Harun Al Rasyid atau yang akrab disapa Rasyid adalah birokrat dan politikus berkebangsaan Indonesai asal Nusa Tenggara Barat. Ia pernah Gubernur Nusa Tenggara Barat periode 1998–2003 dan Anggota DPR RI dari 2004 hingga 2013. Ia pernah menjabat sebagai Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan periode 1989–1993.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Harun Al Rasyid | |
|---|---|
![]() | |
| Anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI | |
| Masa jabatan 1 Oktober 2009 – 25 Februari 2013 | |
Pengganti Dahlia | |
| Grup parlemen | Gerindra |
| Anggota Dewan Perwakilan Daerah RI dari Nusa Tenggara Barat | |
| Masa jabatan 1 Oktober 2004 – 1 Oktober 2009 | |
| Gubernur Nusa Tenggara Barat ke-5 | |
| Masa jabatan 1998–2003 | |
| Presiden | |
| Wakil | Syahdan |
| Wakil Gubernur Jakarta Bidang Ekonomi | |
| Masa jabatan 4 November 1997 – 24 Agustus 1998 | |
| Gubernur | Sutiyoso |
| Wali Kota Administratif Jakarta Selatan ke-7 | |
| Masa jabatan 1989–1993 | |
| Gubernur | |
Pendahulu Mochtar Zakaria Pengganti Pardjoko | |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 27 Desember 1942 Bima, Keresidenan Bali dan Lombok, Hindia Belanda |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Partai politik | Gerindra (2008–2013) Hanura (2013–2018) NasDem (2018–) |
| Almamater | Universitas Prof. Dr. Moestopo (Drs.) Universitas Satyagama (M.Si.) |
| Pekerjaan |
|
Harun Al Rasyid atau yang akrab disapa Rasyid (lahir 27 Desember 1942) adalah birokrat dan politikus berkebangsaan Indonesai asal Nusa Tenggara Barat. Ia pernah Gubernur Nusa Tenggara Barat periode 1998–2003 dan Anggota DPR RI dari 2004 hingga 2013.[1] Ia pernah menjabat sebagai Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan periode 1989–1993.[2][3]
Harun Al Rasyid menempuh pendidikan sarjana program Administrasi Negara di Universitas Prof. Dr. Moestopo, dan lulus pada (1979). Kemudian melanjutnya pendidikan Magister Ilmu Pemerintahan Universitas Satyagama (2000)
Ia juga menempul pendidikan nonformal diantaranya pendidikan Militer/MENWA, Pendidikan Non–Degree Univesitas Indonesia (1978), Pendidikan pendalaman masalah Pertanahan dan Keagrariaan (1978), Pendidikan Peningkatan Kewaspadaan Nasional (1982), Sekolah Staf dan Pimpinan Administrasi Nasional/SESPANAS (1991), dan Lembaga Ketahanan Nasional/Lemhannas (1996).
Harun Al Rasyid memulai karier birokratnya sebagai Staff Biro Pemerintahan Pemda Propinsi DKI Jakarta dari 1967 hingga 1968. Kemudian ia menjadi Wakil Camat Tanjung Priok selama 5 tahun (1968–1973). Ia naik jabatan menjadi Camat Tanjung Priok dari 1973 hingga 1978. Setelah itu, ia digeser sebagai Camat Penjaringan dari 1978 hingga 1980.
Tahun 1980 hingga 1981, ia diangkat menjadi Kepala Catatan I Pemerintahan Kotamadya Jakarta Utara. Kemudian menjadi Sekretaris Kota Jakarta Utara (1981–1984), Wakil Wali kota Jakarta Utara (1984–1988)
Ia pindah ke pemerintah provinsi menjadi Kepala Biro Pemerintahan Pemerintah Propinsi DKI Jakarta (1988–1989). Setelahnnya menjadi Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan (1989–1993). Tahun 1993 hingga 1997, ia diangkat menjadi Sekretaris Wilayah Daerah Pemerintah Propinsi DKI Jakarta. Tahun 1997 hingga 1998, ia mendampingi Gubernur Sutiyoso sebagai Wakil Gubernur Bagian Ekonomi dan Keuangan Pemerintah. Tahun 1998, Harun Al Rasyid kembali ke tempat kelahirannya, menjadi Gubernur Nusa Tenggara Barat selama 5 tahun. Ia kemudian dicalonkan kembali sebagai gubernur, namun dikalahkan oleh Lalu Serinata.
Selepas menjadi birokrat, ia kemudian menjadi politikus. Ia terpilih sebagai Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia 2004–2009 perwakilan Nusa Tenggara Barat, dengan perolehan suara sebanyak 256.944 suara.[4] Ia kemudian terpilih sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia 2009–2014 dari Partai Gerakan Indonesia Raya.[5] Harun Al Rasyid kemudian mundur setelah pindah partai ke Partai Hati Nurani Rakyat, karena mencalonkan diri kembali di Pemilihan umum Gubernur Nusa Tenggara Barat 2013.[6]
Pada Pemilihan umum Gubernur Nusa Tenggara Barat 2013, ia berpasangan dengan Lalu Abdul Muhyi Abidin, yang diusung oleh Partai Hanura dan partai nonparlemen. Namun, mereka hanya memperoleh 498.420 suara (21,29%), dikalahkan oleh gubernur petahana Muhammad Zainul Majdi.[7]
| Pilkada | Kandidat | Nomor Urut |
Calon Kepala Daerah |
Calon Wakil Kepala Daerah |
Perolehan suara | ||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Suara | Persen | Hasil | |||||
| 1998 | Gubernur Nusa Tenggara Barat | — | Harun Al Rasyid | Syahdan | |||
| 2003 | — | Harun Al Rasyid | Nanang Samodra | 14 dari 55 | 25,45% | ||
| 2013 | 3 | Harun Al Rasyid | Lalu Abdul Muhyi Abidin | 498.420 | 22,69% | ||
| Pileg | Lembaga legislatif | Dapil | Partai | Perolehan suara | Hasil | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 2004 | Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) | Nusa Tenggara Barat | Independen | 256.944 | ||
| 2009 | Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) | DKI Jakarta III | Gerindra | 19.326[8] | ||
| 2019 | DKI Jakarta I | NasDem | ||||
"Harun Al Rasyid, "Berjuang Jangan Ada Kata Berakhir"" Diarsipkan 2018-11-04 di Wayback Machine.. mataramnews.co.id. Diakses tanggal 4 November 2018, jam 20:40 WITA.
| Jabatan politik | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Warsito |
Gubernur Nusa Tenggara Barat 1998–2003 |
Diteruskan oleh: Lalu Serinata |
| Jabatan pemerintahan | ||
| Didahului oleh: Mochtar Zakaria |
Wali Kota Administratif Jakarta Selatan 1989–1993 |
Diteruskan oleh: Pardjoko |