Hulaliu atau dikenal pula sebagai Hurariu, adalah sebuah negeri yang terletak di kecamatan Haruku, Maluku Tengah, Maluku, Indonesia. Negeri Hulaliu merupakan satu di antara lima negeri Amarima Hatuhaha bersama Pelauw, Kailolo, Rohomoni, dan Kabauw. Teun negeri ini adalah Haturessy Rakanyawa.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Hulaliu Haturessy Rakanyawa Amano Alasi | |
|---|---|
| Negara | |
| Provinsi | Maluku |
| Kabupaten | Maluku Tengah |
| Kecamatan | Pulau Haruku |
| Luas | 11,44 km² |
| Jumlah penduduk | 1.488 jiwa |
| Kepadatan | 130 jiwa/km² |
| Raja | Abraham Tuanakotta |
Hulaliu atau dikenal pula sebagai Hurariu, adalah sebuah negeri yang terletak di kecamatan Haruku, Maluku Tengah, Maluku, Indonesia.[1] Negeri Hulaliu merupakan satu di antara lima negeri Amarima Hatuhaha (Uli Hatuhaha) bersama Pelauw, Kailolo, Rohomoni, dan Kabauw. Teun negeri ini adalah Haturessy Rakanyawa.
Umumnya penduduk pulau Ambon dan pulau-pulau Lease berasal dari pulau Seram. Demikian pula dengan penduduk Negeri Hulaliu, Kecamatan Pulau Haruku. Menyebarnya penduduk dari pulau Seram menurut penuturan leluhur disebabkan oleh karena suatu kekacauan yang terjadi dipusat kerajaan Nunusaku saat itu, yakni terbunuhnya putri raja Nunusaku yang bernama Rapie Hai Nuwele sehingga orang mulai berpencar menyelamatkan dirinya masing-masing.
Berpencarnya orang-orang diatas, biasanya dalam kelompok-kelompok dan salah satu kelompok menuju ke selatan tepatnya di desa Seriawan, kemudian menyeberang ke pulau Haruku dan singgah di suatu tempat yang bernama “Nama Ea” (terletak antara desa Pelauw dan Kailolo sekarang). Kelompok besar ini terdiri dari kelompok Hulaliu, kelompok Pelauw, kelompok Kailolo, kelompok Rohomoni dan kelompok Kabau.
Namun mereka tidak betah disitu, maka berpindahlah mereka ke hutan yang bernama “Alaka” dan bergabung disana dan membentuk satu kelompok adat yang bernama “Uli Hatuhaha Amarima Lounusa”, artinya Perkumpulan lima negeri diatas batu.
Pada tahun 1516 bangsa Portugis telah menguasai Jazirah Leihitu dan mereka terus melakukan perluasan daerah kekuasaan. Salah satu tujuannya adalah pulau Haruku dan usaha ini ditentang oleh kelompok Uli Hatuhaha yang kemudian pecahlah perang Alaka antara bangsa Portugis dengan Kelompok Uli Hatuhaha Amarima Lounusa. Perang ini dimenangkan oleh kelompok Portugis sehingga kelompok ini dipaksa untuk turun ke pantai.
Namun kelompok Hulaliu tidak langsung ke pantai tetapi menuju ke arah timur dan tiba disuatu gunung yang bernama Supurusu. Di Supurusu inilah kelompok Hulaliu terbagi menjadi dua, yakni kelompok Soa Pake dan kelompok Nusahuhu.
Struktur Kemasyarakatan dan Marga
Di daerah Supurusu ini tidak terdapat air sehingga mereka berniat meneruskan perjalanan ke pantai dan berdiam sementara di tempat yang bernama “Aman Tawari”. Kemudian mereka mengutus lima kapitan untuk mencari tempat yang ada airnya. Kelima kapitan ini berkumpul di “Haturua” untuk kemudian berpencar mencari air.
Kapitan Siahaya tetap menunggu di Haturua sedangkan kapitan Noya, Sahureka, Taihuttu, dan Mataheru berpencar melakukan pencarian daerah yang dapat dihuni. Dari empat kapitan yang mencari air tersebut masing-masing menemukan air, namun yang sesuai dengan keinginan mereka berlima adalah air yang ditemukan oleh kapitan Taihuttu yang datang dari utara dan berkata dalam bahasa setempat “Wae Taria” yang artinya "Air disana". Oleh sebab itu hingga saat itu nama air itu adalah Wae Taria.
Selanjutnya dengan sukacita para kapitan itu naik menjumpai kelompoknya yang ada di Aman Tawari dan sambil berteriak dalam bahasa “Lai parutu eke Haturessy Nahaka Rakanyawa” yang artinya "datang berkumpul di Haturessy dan Pelabuhannya Rakanyawa".
Oleh karena itu negeri Hulaliu sering disebut juga dengan sebutan negeri “HATURESSY” yang artinya “Kelebihan”.
Hulaliu memiliki hubungan yang harmonis dengan negeri tetangga. Negeri ini punya hubungan gandong dengan negeri Paperu, Laimu, Sila, Asilulu, Tulehu, dan Tial.[2]
Penduduk asli Hulaliu semuanya menganut agama Kristen Protestan. Masyarakatnya dilayani oleh dua buah gereja, yaitu
Pembagian kelompok di Supurusu melahirkan struktur marga (familia) yang menjadi dasar penduduk Hulaliu: