Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Dewa-dewi Mesir Kuno

Dewa-dewi Mesir Kuno adalah dewa dan dewi yang dipuja di Mesir Kuno. Keyakinan dan ritual yang melingkupi para dewa ini membentuk inti dari agama Mesir Kuno, yang muncul suatu waktu pada masa prasejarah. Para dewa merepresentasikan kekuatan dan fenomena alam, dan orang Mesir menyokong serta menenangkan mereka melalui persembahan dan ritual agar kekuatan-kekuatan ini terus berfungsi sesuai dengan Maat, atau tatanan ilahi. Setelah berdirinya negara Mesir sekitar 3100 SM, wewenang untuk melaksanakan tugas-tugas ini dikendalikan oleh firaun, yang mengklaim diri sebagai wakil para dewa dan mengelola kuil-kuil tempat ritual tersebut dilaksanakan.

Wikipedia article
Diperbarui 12 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Dewa-dewi Mesir Kuno
Relief lukisan seorang pria duduk berkulit hijau dengan pakaian ketat, seorang pria berkepala jakal, dan seorang pria berkepala elang
Dewa Osiris, Anubis, dan Horus di Makam Horemheb (KV57) di Lembah Para Raja
Bagian dari seri
Agama Mesir Kuno
Eye of Horus
Kepercayaan
  • Alam baka
  • Duat
  • Ma'at
  • Mitologi
  • Numerologi
  • Filsafat
  • Jiwa
Praktik
  • Pemakaman
  • Formula pelayanan
  • Kuil
Dewa-Dewi
  • Amun
  • Amunet
  • Anhur
  • Anubis
  • Anuket
  • Apep
  • Apis
  • Aten
  • Atum
  • Bastet
  • Bat
  • Bes
  • Empat putra Horus
  • Geb
  • Hapi
  • Hathor
  • Heka
  • Hemsut
  • Heqet
  • Horus
  • Isis
  • Kek
  • Khepri
  • Khnum
  • Khonsu
  • Maahes
  • Ma'at
  • Mafdet
  • Medjed
  • Mehit
  • Menhit
  • Meretseger
  • Meskhenet
  • Monthu
  • Min
  • Mnevis
  • Mut
  • Neith
  • Nekhbet
  • Nephthys
  • Nu
  • Nut
  • Osiris
  • Pakhet
  • Ptah
  • Qebui
  • Ra
  • Ra-Horakhty
  • Raet-Tawy
  • Reshep
  • Satis
  • Sekhmet
  • Seker
  • Selket
  • Sobek
  • Sopdu
  • Set
  • Seshat
  • Shu
  • Tatenen
  • Taweret
  • Tefnut
  • Thoth
  • Wadjet
  • Wadj-wer
  • Wepwawet
  • Wosret
Teks
  • Teks Piramida
  • Teks Peti Mati
  • Kitab Kematian
  • Amduat
  • Kitab Pernapasan
  • Kitab Gua
  • Kitab Bumi
  • Kitab Gerbang
Agama-agama terkait
  • Atenisme
  • Hermetisisme
  • Kemetisisme
  • l
  • b
  • s

Dewa-dewi Mesir Kuno adalah dewa dan dewi yang dipuja di Mesir Kuno. Keyakinan dan ritual yang melingkupi para dewa ini membentuk inti dari agama Mesir Kuno, yang muncul suatu waktu pada masa prasejarah. Para dewa merepresentasikan kekuatan dan fenomena alam, dan orang Mesir menyokong serta menenangkan mereka melalui persembahan dan ritual agar kekuatan-kekuatan ini terus berfungsi sesuai dengan Maat, atau tatanan ilahi. Setelah berdirinya negara Mesir sekitar 3100 SM, wewenang untuk melaksanakan tugas-tugas ini dikendalikan oleh firaun, yang mengklaim diri sebagai wakil para dewa dan mengelola kuil-kuil tempat ritual tersebut dilaksanakan.

Karakteristik para dewa yang kompleks diekspresikan dalam mitos-mitos dan dalam hubungan yang pelik antar-dewa: ikatan keluarga, kelompok dan hierarki yang longgar, serta penggabungan dewa-dewa yang terpisah menjadi satu entitas. Penampilan dewa yang beragam dalam seni—sebagai hewan, manusia, objek, dan kombinasi dari berbagai bentuk—juga menyiratkan, melalui simbolisme, ciri-ciri hakiki mereka.

Pada era yang berbeda, berbagai dewa dikatakan memegang posisi tertinggi dalam masyarakat dewata, termasuk dewa surya Ra, dewa misteri Amun, dan dewi ibu Isis. Dewa tertinggi biasanya dikaitkan dengan penciptaan dunia dan sering dihubungkan dengan kekuatan matahari yang memberi kehidupan. Beberapa sarjana berpendapat, sebagian didasarkan pada tulisan-tulisan Mesir, bahwa orang Mesir lambat laun mengakui satu kekuatan ilahi tunggal yang berada di balik segala sesuatu dan hadir dalam semua dewa lainnya. Namun, mereka tidak pernah meninggalkan pandangan dunia politeistik asli mereka, kecuali mungkin selama era Atenisme pada abad ke-14 SM, ketika agama resmi berfokus secara eksklusif pada dewa surya yang abstrak, Aten.

Para dewa diasumsikan hadir di seluruh penjuru dunia, mampu memengaruhi peristiwa alam dan jalan hidup manusia. Orang-orang berinteraksi dengan mereka di kuil-kuil dan tempat suci tidak resmi, baik untuk alasan pribadi maupun untuk tujuan yang lebih besar dalam ritus kenegaraan. Orang Mesir berdoa memohon bantuan ilahi, menggunakan ritual untuk mendesak para dewa agar bertindak, dan memanggil mereka untuk memohon petunjuk. Hubungan manusia dengan para dewa mereka merupakan bagian fundamental dari masyarakat Mesir.

Definisi

"Dewa" dalam hieroglif
R8Z1A40

atau
R8G7

atau
R8

nṯr
"dewa"[1]
R8D21
X1
I12

nṯr.t
"dewi"[1]

Makhluk-makhluk dalam tradisi Mesir Kuno yang dapat dikategorikan sebagai dewa sulit untuk dihitung. Teks-teks Mesir mencantumkan nama banyak dewa yang hakikatnya tidak diketahui, dan membuat referensi yang samar serta tidak langsung kepada dewa-dewa lain yang bahkan tidak disebutkan namanya.[2] Ahli Mesir Kuno James P. Allen memperkirakan bahwa lebih dari 1.400 dewa disebutkan dalam teks-teks Mesir,[3] sedangkan rekannya Christian Leitz mengatakan ada "ribuan demi ribuan" dewa.[4]

Istilah bahasa Mesir untuk makhluk-makhluk ini adalah nṯr, "dewa", dan bentuk femininnya nṯrt, "dewi".[5] Para ahli telah mencoba untuk memahami hakikat asli para dewa dengan mengajukan etimologi untuk kata-kata ini, tetapi tidak satu pun dari saran tersebut yang diterima, dan asal-usul istilah-istilah itu tetap tidak jelas. Hieroglif yang digunakan sebagai ideogram dan determinatif dalam penulisan kata-kata ini menunjukkan beberapa sifat yang dihubungkan orang Mesir dengan keilahian.[6] Tanda yang paling umum adalah bendera yang berkibar dari tiang. Objek serupa ditempatkan di pintu masuk kuil, merepresentasikan kehadiran dewa, sepanjang sejarah Mesir Kuno. Hieroglif lain semacam itu termasuk elang, yang mengingatkan pada beberapa dewa awal yang digambarkan sebagai elang, dan dewa atau dewi yang sedang duduk.[7] Bentuk feminin juga dapat ditulis dengan telur sebagai determinatif, menghubungkan dewi dengan penciptaan dan kelahiran, atau dengan ular kobra, yang mencerminkan penggunaan kobra untuk menggambarkan banyak dewi.[6]

Orang Mesir membedakan nṯrw, "dewa-dewa", dari rmṯ, "orang", tetapi makna istilah Mesir dan Inggris tersebut tidak cocok secara sempurna. Istilah nṯr mungkin berlaku untuk makhluk apa pun yang dalam beberapa hal berada di luar lingkup kehidupan sehari-hari.[8] Manusia yang telah meninggal disebut nṯr karena mereka dianggap seperti para dewa,[9] sedangkan istilah tersebut jarang diterapkan pada banyak makhluk supernatural Mesir yang lebih rendah, yang sering disebut "demit" oleh para ahli modern.[4] Seni religius Mesir juga menggambarkan tempat, objek, dan konsep dalam wujud manusia. Ide-ide yang dipersonifikasikan ini berkisar dari dewa-dewa yang penting dalam mitos dan ritual hingga makhluk-makhluk yang tidak jelas, yang hanya disebutkan satu atau dua kali, yang mungkin tidak lebih dari sekadar metafora.[10]

Menghadapi perbedaan yang kabur antara dewa dan makhluk lain ini, para ahli telah mengusulkan berbagai definisi "dewa". Salah satu definisi yang diterima secara luas,[4] yang disarankan oleh Jan Assmann, menyatakan bahwa dewa memiliki kultus, terlibat dalam beberapa aspek alam semesta, dan dijelaskan dalam mitologi atau bentuk lain dari tradisi tertulis.[11] Menurut definisi yang berbeda oleh Dimitri Meeks, nṯr berlaku untuk makhluk apa pun yang menjadi fokus ritual. Dari perspektif ini, "dewa-dewa" mencakup raja, yang disebut dewa setelah ritus penobatannya, dan jiwa-jiwa yang telah meninggal, yang memasuki alam ilahi melalui upacara pemakaman. Demikian pula, keunggulan dewa-dewa agung dipertahankan oleh devosi ritual yang dilakukan untuk mereka di seluruh Mesir.[12]

Asal-usul

Narmer, seorang penguasa Pradinasti, disertai oleh orang-orang yang membawa panji-panji berbagai dewa lokal

Bukti tertulis pertama tentang dewa-dewa di Mesir berasal dari Periode Dinasti Awal (ca 3100–2686 SM).[13] Dewa-dewa pastilah muncul suatu waktu pada Periode Pradinasti sebelumnya (sebelum 3100 SM) dan berkembang dari kepercayaan religius prasejarah. Karya seni Pradinasti menggambarkan berbagai figur hewan dan manusia. Beberapa gambar ini, seperti bintang dan sapi, mengingatkan pada fitur-fitur penting agama Mesir di kemudian hari, namun dalam banyak kasus, tidak ada cukup bukti untuk mengatakan apakah gambar-gambar tersebut berhubungan dengan dewa. Seiring masyarakat Mesir tumbuh semakin canggih, tanda-tanda aktivitas religius yang lebih jelas pun muncul.[14] Kuil-kuil paling awal yang diketahui muncul pada abad-abad terakhir era pradinasti,[15] bersama dengan gambar-gambar yang menyerupai ikonografi dewa-dewa yang dikenal: elang yang merepresentasikan Horus dan beberapa dewa lain, panah silang yang melambangkan Neith,[16] dan "hewan Set" yang penuh teka-teki yang merepresentasikan Set.[17]

Patung batu kasar seekor babun
Patung dewa babun Hedj-Wer, bertuliskan nama raja Narmer

Banyak ahli Mesir Kuno dan antropolog telah mengajukan teori tentang bagaimana dewa-dewa berkembang pada masa-masa awal ini.[18] Gustave Jéquier, misalnya, berpikir bahwa orang Mesir pertama-tama memuja fetis primitif, kemudian dewa dalam wujud hewan, dan akhirnya dewa dalam wujud manusia, sedangkan Henri Frankfort berpendapat bahwa dewa-dewa pasti telah dibayangkan dalam wujud manusia sejak awal.[16] Beberapa teori ini sekarang dianggap terlalu sederhana,[19] dan teori-teori yang lebih baru, seperti hipotesis Siegfried Morenz bahwa dewa-dewa muncul ketika manusia mulai membedakan diri mereka dari lingkungan mereka, dan untuk 'mempersonifikasikan' ide-ide yang berkaitan dengan dewa. Teori-teori semacam itu sulit dibuktikan.[16]

Mesir Pradinasti awalnya terdiri dari desa-desa kecil yang independen.[20] Karena banyak dewa di kemudian hari sangat terikat pada kota dan wilayah tertentu, banyak ahli menyarankan bahwa panteon terbentuk ketika komunitas-komunitas yang berbeda bergabung menjadi negara-negara yang lebih besar, menyebarkan dan membaurkan pemujaan terhadap dewa-dewa lokal yang lama. Ahli lain berpendapat bahwa dewa-dewa pradinasti yang paling penting, seperti elemen budaya Mesir lainnya, hadir di seluruh negeri terlepas dari perpecahan politiknya.[21]

Langkah terakhir dalam pembentukan agama Mesir adalah penyatuan Mesir, di mana penguasa dari Mesir Hulu menjadikan diri mereka firaun atas seluruh negeri.[14] Raja-raja keramat ini dan bawahan mereka mengambil hak untuk berinteraksi dengan para dewa,[22] dan kerajaan menjadi fokus pemersatu agama.[14]

Dewa-dewa baru terus bermunculan setelah transformasi ini. Beberapa dewa penting seperti Isis dan Amun tidak diketahui telah muncul hingga Kerajaan Lama (ca 2686–2181 SM).[23] Tempat dan konsep dapat mengilhami penciptaan dewa untuk merepresentasikannya,[24] dan dewa-dewa terkadang diciptakan untuk menjadi pasangan lawan jenis bagi dewa atau dewi yang sudah mapan.[25] Raja-raja dikatakan bersifat ilahi, meskipun hanya sedikit yang terus dipuja lama setelah kematian mereka. Beberapa manusia non-kerajaan dikatakan mendapat kemurahan hati para dewa dan dihormati karenanya.[26] Penghormatan ini biasanya berumur pendek, tetapi arsitek istana Imhotep dan Amenhotep putra Hapu dianggap sebagai dewa berabad-abad setelah masa hidup mereka,[27] begitu pula beberapa pejabat lainnya.[28]

Melalui kontak dengan peradaban tetangga, orang Mesir juga mengadopsi dewa-dewa asing.[29] Dewi Miket, yang kadang-kadang muncul dalam teks-teks Mesir mulai dari Kerajaan Pertengahan (ca 2055–1650 SM), mungkin diadopsi dari agama Nubia di selatan, dan dewa domba Nubia mungkin telah memengaruhi ikonografi Amun.[30] Selama Kerajaan Baru (ca 1550–1070 SM), beberapa dewa dari agama Kanaan dimasukkan ke dalam agama Mesir, termasuk Baal, Resheph, dan Anat.[31] Pada masa Yunani dan Romawi, dari 332 SM hingga abad-abad awal Masehi, dewa-dewa dari seluruh dunia Mediterania dipuja di Mesir, namun dewa-dewa pribumi tetap ada, dan mereka sering menyerap kultus para pendatang baru ini ke dalam pemujaan mereka sendiri.[32]

Karakteristik

Pengetahuan modern tentang kepercayaan Mesir mengenai para dewa sebagian besar diambil dari tulisan-tulisan keagamaan yang dihasilkan oleh para juru tulis dan imam bangsa tersebut. Orang-orang ini merupakan kaum elit masyarakat Mesir dan sangat berbeda dari masyarakat umum, yang sebagian besar buta huruf. Hanya sedikit yang diketahui mengenai sejauh mana populasi yang lebih luas ini mengetahui atau memahami gagasan-gagasan kompleks yang dikembangkan oleh kaum elit tersebut.[33] Persepsi rakyat jelata tentang keilahian mungkin berbeda dari persepsi para imam. Rakyat, misalnya, mungkin memperlakukan pernyataan simbolis agama tentang para dewa dan tindakan mereka sebagai kebenaran harfiah.[34] Namun secara keseluruhan, sedikit yang diketahui tentang kepercayaan agama populer masih selaras dengan tradisi elit. Kedua tradisi tersebut membentuk visi yang sebagian besar kohesif tentang para dewa dan sifat mereka.[35]

Peran

Sebagian besar dewa Mesir merepresentasikan fenomena alam atau fenomena sosial. Para dewa umumnya dikatakan bersifat imanen dalam fenomena-fenomena ini—yakni hadir di dalam alam.[36] Jenis fenomena yang mereka wakili meliputi tempat dan objek fisik serta konsep dan kekuatan abstrak.[37] Dewa Shu adalah pendewaan dari seluruh udara di dunia; dewi Meretseger mengawasi wilayah bumi yang terbatas, yakni Nekropolis Thebes; dan dewa Sia mempersonifikasikan gagasan abstrak tentang persepsi.[38] Dewa-dewa utama sering kali terlibat dalam beberapa jenis fenomena. Sebagai contoh, Khnum adalah dewa Pulau Elephantine di tengah sungai Nil, sungai yang sangat penting bagi peradaban Mesir. Ia dianggap berjasa menghasilkan banjir Nil tahunan yang menyuburkan lahan pertanian negeri itu. Mungkin sebagai perkembangan dari fungsi pemberi kehidupan ini, ia dikatakan menciptakan semua makhluk hidup, membentuk tubuh mereka di atas roda pengrajin keramik.[39] Para dewa dapat berbagi peran yang sama di alam; Ra, Atum, Khepri, Horus, dan dewa-dewa lainnya bertindak sebagai dewa matahari.[40] Terlepas dari fungsinya yang beragam, sebagian besar dewa memiliki peran menyeluruh yang sama: memelihara maat, tatanan universal yang merupakan prinsip utama agama Mesir dan dipersonifikasikan sebagai seorang dewi.[41] Namun, beberapa dewa merepresentasikan gangguan terhadap maat. Yang paling menonjol, Apep adalah kekuatan kekacauan, yang terus-menerus mengancam untuk memusnahkan tatanan alam semesta, dan Set adalah anggota masyarakat dewata yang ambivalen yang dapat melawan ketidakteraturan sekaligus memicunya.[42]

Tidak semua aspek eksistensi dipandang sebagai dewa. Meskipun banyak dewa terhubung dengan Sungai Nil, tidak ada dewa yang mempersonifikasikannya dengan cara yang sama seperti Ra mempersonifikasikan matahari.[43] Fenomena yang berumur pendek, seperti pelangi atau gerhana, tidak diwakili oleh dewa;[44] begitu pula api, air, atau banyak komponen dunia lainnya.[45]

Peran setiap dewa bersifat cair, dan setiap dewa dapat memperluas sifatnya untuk mengambil karakteristik baru. Akibatnya, peran para dewa sulit untuk dikategorikan atau didefinisikan. Terlepas dari keluwesan ini, para dewa memiliki kemampuan dan lingkungan pengaruh yang terbatas. Bahkan dewa pencipta pun tidak dapat menjangkau melampaui batas-batas kosmos yang ia ciptakan, dan bahkan Isis, meskipun ia dikatakan sebagai yang terpandai dari para dewa, tidaklah mahatahu.[46] Richard H. Wilkinson, bagaimanapun, berpendapat bahwa beberapa teks dari akhir Kerajaan Baru menunjukkan bahwa ketika kepercayaan tentang dewa Amun berevolusi, ia dianggap mendekati kemahatahuan dan kemahahadiran, serta melampaui batas-batas dunia dengan cara yang tidak dilakukan oleh dewa-dewa lain.[47]

Patung kecil Taweret. Antara 1292 dan 1190 SM, Kerajaan Baru. Museo Egizio, Turin.

Dewa-dewi dengan wilayah kekuasaan yang paling terbatas dan khusus sering disebut "dewa minor" atau "demon" dalam tulisan modern, meskipun tidak ada definisi yang pasti untuk istilah-istilah ini.[48] Beberapa demon adalah penjaga tempat-tempat tertentu, terutama di Duat, alam orang mati. Yang lain berkeliaran di dunia manusia dan Duat, baik sebagai pelayan dan utusan para dewa yang lebih besar atau sebagai roh kelana yang menyebabkan penyakit atau kemalangan lain di antara manusia.[49] Posisi demon dalam hierarki ilahi tidaklah tetap. Dewa pelindung Bes dan Taweret awalnya memiliki peran kecil seperti demon, tetapi seiring berjalannya waktu mereka dianggap memiliki pengaruh besar.[48] Makhluk yang paling ditakuti di Duat dianggap menjijikkan sekaligus berbahaya bagi manusia.[50] Sepanjang sejarah Mesir, mereka kemudian dianggap sebagai anggota masyarakat dewata yang secara fundamental lebih rendah[51] dan mewakili kebalikan dari dewa-dewa utama yang bermanfaat dan memberi kehidupan.[50] Namun, bahkan dewa yang paling dipuja pun terkadang bisa membalas dendam pada manusia atau satu sama lain, menampilkan sisi karakter mereka yang menyerupai demon dan mengaburkan batas antara demon dan dewa.[52]

Perilaku

Perilaku dewata diyakini mengatur seluruh alam.[53] Kecuali beberapa dewa yang mengganggu tatanan ilahi,[42] tindakan para dewa memelihara maat serta menciptakan dan menopang semua makhluk hidup.[41] Mereka melakukan pekerjaan ini menggunakan kekuatan yang disebut orang Mesir heka, istilah yang biasanya diterjemahkan sebagai "sihir". Heka adalah kekuatan fundamental yang digunakan dewa pencipta untuk membentuk dunia dan para dewa itu sendiri.[54]

Fresko seorang wanita dengan bintang-bintang di tubuhnya dan matahari merah di dekat mulutnya
Dewi langit Nut menelan matahari, yang bergerak melalui tubuhnya pada malam hari untuk dilahirkan kembali saat fajar.

Tindakan para dewa di masa kini dijelaskan dan dipuji dalam himne dan teks pemakaman.[55] Sebaliknya, mitologi terutama menyangkut tindakan para dewa selama masa lalu yang dibayangkan secara samar di mana para dewa hadir di bumi dan berinteraksi langsung dengan manusia. Peristiwa-peristiwa di masa lalu ini menetapkan pola bagi peristiwa-peristiwa di masa kini. Kejadian berkala dikaitkan dengan peristiwa di masa lalu mitis; suksesi setiap firaun baru, misalnya, melakonkan ulang naik takhtanya Horus menggantikan ayahnya, Osiris.[56]

Mitos adalah metafora bagi tindakan para dewa, yang tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh manusia. Mitos mengandung gagasan yang tampaknya bertentangan, masing-masing mengekspresikan perspektif tertentu tentang peristiwa ilahi. Kontradiksi dalam mitos adalah bagian dari pendekatan orang Mesir yang memiliki banyak sisi terhadap kepercayaan agama—apa yang disebut Henri Frankfort sebagai "multiplisitas pendekatan" untuk memahami para dewa.[57] Dalam mitos, para dewa berperilaku sangat mirip manusia. Mereka merasakan emosi; mereka bisa makan, minum, berkelahi, menangis, sakit, dan mati.[58] Beberapa memiliki ciri karakter yang unik.[59] Set bersifat agresif dan impulsif, dan Thoth, pelindung tulisan dan pengetahuan, cenderung berpidato panjang lebar. Namun secara keseluruhan, para dewa lebih mirip arketipe daripada karakter yang digambarkan dengan mendalam.[60] Perilaku mitis para dewa tidak konsisten, dan pikiran serta motivasi mereka jarang disebutkan.[61] Sebagian besar mitos tidak memiliki karakter dan plot yang sangat berkembang, karena makna simbolisnya lebih penting daripada penceritaan yang rumit.[62] Karakter bahkan dapat dipertukarkan. Versi mitos yang berbeda dapat menggambarkan dewa yang berbeda memainkan peran yang sama, seperti dalam mitos Mata Ra, aspek feminin dari dewa matahari yang diwakili oleh banyak dewi.[63]

Tindakan ilahiah pertama adalah penciptaan kosmos, yang dijelaskan dalam beberapa mitos penciptaan. Mitos-mitos ini berfokus pada dewa yang berbeda, yang masing-masing dapat bertindak sebagai dewa pencipta.[64] Delapan dewa Ogdoad, yang mewakili kekacauan yang mendahului penciptaan, melahirkan dewa matahari, yang menegakkan tatanan di dunia yang baru terbentuk; Ptah, yang mewujudkan pemikiran dan kreativitas, memberikan bentuk pada segala sesuatu dengan membayangkan dan menamainya;[65] Atum menghasilkan segala sesuatu sebagai emanasi dari dirinya sendiri;[3] dan Amun, menurut teologi yang dipromosikan oleh keimamannya, mendahului dan menciptakan dewa-dewa pencipta lainnya.[66] Versi-versi peristiwa penciptaan ini dan yang lainnya tidak dipandang sebagai hal yang bertentangan. Masing-masing memberikan perspektif yang berbeda tentang proses kompleks di mana alam semesta yang terorganisir dan banyak dewanya muncul dari kekacauan yang tak terbedakan.[67] Periode setelah penciptaan, di mana serangkaian dewa memerintah sebagai raja atas masyarakat dewata, adalah latar bagi sebagian besar mitos. Para dewa berjuang melawan kekuatan kekacauan dan di antara mereka sendiri sebelum menarik diri dari dunia manusia dan menempatkan raja-raja historis Mesir untuk memerintah menggantikan mereka.[68]

Tema yang berulang dalam mitos-mitos ini adalah upaya para dewa untuk memelihara maat melawan kekuatan ketidakteraturan. Mereka bertempur dalam pertempuran sengit dengan kekuatan kekacauan pada awal penciptaan. Ra dan Apep, yang saling bertarung setiap malam, melanjutkan perjuangan ini hingga masa kini.[69] Tema menonjol lainnya adalah kematian dan kebangkitan para dewa. Contoh paling jelas di mana sesosok dewa mati adalah mitos pembunuhan Osiris, di mana dewa tersebut dibangkitkan sebagai penguasa Duat.[70][Note 1] Dewa matahari juga dikatakan menjadi tua selama perjalanan hariannya melintasi langit, tenggelam ke dalam Duat pada malam hari, dan muncul sebagai anak kecil saat fajar. Dalam prosesnya, ia bersentuhan dengan air peremajaan dari Nun, kekacauan primordial. Teks pemakaman yang menggambarkan perjalanan Ra melalui Duat juga menunjukkan mayat dewa-dewa yang dihidupkan bersamanya. Alih-alih abadi tanpa perubahan, para dewa secara berkala mati dan dilahirkan kembali dengan mengulangi peristiwa penciptaan, sehingga memperbarui seluruh dunia.[71] Meskipun demikian, siklus ini selalu mungkin terganggu dan kekacauan dapat kembali. Beberapa teks Mesir yang kurang dipahami bahkan menyiratkan bahwa malapetaka ini ditakdirkan untuk terjadi—bahwa dewa pencipta suatu hari nanti akan membubarkan tatanan dunia, hanya menyisakan dirinya sendiri dan Osiris di tengah kekacauan primordial.[72]

Lokasi

Relief memperlihatkan empat orang dengan berbagai set hieroglif di kepala mereka
Dewa-dewa yang mempersonifikasikan provinsi-provinsi Mesir

Dewa-dewa dihubungkan dengan wilayah tertentu di alam semesta. Dalam tradisi Mesir, dunia mencakup bumi, langit, dan dunia bawah. Mengelilinginya adalah kegelapan tanpa bentuk yang ada sebelum penciptaan.[73] Para dewa secara umum dikatakan berdiam di langit, meskipun dewa-dewa yang perannya terkait dengan bagian lain dari alam semesta dikatakan tinggal di tempat-tempat tersebut. Sebagian besar peristiwa mitologi, yang berlatar waktu sebelum para dewa menarik diri dari alam manusia, terjadi di lingkungan duniawi. Para dewa di sana terkadang berinteraksi dengan mereka yang ada di langit. Dunia bawah, sebaliknya, diperlakukan sebagai tempat yang terpencil dan tidak dapat diakses, dan para dewa yang tinggal di sana mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan mereka yang berada di dunia orang hidup.[74] Ruang di luar kosmos juga dikatakan sangat jauh. Ruang itu juga dihuni oleh dewa-dewa, beberapa di antaranya memusuhi dan beberapa lainnya bermanfaat bagi dewa-dewa lain dan dunia mereka yang tertib.[75]

Pada masa setelah mitos, sebagian besar dewa dikatakan berada di langit atau hadir secara tak kasat mata di dalam dunia. Kuil adalah sarana utama kontak mereka dengan umat manusia. Setiap hari, diyakini, para dewa berpindah dari alam ilahi ke kuil-kuil mereka, rumah mereka di dunia manusia. Di sana mereka mendiami citra kultus, patung-patung yang menggambarkan dewa dan memungkinkan manusia berinteraksi dengan mereka dalam ritual kuil. Perpindahan antar-alam ini terkadang digambarkan sebagai perjalanan antara langit dan bumi. Karena kuil adalah titik fokus kota-kota Mesir, dewa di kuil utama sebuah kota adalah dewa pelindung bagi kota tersebut dan wilayah sekitarnya.[76] Lingkungan pengaruh dewa-dewa di bumi berpusat pada kota dan wilayah yang mereka pimpin.[73] Banyak dewa memiliki lebih dari satu pusat kultus dan ikatan lokal mereka berubah seiring waktu. Mereka dapat menetapkan diri di kota-kota baru, atau jangkauan pengaruh mereka dapat menyusut. Oleh karena itu, pusat kultus utama dewa tertentu pada masa historis belum tentu merupakan tempat asalnya.[77] Pengaruh politik sebuah kota dapat memengaruhi pentingnya dewa pelindungnya. Ketika raja-raja dari Thebes mengambil alih kendali negara pada awal Kerajaan Pertengahan (ca 2055–1650 SM), mereka mengangkat dewa-dewa pelindung Thebes—pertama dewa perang Montu dan kemudian Amun—ke tingkat keunggulan nasional.[78]

Nama dan julukan

Dalam kepercayaan Mesir, nama mengekspresikan sifat dasar dari hal-hal yang dirujuknya. Sesuai dengan kepercayaan ini, nama-nama dewa sering kali berkaitan dengan peran atau asal-usul mereka. Nama dewi predator Sekhmet berarti "yang kuat", nama dewa misterius Amun berarti "yang tersembunyi", dan nama Nekhbet, yang dipuja di kota Nekheb, berarti "dia yang dari Nekheb". Banyak nama lain tidak memiliki arti yang pasti, bahkan ketika dewa yang menyandangnya terikat erat pada satu peran tunggal. Nama dewi langit Nut dan dewa bumi Geb tidak menyerupai istilah Mesir untuk langit dan bumi.[79]

Faksimili vinyet dari Papirus Ani, menggambarkan Seker-Osiris berdiri di sebuah kuil.

Orang Mesir juga merancang etimologi palsu yang memberikan lebih banyak makna pada nama-nama ilahi.[79] Sebuah bagian dalam Teks Peti Mati menerjemahkan nama dewa pemakaman Seker sebagai sk r, yang berarti "pembersihan mulut", untuk menghubungkan namanya dengan perannya dalam ritual Pembukaan Mulut,[80] sementara satu bagian dalam Teks Piramida mengatakan nama itu didasarkan pada kata-kata yang diteriakkan oleh Osiris pada saat tertekan, menghubungkan Sokar dengan dewa pemakaman yang paling penting tersebut.[81]

Para dewa diyakini memiliki banyak nama. Di antaranya adalah nama-nama rahasia yang menyampaikan sifat sejati mereka secara lebih mendalam daripada yang lain. Mengetahui nama sejati seorang dewa berarti memiliki kekuasaan atasnya. Pentingnya nama ditunjukkan oleh mitos di mana Isis meracuni dewa tertinggi Ra dan menolak menyembuhkannya kecuali dia mengungkapkan nama rahasianya kepadanya. Setelah mengetahui nama itu, dia memberitahukannya kepada putranya, Horus, dan dengan mempelajarinya mereka memperoleh pengetahuan dan kekuatan yang lebih besar.[82]

Selain nama mereka, para dewa diberi julukan, seperti "pemilik kemegahan", "penguasa Abydos", atau "tuan langit", yang menggambarkan beberapa aspek peran atau pemujaan mereka. Karena peran para dewa yang beragam dan tumpang tindih, dewa-dewa dapat memiliki banyak julukan—dengan dewa-dewa yang lebih penting mengumpulkan lebih banyak gelar—dan julukan yang sama dapat berlaku untuk banyak dewa.[83] Beberapa julukan akhirnya menjadi dewa yang terpisah,[84] seperti halnya Werethekau, sebuah julukan yang diterapkan pada beberapa dewi yang berarti "penyihir agung", yang kemudian diperlakukan sebagai dewi yang independen.[85] Deretan nama dan gelar ilahi mengekspresikan sifat para dewa yang beraneka ragam.[86]

Gender dan seksualitas

Naunet dan Nu dari Deir el Medina.

Orang Mesir menganggap pembagian antara laki-laki dan perempuan sebagai hal yang mendasar bagi semua makhluk, termasuk dewa.[87] Dewa laki-laki cenderung memiliki status yang lebih tinggi daripada dewi dan lebih terhubung erat dengan penciptaan dan kerajaan, sementara dewi lebih sering dianggap sebagai penolong dan penyedia bagi manusia.[88][89] Beberapa dewa bersifat androgini, tetapi sebagian besar contoh ditemukan dalam konteks mitos penciptaan, di mana dewa androgini mewakili keadaan tak terbedakan yang ada sebelum dunia diciptakan.[87] Atum utamanya laki-laki tetapi memiliki aspek feminin dalam dirinya,[90] yang terkadang dilihat sebagai dewi, dikenal sebagai Iusaaset atau Nebethetepet.[91] Demikian pula, Neith, yang terkadang dianggap sebagai dewi pencipta, dikatakan memiliki ciri maskulin tetapi terutama dilihat sebagai perempuan.[90]

Seks dan gender sangat terkait dengan penciptaan dan dengan demikian kelahiran kembali.[92] Dewa laki-laki diyakini memiliki peran aktif dalam membuahi anak. Dewi perempuan sering kali terdegradasi ke peran pendukung, merangsang kejantanan pasangan laki-laki mereka dan mengasuh anak-anak mereka, meskipun dewi diberi peran yang lebih besar dalam prokreasi di akhir sejarah Mesir.[93] Dewi bertindak sebagai ibu mitologis dan istri raja dan dengan demikian sebagai prototipe ratu manusia.[94] Hathor, yang merupakan ibu atau pasangan Horus dan dewi terpenting untuk sebagian besar sejarah Mesir,[95] memberikan contoh hubungan antara keilahian dan raja ini.[94]

Dewi perempuan juga memiliki aspek kekerasan yang dapat dilihat secara positif, seperti pada dewi Wadjet dan Nekhbet yang melindungi raja, atau secara negatif.[96] Mitos Mata Ra mempertentangkan agresi feminin dengan seksualitas dan pengasuhan, saat sang dewi mengamuk dalam bentuk Sekhmet atau dewa berbahaya lainnya sampai dewa-dewa lain menenangkannya, di mana dia menjadi dewi yang ramah seperti Hathor yang, dalam beberapa versi, kemudian menjadi pasangan dewa laki-laki.[97][98]

Konsepsi seksualitas Mesir sangat berfokus pada reproduksi heteroseksual, dan tindakan homoseksual biasanya dipandang dengan ketidaksetujuan. Namun demikian, beberapa teks merujuk pada perilaku homoseksual di antara dewa laki-laki.[99] Dalam beberapa kasus, terutama ketika Set menyerang Horus secara seksual, tindakan ini berfungsi untuk menegaskan dominasi pasangan yang aktif dan mempermalukan pasangan yang patuh. Pasangan lain antara dewa laki-laki dapat dipandang secara positif dan bahkan menghasilkan keturunan, seperti dalam satu teks di mana Khnum lahir dari penyatuan Ra dan Shu.[100]

Hubungan

Dewa-dewi Mesir terhubung dalam jalinan hubungan yang kompleks dan terus berubah. Koneksi dan interaksi sesosok dewa dengan dewa-dewa lain membantu mendefinisikan karakternya. Dengan demikian Isis, sebagai ibu dan pelindung Horus, adalah penyembuh yang agung sekaligus pelindung para raja.[101] Hubungan semacam itu pada kenyataannya lebih penting daripada mitos dalam mengekspresikan pandangan dunia religius orang Mesir,[102] meskipun hubungan-hubungan ini juga menjadi bahan dasar dari mana mitos-mitos dibentuk.[61]

Patung seorang pria bermahkota berdiri di antara seorang pria yang memegang tongkat dan seorang wanita berkepala singa betina
Dewa Ptah dan Sekhmet mengapit sang raja, yang mengambil peran sebagai anak mereka, Nefertum.[103]

Hubungan keluarga adalah jenis koneksi yang umum di antara para dewa. Dewa-dewi sering kali membentuk pasangan laki-laki dan perempuan. Keluarga yang terdiri dari tiga dewa, dengan ayah, ibu, dan anak, merepresentasikan penciptaan kehidupan baru dan suksesi ayah oleh sang anak, sebuah pola yang menghubungkan keluarga ilahi dengan suksesi kerajaan.[104] Osiris, Isis, dan Horus membentuk keluarga hakiki tipe ini. Pola yang mereka tetapkan semakin meluas seiring berjalannya waktu, sehingga banyak dewa di pusat-pusat kultus lokal, seperti Ptah, Sekhmet, dan anak mereka Nefertum di Memphis serta Triad Thebes di Thebes, dihimpun ke dalam triad keluarga.[105][106] Koneksi silsilah seperti ini bervariasi sesuai dengan keadaannya. Hathor dapat bertindak sebagai ibu, permaisuri, atau putri dewa matahari, dan bentuk anak dari Horus bertindak sebagai anggota ketiga dari banyak triad keluarga lokal.[107]

Kelompok ilahi lainnya terdiri dari dewa-dewa dengan peran yang saling terkait, atau yang bersama-sama mewakili suatu wilayah dari kosmos mitologis Mesir. Ada serangkaian dewa untuk jam-jam siang dan malam serta untuk setiap nome (provinsi) Mesir. Beberapa dari kelompok ini mengandung jumlah angka yang penting secara simbolis.[108] Dewa-dewa yang berpasangan terkadang memiliki peran yang serupa, seperti halnya Isis dan saudarinya Nephthys dalam perlindungan dan dukungan mereka terhadap Osiris.[109] Pasangan lainnya melambangkan konsep yang berlawanan namun saling terkait yang merupakan bagian dari kesatuan yang lebih besar. Ra, yang dinamis dan menghasilkan cahaya, serta Osiris, yang statis dan diselimuti kegelapan, menyatu menjadi satu dewa setiap malam.[110] Kelompok tiga dewa dikaitkan dengan pluralitas dalam pemikiran Mesir kuno, dan kelompok empat dewa menyiratkan kelengkapan.[108] Para penguasa di akhir Kerajaan Baru mempromosikan kelompok tiga dewa yang sangat penting di atas segalanya: Amun, Ra, dan Ptah. Dewa-dewa ini melambangkan pluralitas semua dewa, serta pusat kultus mereka sendiri (kota-kota besar Thebes, Heliopolis, dan Memphis) dan bagi banyak rangkaian konsep rangkap tiga dalam pemikiran keagamaan Mesir.[111] Terkadang Set, dewa pelindung raja-raja Dinasti Kesembilan Belas[112] dan perwujudan ketidakteraturan di dalam dunia, ditambahkan ke kelompok ini, yang menekankan visi tunggal yang koheren tentang panteon tersebut.[113]

Sembilan, hasil perkalian tiga dengan tiga, merepresentasikan banyaknya jumlah, jadi orang Mesir menyebut beberapa kelompok besar "Ennead", atau himpunan sembilan, bahkan jika mereka memiliki lebih dari sembilan anggota.[Note 2] Ennead yang paling menonjol adalah Ennead Heliopolis, sebuah keluarga besar dewa-dewi keturunan Atum, yang menggabungkan banyak dewa penting.[108] Istilah "ennead" sering diperluas untuk mencakup semua dewa Mesir.[114]

Himpunan dewata ini memiliki hierarki yang samar dan dapat berubah. Dewa-dewa dengan pengaruh luas di kosmos atau yang secara mitologis lebih tua dari yang lain memiliki posisi lebih tinggi dalam masyarakat ilahi. Di puncak masyarakat ini adalah raja para dewa, yang biasanya diidentifikasikan dengan dewa pencipta.[114] Dalam periode sejarah Mesir yang berbeda, dewa-dewa yang berbeda paling sering dikatakan memegang posisi agung ini. Horus paling erat kaitannya dengan kerajaan pada Periode Dinasti Awal, Ra naik ke posisi terpenting di Kerajaan Lama, Amun menjadi yang tertinggi di Kerajaan Baru, dan pada periode Ptolemaik dan Romawi, Isis adalah ratu ilahi dan dewi pencipta.[115] Dewa-dewa yang baru menonjol cenderung mengadopsi karakteristik dari pendahulu mereka.[116] Isis menyerap sifat-sifat banyak dewi lain selama kebangkitannya, dan ketika Amun menjadi penguasa panteon, ia digabungkan dengan Ra menjadi dewa surya.[117]

Manifestasi dan kombinasi

Relief seorang pria yang mengalami ereksi, mengenakan hiasan kepala dua bulu dan sebuah cakram
Amun-Ra-Kamutef, bentuk Amun dengan karakteristik surya Ra dan kekuatan prokreasi yang terkait dengan Min.[118] Cakram surya di hiasan kepalanya diambil dari Ra, dan falusnya yang ereksi berasal dari ikonografi Min.[119]

Para dewa diyakini bermanifestasi dalam banyak bentuk.[120] Orang Mesir memiliki konsepsi jiwa manusia yang kompleks, yang terdiri dari beberapa bagian. Roh para dewa tersusun dari banyak elemen yang sama ini.[121] Ba adalah komponen jiwa manusia atau ilahi yang memengaruhi dunia di sekitarnya. Setiap manifestasi kekuatan dewa yang terlihat dapat disebut sebagai ba-nya; dengan demikian, matahari disebut sebagai ba dari Ra.[122] Penggambaran dewa dianggap sebagai ka, komponen lain dari keberadaannya, yang bertindak sebagai wadah bagi ba dewa tersebut untuk berdiam. Citra kultus para dewa yang menjadi fokus ritual kuil, serta hewan-hewan suci yang mewakili dewa-dewa tertentu, diyakini menampung ba ilahi dengan cara ini.[123] Dewa-dewa dapat dianggap memiliki banyak ba dan ka, yang terkadang diberi nama yang mewakili aspek berbeda dari sifat dewa tersebut.[124] Segala sesuatu yang ada dikatakan sebagai salah satu ka dari Atum sang dewa pencipta, yang awalnya menampung segala sesuatu di dalam dirinya,[125] dan satu dewa dapat disebut sebagai ba dari yang lain, yang berarti bahwa dewa pertama adalah manifestasi dari kekuatan dewa yang lain.[126] Bagian tubuh ilahi dapat bertindak sebagai dewa yang terpisah, seperti Mata Ra dan Tangan Atum, yang keduanya dipersonifikasikan sebagai dewi.[127] Para dewa begitu penuh dengan kekuatan pemberi kehidupan sehingga cairan tubuh mereka bahkan dapat berubah menjadi makhluk hidup lain;[128] umat manusia dikatakan muncul dari air mata dewa pencipta, dan dewa-dewa lain dari keringatnya.[129]

Dewa-dewa yang penting secara nasional memunculkan manifestasi lokal, yang terkadang menyerap karakteristik dewa-dewa daerah yang lebih tua.[130] Horus memiliki banyak bentuk yang terikat pada tempat-tempat tertentu, termasuk Horus dari Nekhen, Horus dari Buhen, dan Horus dari Edfu.[131] Manifestasi lokal semacam itu dapat diperlakukan hampir sebagai makhluk yang terpisah. Selama Kerajaan Baru, seorang pria dituduh mencuri pakaian oleh sebuah orakel yang dianggap menyampaikan pesan dari Amun dari Pe-Khenty. Dia berkonsultasi dengan dua orakel Amun lokal lainnya dengan harapan mendapatkan penilaian yang berbeda.[132] Manifestasi dewa juga berbeda sesuai dengan peran mereka. Horus bisa menjadi dewa langit yang kuat atau anak yang rentan, dan bentuk-bentuk ini terkadang dihitung sebagai dewa yang independen.[133]

Dewa-dewa digabungkan satu sama lain semudah mereka dipisahkan. Seorang dewa dapat disebut sebagai ba dari yang lain, atau dua atau lebih dewa dapat digabungkan menjadi satu dewa dengan nama dan ikonografi gabungan.[134] Dewa lokal dihubungkan dengan dewa yang lebih besar, dan dewa dengan fungsi serupa digabungkan. Ra dihubungkan dengan dewa lokal Sobek untuk membentuk Sobek-Ra; dengan sesama dewa penguasa, Amun, untuk membentuk Amun-Ra; dengan bentuk surya Horus untuk membentuk Ra-Horakhty; dan dengan beberapa dewa surya sebagai Horemakhet-Khepri-Ra-Atum.[135] Pada kesempatan langka, dewa dari jenis kelamin yang berbeda dapat digabungkan dengan cara ini, menghasilkan kombinasi seperti Osiris-Neith.[136] Penggabungan dewa-dewa ini disebut sinkretisme. Tidak seperti situasi lain di mana istilah ini digunakan, praktik Mesir tidak dimaksudkan untuk melebur sistem kepercayaan yang bersaing, meskipun dewa asing dapat disinkretiskan dengan dewa pribumi.[135] Sebaliknya, sinkretisme mengakui adanya tumpang tindih antara peran para dewa dan memperluas lingkup pengaruh bagi masing-masing dari mereka. Kombinasi sinkretis tidak permanen; dewa yang terlibat dalam satu kombinasi terus muncul secara terpisah dan membentuk kombinasi baru dengan dewa lain.[136] Dewa-dewa yang berhubungan erat terkadang benar-benar melebur. Horus menyerap beberapa dewa elang dari berbagai daerah, seperti Khenti-irty dan Khenti-kheti, yang menjadi tidak lebih dari manifestasi lokalnya; Hathor menyerap dewi sapi yang serupa, Bat; dan dewa pemakaman awal, Khenti-Amentiu, digantikan oleh Osiris dan Anubis.[137]

Aten dan kemungkinan monoteisme

Artikel utama: Atenisme

Pada masa pemerintahan Akhenaten (ca 1353–1336 SM) di pertengahan Kerajaan Baru, satu dewa surya tunggal, Aten, menjadi satu-satunya fokus agama negara. Akhenaten berhenti mendanai kuil-kuil dewa lain dan menghapus nama serta gambar para dewa di monumen, menargetkan Amun secara khusus. Sistem keagamaan baru ini, yang terkadang disebut Atenisme, berbeda secara drastis dari pemujaan politeistik terhadap banyak dewa di semua periode lainnya. Aten tidak memiliki mitologi, dan digambarkan serta dijelaskan dalam istilah yang lebih abstrak daripada dewa-dewa tradisional. Sementara pada masa-masa sebelumnya, dewa-dewa yang baru menjadi penting diintegrasikan ke dalam kepercayaan agama yang ada, Atenisme bersikeras pada satu pemahaman tunggal tentang keilahian yang mengecualikan multiplisitas perspektif tradisional.[138] Namun, Atenisme mungkin bukan monoteisme penuh, yang sama sekali mengecualikan kepercayaan pada dewa lain. Ada bukti yang menunjukkan bahwa masyarakat umum terus memuja dewa lain secara pribadi.[139] Gambaran ini semakin diperumit oleh toleransi Atenisme yang tampak terhadap beberapa dewa lain, seperti Maat, Shu, dan Tefnut. Karena alasan-alasan inilah, ahli Mesir Kuno Dominic Montserrat dan John Baines menyarankan bahwa Akhenaten mungkin bersikap monolatris, memuja satu dewa sambil mengakui keberadaan dewa lain.[140][141] Bagaimanapun, teologi Atenisme yang menyimpang tidak mengakar di kalangan masyarakat Mesir, dan penerus Akhenaten kembali ke kepercayaan tradisional.[142]

Kesatuan ilahi dalam agama tradisional

Patung perunggu seorang pria berjanggut dengan banyak lengan, sayap, tanduk, dan beberapa kepala hewan muncul dari sisi kepalanya
Dewa Bes dengan atribut dari banyak dewa lainnya. Citra seperti ini merepresentasikan kehadiran berbagai kekuatan ilahi dalam satu wujud tunggal.[143]

Para sarjana telah lama memperdebatkan apakah agama Mesir tradisional pernah menegaskan bahwa dewa-dewa yang jamak itu, pada tingkat yang lebih dalam, adalah satu kesatuan. Alasan perdebatan ini meliputi praktik sinkretisme, yang mungkin menyiratkan bahwa semua dewa yang terpisah pada akhirnya dapat menyatu menjadi satu, dan kecenderungan teks-teks Mesir untuk mengaitkan dewa tertentu dengan kekuatan yang melampaui semua dewa lainnya. Poin perselisihan lainnya adalah munculnya kata "dewa" dalam sastra hikmat, di mana istilah tersebut tidak merujuk pada dewa atau kelompok dewa tertentu.[144] Pada awal abad ke-20, misalnya, E. A. Wallis Budge meyakini bahwa rakyat jelata Mesir menganut politeisme, namun pengetahuan tentang sifat monoteistik yang sejati dari agama tersebut dikhususkan bagi kaum elit, yang menulis sastra hikmat tersebut.[145] Orang sezamannya, James Henry Breasted, berpikir bahwa agama Mesir justru bersifat panteistik, dengan kekuatan dewa matahari yang hadir di semua dewa lainnya, sementara Hermann Junker berpendapat bahwa peradaban Mesir awalnya monoteistik dan menjadi politeistik dalam perjalanan sejarahnya.[146]

Pada tahun 1971, Erik Hornung menerbitkan sebuah studi[Note 3] yang membantah pandangan-pandangan tersebut. Ia menunjukkan bahwa dalam periode apa pun, banyak dewa, bahkan yang minor sekalipun, digambarkan lebih unggul dari semua yang lain. Ia juga berpendapat bahwa "dewa" yang tidak spesifik dalam teks-teks hikmat adalah istilah umum untuk dewa mana pun yang relevan bagi pembaca dalam situasi yang sedang dihadapi.[147] Meskipun kombinasi, manifestasi, dan ikonografi setiap dewa terus berubah, mereka selalu terbatas pada sejumlah bentuk tertentu, tidak pernah sepenuhnya dapat dipertukarkan dengan cara monoteistik atau panteistik. Henoteisme, menurut Hornung, mendeskripsikan agama Mesir dengan lebih baik daripada label lainnya. Seorang Mesir dapat memuja dewa mana pun pada waktu tertentu dan mengaitkannya dengan kekuatan tertinggi pada saat itu, tanpa menyangkal dewa-dewa lain atau menggabungkan mereka semua dengan dewa yang sedang ia fokuskan. Hornung menyimpulkan bahwa para dewa sepenuhnya bersatu hanya dalam mitos, pada masa sebelum penciptaan, yang setelah itu berbagai dewa muncul dari ketiadaan yang seragam.[148]

Argumen Hornung sangat memengaruhi para sarjana agama Mesir lainnya, namun beberapa masih percaya bahwa adakalanya para dewa lebih bersatu daripada yang ia izinkan.[57] Jan Assmann berpendapat bahwa gagasan tentang satu dewa tunggal berkembang perlahan melalui Kerajaan Baru, dimulai dengan fokus pada Amun-Ra sebagai dewa matahari yang sangat penting.[149] Dalam pandangannya, Atenisme adalah hasil ekstrem dari tren ini. Aliran ini menyamakan dewa tunggal dengan matahari dan menolak semua dewa lainnya. Kemudian, dalam reaksi balik terhadap Atenisme, para teolog imamat mendeskripsikan dewa universal dengan cara yang berbeda, cara yang hidup berdampingan dengan politeisme tradisional. Satu dewa tersebut diyakini melampaui dunia dan semua dewa lainnya, sementara pada saat yang sama, dewa-dewa yang jamak adalah aspek dari yang satu. Menurut Assmann, satu dewa ini secara khusus disamakan dengan Amun, dewa dominan di akhir Kerajaan Baru, sedangkan untuk sisa sejarah Mesir lainnya, dewa universal dapat diidentifikasi dengan banyak dewa lain.[150] James P. Allen mengatakan bahwa gagasan yang hidup berdampingan tentang satu dewa dan banyak dewa akan sangat cocok dengan "multiplisitas pendekatan" dalam pemikiran Mesir, serta dengan praktik henoteistik para penyembah biasa. Ia mengatakan bahwa orang Mesir mungkin mengakui kesatuan ilahi dengan "mengidentifikasi gagasan seragam mereka tentang 'dewa' dengan dewa tertentu, tergantung pada situasi tertentu."[3]

Deskripsi dan penggambaran

Tulisan-tulisan Mesir mendeskripsikan tubuh para dewa secara terperinci. Tubuh mereka terbuat dari bahan-bahan berharga; daging mereka adalah emas, tulang mereka perak, dan rambut mereka adalah lapis lazuli. Mereka mengeluarkan aroma yang disamakan orang Mesir dengan dupa yang digunakan dalam ritual. Beberapa teks memberikan deskripsi akurat tentang dewa-dewa tertentu, termasuk tinggi badan dan warna mata mereka. Namun karakteristik ini tidak tetap; dalam mitos, para dewa mengubah penampilan mereka untuk menyesuaikan dengan tujuan mereka sendiri.[151] Teks-teks Mesir sering merujuk pada bentuk sejati dan mendasar para dewa sebagai "misterius". Oleh karena itu, representasi visual orang Mesir terhadap dewa-dewa mereka tidaklah harfiah. Representasi tersebut menyimbolkan aspek-aspek spesifik dari karakter setiap dewa, berfungsi sangat mirip dengan ideogram dalam tulisan hieroglif.[152] Karena alasan inilah, dewa pemakaman Anubis umumnya ditampilkan dalam seni Mesir sebagai seekor anjing atau jakal, makhluk yang kebiasaan memakannya mengancam pelestarian mumi yang dikubur, sebagai upaya untuk melawan ancaman ini dan menggunakannya untuk perlindungan. Pewarnaan hitamnya menyinggung warna daging yang dimumikan dan tanah hitam subur yang dipandang orang Mesir sebagai simbol kebangkitan.[153]

Patung batu kasar
Sebuah patung dari Periode Akhir (664 – 332 SM) menggambarkan empat wujud Hathor: sebagai sapi dengan cakram surya di antara tanduknya (tengah atas); sebagai manusia dengan hiasan kepala berbentuk sistrum (kiri); dengan tubuh manusia dan kepala singa betina (kanan); dan sebagai ular yang mengangkat kepala dengan kepala wanita (tengah bawah).[154]

Sebagian besar dewa digambarkan dalam beberapa cara. Hathor bisa berupa sapi, kobra, singa betina, atau wanita dengan tanduk atau telinga sapi. Dengan menggambarkan dewa tertentu dalam berbagai cara, orang Mesir mengekspresikan aspek-aspek berbeda dari sifat hakiki dewa tersebut.[152] Para dewa digambarkan dalam sejumlah bentuk simbolis yang terbatas, sehingga mereka sering kali dapat dibedakan satu sama lain melalui ikonografi mereka. Bentuk-bentuk ini meliputi pria dan wanita (antropomorfisme), hewan (zoomorfisme), dan, yang lebih jarang, benda mati. Kombinasi bentuk, seperti dewa dengan tubuh manusia dan kepala hewan, adalah hal yang umum.[7] Bentuk-bentuk baru dan kombinasi yang semakin kompleks muncul dalam perjalanan sejarah,[143] dengan bentuk-bentuk paling nyata sering ditemukan di antara para demon di dunia bawah.[155] Beberapa dewa hanya dapat dibedakan dari yang lain jika mereka diberi label dalam tulisan, seperti pada Isis dan Hathor.[156] Karena hubungan yang erat antara kedua dewi ini, mereka berdua dapat mengenakan hiasan kepala tanduk sapi yang awalnya hanya milik Hathor seorang.[157]

Fitur-fitur tertentu dari citra ilahi lebih berguna daripada yang lain dalam menentukan identitas dewa. Kepala dari citra ilahi tertentu sangatlah signifikan.[158] Dalam citra hibrida, kepala merepresentasikan bentuk asli dari makhluk yang digambarkan, sehingga, seperti yang dikatakan oleh ahli Mesir Kuno Henry Fischer, "seorang dewi berkepala singa adalah dewi-singa dalam wujud manusia, sedangkan sfinks kerajaan, sebaliknya, adalah seorang pria yang telah mengambil wujud singa."[159] Hiasan kepala ilahi, yang berkisar dari jenis mahkota yang sama yang digunakan oleh raja manusia hingga hieroglif besar yang dikenakan di kepala dewa, adalah indikator penting lainnya. Sebaliknya, benda-benda yang dipegang di tangan dewa cenderung bersifat umum.[158] Dewa laki-laki memegang tongkat was, dewi memegang batang papirus, dan kedua jenis kelamin membawa tanda ankh, yang merepresentasikan kata Mesir untuk "kehidupan", untuk menyimbolkan kekuatan pemberi kehidupan mereka.[160]

Bentuk-bentuk di mana para dewa ditampilkan, meskipun beragam, terbatas dalam banyak hal. Banyak makhluk yang tersebar luas di Mesir tidak pernah digunakan dalam ikonografi ilahi. Hewan lain dapat mewakili banyak dewa, sering kali karena dewa-dewa ini memiliki karakteristik utama yang sama.[161] Banteng dan domba jantan diasosiasikan dengan kejantanan, sapi dan elang dengan langit, kuda nil dengan perlindungan keibuan, kucing dengan dewa matahari, dan ular dengan bahaya sekaligus pembaruan.[162][163] Hewan-hewan yang tidak ada di Mesir pada tahap awal sejarahnya tidak digunakan sebagai citra ilahi. Misalnya, kuda, yang baru diperkenalkan pada Periode Menengah Kedua (ca 1650–1550 SM), tidak pernah merepresentasikan dewa. Demikian pula, busana yang dikenakan oleh dewa-dewa antropomorfik di sebagian besar periode hanya sedikit berubah dari gaya yang digunakan di Kerajaan Lama: rok (kilt), janggut palsu, dan sering kali kemeja untuk dewa laki-laki serta gaun panjang ketat untuk dewi.[161][Note 4]

Bentuk dasar antropomorfik bervariasi. Dewa kanak-kanak digambarkan telanjang, begitu pula beberapa dewa dewasa ketika kekuatan prokreasi mereka ditekankan.[165] Dewa laki-laki tertentu diberi perut buncit dan payudara, menandakan androgini atau kemakmuran dan kelimpahan.[166] Sementara sebagian besar dewa laki-laki memiliki kulit merah dan sebagian besar dewi berkulit kuning, warna yang sama yang digunakan untuk menggambarkan pria dan wanita Mesir, beberapa diberi warna kulit simbolis yang tidak biasa.[167] Dengan demikian, kulit biru dan sosok buncit dewa Hapi menyinggung banjir Nil yang ia wakili dan kesuburan yang memberinya makan.[168] Beberapa dewa, seperti Osiris, Ptah, dan Min, memiliki penampilan "mumiform", dengan anggota tubuh mereka dibalut kain dengan kencang.[169] Meskipun dewa-dewa ini menyerupai mumi, contoh-contoh paling awal sudah ada sebelum gaya mumifikasi berbalut kain, dan bentuk ini mungkin justru merujuk kembali ke penggambaran dewa-dewa paling awal yang tanpa anggota tubuh.[170]

Beberapa benda mati yang merepresentasikan dewa diambil dari alam, seperti pohon atau lambang mirip cakram untuk matahari dan bulan.[171] Beberapa benda yang diasosiasikan dengan dewa tertentu, seperti busur silang yang merepresentasikan Neith (𓋋) atau lambang Min (𓋉) menyimbolkan kultus dewa-dewa tersebut pada masa Pradinasti.[172] Dalam banyak kasus ini, sifat benda aslinya masih misterius.[173] Pada Periode Pradinasti dan Dinasti Awal, para dewa sering kali direpresentasikan oleh panji-panji ilahi: tiang-tiang yang dipuncaki oleh lambang dewa, termasuk bentuk hewan dan benda mati.[174]

  • Dewa-dewa dengan berbagai kepala hewan, sebuah vinyet dari gulungan Papirus Kairo JE 95658.
    Dewa-dewa dengan berbagai kepala hewan, sebuah vinyet dari gulungan Papirus Kairo JE 95658.
  • Dewa Nepret dan Hu sebagai kobra, dan Renenutet sebagai wanita duduk dengan kepala kobra
    Dewa Nepret dan Hu sebagai kobra, dan Renenutet sebagai wanita duduk dengan kepala kobra
  • Patung dewa buaya Sobek dalam wujud hewan sepenuhnya, kemungkinan citra kultus dari sebuah kuil. Abad kesembilan belas atau kedua puluh SM.
    Patung dewa buaya Sobek dalam wujud hewan sepenuhnya, kemungkinan citra kultus dari sebuah kuil.[175] Abad kesembilan belas atau kedua puluh SM.
  • Sepasang figur Hapi secara simbolis mengikat Mesir Hulu dan Mesir Hilir bersama-sama
    Sepasang figur Hapi secara simbolis mengikat Mesir Hulu dan Mesir Hilir bersama-sama
  • Dewa-dewa berbentuk mumi dengan berbagai kepala, dari Litani Ra. Abad kesebelas SM.
    Dewa-dewa berbentuk mumi dengan berbagai kepala, dari Litani Ra. Abad kesebelas SM.
  • Panji-panji ilahi digambarkan di Kuil Kom Ombo. Abad kedua atau pertama SM.
    Panji-panji ilahi digambarkan di Kuil Kom Ombo. Abad kedua atau pertama SM.

Interaksi dengan manusia

Hubungan dengan firaun

Informasi lebih lanjut: Firaun
Horus menawarkan kehidupan kepada firaun, Ramses II. Batu kapur yang dicat. Sekitar 1275 SM. Dinasti ke-19. Dari kuil kecil yang dibangun oleh Ramses II di Abydos. Museum Louvre, Paris, Prancis.
Relief seorang pria bermahkota memegang nampan makanan di depan seorang pria yang duduk dengan kepala domba jantan
Ramses III mempersembahkan kurban kepada Amun.

Dalam tulisan-tulisan resmi, firaun dikatakan bersifat ilahi, dan mereka terus-menerus digambarkan sedang bersama para dewa panteon. Setiap firaun dan pendahulunya dianggap sebagai penerus para dewa yang telah memerintah Mesir dalam prasejarah mitis.[176] Raja yang masih hidup disetarakan dengan Horus dan disebut "putra" dari banyak dewa laki-laki, khususnya Osiris dan Ra; raja yang telah mangkat disetarakan dengan dewa-dewa sepuh ini.[177] Istri dan ibu raja diserupakan dengan banyak dewi. Segelintir wanita yang mengangkat diri mereka sebagai firaun, seperti Hatshepsut, menghubungkan diri mereka dengan dewi-dewi yang sama ini sembari mengadopsi banyak citra maskulin dari kerajaan.[178] Firaun memiliki kuil pemakaman mereka sendiri tempat ritual dilakukan bagi mereka selama hidup mereka dan setelah kematian mereka.[179] Namun hanya sedikit firaun yang dipuja sebagai dewa lama setelah masa hidup mereka, dan teks-teks tidak resmi menggambarkan raja dalam sudut pandang manusiawi. Karena alasan-alasan inilah, para sarjana berbeda pendapat mengenai seberapa sungguh sebagian besar orang Mesir memercayai raja sebagai dewa. Ia mungkin hanya dianggap ilahi ketika ia sedang melaksanakan upacara.[180]

Terlepas dari seberapa besar hal itu dipercaya, status ilahi raja adalah dasar pemikiran bagi perannya sebagai wakil Mesir bagi para dewa, karena ia membentuk penghubung antara alam ilahi dan manusia.[181] Orang Mesir percaya para dewa membutuhkan kuil untuk didiami, serta pelaksanaan ritual secara berkala dan penyajian persembahan untuk memelihara mereka. Hal-hal ini disediakan oleh kultus-kultus yang diawasi oleh raja, beserta para imam dan pekerjanya.[182] Namun, menurut ideologi kerajaan, pembangunan kuil secara eksklusif merupakan pekerjaan firaun, begitu pula ritual-ritual yang biasanya dilakukan oleh para imam atas namanya.[183] Tindakan-tindakan ini merupakan bagian dari peran fundamental raja: memelihara maat.[184] Raja dan bangsa yang diwakilinya menyediakan maat bagi para dewa sehingga mereka dapat terus menjalankan fungsi mereka, yang memelihara maat di kosmos sehingga manusia dapat terus hidup.[185]

Kehadiran di dunia manusia

Meskipun orang Mesir percaya dewa-dewa mereka hadir di dunia di sekitar mereka, kontak antara alam manusia dan ilahi sebagian besar terbatas pada keadaan tertentu.[186] Dalam sastra, dewa-dewa mungkin menampakkan diri kepada manusia dalam wujud fisik, tetapi dalam kehidupan nyata, orang Mesir terbatas pada sarana komunikasi yang lebih tidak langsung.[187]

Ba dewa dikatakan secara berkala meninggalkan alam ilahi untuk berdiam dalam citra dewa tersebut.[188] Dengan mendiami citra-citra ini, para dewa meninggalkan keadaan tersembunyi mereka dan mengambil wujud fisik.[76] Bagi orang Mesir, tempat atau benda yang ḏsr—"keramat"—itu terisolasi dan murni secara ritual, dan dengan demikian layak untuk didiami dewa.[189] Patung dan relief kuil, serta hewan-hewan suci tertentu, seperti banteng Apis, berfungsi sebagai perantara ilahi dengan cara ini.[190] Mimpi dan kesurupan menyediakan tempat yang sangat berbeda untuk interaksi. Dalam keadaan ini, diyakini, orang bisa mendekati para dewa dan terkadang menerima pesan dari mereka.[191]

Patung empat figur duduk di ruangan yang remang-remang
Ramses II (kedua dari kanan) bersama dewa Ptah, Amun, dan Ra di tempat suci Kuil Agung di Abu Simbel

Kuil, tempat ritual kenegaraan dilaksanakan, dipenuhi dengan citra para dewa. Citra kuil yang paling penting adalah patung kultus di tempat suci bagian dalam. Patung-patung ini biasanya berukuran kurang dari ukuran aslinya dan terbuat dari bahan berharga yang sama yang dikatakan membentuk tubuh para dewa.[Note 5] Banyak kuil memiliki beberapa tempat suci, masing-masing dengan patung kultus yang mewakili salah satu dewa dalam sebuah kelompok seperti triad keluarga.[193] Dewa utama kota dibayangkan sebagai tuannya, mempekerjakan banyak penduduk sebagai pelayan dalam rumah tangga ilahi yang diwakili oleh kuil tersebut. Para dewa yang berdiam di kuil-kuil Mesir secara kolektif mewakili seluruh panteon.[194] Namun banyak dewa—termasuk beberapa dewa penting serta dewa yang minor atau bermusuhan—tidak pernah diberi kuil sendiri, meskipun beberapa direpresentasikan di kuil dewa lain.[195]

Untuk mengisolasi kekuatan suci di tempat suci dari ketidakmurnian dunia luar, orang Mesir menutup tempat suci kuil dan sangat membatasi akses ke sana. Orang-orang selain raja dan imam besar dengan demikian tidak diberi kontak dengan patung kultus.[196] Pengecualiannya adalah selama prosesi festival, ketika patung dibawa keluar dari kuil tertutup dalam tandu suci portabel,[197] yang biasanya menyembunyikannya dari pandangan publik.[198] Orang-orang memang memiliki sarana interaksi yang kurang langsung. Bagian kuil yang lebih publik sering kali menyertakan tempat-tempat kecil untuk berdoa, mulai dari ambang pintu hingga kapel yang berdiri sendiri di dekat bagian belakang bangunan kuil.[199] Komunitas juga membangun dan mengelola kapel kecil untuk penggunaan mereka sendiri, dan beberapa keluarga memiliki tempat suci di dalam rumah mereka.[200]

Intervensi dalam kehidupan manusia

Dewa-dewi Mesir terlibat dalam kehidupan manusia serta dalam tatanan alam yang menyeluruh. Pengaruh ilahi ini terutama berlaku untuk Mesir, karena bangsa asing secara tradisional diyakini berada di luar tatanan ilahi. Di Kerajaan Baru, ketika bangsa-bangsa lain berada di bawah kendali Mesir, orang asing dikatakan berada di bawah kekuasaan dewa matahari yang ramah dengan cara yang sama seperti orang Mesir.[201]

Thoth, sebagai pengawas waktu, dikatakan membagikan rentang hidup yang tetap bagi manusia maupun dewa.[202] Dewa-dewa lain juga dikatakan mengatur panjang umur manusia, termasuk Meskhenet dan Renenutet, yang keduanya memimpin kelahiran, dan Shai, personifikasi takdir.[203] Dengan demikian, waktu dan cara kematian adalah makna utama dari konsep takdir Mesir, meskipun sampai batas tertentu dewa-dewa ini juga mengatur peristiwa lain dalam kehidupan. Beberapa teks merujuk pada dewa-dewa yang memengaruhi atau mengilhami keputusan manusia, bekerja melalui "hati" seseorang—pusat emosi dan kecerdasan dalam kepercayaan Mesir. Para dewa juga diyakini memberikan perintah, menginstruksikan raja dalam pemerintahan kerajaannya dan mengatur pengelolaan kuil-kuil mereka. Teks-teks Mesir jarang menyebutkan perintah langsung yang diberikan kepada orang pribadi, dan perintah-perintah ini tidak pernah berkembang menjadi seperangkat kode moral yang ditegakkan secara ilahi.[204] Moralitas di Mesir kuno didasarkan pada konsep maat, yang, jika diterapkan pada masyarakat manusia, berarti bahwa setiap orang harus hidup dengan cara yang tertib yang tidak mengganggu kesejahteraan orang lain. Karena para dewa adalah penegak maat, moralitas terhubung dengan mereka. Sebagai contoh, para dewa menghakimi kebenaran moral manusia setelah kematian, dan pada masa Kerajaan Baru, vonis tidak bersalah dalam penghakiman ini diyakini diperlukan untuk masuk ke alam baka. Namun secara umum, moralitas didasarkan pada cara-cara praktis untuk menegakkan maat dalam kehidupan sehari-hari, bukan pada aturan ketat yang ditetapkan oleh para dewa.[205]

Liontin emas dengan sosok anak berdiri di atas buaya sambil memegang ular dan kijang
Amulet dewa Shed

Manusia memiliki kehendak bebas untuk mengabaikan bimbingan ilahi dan perilaku yang dituntut oleh maat, tetapi dengan melakukan itu mereka dapat mendatangkan hukuman ilahi atas diri mereka sendiri.[206] Dewa melaksanakan hukuman ini menggunakan ba-nya, kekuatan yang memanifestasikan kuasa dewa di dunia manusia. Bencana alam dan penyakit manusia dipandang sebagai karya ba ilahi yang marah.[207] Sebaliknya, para dewa dapat menyembuhkan orang benar dari penyakit atau bahkan memperpanjang umur mereka.[208] Kedua jenis intervensi ini akhirnya diwakili oleh dewa: Shed, yang muncul di Kerajaan Baru untuk merepresentasikan penyelamatan ilahi dari bahaya,[209] dan Petbe, dewa apotropaik dari era akhir sejarah Mesir yang diyakini membalas perbuatan salah.[210]

Teks-teks Mesir mengambil pandangan berbeda tentang apakah para dewa bertanggung jawab ketika manusia menderita secara tidak adil. Kemalangan sering dipandang sebagai produk dari isfet, ketidakteraturan kosmik yang merupakan kebalikan dari maat, dan oleh karena itu para dewa tidak bersalah karena menyebabkan peristiwa jahat. Beberapa dewa yang terhubung erat dengan isfet, seperti Set, dapat disalahkan atas ketidakteraturan di dalam dunia tanpa menyalahkan dewa-dewa lain. Beberapa tulisan memang menuduh para dewa menyebabkan kesengsaraan manusia, sementara yang lain memberikan teodisi (pembelaan tuhan) untuk membela para dewa.[211] Mulai dari Kerajaan Pertengahan, beberapa teks menghubungkan masalah kejahatan di dunia dengan mitos di mana dewa pencipta memerangi pemberontakan manusia terhadap pemerintahannya dan kemudian menarik diri dari bumi. Karena perilaku buruk manusia ini, sang pencipta menjauh dari ciptaannya, membiarkan penderitaan ada. Tulisan-tulisan Kerajaan Baru tidak mempertanyakan sifat adil para dewa sekuat tulisan-tulisan Kerajaan Pertengahan. Mereka menekankan hubungan langsung dan pribadi manusia dengan dewa dan kekuatan para dewa untuk campur tangan dalam peristiwa manusia. Orang-orang di era ini menaruh kepercayaan pada dewa-dewa tertentu yang mereka harap akan membantu dan melindungi mereka sepanjang hidup mereka. Akibatnya, menegakkan cita-cita maat menjadi kurang penting dibandingkan mendapatkan kemurahan hati para dewa sebagai cara untuk menjamin kehidupan yang baik.[212] Bahkan para firaun dianggap bergantung pada bantuan ilahi, dan setelah Kerajaan Baru berakhir, pemerintahan semakin dipengaruhi oleh orakel yang mengomunikasikan kehendak para dewa.[213]

Pemujaan

Hunefer berlutut dalam pemujaan di hadapan sekumpulan dewa.[214]
Sebuah stela Horus di atas Buaya, memperlihatkan dewa tersebut menang atas bahaya. Dari Kerajaan Baru hingga masa Romawi, orang Mesir meminum air yang telah dituangkan di atas stela semacam itu, untuk menelan kekuatan penyembuhan Horus.[215]

Praktik keagamaan resmi, yang memelihara maat untuk kepentingan seluruh Mesir, terkait dengan, tetapi berbeda dari, praktik keagamaan rakyat biasa,[216] yang mencari bantuan para dewa untuk masalah pribadi mereka.[217] Agama resmi melibatkan berbagai ritual yang berbasis di kuil-kuil. Beberapa ritus dilakukan setiap hari, sedangkan yang lain adalah festival, yang berlangsung pada interval yang lebih lama dan sering kali terbatas pada kuil atau dewa tertentu.[200] Para dewa menerima persembahan mereka dalam upacara harian, di mana patung-patung mereka diberi pakaian, diurapi, dan disuguhi makanan sementara himne dilantunkan untuk menghormati mereka.[218] Persembahan ini, selain memelihara maat bagi para dewa, merayakan kemurahan hati para dewa yang memberi kehidupan dan mendorong mereka untuk tetap baik hati alih-alih pendendam.[219]

Festival sering melibatkan prosesi seremonial di mana citra kultus dibawa keluar dari kuil dalam tandu berbentuk perahu. Prosesi ini memiliki berbagai tujuan.[220] Pada masa Romawi, ketika dewa-dewa lokal dari segala jenis diyakini memiliki kekuasaan atas banjir Nil, prosesi di banyak komunitas membawa citra kuil ke tepi sungai agar para dewa dapat memohon banjir yang besar dan subur.[221] Prosesi juga melakukan perjalanan antar-kuil, seperti ketika citra Hathor dari Kuil Dendera mengunjungi pasangannya Horus di Kuil Edfu.[220] Ritual untuk dewa sering didasarkan pada mitologi dewa tersebut. Ritual semacam itu dimaksudkan sebagai pengulangan peristiwa masa lalu mitis, memperbarui efek menguntungkan dari peristiwa aslinya.[222] Dalam festival Khoiak untuk menghormati Osiris, kematian dan kebangkitannya dilakonkan ulang secara ritual pada saat tanaman mulai bertunas. Tanaman hijau yang kembali menyimbolkan pembaruan kehidupan dewa itu sendiri.[223]

Interaksi pribadi dengan para dewa mengambil banyak bentuk. Orang yang menginginkan informasi atau nasihat berkonsultasi dengan orakel, yang dijalankan oleh kuil, yang dianggap menyampaikan jawaban dewa atas pertanyaan.[224] Amulet dan citra lain dari dewa pelindung digunakan untuk menangkal demon yang mungkin mengancam kesejahteraan manusia[225] atau untuk memberikan karakteristik positif dewa kepada pemakainya.[226] Ritual pribadi memohon kekuatan para dewa untuk mencapai tujuan pribadi, mulai dari menyembuhkan penyakit hingga mengutuk musuh.[224] Praktik-praktik ini menggunakan heka, kekuatan sihir yang sama yang digunakan para dewa, yang dikatakan telah diberikan oleh sang pencipta kepada manusia agar mereka dapat menangkis kemalangan. Pelaku ritus pribadi sering mengambil peran dewa dalam mitos, atau bahkan mengancam dewa, untuk melibatkan para dewa dalam mencapai tujuan tersebut.[227] Ritual semacam itu hidup berdampingan dengan persembahan dan doa pribadi, dan ketiganya merupakan cara yang diterima untuk mendapatkan bantuan ilahi.[228]

Panel kayu bercat memperlihatkan seorang wanita dengan tangan terangkat ke arah seorang pria berkepala elang dan mahkota cakram matahari. Rangkaian bentuk seperti bunga memancar dari cakram ke arah wajah wanita itu.
Seorang wanita memuja Ra-Horakhty, yang memberkatinya dengan sinar cahaya.[229]

Doa dan persembahan pribadi umumnya disebut "kesalehan pribadi": tindakan yang mencerminkan hubungan dekat antara individu dan dewa. Bukti kesalehan pribadi sangat sedikit sebelum Kerajaan Baru. Persembahan kaul dan nama pribadi, yang banyak di antaranya bersifat teoforik, menyiratkan bahwa rakyat jelata merasakan semacam hubungan antara diri mereka dan dewa-dewa mereka, tetapi bukti kuat pengabdian kepada para dewa baru terlihat di Kerajaan Baru, mencapai puncaknya di akhir era itu.[230] Para sarjana tidak sepakat tentang makna perubahan ini—apakah interaksi langsung dengan para dewa merupakan perkembangan baru atau hasil dari tradisi yang lebih tua.[231] Orang Mesir kini mengekspresikan pengabdian mereka melalui berbagai aktivitas baru di dalam dan sekitar kuil.[232] Mereka merekam doa dan ucapan terima kasih mereka atas bantuan ilahi pada stela. Mereka memberikan persembahan berupa patung-patung kecil yang mewakili dewa yang mereka doakan, atau yang menyimbolkan hasil yang mereka inginkan; dengan demikian, citra relief Hathor dan patung wanita dapat merepresentasikan doa untuk kesuburan. Kadang-kadang, seseorang mengambil dewa tertentu sebagai pelindung, mendedikasikan harta atau tenaganya untuk kultus dewa tersebut. Praktik-praktik ini berlanjut hingga periode terakhir sejarah Mesir.[233] Era-era selanjutnya menyaksikan lebih banyak inovasi keagamaan, termasuk praktik memberikan mumi hewan sebagai persembahan kepada dewa yang digambarkan dalam bentuk hewan, seperti mumi kucing yang diberikan kepada dewi kucing Bastet.[234] Beberapa dewa utama dari mitos dan agama resmi jarang dipanggil dalam pemujaan populer, namun banyak dewa besar negara yang penting dalam tradisi populer.[35]

Pemujaan terhadap beberapa dewa Mesir menyebar ke negeri-negeri tetangga, terutama ke Kanaan dan Nubia selama Kerajaan Baru, ketika wilayah-wilayah tersebut berada di bawah kendali firaun. Di Kanaan, dewa-dewa yang diekspor, termasuk Hathor, Amun, dan Set, sering disinkretiskan dengan dewa-dewa pribumi, yang pada gilirannya menyebar ke Mesir.[235] Dewa-dewa Mesir mungkin tidak memiliki kuil permanen di Kanaan,[236] dan kepentingannya di sana memudar setelah Mesir kehilangan kendali atas wilayah tersebut.[235] Sebaliknya, banyak kuil untuk dewa-dewa utama Mesir dan firaun yang didewakan dibangun di Nubia.[237] Setelah berakhirnya kekuasaan Mesir di sana, dewa-dewa impor, khususnya Amun dan Isis, disinkretiskan dengan dewa-dewa lokal dan tetap menjadi bagian dari agama Kerajaan Kush yang independen di Nubia.[238] Dewa-dewa ini dimasukkan ke dalam ideologi kerajaan Nubia sama seperti di Mesir, sehingga Amun dianggap sebagai ayah ilahi sang raja serta Isis dan dewi-dewi lainnya dikaitkan dengan ratu Nubia, kandake.[239] Beberapa dewa mencapai wilayah yang lebih jauh. Taweret menjadi dewi di Kreta Minoa,[240] dan orakel Amun di Oasis Siwa dikenal dan dikonsultasikan oleh orang-orang di seluruh wilayah Mediterania.[241]

Patung wajah pria berjanggut dan bertanduk domba jantan bergaya Yunani-Romawi
Yupiter Amon, kombinasi Amun dan dewa Romawi Yupiter

Di bawah Dinasti Ptolemaik Yunani dan kemudian kekuasaan Romawi, orang Yunani dan Romawi memperkenalkan dewa-dewa mereka sendiri ke Mesir. Para pendatang baru ini menyamakan dewa-dewa Mesir dengan dewa-dewa mereka sendiri, sebagai bagian dari tradisi Yunani-Romawi interpretatio graeca.[242] Pemujaan dewa-dewa pribumi tidak tertelan oleh pemujaan dewa-dewa asing. Sebaliknya, dewa-dewa Yunani dan Romawi diadopsi sebagai manifestasi dari dewa-dewa Mesir. Kultus-kultus Mesir terkadang menggabungkan bahasa, filsafat, ikonografi,[243] dan bahkan arsitektur kuil Yunani Kuno.[244] Sementara itu, kultus beberapa dewa Mesir—terutama Isis, Osiris, Anubis, bentuk Horus bernama Harpocrates, dan dewa gabungan Yunani-Mesir Serapis—diadopsi ke dalam agama Romawi dan menyebar ke seluruh Kekaisaran Romawi.[245] Kaisar Romawi, seperti raja-raja Ptolemaik sebelumnya, memanggil Isis dan Serapis untuk mendukung otoritas mereka, di dalam dan di luar Mesir.[246] Dalam perpaduan tradisi keagamaan kekaisaran yang kompleks, Thoth diubah menjadi guru esoteris legendaris Hermes Trismegistus,[247] dan Isis, yang dipuja dari Britania hingga Mesopotamia,[248] menjadi fokus kultus misteri bergaya Yunani.[249] Isis dan Hermes Trismegistus sama-sama menonjol dalam tradisi esoteris Barat yang tumbuh dari dunia religius Romawi.[250]

Kuil dan kultus di Mesir sendiri mengalami kemunduran seiring memburuknya ekonomi Romawi pada abad ketiga Masehi, dan mulai abad keempat, orang Kristen menekan pemujaan terhadap dewa-dewa Mesir.[243] Kultus formal terakhir, di Philae, punah pada abad kelima atau keenam.[251][Note 6] Sebagian besar kepercayaan seputar para dewa itu sendiri menghilang dalam beberapa ratus tahun, tersisa dalam teks-teks sihir hingga abad ketujuh dan kedelapan. Sebaliknya, banyak praktik yang terlibat dalam pemujaan mereka, seperti prosesi dan orakel, diadaptasi agar sesuai dengan ideologi Kristen dan bertahan sebagai bagian dari Gereja Koptik.[243] Mengingat perubahan besar dan beragam pengaruh dalam budaya Mesir sejak saat itu, para sarjana berbeda pendapat tentang apakah praktik Koptik modern merupakan turunan dari praktik agama firaun. Namun banyak festival dan tradisi lain orang Mesir modern, baik Kristen maupun Muslim, menyerupai pemujaan dewa-dewa leluhur mereka.[252] Pada akhir abad ke-20, beberapa kelompok agama baru yang berada di bawah istilah umum Kemetisme telah terbentuk berdasarkan rekonstruksi berbeda dari agama Mesir kuno.[253]

Lihat pula

  • Daftar Dewa-Dewi Mesir

Catatan dan kutipan

Catatan
  1. ↑ Teks-teks Mesir tidak secara tersurat menyatakan bahwa Osiris mati, dan hal yang sama berlaku untuk dewa-dewa lain. Orang Mesir menghindari pernyataan langsung tentang peristiwa naas seperti kematian dewa yang bermanfaat. Namun demikian, mitos tersebut memperjelas bahwa Osiris dibunuh, dan bukti lain seperti munculnya mayat dewa di Duat menunjukkan bahwa dewa-dewa lain juga mati. Menjelang Periode Akhir (ca 664–323 SM), beberapa situs di seluruh Mesir dikatakan sebagai tempat pemakaman dewa-dewa tertentu.[71]
  2. ↑ Kata Mesir untuk "kelompok sembilan" adalah psḏt. Istilah ennead yang berasal dari bahasa Yunani, yang memiliki arti yang sama, umum digunakan untuk menerjemahkannya.[108]
  3. ↑ Der Eine und die Vielen, direvisi beberapa kali sejak 1971. Terjemahan bahasa Inggrisnya, Conceptions of God in Egypt: The One and the Many, tercantum dalam bagian "Karya yang dikutip" di artikel ini.
  4. ↑ Busana para dewata terkadang dipengaruhi oleh perubahan dalam busana manusia. Di Kerajaan Baru, para dewi digambarkan dengan hiasan kepala berbentuk burung bangkai yang sama dengan yang digunakan oleh para ratu pada periode tersebut,[161] dan pada masa Romawi, banyak dewa apotropaik ditampilkan mengenakan baju besi dan menunggang kuda layaknya tentara.[164]
  5. ↑ Tidak ada patung dewa yang masih ada yang diketahui secara pasti merupakan citra kultus, meskipun beberapa memiliki karakteristik yang tepat untuk melayani tujuan tersebut.[192]
  6. ↑ Sudah lama dianggap bahwa Philae ditutup oleh pasukan Yustinianus I antara tahun 535 dan 537 M. Penelitian terbaru menantang pandangan itu dan berpendapat bahwa kultus kuil berhenti berfungsi pada akhir abad kelima, beberapa waktu setelah tanda-tanda aktivitas terakhir bertarikh 456 atau 457.[251]
Kutipan
  1. 1 2 Allen 2014, hlm. 523.
  2. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 72.
  3. 1 2 3 Allen 1999, hlm. 44–54, 59.
  4. 1 2 3 Leitz 2004, hlm. 393–394.
  5. ↑ Hornung 1982, hlm. 42.
  6. 1 2 Dunand & Zivie-Coche 2004, hlm. 8–11.
  7. 1 2 Wilkinson 2003, hlm. 26–28.
  8. ↑ Baines 2001, hlm. 216.
  9. ↑ Hornung 1982, hlm. 62.
  10. ↑ Baines 2001, hlm. 76–79.
  11. ↑ Assmann 2001, hlm. 7–8, 83.
  12. ↑ Dunand & Zivie-Coche 2004, hlm. 11–12.
  13. ↑ Wilkinson 1999, hlm. 225–226.
  14. 1 2 3 Wilkinson 2003, hlm. 12–15.
  15. ↑ Gundlach 2001, hlm. 363.
  16. 1 2 3 Traunecker 2001a, hlm. 25–26.
  17. ↑ Hart 2005, hlm. 143.
  18. ↑ Silverman 1991, hlm. 10–13.
  19. ↑ David 2002, hlm. 57.
  20. ↑ David 2002, hlm. 50.
  21. ↑ Wilkinson 1999, hlm. 264–265.
  22. ↑ Traunecker 2001a, hlm. 29.
  23. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 92,146.
  24. ↑ Hornung 1982, hlm. 74.
  25. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 74.
  26. ↑ Wildung 1977, hlm. 1–3, 31.
  27. ↑ Wildung 1977, hlm. 31, 83.
  28. ↑ Baines 1991, hlm. 158–159.
  29. ↑ Silverman 1991, hlm. 58.
  30. ↑ Kuckertz & Lohwasser 2019, hlm. 26–27.
  31. ↑ Tazawa 2009, hlm. 169.
  32. ↑ Frankfurter 2004, hlm. 160.
  33. ↑ Englund 1989a, hlm. 9–10.
  34. ↑ Tobin 1989, hlm. 18.
  35. 1 2 Englund 1989a, hlm. 19–20, 26–27.
  36. ↑ Allen 2014, hlm. 54–55.
  37. ↑ Dunand & Zivie-Coche 2004, hlm. 26.
  38. ↑ Hart 2005, hlm. 91, 147.
  39. ↑ Hart 2005, hlm. 85–86.
  40. ↑ David 2002, hlm. 58, 227.
  41. 1 2 Tobin 1989, hlm. 197–200.
  42. 1 2 Traunecker 2001a, hlm. 85–86.
  43. ↑ Hornung 1982, hlm. 77–79.
  44. ↑ Assmann 2001, hlm. 63.
  45. ↑ David 2002, hlm. 57–58.
  46. ↑ Hornung 1982, hlm. 98–99, 166–169.
  47. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 39.
  48. 1 2 Meeks 2001, hlm. 375.
  49. ↑ Lucarelli 2010, hlm. 2–5.
  50. 1 2 Frandsen 2011, hlm. 59–62.
  51. ↑ Roccati 2011, hlm. 93–96.
  52. ↑ Ritner 2011, hlm. 3–5.
  53. ↑ Assmann 2001, hlm. 68.
  54. ↑ Hornung 1982, hlm. 207–209.
  55. ↑ Assmann 2001, hlm. 57–64.
  56. ↑ Pinch 2002, hlm. 57, 68, 84, 86.
  57. 1 2 Traunecker 2001a, hlm. 10–12.
  58. ↑ Meeks & Favard-Meeks 1996, hlm. 63, 70–72, 80.
  59. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 31.
  60. ↑ Meeks & Favard-Meeks 1996, hlm. 101–102, 107.
  61. 1 2 Assmann 2001, hlm. 112.
  62. ↑ Tobin 1989, hlm. 38–40.
  63. ↑ Graves-Brown 2010, hlm. 161, 169.
  64. ↑ David 2002, hlm. 81–83.
  65. ↑ Lesko 1991, hlm. 91–96.
  66. ↑ Lesko 1991, hlm. 104–106.
  67. ↑ Tobin 1989, hlm. 58–59.
  68. ↑ Pinch 2002, hlm. 76, 85.
  69. ↑ Meeks & Favard-Meeks 1996, hlm. 16–17, 19–22.
  70. ↑ Meeks & Favard-Meeks 1996, hlm. 21–22, 78–80.
  71. 1 2 Hornung 1982, hlm. 152–162.
  72. ↑ Dunand & Zivie-Coche 2004, hlm. 66–70.
  73. 1 2 Hornung 1982, hlm. 166–169.
  74. ↑ Meeks & Favard-Meeks 1996, hlm. 81–82, 87–90.
  75. ↑ Hornung 1982, hlm. 178–182.
  76. 1 2 Assmann 2001, hlm. 17–19, 43–47.
  77. ↑ Silverman 1991, hlm. 38–41.
  78. ↑ David 2002, hlm. 154–155.
  79. 1 2 Hornung 1982, hlm. 66–68, 72.
  80. ↑ Graindorge 2001, hlm. 305–307.
  81. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 210.
  82. ↑ Meeks & Favard-Meeks 1996, hlm. 97–100.
  83. ↑ Hornung 1982, hlm. 90–91.
  84. ↑ Budde 2011, hlm. 6–7.
  85. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 228.
  86. ↑ Hornung 1982, hlm. 86.
  87. 1 2 Hornung 1982, hlm. 171.
  88. ↑ Baines 2011, hlm. 52.
  89. ↑ Graves-Brown 2010, hlm. 129–130.
  90. 1 2 Graves-Brown 2010, hlm. 164.
  91. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 150, 156.
  92. ↑ Troy 1986, hlm. 20, 25.
  93. ↑ Graves-Brown 2010, hlm. 105.
  94. 1 2 Troy 1986, hlm. 53–54.
  95. ↑ Pinch 2002, hlm. 138–139.
  96. ↑ Graves-Brown 2010, hlm. 36–37, 131.
  97. ↑ Graves-Brown 2010, hlm. 169–170.
  98. ↑ Pinch 2002, hlm. 130.
  99. ↑ Graves-Brown 2010, hlm. 99–100, 103.
  100. ↑ Meeks & Favard-Meeks 1996, hlm. 68–69.
  101. ↑ Assmann 2001, hlm. 101, 134.
  102. ↑ Lorton 1999, hlm. 123.
  103. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 75.
  104. ↑ Traunecker 2001a, hlm. 57–59.
  105. ↑ Dunand & Zivie-Coche 2004, hlm. 29–31.
  106. ↑ Meeks & Favard-Meeks 1996, hlm. 184.
  107. ↑ Pinch 2002, hlm. 137, 146.
  108. 1 2 3 4 Wilkinson 2003, hlm. 74–79, 83–85.
  109. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 18, 74–75, 160.
  110. ↑ Englund 1989b, hlm. 77–79, 81.
  111. ↑ Assmann 2001, hlm. 238–239.
  112. ↑ David 2002, hlm. 247.
  113. ↑ Baines 1991, hlm. 188.
  114. 1 2 Meeks & Favard-Meeks 1996, hlm. 34–36.
  115. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 67, 95, 201, 209.
  116. ↑ Lesko 1999, hlm. 84.
  117. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 92–93, 146.
  118. ↑ Traunecker 2001b, hlm. 221–222.
  119. ↑ Hornung 1982, hlm. 126.
  120. ↑ Meeks & Favard-Meeks 1996, hlm. 53–54.
  121. ↑ Traunecker 2001a, hlm. 20–23, 33–34.
  122. ↑ Allen 2001, hlm. 161–162.
  123. ↑ Luft 2001, hlm. 140.
  124. ↑ Traunecker 2001a, hlm. 33.
  125. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 99.
  126. ↑ Hornung 1982, hlm. 93.
  127. ↑ Pinch 2002, hlm. 111, 128.
  128. ↑ Meeks & Favard-Meeks 1996, hlm. 69–71.
  129. ↑ Pinch 2002, hlm. 66.
  130. ↑ Hornung 1982, hlm. 73–74.
  131. ↑ Hart 2005, hlm. 75.
  132. ↑ Frankfurter 1998, hlm. 102, 145, 152.
  133. ↑ Pinch 2002, hlm. 143.
  134. ↑ Dunand & Zivie-Coche 2004, hlm. 27.
  135. 1 2 Wilkinson 2003, hlm. 33–35.
  136. 1 2 Hornung 1982, hlm. 92, 96–97.
  137. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 119, 172, 187, 203.
  138. ↑ Teeter 2011, hlm. 182–186.
  139. ↑ Baines 2011, hlm. 62.
  140. ↑ Montserrat 2000, hlm. 36–38.
  141. ↑ Baines 2011, hlm. 64–65.
  142. ↑ Baines 2011, hlm. 53–54, 63.
  143. 1 2 Dunand & Zivie-Coche 2004, hlm. 17–20.
  144. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 35–38.
  145. ↑ Hornung 1982, hlm. 24–25.
  146. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 32, 36.
  147. ↑ Hornung 1982, hlm. 56–59, 234–235.
  148. ↑ Hornung 1982, hlm. 235–237, 252.
  149. ↑ Tobin 1989, hlm. 156–158.
  150. ↑ Assmann 2001, hlm. 198–201, 237–243.
  151. ↑ Meeks & Favard-Meeks 1996, hlm. 55–59.
  152. 1 2 Hornung 1982, hlm. 110–117.
  153. ↑ Hart 2005, hlm. 25.
  154. ↑ Hornung 1982, hlm. 113.
  155. ↑ Hornung 1982, hlm. 117–121.
  156. ↑ Bonhême 2001, hlm. 401–405.
  157. ↑ Griffiths 2001, hlm. 188–190.
  158. 1 2 Hornung 1982, hlm. 118–122.
  159. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 27.
  160. ↑ Traunecker 2001a, hlm. 50–51.
  161. 1 2 3 Traunecker 2001a, hlm. 46, 54.
  162. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 170, 176, 183, 200.
  163. ↑ Pinch 2002, hlm. 115, 198–200.
  164. ↑ Frankfurter 1998, hlm. 3.
  165. ↑ Meeks & Favard-Meeks 1996, hlm. 60.
  166. ↑ Traunecker 2001a, hlm. 45.
  167. ↑ Robins 2001, hlm. 291–293.
  168. ↑ Pinch 2002, hlm. 136.
  169. ↑ Traunecker 2001a, hlm. 48–50.
  170. ↑ Hornung 1982, hlm. 107.
  171. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 169, 236, 241.
  172. ↑ Wilkinson 1999, hlm. 251–252.
  173. ↑ Silverman 1991, hlm. 22.
  174. ↑ Wilkinson 1999, hlm. 168–170.
  175. ↑ Lorton 1999, hlm. 128–129.
  176. ↑ Pinch 2002, hlm. 85–87, 156–157.
  177. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 60–63, 75.
  178. ↑ Troy 1986, hlm. 141–143.
  179. ↑ Teeter 2011, hlm. 51.
  180. ↑ Wildung 1977, hlm. 1–3.
  181. ↑ Morenz 1973, hlm. 40–41.
  182. ↑ Teeter 2011, hlm. 28–30, 41–53.
  183. ↑ Meeks & Favard-Meeks 1996, hlm. 123–125.
  184. ↑ Assmann 2001, hlm. 4–5.
  185. ↑ Frandsen 1989, hlm. 96, 100–105.
  186. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 42.
  187. ↑ Dunand & Zivie-Coche 2004, hlm. 21–23.
  188. ↑ Teeter 2011, hlm. 39–45.
  189. ↑ Traunecker 2001a, hlm. 30.
  190. ↑ Meeks & Favard-Meeks 1996, hlm. 125–126, 129.
  191. ↑ Teeter 2011, hlm. 101.
  192. ↑ Kozloff 2001, hlm. 242–243.
  193. ↑ Teeter 2011, hlm. 39–43.
  194. ↑ Assmann 2001, hlm. 27–30, 51–52.
  195. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 42, 162, 223–224.
  196. ↑ Dunand & Zivie-Coche 2004, hlm. 111.
  197. ↑ Dunand & Zivie-Coche 2004, hlm. 116–118.
  198. ↑ Lorton 1999, hlm. 145.
  199. ↑ Teeter 2011, hlm. 77–83.
  200. 1 2 Thompson 2001, hlm. 326–332.
  201. ↑ Morenz 1973, hlm. 49–52, 57.
  202. ↑ Hornung 1982, hlm. 155.
  203. ↑ Hart 2005, hlm. 92, 136, 146.
  204. ↑ Morenz 1973, hlm. 60–67, 72.
  205. ↑ Tobin 1989, hlm. 180–183, 190.
  206. ↑ Baines 1991, hlm. 163–164.
  207. ↑ Traunecker 2001a, hlm. 33, 98.
  208. ↑ Dunand & Zivie-Coche 2004, hlm. 138–139.
  209. ↑ Ockinga 2001, hlm. 44–46.
  210. ↑ Frankfurter 1998, hlm. 116–119.
  211. ↑ Baines 1991, hlm. 163–164, 186–187.
  212. ↑ Enmarch 2008, hlm. 1–3.
  213. ↑ Assmann 2001, hlm. 242.
  214. ↑ "papyrus | British Museum". www.britishmuseum.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-04-07.
  215. ↑ Sternberg 2004, hlm. 455–456.
  216. ↑ Baines 1991, hlm. 126–127.
  217. ↑ Teeter 2011, hlm. 76.
  218. ↑ Dunand & Zivie-Coche 2004, hlm. 90–91.
  219. ↑ Hornung 1982, hlm. 203–206, 214.
  220. 1 2 Dunand & Zivie-Coche 2004, hlm. 95–96.
  221. ↑ Frankfurter 1998, hlm. 42.
  222. ↑ Tobin 1989, hlm. 28–30.
  223. ↑ Teeter 2011, hlm. 58–63.
  224. 1 2 Baines 1991, hlm. 165–172.
  225. ↑ Frankfurter 1998, hlm. 119, 175.
  226. ↑ Andrews 2001, hlm. 81.
  227. ↑ Ritner 2001, hlm. 321–326.
  228. ↑ David 2002, hlm. 270–272, 283–286.
  229. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 33.
  230. ↑ Baines 1991, hlm. 173–179.
  231. ↑ Luiselli 2008, hlm. 1–4.
  232. ↑ Baines 1991, hlm. 180–184.
  233. ↑ Teeter 2011, hlm. 78–90, 102–103.
  234. ↑ David 2002, hlm. 312–315.
  235. 1 2 Morenz 1973, hlm. 235–239.
  236. ↑ Traunecker 2001a, hlm. 108–110.
  237. ↑ Morenz 1973, hlm. 241–243.
  238. ↑ Yellin 2012, hlm. 126–129.
  239. ↑ Morkot 2012, hlm. 124.
  240. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 186.
  241. ↑ Mills 2001, hlm. 500.
  242. ↑ Borgeaud 2004, hlm. 392–393.
  243. 1 2 3 Frankfurter 2004, hlm. 160–163.
  244. ↑ Naerebout 2007, hlm. 545–547.
  245. ↑ Versluys 2007, hlm. 3–6.
  246. ↑ Dunand & Zivie-Coche 2004, hlm. 218–221.
  247. ↑ Struck 2004, hlm. 650–652.
  248. ↑ Wilkinson 2003, hlm. 143.
  249. ↑ Sfameni Gasparro 2007, hlm. 41.
  250. ↑ Kadish 2001, hlm. 507–509.
  251. 1 2 Kockelmann 2012, hlm. 6–8.
  252. ↑ Naguib 2008, hlm. 2–5.
  253. ↑ Melton 2009, hlm. 841, 847, 851, 855.

Kutipan karya

  • Allen, James P. (Jul–Aug 1999). "Monotheism: The Egyptian Roots". Archaeology Odyssey. 2 (3).
  • Allen, James P. (2014). Middle Egyptian: An Introduction to the Language and Culture of Hieroglyphs, Third Edition. Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-05364-9.
  • Allen, James P. (2001). "Ba". Dalam Redford, Donald B. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol. 1. Oxford University Press. hlm. 161–162. ISBN 978-0-19-510234-5.
  • Andrews, Carol A. R. (2001). "Amulets". Dalam Redford, Donald B. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol. 1. Oxford University Press. hlm. 75–82. ISBN 978-0-19-510234-5.
  • Assmann, Jan (2001) [German edition 1984]. The Search for God in Ancient Egypt. Translated by David Lorton. Cornell University Press. ISBN 0-8014-3786-5.
  • Baines, John (2001) [First edition 1985]. Fecundity Figures: Egyptian Personification and the Iconology of a Genre. Griffith Institute. ISBN 978-0-8014-3786-1.
  • Baines, John (1991). "Society, Morality, and Religious Practice". Dalam Shafer, Byron E. (ed.). Religion in Ancient Egypt: Gods, Myths, and Personal Practice. Cornell University Press. hlm. 123–200. ISBN 978-0-8014-9786-5.
  • Baines, John (2011). "Presenting and Discussing Deities in New Kingdom and Third Intermediate Period Egypt". Dalam Pongratz-Leisten, Beate (ed.). Reconsidering the Concept of Revolutionary Monotheism. Eisenbrauns. hlm. 41–89. ISBN 978-1-57506-199-3.
  • Bonhême, Marie-Ange (2001). "Divinity". Dalam Redford, Donald B. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol. 1. Oxford University Press. hlm. 401–406. ISBN 978-0-19-510234-5.
  • Borgeaud, Philippe (2004). "Deities and Demons: Introduction". Dalam Johnston, Sarah Iles (ed.). Religions of the Ancient World: A Guide. The Belknap Press of Harvard University Press. hlm. 392–393. ISBN 978-0-674-01517-3.
  • Budde, Dagmar (2011). "Epithets, Divine". Dalam Wendrich, Willeke (ed.). UCLA Encyclopedia of Egyptology. Department of Near Eastern Languages and Cultures, UC Los Angeles. ISBN 978-0615214030. Diakses tanggal 4 April 2015.
  • David, Rosalie (2002). Religion and Magic in Ancient Egypt. Penguin. ISBN 978-0-14-026252-0.
  • Dunand, Françoise; Zivie-Coche, Christiane (2004) [French edition 1991]. Gods and Men in Egypt: 3000 BCE to 395 CE. Translated by David Lorton. Cornell University Press. ISBN 978-0-8014-8853-5.
  • Englund, Gertie (1989a). "Gods as a Frame of Reference: On Thinking and Concepts of Thought in Ancient Egypt". Dalam Englund, Gertie (ed.). The Religion of the Ancient Egyptians: Cognitive Structures and Popular Expressions. S. Academiae Ubsaliensis. hlm. 7–27. ISBN 978-91-554-2433-6.
  • Englund, Gertie (1989b). "The Treatment of Opposites in Temple Thinking and Wisdom Literature". Dalam Englund, Gertie (ed.). The Religion of the Ancient Egyptians: Cognitive Structures and Popular Expressions. S. Academiae Ubsaliensis. hlm. 77–87. ISBN 978-91-554-2433-6.
  • Enmarch, Roland (2008). "Theodicy". Dalam Wendrich, Willeke (ed.). UCLA Encyclopedia of Egyptology. Department of Near Eastern Languages and Cultures, UC Los Angeles. ISBN 978-0615214030. Diakses tanggal 4 April 2015.
  • Frandsen, Paul John (1989). "Trade and Cult". Dalam Englund, Gertie (ed.). The Religion of the Ancient Egyptians: Cognitive Structures and Popular Expressions. S. Academiae Ubsaliensis. hlm. 95–108. ISBN 978-91-554-2433-6.
  • Frandsen, Paul John (2011). "Faeces of the Creator or the Temptations of the Dead". Dalam Kousoulis, Panagiotis (ed.). Ancient Egyptian Demonology: Studies on the Boundary between the Demonic and the Divine in Egyptian Magic. Peeters. hlm. 25–62. ISBN 978-90-429-2040-8.
  • Frankfurter, David (1998). Religion in Roman Egypt: Assimilation and Resistance. Princeton University Press. ISBN 978-0-691-07054-4.
  • Frankfurter, David (2004). "Histories: Egypt, Later Period". Dalam Johnston, Sarah Iles (ed.). Religions of the Ancient World: A Guide. The Belknap Press of Harvard University Press. hlm. 159–164. ISBN 978-0-674-01517-3.
  • Graindorge, Catherine (2001). "Sokar". Dalam Redford, Donald B. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol. 3. Oxford University Press. hlm. 305–307. ISBN 978-0-19-510234-5.
  • Graves-Brown, Carolyn (2010). Dancing for Hathor: Women in Ancient Egypt. Continuum. ISBN 978-1-8472-5054-4.
  • Griffiths, J. Gwyn (2001). "Isis". Dalam Redford, Donald B. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol. 2. Oxford University Press. hlm. 188–191. ISBN 978-0-19-510234-5.
  • Gundlach, Rolf (2001). "Temples". Dalam Redford, Donald B. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol. 3. Oxford University Press. hlm. 363–379. ISBN 978-0-19-510234-5.
  • Hart, George (2005). The Routledge Dictionary of Egyptian Gods and Goddesses, Second Edition. Routledge. ISBN 978-0-203-02362-4.
  • Hornung, Erik (1982) [German edition 1971]. Conceptions of God in Egypt: The One and the Many. Translated by John Baines. Cornell University Press. ISBN 978-0-8014-1223-3.
  • Kadish, Gerald E. (2001). "Wisdom Tradition". Dalam Redford, Donald B. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol. 3. Oxford University Press. hlm. 507–510. ISBN 978-0-19-510234-5.
  • Kockelmann, Holger (2012). "Philae". Dalam Wendrich, Willeke (ed.). UCLA Encyclopedia of Egyptology. Department of Near Eastern Languages and Cultures, UC Los Angeles. ISBN 978-0615214030. Diakses tanggal 4 April 2015.
  • Kozloff, Arielle P. (2001). "Sculpture: Divine Sculpture". Dalam Redford, Donald B. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol. 3. Oxford University Press. hlm. 242–246. ISBN 978-0-19-510234-5.
  • Kuckertz, Josefine; Lohwasser, Angelika (2019). Introduction to the Religion of Kush. Verlag J. H. Röll. ISBN 978-3-89754-543-4.
  • Leitz, Christian (2004). "Deities and Demons: Egypt". Dalam Johnston, Sarah Iles (ed.). Religions of the Ancient World: A Guide. The Belknap Press of Harvard University Press. hlm. 393–396. ISBN 978-0-674-01517-3.
  • Lesko, Barbara S. (1999). The Great Goddesses of Egypt. University of Oklahoma Press. ISBN 978-0-8061-3202-0.
  • Lesko, Leonard H. (1991). "Ancient Egyptian Cosmogonies and Cosmology". Dalam Shafer, Byron E. (ed.). Religion in Ancient Egypt: Gods, Myths, and Personal Practice. Cornell University Press. hlm. 89–122. ISBN 978-0-8014-9786-5.
  • Lorton, David (1999). "The Theology of Cult Statues in Ancient Egypt". Dalam Dick, Michael B. (ed.). Born in Heaven, Made on Earth: The Making of the Cult Image in the Ancient Near East. Eisenbrauns. hlm. 123–210. ISBN 978-1-57506-024-8.
  • Lucarelli, Rita (2010). "Demons (benevolent and malevolent)". Dalam Wendrich, Willeke (ed.). UCLA Encyclopedia of Egyptology. Department of Near Eastern Languages and Cultures, UC Los Angeles. ISBN 978-0615214030. Diakses tanggal 4 April 2015.
  • Luft, Ulrich H. (2001). "Religion". Dalam Redford, Donald B. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol. 3. Oxford University Press. hlm. 139–145. ISBN 978-0-19-510234-5.
  • Luiselli, Michela (2008). "Personal Piety (modern theories related to)". Dalam Wendrich, Willeke (ed.). UCLA Encyclopedia of Egyptology. Department of Near Eastern Languages and Cultures, UC Los Angeles. ISBN 978-0615214030. Diakses tanggal 4 April 2015.
  • Meeks, Dimitri; Favard-Meeks, Christine (1996) [French edition 1993]. Daily Life of the Egyptian Gods. Translated by G. M. Goshgarian. Cornell University Press. ISBN 978-0-8014-8248-9.
  • Meeks, Dimitri (2001). "Demons". Dalam Redford, Donald B. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol. 1. Oxford University Press. hlm. 375–378. ISBN 978-0-19-510234-5.
  • Melton, J. Gordon (2009). Encyclopedia of American Religions (Edisi 8th). Gale Cengage Learning. ISBN 978-0-7876-9696-2.
  • Mills, Anthony J. (2001). "Western Desert". Dalam Redford, Donald B. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol. 3. Oxford University Press. hlm. 497–501. ISBN 978-0-19-510234-5.
  • Montserrat, Dominic (2000). Akhenaten: History, Fantasy, and Ancient Egypt. Routledge. ISBN 978-0-415-18549-3.
  • Morenz, Siegfried (1973) [German edition 1960]. Ancient Egyptian Religion. Translated by Ann E. Keep. Methuen. ISBN 978-0-8014-8029-4.
  • Morkot, Robert G. (2012). "Kings and Kingship in Ancient Nubia". Dalam Fisher, Marjorie M.; Lacovara, Peter; Ikram, Salima; et al. (ed.). Ancient Nubia: African Kingdoms on the Nile. The American University in Cairo Press. hlm. 118–124. ISBN 978-977-416-478-1.
  • Naerebout, Frederick (2007). "The Temple at Ras el-Soda. Is It an Isis Temple? Is It Greek, Roman, Egyptian, or Neither? And So What?". Dalam Bricault, Laurent; Versluys, Miguel John; Meyboom, Paul G. P. (ed.). Nile into Tiber: Egypt in the Roman World. Proceedings of the IIIrd International Conference of Isis Studies, Faculty of Archaeology, Leiden University, May 11–14 2005. Brill. hlm. 506–554. ISBN 978-90-04-15420-9.
  • Naguib, Saphinaz-Amal (2008). "Survivals of Pharaonic Religious Practices in Contemporary Coptic Christianity". Dalam Wendrich, Willeke (ed.). UCLA Encyclopedia of Egyptology. Department of Near Eastern Languages and Cultures, UC Los Angeles. ISBN 978-0615214030. Diakses tanggal 4 April 2015.
  • Ockinga, Boyo (2001). "Piety". Dalam Redford, Donald B. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol. 3. Oxford University Press. hlm. 44–47. ISBN 978-0-19-510234-5.
  • Pinch, Geraldine (2002). Egyptian Mythology: A Guide to the Gods, Goddesses, and Traditions of Ancient Egypt. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-517024-5.
  • Ritner, Robert K. (2001). "Magic: An Overview". Dalam Redford, Donald B. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol. 2. Oxford University Press. hlm. 321–326. ISBN 978-0-19-510234-5.
  • Ritner, Robert K. (2011). "An Eternal Curse upon the Reader of These Lines". Dalam Kousoulis, Panagiotis (ed.). Ancient Egyptian Demonology: Studies on the Boundary between the Demonic and the Divine in Egyptian Magic. Peeters. hlm. 3–24. ISBN 978-90-429-2040-8.
  • Robins, Gay (2001). "Color Symbolism". Dalam Redford, Donald B. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol. 1. Oxford University Press. hlm. 291–293. ISBN 978-0-19-510234-5.
  • Roccati, Alessandro (2011). "Demons as Reflections of Human Society". Dalam Kousoulis, Panagiotis (ed.). Ancient Egyptian Demonology: Studies on the Boundary between the Demonic and the Divine in Egyptian Magic. Peeters. hlm. 89–96. ISBN 978-90-429-2040-8.
  • Sfameni Gasparro, Giulia (2007). "The Hellenistic Face of Isis: Cosmic and Saviour Goddess". Dalam Bricault, Laurent; Versluys, Miguel John; Meyboom, Paul G. P. (ed.). Nile into Tiber: Egypt in the Roman World. Proceedings of the IIIrd International Conference of Isis Studies, Faculty of Archaeology, Leiden University, May 11–14, 2005. Brill. hlm. 40–72. ISBN 978-90-04-15420-9.
  • Silverman, David P. (1991). "Divinity and Deities in Ancient Egypt". Dalam Shafer, Byron E. (ed.). Religion in Ancient Egypt: Gods, Myths, and Personal Practice. Cornell University Press. hlm. 7–87. ISBN 978-0-8014-9786-5.
  • Sternberg, Heike (2004). "Illnesses and Other Crises: Egypt". Dalam Johnston, Sarah Iles (ed.). Religions of the Ancient World: A Guide. The Belknap Press of Harvard University Press. hlm. 453–456. ISBN 978-0-674-01517-3.
  • Struck, Peter T. (2004). "Esotericism and Mysticism: Hermeticism". Dalam Johnston, Sarah Iles (ed.). Religions of the Ancient World: A Guide. The Belknap Press of Harvard University Press. hlm. 650–652. ISBN 978-0-674-01517-3.
  • Tazawa, Keiko (2009). Syro-Palestinian Deities in New Kingdom Egypt: The Hermeneutics of Their Existence. BAR Publishing. ISBN 978-1-4073-0448-9.
  • Teeter, Emily (2011). Religion and Ritual in Ancient Egypt. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-61300-2.
  • Thompson, Stephen E. (2001). "Cults: An Overview". Dalam Redford, Donald B. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol. 1. Oxford University Press. hlm. 326–332. ISBN 978-0-19-510234-5.
  • Tobin, Vincent Arieh (1989). Theological Principles of Egyptian Religion. P. Lang. ISBN 978-0-8204-1082-1.
  • Traunecker, Claude (2001a) [French edition 1992]. The Gods of Egypt. Translated by David Lorton. Cornell University Press. ISBN 978-0-8014-3834-9.
  • Traunecker, Claude (2001b). "Kamutef". Dalam Redford, Donald B. (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol. 2. Oxford University Press. hlm. 221–222. ISBN 978-0-19-510234-5.
  • Troy, Lana (1986). Patterns of Queenship in Ancient Egyptian Myth and History. Acta Universitatis Upsaliensis. ISBN 978-91-554-1919-6.
  • Versluys, Miguel John (2007). "Aegyptiaca Romana: The Widening Debate". Dalam Bricault, Laurent; Versluys, Miguel John; Meyboom, Paul G. P. (ed.). Nile into Tiber: Egypt in the Roman World. Proceedings of the IIIrd International Conference of Isis Studies, Faculty of Archaeology, Leiden University, May 11–14, 2005. Brill. hlm. 1–14. ISBN 978-90-04-15420-9.
  • Wildung, Dietrich (1977). Egyptian Saints: Deification in Pharaonic Egypt. New York University Press. ISBN 978-0-8147-9169-1.
  • Wilkinson, Richard H. (2003). The Complete Gods and Goddesses of Ancient Egypt. Thames & Hudson. ISBN 978-0-500-05120-7.
  • Wilkinson, Toby (1999). Early Dynastic Egypt. Routledge. ISBN 978-0-203-02438-6.
  • Yellin, Janice W. (2012). "Nubian Religion". Dalam Fisher, Marjorie M.; Lacovara, Peter; Ikram, Salima; et al. (ed.). Ancient Nubia: African Kingdoms on the Nile. The American University in Cairo Press. hlm. 125–144. ISBN 978-977-416-478-1.

Bacaan lanjutan

  • Leitz, Christian, ed. (2002). Lexikon der ägyptischen Götter und Götterbezeichnungen (dalam bahasa Jerman). Peeters. Vol. I: ISBN 978-90-429-1146-8; Vol. II: ISBN 978-90-429-1147-5; Vol. III: ISBN 978-90-429-1148-2; Vol. IV: ISBN 978-90-429-1149-9; Vol. V: ISBN 978-90-429-1150-5; Vol. VI: ISBN 978-90-429-1151-2; Vol. VII: ISBN 978-90-429-1152-9; Vol. VIII: ISBN 978-90-429-1376-9.
  • Watterson, Barbara (1984). Gods of Ancient Egypt. Guild Publishing. ISBN 978-0-7134-4523-7.

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Egyptian deities.
  • Gods and goddesses in ancient Egyptian belief at Digital Egypt for Universities
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Prancis
  • Data BnF
  • Republik Ceko
    • 2
  • Latvia
  • Israel
Lain-lain
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Definisi
  2. Asal-usul
  3. Karakteristik
  4. Peran
  5. Perilaku
  6. Lokasi
  7. Nama dan julukan
  8. Gender dan seksualitas
  9. Hubungan
  10. Manifestasi dan kombinasi
  11. Aten dan kemungkinan monoteisme
  12. Kesatuan ilahi dalam agama tradisional
  13. Deskripsi dan penggambaran
  14. Interaksi dengan manusia
  15. Hubungan dengan firaun
  16. Kehadiran di dunia manusia

Artikel Terkait

Mesir Kuno

peradaban Mesir dari abad ke-31 SM hingga abad ke-1 SM

Daftar dewa-dewi Mesir

artikel daftar Wikimedia

Dewa

sesuatu yang disembah dan dipuja oleh manusia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026