Biota Ediakara adalah klasifikasi taksonomi untuk seluruh bentuk kehidupan yang menghuni Bumi pada Periode Ediakara. Organisme-organisme ini memiliki bentuk tubuh yang misterius, seperti tabung dan daun menjuntai, serta umumnya menetap di dasar laut. Fosil jejak biota ini telah ditemukan di berbagai penjuru dunia dan merupakan perwujudan paling awal dari organisme multiseluler yang kompleks. Istilah "biota Ediakara" sendiri telah menuai kritik karena dinilai tidak konsisten, cenderung mengecualikan beberapa fosil secara sewenang-wenang, serta sulit didefinisikan secara tepat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Biota Ediakara (dahulu disebut Vendian) adalah klasifikasi taksonomi untuk seluruh bentuk kehidupan yang menghuni Bumi pada Periode Ediakara (sekitar ca 635–538,8 juta tahun lalu). Organisme-organisme ini memiliki bentuk tubuh yang misterius, seperti tabung dan daun menjuntai, serta umumnya menetap di dasar laut.[1][2] Fosil jejak biota ini telah ditemukan di berbagai penjuru dunia dan merupakan perwujudan paling awal dari organisme multiseluler yang kompleks. Istilah "biota Ediakara" sendiri telah menuai kritik karena dinilai tidak konsisten, cenderung mengecualikan beberapa fosil secara sewenang-wenang, serta sulit didefinisikan secara tepat.[3]
Biota Ediakara diduga mengalami radiasi evolusi dalam peristiwa yang dikenal sebagai Ledakan Avalon sekitar 575 juta tahun silam.[4][5] Peristiwa ini terjadi setelah Bumi keluar dari masa Kriogenium yang dikenal dengan glasiasi besar Bumi Bola Salju. Biota ini kemudian menghilang seiring munculnya lonjakan cepat keanekaragaman hayati yang disebut ledakan Kambrium, ketika sebagian besar bangun tubuh hewan modern pertama kali muncul dalam rekaman fosil periode tersebut. Pada masa itu, biota makroskopik Kambrium hampir sepenuhnya menggantikan organisme yang mendominasi catatan fosil Ediakara, meskipun hubungan di antara keduanya masih menjadi perdebatan.
Organisme Ediakara pertama kali muncul sekitar 600 juta tahun silam dan bertahan hingga menjelang awal Kambrium sekitar 538,8 juta tahun silam, ketika komunitas fosil khas mereka lenyap. Sebuah komunitas Ediakara yang sangat beragam ditemukan pada tahun 1995 di Sonora, Meksiko, berumur sekitar 555 juta tahun, setara dengan fosil Ediakara dari Perbukitan Ediacara di Australia Selatan dan Laut Putih di pesisir Rusia.[6][7][8] Sementara itu, beberapa fosil langka yang mungkin merupakan "penyintas" telah ditemukan hingga Kambrium Tengah (510–500 juta tahun lalu), tetapi komunitas Ediakara yang lebih awal menghilang dari catatan geologi meninggalkan hanya sisa-sisa samar dari ekosistem yang dulu makmur.[9] Beragam hipotesis telah diajukan untuk menjelaskan kepunahan ini, termasuk bias pelestarian, perubahan lingkungan, munculnya predator, dan kompetisi antarorganisme. Suatu penelitian tahun 2018 terhadap lapisan Ediakara akhir di wilayah sisa Baltika (< 560 juta tahun lalu) menunjukkan bahwa puncak kejayaan biota ini bertepatan dengan kondisi produktivitas laut yang rendah tetapi sangat didominasi oleh bakteri, yang mungkin menghasilkan konsentrasi tinggi materi organik terlarut di samudra.[10]
Menentukan posisi organisme Ediakara dalam pohon kehidupan merupakan tantangan besar; bahkan belum pasti apakah sebagian besar di antaranya merupakan hewan. Ada dugaan bahwa mereka mungkin lichen (simbion jamur-alga), alga, protista seperti foraminifera, jamur, koloni mikroba, atau bahkan bentuk antara tumbuhan dan hewan.[11] Bentuk dan kebiasaan beberapa taksa (misalnya Funisia dorothea) menunjukkan kemiripan dengan Porifera atau Cnidaria (misalnya Auroralumina).[12][13][14] Kimberella mungkin memiliki kemiripan dengan moluska, dan beberapa organisme lain tampak menunjukkan simetri bilateral, meski hal ini masih diperdebatkan. Sebagian besar fosil makroskopik Ediakara sangat berbeda secara morfologis dari kehidupan modern: menyerupai cakram, tabung, kantung lumpur, atau kasur berlapis. Karena sulitnya menentukan hubungan evolusioner di antara organisme ini, beberapa paleontolog berpendapat bahwa mereka merupakan garis keturunan yang benar-benar punah dan tidak memiliki padanan hidup. Adolf Seilacher bahkan mengusulkan suatu subkerajaan tersendiri, Vendozoa (kini disebut Vendobionta),[15] dalam hierarki Linnaean untuk menggolongkan biota Ediakara. Jika organisme-organisme misterius ini tidak meninggalkan keturunan, maka bentuk-bentuk aneh mereka mungkin dapat dianggap sebagai "eksperimen yang gagal" dalam sejarah kehidupan multiseluler, sebuah upaya awal yang tak berlanjut, sebelum kehidupan multiseluler modern berevolusi secara terpisah dari nenek moyang bersel tunggal yang berbeda.[16] Suatu studi pada tahun 2018 menemukan bahwa salah satu fosil paling ikonik dari masa ini, Dickinsonia, mengandung kolesterol,[17] yang menunjukkan hubungan dekat dengan hewan, jamur, atau alga merah.[18]
Biota Ediakara | ||||||||||||||||
−650 — – −640 — – −630 — – −620 — – −610 — – −600 — – −590 — – −580 — – −570 — – −560 — – −550 — – −540 — – −530 — – −520 — – −510 — – −500 — – −490 — |
| |||||||||||||||
| Bagian dari seri |
| Ledakan Kambrium |
|---|
−4500 — – — – −4000 — – — – −3500 — – — – −3000 — – — – −2500 — – — – −2000 — – — – −1500 — – — – −1000 — – — – −500 — – — – 0 — |
| |||||||||||||||||||||||||
Fosil Ediakara pertama yang ditemukan adalah Aspidella terranovica, berbentuk cakram, pada tahun 1868. Penemunya, ahli geologi asal Skotlandia Alexander Murray, mendapati fosil tersebut berguna untuk membantu menentukan kesetaraan umur lapisan batuan di sekitar Newfoundland.[21] Namun, karena fosil itu ditemukan di bawah "Strata Primordial" dari Kambrium, yang pada masa itu diyakini mengandung tanda-tanda pertama kehidupan hewan, usulan Elkanah Billings empat tahun kemudian bahwa bentuk-bentuk sederhana ini merupakan fauna, segera ditolak oleh rekan-rekannya. Fosil-fosil itu justru dianggap sebagai struktur akibat pelepasan gas atau konkresi anorganik.[21] Karena belum ada struktur serupa yang ditemukan di tempat lain di dunia, perdebatan sepihak tersebut pun perlahan dilupakan.[21] Pada tahun 1933, Georg Gürich menemukan spesimen di Namibia, tetapi menempatkannya dalam Periode Kambrium.[22] Lalu, pada tahun 1946, Reg Sprigg mengamati keberadaan "ubur-ubur" di Ediacara Hills dalam Flinders Ranges di Australia, yang kala itu masih dianggap sebagai batuan Kambrium Awal.[23]

Barulah setelah penemuan fosil ikonis Charnia di Inggris, masa Prakambrium mulai dianggap sungguh-sungguh menyimpan kehidupan. Fosil berbentuk frond ini ditemukan di Charnwood Forest oleh seorang gadis berusia 15 tahun pada tahun 1956 (Tina Negus, yang saat itu tidak dipercaya[24][a]), dan setahun kemudian oleh sekelompok tiga murid laki-laki, termasuk Roger Mason yang juga berusia 15 tahun.[25][26][27] Berkat pemetaan geologi terperinci oleh British Geological Survey, tidak ada keraguan bahwa fosil-fosil tersebut berasal dari batuan Prakambrium. Paleontolog Martin Glaessner akhirnya, pada tahun 1959, menghubungkan temuan ini dengan penemuan-penemuan sebelumnya[28][29], dan dengan perpaduan antara penentuan umur yang lebih akurat serta semangat baru dalam pencarian, banyak lagi fosil serupa berhasil ditemukan.[30]
Hingga tahun 1967, semua spesimen yang ditemukan terdapat dalam batu pasir berbutir kasar, yang menghalangi pelestarian detail halus sehingga menyulitkan interpretasi. Penemuan S.B. Misra atas lapisan abu vulkanik berfosil di daerah Mistaken Point di Newfoundland mengubah segalanya, sebab butiran abu halus itu memungkinkan pelestarian struktur yang sangat rinci dan sebelumnya tak terlihat.[31][32] Ini juga merupakan penemuan pertama fosil Ediakara di sedimen perairan dalam.[33]
Komunikasi ilmiah yang buruk, ditambah kesulitan menghubungkan formasi batuan dari berbagai wilayah di dunia, menyebabkan munculnya beragam istilah berbeda untuk biota tersebut. Pada tahun 1960, istilah Prancis "Ediacarien", yang diambil dari nama perbukitan Ediakara. ditambahkan ke dalam daftar istilah serupa seperti "Sinian" dan "Vendian"[34] untuk menyebut batuan akhir Prakambrium, dan nama-nama itu kemudian juga digunakan untuk menyebut organisme yang hidup pada masa tersebut. Istilah "Ediakara" dan "Ediakarian" selanjutnya digunakan untuk menamai kala atau periode waktu geologi beserta batuan yang mengiringinya. Pada Maret 2004, International Union of Geological Sciences mengakhiri ketidakkonsistenan itu dengan secara resmi menamai periode terakhir Neoproterozoikum berdasarkan lokasi di Australia.[35]
Istilah "biota Ediakara" dan variasinya ("Ediakara" / "Ediakarian" / "Vendian" serta "fauna" / "biota") pada berbagai waktu digunakan dalam konteks geografis, stratigrafis, tafonomik, maupun biologis, dengan makna biologislah yang paling umum dipakai dalam literatur modern.[36]

Tikar mikrob merupakan hamparan sedimen yang distabilkan oleh koloni mikroorganisme yang mengeluarkan cairan lengket atau mengikat partikel-partikel sedimen dengan cara lain. Ketika tertutup oleh lapisan sedimen tipis, koloni ini tampak seolah-olah berpindah ke permukaan, tetapi sesungguhnya itu hanyalah ilusi yang diakibatkan oleh pertumbuhan koloni; tiap individu tidak bergerak sendiri-sendiri. Apabila lapisan sedimen yang menutupi terlalu tebal sebelum koloni sempat tumbuh atau bereproduksi menembusnya, sebagian koloni akan mati dan meninggalkan fosil dengan permukaan berkerut khas yang menyerupai "kulit gajah" serta bertekstur benjol-benjol.[37]
Beberapa lapisan batuan Ediakara yang memperlihatkan tekstur khas tikar mikroba mengandung fosil, dan hampir semua fosil Ediakara ditemukan pada lapisan yang memiliki lapisan mikroba semacam ini. Walaupun lapisan mikroba pernah tersebar luas sebelum terjadinya revolusi substrat Kambrium, evolusi organisme pemakan dasar laut secara drastis mengurangi keberadaannya.[38] Kini, komunitas semacam ini hanya bertahan di refugium yang tidak ramah bagi sebagian besar kehidupan, seperti stromatolit yang terdapat di Cagar Alam Laut Hamelin Pool di Teluk Shark, Australia Barat, di mana kadar garamnya dapat mencapai dua kali lipat dari air laut sekitarnya.[39]

Pelestarian fosil Ediakara menjadi hal yang menarik, sebab organisme bertubuh lunak seperti ini umumnya tidak meninggalkan jejak fosil. Berbeda dengan biota bertubuh lunak yang lebih muda seperti yang ditemukan di Burgess Shale atau Batu Gamping Solnhofen, biota Ediakara tidak terbatas pada lingkungan luar biasa tertentu, fosilnya ditemukan di seluruh dunia. Dengan demikian, proses yang bertanggung jawab atas pelestariannya bersifat sistemik dan global. Sesuatu dalam kala Ediakara memungkinkan makhluk-makhluk rapuh ini terawetkan; mungkin karena mereka cepat tertutup abu vulkanik atau pasir yang menjepit tubuh mereka di atas lumpur atau lempung mikroba tempat mereka hidup.[40] Pelestarian ini mungkin diperkuat oleh tingginya kadar silika di lautan sebelum munculnya organisme penghasil kerangka silika seperti spons dan diatom.[41] Lapisan abu juga memberi rincian kronologi yang lebih akurat dan dapat ditentukan umurnya hingga jutaan tahun menggunakan penanggalan radiometrik.[42] Namun, lebih sering fosil Ediakara ditemukan di bawah lapisan pasir yang diendapkan oleh badai, atau di dalam turbidit yang terbentuk oleh arus laut dasar berenergi tinggi.[40] Organisme bertubuh lunak di masa kini hampir tak pernah terfosilkan dalam peristiwa semacam itu, tetapi keberadaan lempung mikroba yang luas kemungkinan membantu pelestarian dengan menstabilkan jejak mereka pada sedimen di bawahnya.[43]
Laju sementasi lapisan sedimen penutup dibandingkan dengan laju penguraian organisme menentukan apakah permukaan atas atau bawah suatu organisme yang akan terawetkan. Sebagian besar fosil berbentuk cakram terurai sebelum sedimen penutup mengeras, sehingga abu atau pasir kemudian mengendap untuk mengisi ruang kosong dan membentuk cetakan bagian bawah organisme. Sebaliknya, fosil berstruktur bersekat cenderung terurai setelah sedimen di atasnya mengeras; akibatnya, permukaan atasnya yang terawetkan. Ketahanan yang lebih tinggi ini juga tampak dari fakta bahwa, dalam kasus langka, fosil bersekat dapat ditemukan di dalam lapisan badai, sedimentasi berenergi tinggi yang biasanya akan menghancurkan bentuk-bentuk yang lebih rapuh. Selain itu, dalam beberapa kasus, bakteri menyebabkan presipitasi mineral yang membentuk "topeng kematian", meninggalkan cetakan positif menyerupai topeng dari organisme tersebut.[44][45]