. Kemudian untuk sama-sama meenghindari pertumpahan darah, peperangan akan digantikan dengan duel oleh pendekar masing-masing pihak. Jadilah kemudian Cindua Mato mewakili kerajaan Pagaruyuang berhadapan dengan Tiang Bungkuak.

Nahas, kemudian Cindua Mato kalah. Ia harus membayar mahal kekalahannya, Ia kemudian diseret menjadi budak Tiang Bungkuak, Pagaruyuang dibakar habis rata dengan tanah, Dang Tuangku dan Bundo Kanduang lari dari Pagaruyuang.

Menjadi budak ternyata adalah salah satu trik Cindua Mato. Ia sebenarnya ingin mengetahui kelemahan tuannya, Tiang Bungkuak. Benar saja, kemudian, dengan bantuan air sirih penanya, diketahui bahwa satu satunya senjata yang bisa melukai Tiang Bungkuak adalah keris milik tuannya tersebut.

Saat tuannya tidur, Cindua Mato mencuri keris tersebut. Kemudian menghabisi nyawa tiang bungkuak dalam sebuah duel. Kematian tiang bungkuak membebaskan status budak yang melekat pada dirinya, sehingga ia bisa kembali ke kerajaan Pagaruyuang.

Antara Fakta dan Legenda

Sebagian sejarawan menilai bahwa kisah Cindua Mato merupakan sebuah cerita yang mengambil settingan dan inspirasi dari kerajaan Pagaruyung pada suatu periode. Diduga periode itu adalah ketika terjadinya kevakuman di Pagaruyung sekitar awal abad 15 hingga awal abad 16. Sepeninggal Anannggawarman banyak terjadi huru-hara perebutan tahta di Pagaruyung dan juga disebabkan oleh perubahan akidah rakyat Minangkabau yang sebelumnya animisme Hindu Buddha menjadi muslim yang mendorongnya berkurangnya dukungan rakyat terhadap kekuasaan Pagaruyung yang otoriter dan aristokrat.[butuh rujukan]

Karena serangan dari kerajaan-kerajaan di timur, Pagaruyung terdesak dan sebagian besar kalangan istana menyelamatkan diri ke tenggara Pagaruyung.[butuh rujukan]

Keturunan Dari Puti Bungsu dan Dang Tuanku tersebar di marga Tubey, Bermani dan Jurukalang yang tersebar di Kabupaten Lebong Bengkulu.

Menurut masyarakat Lunang (termasuk bekas wilayah kesultanan Inderapura pada masa lampau), keturunan dari Bundo Kandung dan Cindua Mato masih ada sampai sekarang disana dan dibuktikan dengan adanya makam mereka di sana.

Referensi

  1. 1 2 3 Djamaris, Edwar (2002). Pengantar Sastra rakyat Minangkabau. Yayasan Obor Indonesia. hlm. 80. ISBN 9789794613955.
  2. 1 2 Abdullah, Taufik. "Some Notes on the Kaba Tjindua Mato: An Example of Minangkabau Traditional Literature" (PDF). Diakses tanggal 12 Juni. ;
  3. ↑ Pers., Rajawali (2009). Sejarah kebudayaan Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers. ISBN 9789797692698. OCLC 465193408.
  • l
  • b
  • s
Legenda dan cerita rakyat Nusantara
Aceh
  • Banta Berensyah
  • Mentiko Betuah
  • Putra Mahkota Amat Mude
  • Si Kepar
  • Si Parkit Raja Paraket
  • Tujuh Anak Lelaki
  • Tradisi Smong
Sumatera Utara
  • Asal mula Danau Toba
  • Putri Hijau
  • Sampuraga
  • Dayang Bandir dan Sandean Raja
Riau
  • Batang Tuaka
  • Bawang Merah Bawang Putih
  • Putri Kaca Mayang
  • Putri Mambang Linau
  • Putri Tujuh
  • Si Umbut Muda
Sumatera Barat
  • Kaba Anggun Nan Tongga
  • Kaba Cindua Mato
  • Kaba Sutan Pangaduan
  • Lebai Malang
  • Malin Kundang
  • Sabai Nan Aluih
  • Asal Usul Danau Maninjau
Kepulauan Riau
  • Awang Sambang Elang Raja di Laut
  • Badang Sandim Sani dan Batu Ampar
  • Datuk Putih Laksemana Bentan
  • Hang Nadim Laksemana
  • Jenawi Pusaka Perang Lanun
  • Keris Sempena Riau
  • Padi Penaungan
  • Putri Pandan Berduri
  • Raja Bentan Wan Seri Benai
  • Tok Nyang Saka Baka Muka Kuning
Jawa Barat
  • Ciung Wanara
  • Leungli
  • Lutung Kasarung
  • Mundinglaya Dikusumah
  • Sangkuriang
Jawa Tengah
  • Jaka Tarub
  • Rara Jonggrang
  • Rara Mendut
  • Timun Mas
Jawa Timur
  • Ande Ande Lumut
  • Aryo Menak
  • Bubuksah dan Gagangaking
  • Damar Wulan
  • Keong Mas
  • Sarip Tambak Oso
  • Sri Tanjung
  • Sudamala
  • Aji Saka
  • Joko Seger dan Roro Anteng
Sulawesi Selatan
  • Sureq Galigo
Papua
  • Kweiya
Daftar cerita rakyat di Indonesia menurut provinsi (kategori)
Sumatra
  • Aceh
  • Bengkulu
  • Jambi
  • Kepulauan Riau
  • Kepulauan Bangka Belitung
  • Lampung
  • Riau
  • Sumatera Barat
  • Sumatera Selatan
  • Sumatera Utara
Jawa
  • Banten
  • Jakarta
  • Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • Jawa Timur
  • Yogyakarta
Nusa Tenggara
  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat
  • Nusa Tenggara Timur
Kalimantan
  • Kalimantan Barat
  • Kalimantan Selatan
  • Kalimantan Tengah
  • Kalimantan Timur
  • Kalimantan Utara
Sulawesi
  • Gorontalo
  • Sulawesi Barat
  • Sulawesi Selatan
  • Sulawesi Tengah
  • Sulawesi Tenggara
  • Sulawesi Utara
Maluku
  • Maluku
  • Maluku Utara
Papua
  • Papua
  • Papua Barat
  • Papua Barat Daya
  • Papua Pegunungan
  • Papua Selatan
  • Papua Tengah

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Edisi
  2. Tokoh-tokoh utama
  3. Sinopsis
  4. Antara Fakta dan Legenda
  5. Referensi

Artikel Terkait

Sumatra

pulau di Indonesia

Daftar gelar Datuk

artikel daftar Wikimedia

Makam Cindua Mato

makam di Lunang Silaut, Sumatra Barat, Indonesia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026