Geweer M.95, juga dikenal oleh kolektor sebagai Mannlicher Belanda, adalah senapan dinas Angkatan Bersenjata Belanda antara tahun 1895–1940 yang menggantikan Beaumont-Vitali M1871/88 yang sudah usang. Awalnya diproduksi oleh Steyr untuk Belanda, tetapi setelah tahun 1904 produksinya dilisensikan ke pabrik senjata negara di Zaandam, dekat jembatan Hembrug. Meski sering dianggap berbasis Model Mannlicher 1893, senapan ini sebenarnya merupakan modifikasi oleh August Schriever dan komisi senjata Belanda. Sekitar 470.000 pucuk M.95 dikeluarkan oleh Belanda.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Geweer M. 95 | |
|---|---|
Geweer Model 1895 | |
| Jenis | Senapan aksi-baut, senapan dinas |
| Negara asal | |
| Sejarah pemakaian | |
| Masa penggunaan | 1895–1949 |
| Digunakan oleh | Belanda Republik Indonesia Kekaisaran Jepang[1] Jerman Nazi[1] |
| Pada perang | Perang Aceh Intervensi Belanda di Bali (1906) Intervensi Belanda di Bali (1908) Perang Dunia I Perang Dunia II Revolusi Nasional Indonesia |
| Sejarah produksi | |
| Perancang | Otto Schönauer dan Ferdinand Mannlicher |
| Tahun | 1895 |
| Produsen | ŒWG, Artillerie-Inrichtingen |
| Diproduksi | 1895–1940 |
| Jumlah produksi | sekitar 470.000 pucuk |
| Varian | Lihat Varian |
| Spesifikasi | |
| Berat | M.95: 435 kg (959 pon) Karbin.No 4: 337 kg (743 pon) |
| Panjang | M.95: 1.287 mm (50,7 in) Karbin.No 4: 951 mm (37,4 in) |
| Panjang | M.95: 790 mm (31 in) Karbin.No 4: 450 mm (18 in) |
Geweer M.95, juga dikenal oleh kolektor sebagai Mannlicher Belanda (Dutch Mannlicher), adalah senapan dinas Angkatan Bersenjata Belanda antara tahun 1895–1940 yang menggantikan Beaumont-Vitali M1871/88 yang sudah usang.[2][3] Awalnya diproduksi oleh Steyr untuk Belanda, tetapi setelah tahun 1904 produksinya dilisensikan ke pabrik senjata negara di Zaandam, dekat jembatan Hembrug.[4][5] Meski sering dianggap berbasis Model Mannlicher 1893, senapan ini sebenarnya merupakan modifikasi oleh August Schriever dan komisi senjata Belanda.[6][2] Sekitar 470.000 pucuk M.95 dikeluarkan oleh Belanda.
Senapan Belanda dan Rumania memakai peluru bertepi yang sama, sering disebut "Romanian" 6.5×53.5mmR atau "Dutch 6.5" 6.5×53 mmR (juga dikenal sebagai .256 Mannlicher).[7] Dalam dinas militer, peluru M.95 (6.5×53 mmR) dimasukkan lewat en-bloc clip, serupa konsep dengan klip M1 Garand AS. Dengan perakitan pelindung picu/rumah magasin rancangan Ferdinand Mannlicher, saat baut ditarik penuh ke belakang, klip penuh dimasukkan dari atas lewat badan senjata yang terbuka; klip kosong akan jatuh lewat lubang dasar rumah magasin setelah amunisi habis, memungkinkan pengisian cepat saat pertempuran. Klip dapat dikeluarkan paksa ke atas lewat kait pegas di belakang magasin yang dioperasikan oleh tombol tersembunyi di bagian depan pelindung pemicu. Klip pada dasarnya sekali pakai karena amunisi yang dikeluarkan sudah terisi dalam klip dari pabrik.
Pada tahun 1880-an, dua perkembangan penting mengubah dunia persenjataan: munculnya senapan berulang (dengan magasin) dan ditemukannya bubuk tanpa asap. Pada tahun 23 Februari 1886, Menteri Perang Belanda membentuk komisi untuk menilai "masalah senapan", yaitu mengumpulkan informasi tentang sistem senapan berulang. Karena pencarian senapan baru dianggap tujuan jangka panjang, adopsi sementara senapan dengan magasin juga dipertimbangkan. Pada tahun 1888, senapan M1871 Beaumont dimodifikasi dengan magasin Vitali berisi 4 peluru sebagai solusi sementara.

Dalam memilih senapan baru, komisi berpegang pada dua prinsip: senapan harus sudah diadopsi atau dipertimbangkan oleh negara lain, dan fokus penilaian pada laras, baut, dan peluru. Komisi juga mempertimbangkan penggunaan fitur magazine cut-off, agar bisa dipakai sebagai senapan tembakan tunggal seperti Beaumont-Vitali M71/88. Namun pada tahun 1890, fungsi itu dihapus agar senapan menjadi pengisi otomatis murni. Sembilan senapan diuji, termasuk Mannlicher 1886 Austria, senapan Vinci Italia, Mosin-Nagant Belgia, senapan Pieper Belgia, senapan Krag–Jørgensen, senapan Frey Swiss, Gewehr 1888 Jerman, dan Mannlicher hasil modifikasi August Schriever.
Beberapa senapan langsung dieliminasi karena kekurangan amunisi uji, seperti Vinci dan Gewehr 1888. Komisi merekomendasikan pembuatan senapan baru dari kombinasi terbaik, dengan dasar senapan Mannlicher modifikasi Schriever. Namun, perusahaan Nagant kemudian mengajukan versi baru dengan sistem klip pelepas ala Mauser. Kedua model diuji pada akhir tahun 1890; masing-masing produsen menyuplai senapan seharga 155 gulden. Setelah pengujian lebih lanjut, komisi mempersempit pilihan ke tiga senapan: Gewehr 1888, Mannlicher modifikasi Schriever, dan Nagant. Setelah amunisi untuk Gewehr 1888 tersedia, senapan tersebut diuji lalu dieliminasi karena berpotensi menyebabkan double-feed berbahaya.

Awalnya komisi berfokus pada kaliber 7,5–8 mm, tetapi versi Schriever dengan laras Italia berkaliber 6,5 mm juga diuji. Karena performanya setara tetapi lebih ringan, kaliber 6,5 mm dipilih. Sistem pengisian senapan Mannlicher juga disukai, sehingga pilihan hampir final – Mannlicher modifikasi Schriever menjadi kandidat utama.
Pada bulan Maret 1892, rancangan kontrak 100 senapan diajukan ke Menteri Perang. Setelah perubahan kecil pada popor dan bagian laras, senapan resmi ditetapkan sebagai Geweer M.95 pada 4 Desember 1895.[6]
Senapan ini menjadi senjata standar Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) hingga invasi Jepang.[8] M.95 kemudian digunakan kedua pihak selama Revolusi Nasional Indonesia.[9][10] Setelah perang, senapan yang tersisa diserahkan KNIL ke Tentara Nasional Indonesia (TNI).[11] Pada tahun 1950-an, TNI mengubah kaliber M.95 menjadi .303 British[12] dan menambahkan rem laras pada versi karabin.[9][10] M.95 tetap digunakan hingga setidaknya tahun 1955 oleh kepolisian di Suriname.
Senapan ini memiliki sembilan varian, sebagian besar berupa karabin yang hanya berbeda pada penempatan swivel tali senjata. Varian-varian tersebut meliputi:


Sekitar tahun 1930, model-model baru (Nieuw Model) dari No.1, No.2, No.3, dan No.4 diperkenalkan.
Pada tahun 1936, model karabin No.5 yang lebih pendek diperkenalkan.[15] Senjata ini merupakan Geweer M.95 yang dipotong menjadi ukuran karabin. 9.500 unit pertama diproduksi untuk artileri lapangan dan artileri antipesawat. Sebanyak 35.500 unit diproduksi ulang dalam
Setelah Jerman menduduki Belanda, senjata rampasannya (beutewaffen) dikatalogkan untuk digunakan Jerman. G adalah singkatan dari Gewehr ("Senapan"), Gr. G adalah singkatan dari Graben-Gewehr ("Senapan Parit"), K adalah singkatan dari Karabiner ("Karabin"), dan (h) adalah singkatan dari holländisch ("Belanda").
Karabin No.2 tidak diklasifikasikan karena hanya sedikit, jika ada, yang berhasil ditangkap. Karabin No.5 diklasifikasikan sebagai Geweer M95.
Karena dimensi yang sangat mirip, selongsong peluru dengan primer Boxer bisa dibuat dengan mengubah ukuran dan memangkas selongsong kaliber .303 British[19] atau .30-40 Krag (.30-40 US)[20], membentuk ulang selongsong kuningan yang telah diubah tersebut di dalam ruang peluru 6,5x53R. Pengubahan ruang peluru senapan asli dengan mengisi ulang ruang laras dengan reamer ruang peluru 6.5×57R (lihat 6,5 × 57 mm Mauser)[21] juga pernah dilakukan, tetapi panjang keseluruhan selongsong peluru 6,5×53mmR harus dipertahankan dengan cara proyektilproyektil lebih dalam agar pas di magasin aslinya.