Bjorka adalah sebuah akun media sosial yang dikenal atas aksi peretasannya yang menyorot perhatian publik Indonesia pada 2022. Bjorka pertama kali mendapat sorotan pada September 2022 ketika ia membocorkan 1,3 militar data registrasi kartu SIM Indonesia dan dijual di situs peretas.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Tanggal pendirian | ca 2022 |
|---|---|
| Jenis | |
| Tujuan | |
Wilayah layanan | Indonesia |
Bjorka adalah sebuah akun media sosial yang dikenal atas aksi peretasannya yang menyorot perhatian publik Indonesia pada 2022. Bjorka pertama kali mendapat sorotan pada September 2022 ketika ia membocorkan 1,3 militar data registrasi kartu SIM Indonesia dan dijual di situs peretas.[1]
Identitas asli Bjorka hingga kini belum diketahui secara pasti.[2] Bjorka mengklaim bahwa ia menetap di Warsawa, Polandia, meskipun beberapa pihak meragukannya.[3] Bjorka juga mengklaim motifnya untuk meretas adalah bentuk dedikasi atas orang tua angkatnya yang merupakan Warga Negara Indonesia tetapi tidak diakui menyusul pergolakan Gerakan 30 September 1965, menjadikannya seorang eksil di Eropa dan tidak bisa pulang ke Indonesia hingga akhir hayatnya.[4] Politikus Partai NasDem Willy Aditya berpendapat bahwa pernyataanya ini tampak seperti "gaya bahasa dalam negeri", percaya bahwa Bjorka sebenarnya adalah orang Indonesia sehingga "tidak akan sulit bagi aparat hukum" untuk mengungkap identitasnya.[5]
Pemerintah Indonesia, melalui Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia,[6] telah melakukan serangkaian penyelidikan untuk mengungkap pihak yang berada di balik nama tersebut. Meskipun beberapa individu sempat disebut terkait dengan kasus ini, tidak ada bukti yang secara resmi mengonfirmasi keterlibatan mereka sebagai Bjorka.[6][7]
Bjorka pertama kali dikenal publik ketika mengunggah data yang diklaim berasal dari lembaga-lembaga pemerintah Indonesia, termasuk Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Perusahaan Listrik Negara (PLN), dan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Selain itu, ia juga mengunggah data yang dikaitkan dengan pejabat publik dan masyarakat umum.
Dalam setiap aksinya, Bjorka sering menampilkan pesan yang menyoroti isu kebebasan informasi, transparansi pemerintah, dan perlindungan data pribadi. Aktivitas tersebut disebarkan melalui forum web gelap, Telegram, dan Twitter, yang digunakan sebagai sarana komunikasi dan publikasi.[8]
Kasus Bjorka memicu reaksi beragam dari masyarakat dan pemerintah.[9] Pemerintah Indonesia meningkatkan koordinasi antarinstansi untuk memperkuat sistem keamanan siber nasional.[10] BSSN bersama lembaga terkait melakukan audit terhadap sejumlah basis data pemerintah dan memperketat protokol keamanan komputer.[11]
Sementara itu, kasus ini menimbulkan perdebatan mengenai kesiapan Indonesia dalam melindungi data pribadi warganya.[12] Banyak pihak menilai bahwa insiden kebocoran data yang diungkap oleh Bjorka mencerminkan lemahnya tata kelola keamanan siber di berbagai institusi.
Pada 2 Oktober 2025, Polda Metro Jaya mengumumkan bahwa mereka telah menangkap seorang pria berumur 22 tahun asal Kakas Barat, Minahasa, Sulawesi Utara pada 23 September lalu.[13] Kasus ini bermula pada Februari 2025 ketika ia berupaya memeras salah satu bank swasta dengan menyampaikan langsung ke akun resmi banknya melalui akun X (Twitter) bernama @bjorkanesiaaa bahwa ia telah meretas 4,9 juta data bank nasabah.[14][15] Kepolisian belum bisa memastikan apakah ia merupakan sosok dibalik Bjorka atau hanya seorang peniru yang menggunakan namanya.[16]
Fenomena Bjorka turut mendorong percepatan implementasi Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).[17] Kasus ini menjadi salah satu pemicu meningkatnya kesadaran akan pentingnya regulasi dan infrastruktur keamanan komputer di Indonesia.[18] Pemerintah kemudian menekankan penguatan kebijakan perlindungan data, pengawasan sistem informasi publik, dan peningkatan literasi keamanan komputer di masyarakat.[19]