Heroin atau diamorfin (INN) adalah sejenis opioid alkaloid.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini membahas mengenai narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya. Informasi mengenai zat dan obat-obatan terlarang hanya dimuat demi kepentingan ilmu pengetahuan. Kepemilikan dan pengedaran narkoba adalah tindakan melanggar hukum di berbagai negara. Baca: penyangkalan umum lihat pula: nasihat untuk orang tua. |
| Data klinis | |
|---|---|
| Nama lain | Diamorfin, diasetilmorfin, asetomorfin, Morfin terasetilasi (ganda), morfin diasetat |
| Kategori kehamilan | |
| Potensi ketergantungan | Tinggi |
| Rute pemberian | Inhalasi, transmukosal, intravena, oral, Intranasal, rektal, intramuskular |
| Kode ATC | |
| Status hukum | |
| Status hukum |
|
| Data farmakokinetika | |
| Bioavailabilitas | <35% (oral), 44–61% (inhalasi)[1] |
| Pengikatan protein | 0% (Metabolit morfin 35%) |
| Metabolisme | hati |
| Waktu paruh eliminasi | <10 menit [2] |
| Ekskresi | 90% ginjal sebagai glukuronida, istirahat pada empedu |
| Pengenal | |
| |
| Nomor CAS | |
| PubChem CID | |
| DrugBank | |
| ChemSpider |
|
| UNII | |
| ChEMBL | |
| CompTox Dashboard (EPA) | |
| ECHA InfoCard | 100.008.380 |
| Data sifat kimia dan fisik | |
| Rumus | C21H23NO5 |
| Massa molar | 369.41 g/mol |
| Model 3D (JSmol) | |
| |
| |
| (verify) | |

Heroin atau diamorfin (INN) adalah sejenis opioid alkaloid.
Heroin adalah derivatif 3.6-diasetil dari morfin (karena itulah namanya adalah diasetilmorfin) dan disintesiskan darinya melalui asetilasi. Bentuk kristal putihnya umumnya adalah garam hidroklorida, diamorfin hidroklorida. Heroin dapat menyebabkan kecanduan.
Heroin adalah salah satu jenis obat golongan narkotika. Obat yang sering kali disalahgunakan ini dapat menimbulkan efek halusinasi, menurunnya tingkat kesadaran dan kecanduan. Di Indonesia heroin juga dikenal sebagai “putau”.
Putau atau heroin umumnya berbentuk bubuk putih dan akan berubah menjadi coklat kehitaman serta lengket setelah dipanaskan. Heroin terbuat dari morfin, salah satu jenis narkotika yang digunakan sebagai obat pereda nyeri pada penderita penyakit tertentu.
Berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 44 Tahun 2019 tentang perubahan penggolongan narkotika , heroin termasuk ke dalam narkotika golongan 1. Ini artinya heroin hanya dapat digunakan untuk riset atau pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak dapat digunakan untuk terapi.