Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Herman Willem Daendels

Herman Willem Daendels adalah seorang perwira militer Belanda dan administrator kolonial yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda dari tahun 1808 hingga 1811.

politikus Belanda
Diperbarui 6 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Herman Willem Daendels
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Herman Willem Daendels" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
Herman Willem Daendels
Potret anumerta oleh Raden Saleh, 1838
Gubernur Jenderal Pantai Emas Belanda
Masa jabatan
11 Maret 1816 – 2 Mei 1818
Penguasa monarkiWillem I
Sebelum
Pendahulu
Abraham de Veer (sebagai Komandan Jenderal)
Pengganti
Frans Christiaan Eberhard Oldenburg (sebagai Komandan)
Gubernur Jenderal Hindia Belanda
Masa jabatan
14 Januari 1808 – 15 Mei 1811
Penguasa monarki
  • Louis Bonaparte
  • Napoleon Bonaparte
Sebelum
Pendahulu
Albertus Wiese
Pengganti
Jan Willem Janssens
Sebelum
Informasi pribadi
Lahir(1762-10-21)21 Oktober 1762
Hattem, Republik Belanda
Meninggal2 Mei 1818(1818-05-02) (umur 55)
Elmina, Pantai Emas Belanda (sekarang Ghana)
MakamPemakaman Belanda, Elmina
Partai politikPatriottentijd
Karier militer
Pihak
  • Republik Prancis Pertama
  • Kekaisaran Prancis Pertama

  • Republik Bataaf
  • Kerajaan Holland
Dinas/cabangGrande Arméecode: fr is deprecated
Masa dinas1785–1813
PangkatMayor Jenderal
KomandoLegiun Batavia
Pertempuran/perang
  • Pemberontakan Patriot
  • Invasi Holandia oleh Prusia
    • Pertahanan Amsterdam
  • Perang Koalisi Pertama
    • Kampanye Flanders
  • Revolusi Batavia
  • Perang Koalisi Kedua
    • Pertempuran Callantsoog
    • Pertempuran Krabbendam
    • Pertempuran Bergen
    • Pertempuran Alkmaar
    • Pertempuran Castricum
  • Perang Koalisi Keempat
    • Penaklukan Friesland Timur
  • Perang Koalisi Kelima
    • Invasi Britania ke Kepulauan Rempah
  • Invasi Rusia oleh Prancis
    • Pertempuran Berezina
  • Perang Koalisi Keenam
    • Pengepungan Modlin
PenghargaanLégion d'honneur
Penghargaan
  • Knight Grand Cross of the Order of the Reunion (en) Terjemahkan Suntingan nilai di Wikidata
Find a Grave: 189609034 Modifica els identificadors a Wikidata
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Bantuan penggunaan templat ini

Herman Willem Daendels (21 Oktober 1762 – 2 Mei 1818) adalah seorang perwira militer Belanda dan administrator kolonial yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda dari tahun 1808 hingga 1811.[1][2]

Kehidupan awal

Herman Willem Daendels lahir pada 21 Oktober 1762 di Hattem, Belanda. Ayahnya, Burchard Johan Daendels, menjabat sebagai sekretaris wali kota; ibunya adalah Josina Christina Tulleken. Daendels menempuh pendidikan hukum di Universitas Harderwijk dan memperoleh gelar doktor pada 10 April 1783.

Karier

Pada tahun 1806, ia dipanggil oleh Raja Belanda, Raja Louis (Koning Lodewijk) untuk berbakti kembali di tentara Belanda. Ia ditugasi untuk mempertahankan provinsi Friesland dan Groningen dari serangan Prusia. Lalu setelah sukses, pada tanggal 28 Januari 1807 atas saran Kaisar Napoleon Bonaparte, ia dikirim ke Hindia Belanda sebagai Gubernur-Jenderal.

Pengangkatan sebagai Gubernur-Jenderal

Daendels tiba di Batavia pada 5 Januari 1808 menggantikan Albertus Wiese sebagai Gubernur-Jenderal Hindia Belanda. Daendels mengemban tugas yang diberikan oleh Raja Louis untuk melakukan reformasi pemerintahan Hindia Belanda yang korup sepeninggal VOC, selain juga untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris.

Sebelum dikirim ke Jawa, Daendels diberi gelar kehormatan Marsekal Belanda pada 28 Januari 1807.[3] Pemberian gelar ini memunculkan rasa tidak senang dari Napoleon, dan ia sempat menegur adiknya, Louis Bonaparte, yang pada saat itu menjadi Raja Belanda. Napoleon melihat bahwa bangsa Belanda tidak pandai berperang sehingga tidak layak memiliki perwira dengan pangkat setinggi itu.[4]

Gaya pemerintahan

Pemerintahan Daendels di Jawa sangat berbau militeristik. Hal ini dapat dilihat dari caranya berpakaian. Tidak seperti gubernur jenderal sebelumnya pada masa VOC yang menggenakan pakaian elite kerajaan, seragam yang ia pakai adalah seragam marsekal. Selain itu, pemerintahan yang ia dirikan memiliki penjenjangan terstruktur yang terpusat mirip dengan struktur komando pasukan Napoleon. Ia juga membagi Jawa menjadi sembilan daerah administrasi yang masing-masing terdiri dari distrik yang berada di bawah kekuasaan seorang bupati.[4]

Ong Hok Ham berpendapat mengenai gaya pemerintahan militeristik Daendels:

"Memuliakan militerisasi pemerintahan penjajahan dengan memberikan semua pejabat, baik yang keturunan Eropa maupun Jawa, sebuah pangkat militer. Mungkin ia berharap bahwa ini akan membuahkan disiplin yang lebih tinggi!"

Sejak saat itu dimulailah tradisi di antara para pejabat administratif penjajahan Belanda, yang pasca 1816 disebut sebagai Pangreh Praja (Binnenlands Bestuur) dan para priyayi pasca Perang Jawa mengenakan seragam bergaya militer sebagai tanda status pegawai negeri sipil. Sebuah praktik yang masih dilakukan hingga sekarang.[4]

Reformasi administrasi pemerintahan dan peradilan

Salah satu tindakan yang diambil oleh Daendels adalah reformasi total administrasi. Daendels mengangkat semua bupati Jawa menjadi pejabat pemerintah Belanda dengan alasan agar terhindar dari beban pemerasan dan perlakuan menghina dari pejabat Eropa. Perubahan status ini menimbulkan konsekuensi yaitu kehilangan prestise dan kebebasan bertindak terhadap rakyat mereka.[5]

Daendels mengkritik sistem peradilan Batavia yang ia anggap tidak bisa menangani banyak kasus yang masuk dan penyalahgunaan kekuasaan peradilan yang makin lama makin tak tertahankan. Akibatnya ia melakukan perombakan terhadap sistem peradilan. Ia melakukan pemisahan pengadilan menjadi dua kelompok, pengadilan untuk orang Jawa dan pengadilan untuk orang Eropa, Cina, dan Arab. Untuk pengadilan pertama akan menggunakan peradilan menurut hukum dan adat istiadat Jawa. Sedangkan untuk kelompok kedua menurut peraturan perundang-undangan Hindia Belanda. Perubahan ini menimbulkan kekacauan yurisdiksi di antara pengadilan-pengadilan yang berbeda. Hukum dan adat istiadat penduduk asli mungkin masih bisa diterima atau ditolak oleh pengadilan.[5]

Pemindahan pusat Kota Batavia

Daendels tahu bahwa Batavia tidak akan pernah bisa dipakai sebagai pusat utama pertahanan Pulau Jawa. Istana tuanya, dengan tembok-tembok yang rapuh dapat dihancurkan dari laut. Iklimnya bisa membunuh serdadu garnisun bahkan sebelum musuh menyentuh pantai. Instruksi kepada Daendels memberinya hak untuk memindahkan pusat kota ke daerah yang lebih sehat dan Gubernur Jenderal pendahulunya, Van Overstraten, telah membuat rencana untuk memindahkan kedudukan pemerintahan ke pedalaman Jawa Tengah, tempat kekuatan gabungan Belanda dan raja-raja Jawa dapat melawan kekuatan yang berjumlah lebih besar dalam jangka waktu yang lebih lama. Daendels berpikir untuk memindahkan kota ke Surabaya tetapi ia urung melakukan rencana tersebut karena kesulitan memindahkan seluruh permukiman Batavia, gudang-gudangnya, dan kapal-kapal dengan barang dagangan yang berharga.[5]

Ia memutuskan untuk memindahkan perumahan tersebut ke pedalaman yang kala itu disebut dengan Weltevreden, yang sebelumnya merupakan salah satu lahan milik Chastelein. Bahan bangunan disediakan dengan menghancurkan sejumlah rumah dan kastil kuno Coen. Di selatan Weltevreden, satu perkampungan berbenteng dibangun dengan tujuan sebagai pusat pertahanan utama jika Britania menyerbu.[5]

Membangun Jalan Raya Pos

Lihat pula: Jalan Raya Pos

Selain melakukan reformasi pemerintahan dengan gaya pemerintahan yang militeristik, Daendels juga menjadi pencetus pembangunan Jalan Raya Pos yang membentang dari barat hingga timur Pulau Jawa. Pembangunan jalan ini dilakukan dengan melihat kondisi Pulau Jawa pada saat itu yang sedang diblokade oleh Inggris di bawah pimpinan Laksamana Muda Sir Edward Pellew. Blokade yang dilakukan sepanjang pesisir utara Jawa ini mengakibatkan tidak satu pun kapal yang berlayar di pesisir utara Jawa bebas dari pengawasan armada kapal Inggris. Daendels tak kehabisan akal, ia menggunakan bubuk mesiu untuk membuka jalur yang melintasi Pegunungan Priangan melalui Puncak (Megamendung), Bandung, dan Cianjur.[4]

Kembali ke Eropa

Sekembali Daendels di Eropa, Daendels kembali bertugas di tentara Prancis. Dia juga ikut tentara Napoleon berperang ke Rusia. Setelah Napoleon dikalahkan di Waterloo dan Belanda merdeka kembali, Daendels menawarkan dirinya kepada Raja Willem I, tetapi Raja Belanda ini tidak terlalu suka terhadap mantan patriot dan tokoh revolusioner ini. Akan tetapi, pada tahun 1815 ia diangkat menjadi Gubernur Jenderal di Pantai Emas Belanda, Ghana dan meninggal di sana pada tanggal 2 Mei 1818[6] Ia meninggal dunia akibat penyakit malaria.[7]

Referensi

  1. ↑ Herald van der Linde (September 24, 2020). Jakarta: History of a Misunderstood City. Marshall Cavendish International (Asia) Private Limited. hlm. Chapter 6. ISBN 9789814928014. Diakses tanggal 25 August 2021.
  2. ↑ The only complete biography of Daendels is the now rather dated publication by Paul van 't Veer, Daendels, maarschalk van Holland (Zeist/Antwerpen: De Haan-Standaard Boekhandel 1963).
  3. ↑ "De Veldmaarschalken van het Nederlandsche Leger", Militaire Spectator, nr 485, 9 May 1849 (Dutch)
  4. 1 2 3 4 Carey, P. B. R.; A. Noor, Farish (2022). Ras, kuasa, dan kekerasan kolonial di Hindia Belanda, 1808-1830. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 33–39. ISBN 978-602-481-656-8. OCLC 1348391104. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. 1 2 3 4 H. M., Bernard (2022). Nusantara, Sejarah Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 230–236. ISBN 978-602-6208-06-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ↑ "Herman Willem Daendels". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 18 Mei 2021.
  7. ↑ "Herman Willem Daendels - Historical figures - Rijksstudio". Rijksmuseum (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 18 Mei 2021.

Lihat pula

  • Daftar Gubernur-Jenderal Hindia Belanda
  • Pemberontakan Raden Ronggo

Pranala luar

  • Encyclopaedia Britannica, Herman Willem Daendels
  • Herman Willem Daendels - Rijksmuseum, Amsterdam Diarsipkan 2015-11-17 di Wayback Machine.

Bacaan lanjutan

  • Tim Historia (2019). Isnaeni, H. F. (ed.). Daendels: Napoleon Kecil di Tanah Jawa. Jakarta: Kompas Media Nusantara. ISBN 978-602-412-458-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Jabatan pemerintahan
Didahului oleh:
Albertus Wiese
Gubernur-Jenderal Hindia Belanda
1808-1811
Diteruskan oleh:
Jan Willem Janssens
  • l
  • b
  • s
Gubernur-Jenderal Hindia Belanda (1610–1949)
Masa Kekuasaan
Perusahaan Hindia Timur Belanda
(1610–1800)
  • Both (1610–14)
  • Reynst (1614–15)
  • Reael (1615–19)
  • Coen (1619–23)
  • De Carpentier (1623–27)
  • Coen (1627–29)
  • Specx (1629–32)
  • Brouwer (1632–36)
  • Van Diemen (1636–45)
  • Van der Lijn (1645–50)
  • Reyniersz (1650–53)
  • Maetsuycker (1653–78)
  • Van Goens (1678–81)
  • Speelman (1681–84)
  • Camphuys (1684–91)
  • Van Outhoorn (1691–1704)
  • Van Hoorn (1704–09)
  • Van Riebeeck (1709–13)
  • Van Swoll (1713–18)
  • Zwaardecroon (1718–25)
  • De Haan (1725–29)
  • Durven (1729–32)
  • Van Cloon (1732–35)
  • Patras (1735–37)
  • Valckenier (1737–41)
  • Thedens (1741–43)
  • Van Imhoff (1743–50)
  • Mossel (1750–61)
  • Van der Parra (1761–75)
  • Van Riemsdijk (1775–77)
  • De Klerk (1777–80)
  • Alting (1780–96)
  • Van Overstraten (1796-99)
Flag of the Dutch East India Company
Flag of the Dutch East India Company
Masa Kekuasaan
Hindia Belanda Pertama
(1800–1811)
  • Van Overstraten (1800–01)
  • Siberg (1801–05)
  • Wiese (1805–08)
  • Daendels (1808–11)
  • Janssens (1811)
Masa Kekuasaan
Kerajaan Inggris
(1800–1811)
  • Minto (1811)
  • Raffles (1811-16)
  • Fendal (1816)
Masa Kekuasaan
Hindia Belanda Kedua
(1811–1949)
  • Van der Capellen (1816–26)
  • Du Bus (1826–30)
  • Van den Bosch (1830–33)
  • Baud (1833–36)
  • De Eerens (1836–40)
  • Van Hogendorp (1840–41)
  • Merkus (1841–44)
  • Reijnst (1844–45)
  • Rochussen (1845–51)
  • Van Twist (1851–56)
  • Pahud (1856–61)
  • Prins (1856)
  • Van de Beele (1861–66)
  • Prins (1866)
  • Mijer (1866–72)
  • Loudon (1872–75)
  • Van Lansberge (1875–81)
  • s'Jacob (1881–84)
  • Van Rees (1884–88)
  • Pijnacker Hordijk (1888–93)
  • Van der Wijck (1893–99)
  • Rooseboom (1899–1904)
  • Van Heutsz (1904–09)
  • Idenburg (1909–16)
  • Van Limburg Stirum (1916–21)
  • Fock (1921–26)
  • De Graeff (1926–31)
  • De Jonge (1931–36)
  • Van Starkenborgh Stachouwer (1936–42)
  • Van Mook (1942–48)
Komisaris Tinggi
  • Beel (1948–49)
  • Lovink (1949)
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • ISNI
  • VIAF
  • GND
  • FAST
  • WorldCat
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Prancis
  • Data BnF
  • Italia
  • Belanda
  • Israel
Orang
  • Belanda
  • Deutsche Biographie
  • DDB
Lain-lain
  • IdRef
  • SNAC
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Kehidupan awal
  2. Karier
  3. Pengangkatan sebagai Gubernur-Jenderal
  4. Gaya pemerintahan
  5. Reformasi administrasi pemerintahan dan peradilan
  6. Pemindahan pusat Kota Batavia
  7. Membangun Jalan Raya Pos
  8. Kembali ke Eropa
  9. Referensi
  10. Lihat pula
  11. Pranala luar
  12. Bacaan lanjutan

Artikel Terkait

Daftar penguasa Belanda

artikel daftar Wikimedia

Daftar Gubernur-Jenderal Hindia Belanda

artikel daftar Wikimedia

Hindia Belanda

koloni Belanda di Asia Tenggara; sejak tahun 1949 dikenal sebagai Indonesia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026