Canang sari adalah upakāra (perlengkapan) keagamaan umat Hindu di Bali untuk persembahan tiap harinya. Persembahan ini dapat ditemui di berbagai pura, kuil, tempat sembahyang kecil di rumah-rumah, dan di jalan-jalan sebagai bagian dari sebuah persembahan yang lebih besar lagi.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Canang sari adalah upakāra (perlengkapan) keagamaan umat Hindu di Bali untuk persembahan tiap harinya.[1][2] Persembahan ini dapat ditemui di berbagai pura, kuil, tempat sembahyang kecil di rumah-rumah, dan di jalan-jalan sebagai bagian dari sebuah persembahan yang lebih besar lagi.[3]
Canang sendiri merupakan salah satu bentuk banten atau "persembahan". Dari segi penggunaan, bentuk, dan perlengkapannya, canang dibedakan menjadi beberapa macam, antara lain Canang Genten, Canang Burat Wangi, Lenge Wangi, Canang Sari, dan Canang Meraka.[4]
Frasa "canang sari" diperoleh dari kata sari ("inti, esensi") dan canang (wadah anyaman daun kelapa).[3] Menurut kamus bahasa Bali, canang merupakan sebuah kata benda dengan tingkatan bahasa halus yang memiliki arti "sirih".[5] Buku "Sembahyang menurut Hindu" menyebutkan bahwa pada zaman dulu sirih bernilai sangat bernilai tinggi dan menjadi lambang penghormatan. Sirih disuguhkan kepada tamu yang sangat dihormati.[4]
Menurut Ida Pedanda Gede Made Gunung, seorang pedanda Bali, kata "canang" terdiri atas dua suku kata bahasa Kawi, "ca" ("indah") dan "nang" ("tujuan"). Dengan demikian, pengertian canang dapat djabarkan menjadi sebuah sarana yang bertujuan untuk memohon keindahan (sundharam) ke hadapan 9 Tuhan yaitu Devata Nava Sanga.[6]
Simbolisme dari bagian-bagian penyusun canang adalah sebagai berikut:[6][3][4]
1. Ceper
2. Beras
3. Porosan
4. Jajan, tebu, dan pisang
5. Sampian uras
6. Bunga
7. Kembang rampai
8. Lepa
9. Minyak wangi
Sebuah canang sari disempurnakan dengan meletakkan sejumlah kepeng (uang logam) atau uang kertas, konon untuk menjadi esensi (sari) dari persembahan.[7]
Canang memiliki peranan yang sangat penting dalam ritual keagamaan umat Hindu di Bali sehingga juga disebut Kanista atau "inti dari upakara". Sebesar apapun upacara tersebut maka tidak akan menjadi lengkap kalau tidak diisi dengan canang.[6]
Canang sari digunakan sebagai persembahan harian kepada Sang Hyang Widhi Wasa sebagai ungkapan syukur atas kedamaian yang telah diberian kepada dunia; merupakan persembahan rumah tangga yang paling sederhana. Filosofi dari proses persembahan adalah mengurbankan diri sendiri, sebab perlu waktu dan tenaga untuk mempersiapkan persembahan. Canang sari tidak digunakan saat ada kematian di dalam masyarakat atau keluarga.[2] Canang sari juga digunakan dalam hari-hari tertentu, seperti Kliwon, Purnama, dan Tilem.[7]