Dalam kosmologi fisik, inflasi kosmik atau inflasi adalah pengembangan eksponensial alam semesta muda dengan faktor 1078 untuk volume, yang didorong oleh kepadatan energi vakum bertekanan negatif. Periode inflasioner meliputi bagian pertama periode elektrolemah setelah periode penyatuan agung. Periode ini berlangsung dari 10−36 detik setelah Ledakan Dahsyat hingga 10−33 dan 10−32 detik. Setelah periode inflasioner, alam semesta terus mengembang, tetapi dengan laju yang lebih lambat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Bagian dari seri |
| Kosmologi fisik |
|---|
Dalam kosmologi fisik, inflasi kosmik atau inflasi adalah pengembangan eksponensial alam semesta muda dengan faktor 1078 untuk volume, yang didorong oleh kepadatan energi vakum bertekanan negatif.[1] Periode inflasioner meliputi bagian pertama periode elektrolemah setelah periode penyatuan agung. Periode ini berlangsung dari 10−36 detik setelah Ledakan Dahsyat hingga 10−33 dan 10−32 detik. Setelah periode inflasioner, alam semesta terus mengembang, tetapi dengan laju yang lebih lambat.
Istilah "inflasi" juga merujuk kepada hipotesis bahwa inflasi pernah terjadi. Hipotesis ini pertama kali diusulkan pada tahun 1980 oleh fisikawan Amerika Serikat Alan Guth.[2] Teori ini juga diusulkan oleh Katsuhiko Sato pada tahun 1981.[3]
Teori inflasi menjawab permasalahan klasik dalam kosmologi Ledakan Dahsyat: mengapa alam semesta tampak datar, seragam, dan isotropik, sementara berdasarkan fisika Ledakan Dahsyat, alam semesta seharusnya melengkung dan beragam? Inflasi juga menjelaskan asal-usul struktur kosmos yang besar.
Sementara mekanisme fisika partikel yang menyebabkan terjadinya inflasi masih belum diketahui, gambaran dasarnya memungkinkan beberapa prediksi yang telah dipastikan melalui pengamatan. Maka, inflasi saat ini dianggap sebagai bagian dari kosmologi Ledakan Dahsyat. Partikel atau medan dasar yang diduga menyebabkan terjadinya inflasi disebut inflaton.
Inflasi kosmik adalah hipotesis yang menyatakan bahwa alam semesta pada masa yang sangat awal mengalami penmuaian yang sangat cepat secara eksponensial. Jarak antara dua titik di alam semesta berlipat ganda setiap sekitar 10-37 detik. fase pemuaian ini berlangsung setidaknya selama 10-35 detik, meskipun durasi pastinya belum dapat dipastikan.
Seluruh massa dan energi dari semua galaksi yang saat ini dapat kita amati pada awalnya berada dalam sebuah bola dengan jari-jari sekitar 4 x 10-29 meter, kemudian mengembang menjadi bola dengan jari-jari sekitar 0.9 meter pada akhir masa inflasi.[4]
Setelah inflasi berakhir, medan yang mendorong pemuaian tersebut berubah menjadi partikel-partikel, sehingga alam semesta memasuki "sup kuark". Pada fase ini, masih tersisa variasi kecil dalam kerapatan materi, yang berasal dari fluktuasi kuantum pada keadaan awal alam semesta yang kecil dan relatif seragam.[5]