Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Hasan Basri (ulama)

K.H. Hasan Basri adalah mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ketiga pada tahun 1985–1998, ada juga yang menyebutkannya menjabat dari tahun 1984–1990. Ia adalah seorang da’i dan pernah menjabat Imam Masjid al-Azhar, Jakarta. Ia juga merupakan penggagas Bank Syariah di Indonesia.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) ke-3
Diperbarui 22 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Hasan Basri (ulama)
Untuk kegunaan lain terkait orang dengan nama Hasan Basri, lihat Hasan Basri (disambiguasi).
K.H.
Hasan Basri
Anggota Dewan Pertimbangan Agung
Masa jabatan
1993–1998
Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia
Masa jabatan
1993–1998
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia ke-3
Masa jabatan
1984 – 1990
(1985 – 1998)[a]
Sebelum
Pendahulu
Syukri Ghozali
Pengganti
Ali Yafie
Sebelum
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
Masa jabatan
1956–1959
Kehidupan pribadi
Lahir(1920-08-10)10 Agustus 1920
Moeara Teweh, Afdeeling Doesoenlandeen (sekarang bagian dari Kalimantan Tengah), Zuider en Oosterafdeeling van Borneo, Hindia Belanda
Meninggal8 Oktober 1998(1998-10-08) (umur 78)
Jakarta, Indonesia
MakamTaman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Kebayoran Lama Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta[2]
KebangsaanIndonesia
Pasangan
Hj. Nurhani
​
(m. sebelum 1998)​
[2][3]
AnakEmpat orang anak yaitu:[3]
  1. Hasni
  2. Husni
  3. Kartini
  4. Husaini
Orang tua
  • Muhammad Darun[3][4] (ayah)
  • Siti Fatmah[3][4] (ibu)
Partai politikMasyumi[butuh rujukan]
Pekerjaan
  • Ulama
  • Imam
  • Politikus
KerabatHaji Thamrin (saudara kandung)[3]
Husni Rasyid (saudara kandung)[3]
Fahmi Idris (menantu)
Fahira Idris (cucu)
Fahrina Fahmi Idris (cucu)
Kehidupan religius
AgamaIslam
DenominasiSunni
GerakanMuhammadiyah
Muslim leader
Penghargaan Bintang Mahaputera Utama (1994)[5]

K.H. Hasan Basri (10 Agustus 1920 – 8 November 1998) adalah mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ketiga pada tahun 1985–1998,[1] ada juga yang menyebutkannya menjabat dari tahun 1984–1990.[butuh rujukan] Ia adalah seorang da’i dan pernah menjabat Imam Masjid al-Azhar, Jakarta. Ia juga merupakan penggagas Bank Syariah di Indonesia.[6]

Riwayat

Sejak kecil, Hasan Basri sudah gemar belajar membaca Alquran, serta mempraktikkan ajaran dan ibadah Islam. Kendati ayahnya, Muhammad Darun, sudah meninggal dunia saat Hasan Basri berusia tiga tahun. Sang ibu, Siti Fatmah membesarkannya bersama dua saudaranya. Dia putra kedua dari tiga bersaudara.[butuh rujukan]

Pagi hingga siang, Hasan kecil belajar di Sekolah Rakyat. Sore belajar di sekolah Diniyah Awaliyah Islamiyah (DAI). Di sekolah DAI, dia belajar membaca Alquran, menulis dan membaca tulisan Arab, serta mempraktikkan ajaran dan ibadah Islam.[butuh rujukan]Dia murid cerdas, selalu menjadi yang terbaik. Sehingga dia sangat disayang oleh gurunya yang memiliki nama sama dengan kakeknya, Haji Abdullah. Maka, tatkala dia duduk di kelas tiga, gurunya mempercayainya mengajar di kelas satu dan dua.[butuh rujukan]

Lulus dari Sekolah Rakyat, Hasan Basri meninggalkan desa kelahirannya untuk melanjutkan sekolah di Banjarmasin.[7] Ia melanjut ke Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah di Banjarmasin (1935-1938). Saat Buya Hamka berkunjung ke Banjarmasin. Dia sangat mengagumi ulama Muhammadiyah itu, apalagi setelah melihatnya berceramah. Sejak itu, Hasan bercita-cita menjadi ulama seperti Buya Hamka.[8]

Setamat MTs, dia melanjut ke Sekolah Zu'ama Muhammadiyah di Yogyakarta (1938-1941). Dia menyelesaikan pendidikannya dengan baik. Sesudah tamat, ia pun menikah di usia 21 tahun dengan Nurhani.[9]

Kendati masih terbilang masih sangat muda, dia bersama sang istri, sudah berpikir lebih dewasa dari usianya.[butuh rujukan] Pasangan suami-isteri muda ini mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah di Marabahan, Kalimantan Selatan.[butuh rujukan] Mereka berdualah yang menjadi gurunya. Namun, 1944 madrasah itu ditutup karena situasi perang. Dia sempat mendirikan Persatuan Guru Agama Islam di Kalimantan Selatan.[10]

Selain itu, Hasan Basri juga sering pidato dan khutbah di masjid, serta ceramah di majlis taklim. Hal ini membuatnya sangat dikenal luas di lingkungan masyarakatnya. Hal ini pula yang mendorong Hasan Basri terjun ke gelanggang organisasi dan pergerakan politik.[butuh rujukan] Ia pun aktif dalam partai Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia) yang diikrarkan sebagai satu-satunya partai politik Islam, kala itu. Hasan Basri dan keluarga hijrah ke Jakarta, saat Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) terbentuk, dan dia terpilih menjadi anggota DPR mewakili provinsinya.[butuh rujukan]

Namun, tahun 1960 partai Masyumi dibubarkan pemerintah. Maka, dia sebagai anggota Pimpinan Pusat Partai Masyumi tidak dapat lagi bergerak dalam politik.[butuh rujukan] Gerak politik ulama dan pemimpin Islam dipersempit, terutama setelah DPR-RI hasil pemilu yang pertama tahun 1955 dibubarkan dengan Dekret Presiden Sukarno.[butuh rujukan]

Sebagai ulama dan zu'ama (pemimpin Islam), dia merasa tidak ada lagi organisasi politik yang cocok menyalurkan pemikiran dan pandangan politik yang diyakininya. Maka, ia memutuskan untuk menekuni pelayanan dakwah.[butuh rujukan] Langsung terjun ke tengah-tengah masyarakat, mengawal moral dan akidah umat.[butuh rujukan] Dia pun akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pertama, sampai dia meninggal dunia dan digantikan Prof KH Ali Yafie.[butuh rujukan]

Saat, menjabat Ketua Umum MUI, pemerintah melalui Menteri Keuangan mengeluarkan Pakto (Paket Oktober) 1988, yang mendorong berdirinya bank.[butuh rujukan] Banyak umat Islam yang bertanya kepadanya mengenai bunga bank yang oleh sebagian kalangan dianggap haram. Selaku ketua umum MUI, dia mendengar keluhan umat Islam tersebut.[butuh rujukan] Ia merespon dengan menggelar seminar “Bank Tanpa Bunga” di Hotel Safari Cisarua Agustus 1991 dihadiri para pakar ekonomi, pejabat Bank Indonesia, menteri terkait, serta para ulama. Waktu itu ada tiga pendapat; ada yang menyebutkan bunga bank haram, bunga bank halal dan ada juga yang berpendapat bunga bank syubhat.[butuh rujukan] Lalu, seminar itu merekomendasikan agar KH Hasan Basri, selaku Ketua Umum MUI membawakan masalah itu ke Munas MUI yang diadakan akhir Agustus 1991. Munas MUI itu memutuskan agar MUI mengambil prakarsa mendirikan bank tanpa bunga.[butuh rujukan] Untuk itu, dibentuk kelompok kerja yang diketuai oleh Sekjen MUI waktu itu HS Prodjokusumo. Dilakukan lobi melalui BJ Habibie sampai akhirnya Presiden Soeharto menyetujui didirikannya Bank Muamalat Indonesia (BMI).[butuh rujukan]

Resminya, BMI lahir tanggal 1 November 1991. Pada 3 Nopember 1991, atas prakarsa Presiden Soeharto, dilakukan penghimpunan dana di Istana Bogor. Kemudian setelah semua perangkatnya dilengkapi, BMI beroperasi 1 Mei 1992.[butuh rujukan]

Pendidikan

  • Sekolah Rakyat. dan Diniyah Awaliyah Islamiyah (DAI) Muara Teweh (1928-1935)
  • Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Banjarmasin (1935-1938)
  • Sekolah Zu'ama Muhammadiyah Yogyakarta (1938-1941)

Karier

  • Pendiri Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah di Marabahan, Kalimantan Selatan (1941-1944)
  • Pendiri Persatuan Guru Agama Islam di Kalimantan Selatan
  • Anggota DPR-RI dari partai Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia), 1955
  • Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia
  • Pendiri Bank Muamalat Indonesia (BMI), 1991

Warisan

Untuk mengenang jasa-jasanya, nama Hasan Basri diabadikan menjadi nama jembatan di tempat kelahirannya (Muara Teweh), yaitu Jembatan K.H. Hasan Basri.[11]

Catatan

  1. ↑ Berdasarkan sumber dari situs web resmi Majelis Ulama Indonesia.[1]

Referensi

  1. 1 2 "Sejarah MUI". MUI Digital. Diarsipkan dari asli tanggal 28 November 2021. Diakses tanggal 21 Maret 2025.
  2. 1 2 "KH Hasan Basri". Instagram. makamindo. 16 Juli 2024. Diakses tanggal 19 Maret 2025.
  3. 1 2 3 4 5 6 "Ulama Banjar (70): KH. Hasan Basri". Alif.ID. 16 Desember 2020. Diakses tanggal 19 Maret 2025.
  4. 1 2 M Rusydi Khalid. "Hasan Basri". Ensiklopedia Islam. Diakses tanggal 19 Maret 2025.
  5. ↑ "Daftar Warga Negara Republik Indonesia yang Mendapat Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Tahun 1959 s.d. 2003" (PDF). Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. 10 September 2018. Diakses tanggal 2021-08-12.
  6. ↑ KH Hasan Basri, Penggagas Bank Syariah di Indonesia Diarsipkan 2022-04-13 di Wayback Machine. Republika.co.id. Diakses 20 Desember 2013
  7. ↑ Rahmadi, Abd. Rahman J, Ahmad (2013). Elite Muslim Banjar di Tingkat Nasional (PDF). Banjarmasin: IAIN Antasari Press. hlm. 16. ISBN 978-979-3377-77-3. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2022-12-27. Diakses tanggal 2022-12-27. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  8. ↑ Ibid, hlm. 18
  9. ↑ Ibid, Hlm. 21
  10. ↑ "KH Hasan Basri: Ulama yang Mendunia". Republika Online. 2009-02-26. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-01-16. Diakses tanggal 2023-01-16.
  11. ↑ "Jembatan KH Hasan Basri Tertua di DAS Barito". Borneonews. 14 November 2020, 21:00 (UTC+7). Diakses tanggal 2 April 2025.

Pranala luar

  • Biografi Hasan Basri Diarsipkan 2013-09-04 di Wayback Machine. - tokohindonesia.com, diakses 29 Maret 2014.
Didahului oleh:
Anggota DPA RI
1993 – 1998
Diteruskan oleh:
Didahului oleh:
Anggota Komnas HAM RI
1993 – 1998
Diteruskan oleh:
Didahului oleh:
Syukri Ghozali
Ketua MUI
1984 – 1990
Diteruskan oleh:
Ali Yafie
Didahului oleh:
Anggota DPR RIS, DPRS RI, dan DPR RI
1950 – 1959
Diteruskan oleh:
  • l
  • b
  • s
Ketua Majelis Ulama Indonesia
  • Hamka (1975–1981)
  • Syukri Ghozali (1981–1983)
  • Hasan Basri (1983–1990)
  • Ali Yafie (1990–2000)
  • Sahal Mahfudz (2000–2014)
  • Din Syamsuddin (2014–2015)
  • Ma'ruf Amin (2015–2019)
  • Miftachul Akhyar 2020-2022
  • Anwar Iskandar (2023–)
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • ISNI
  • VIAF
  • GND
  • FAST
  • WorldCat
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Belanda
Lain-lain
  • IdRef

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Riwayat
  2. Pendidikan
  3. Karier
  4. Warisan
  5. Catatan
  6. Referensi
  7. Pranala luar

Artikel Terkait

Daftar Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia

pemimpin tertinggi Majelis Ulama Indonesia

Hamka

ulama, sastrawan, dan politisi Indonesia (1908—1981)

Ma'ruf Amin

Wakil Presiden Indonesia ke-13 (2019–2024)

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026