Anarkisme di Indonesia berakar pada perjuangan anti-kolonial melawan Kekaisaran Belanda. Anarkisme berkembang menjadi gerakan terorganisasi atas desakan para imigran anarkis Tionghoa, yang memainkan peran kunci dalam perkembangan gerakan buruh di Indonesia. Gerakan anarkis ini ditumpas, pertama oleh pendudukan Jepang di Hindia Belanda, kemudian oleh rezim Sukarno dan Suharto, sebelum akhirnya muncul kembali pada tahun 1990-an.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Bagian dari seri politik tentang |
| Anarkisme |
|---|
Anarkisme di Indonesia berakar pada perjuangan anti-kolonial melawan Kekaisaran Belanda. Anarkisme berkembang menjadi gerakan terorganisasi atas desakan para imigran anarkis Tionghoa, yang memainkan peran kunci dalam perkembangan gerakan buruh di Indonesia. Gerakan anarkis ini ditumpas, pertama oleh pendudukan Jepang di Hindia Belanda, kemudian oleh rezim Sukarno dan Suharto, sebelum akhirnya muncul kembali pada tahun 1990-an.
Anarkisme sendiri merupakan teori politik yang memiliki tujuan menciptakan tindakan anarki, ketiadaan tuan, tanpa raja yang berkuasa. Dalam kata lain, anarkisme merupakan teori politik yang bertujuan untuk menciptakan kebebasan individu berkumpul bersama dalam suatu masyarakat secara sederajat.[1][2] Istilah Anarkisme/Anarki di Indonesia kerap disalahartikan sebagai "kekacauan", padahal anarkis adalah seruan untuk kebebasan tanpa dominasi dan hierarki.
Anarkisme modern adalah bagian penting dari gerakan pekerja pada akhir abad ke-19. Modernisme, industrialisasi, reaksi terhadap kapitalisme, dan migrasi massal membantu anarkisme berkembang dan menyebar ke seluruh dunia. Kecenderungan utama anarkisme sebagai gerakan sosial telah diwakili oleh anarko-kolektivisme, anarko-komunisme dan anarko-sindikalisme, dengan anarkisme individualis menjadi fenomena literatur utama.
Dengan bertumbuhnya gerakan buruh, bentrokan antara anarkis dan komunis Marxisme menjadi tidak terhindarkan. Kedua aliran ini terbelah di kongres kelima Internasional Pertama pada 1872. Peristiwa selanjutnya tidak membantu mengurangi kesenjangan. Anarkis berpartisipasi dengan antusias dalam Revolusi Rusia, tetapi begitu kelompok Bolshevik mengukuhkan kekuasaannya, kelompok anarkis ditekan dengan kejam terutama di Kronstadt dan Ukraina. Momen paling menonjol dari anarkisme adalah Perang Saudara Spanyol yang berakhir dengan kekalahan anarkis dan seukutunya. Anarkisme sebagai gerakan tampak mati setelah Perang Dunia II.
Namun, pada 1960-an mereka muncul kembali dalam berbagai bentuk, khususnya dalam gerakan antiglobalisasi. Bersama dengan tren anarkisme klasik, semakin banyak kelompok akar rumput yang mengadopsi cara organisasi yang anarkistik
Berdasarkan sejarah di dunia, paham anarkismes pertama kali muncul di benua Eropa pada abad ke-18. Sedangkan sejarahnya di Indonesia dimulai pada era penjajahan Belanda. Sejarah paham anarkisme di Indonesia bermula dari Tokoh Indonesia yang bernama Edward Douwes Dekker atau dikenal sebagai Multatuli lewat sebuah bukunya Max Havelaar yang memberikan pengaruh kuat kepada para anarkis di Hindia Belanda.[3]
Keponakan buyutnya, Ernest Douwes Dekker, menjadi tokoh terkemuka dalam gerakan anti-kolonial Indonesia pada awal abad ke-20. Ernest menjalin kontak dengan aktivis anti-kolonial radikal lainnya, termasuk anarkis India Shyamji Krishna Varma dan Har Dayal, yang karyanya diterbitkan dalam publikasi Dekker, Het Tijdschrift. Dekker menyelaraskan dirinya melawan parlementerisme, karena penindasan hak-hak pekerja yang dilakukan secara sistematis oleh parlemen Eropa. Dia juga menganjurkan cara-cara kekerasan dan tanpa kekerasan untuk melawan kolonialisme, yang dia yakini sebagai tugas moral, dan bersimpati terhadap strategi revolusioner sindikalisme, sebagai lawan dari reformisme. Dekker secara luas dianggap sebagai seorang anarkis dan merupakan orang Indonesia asli pertama yang dikenal seperti itu.[4] Dia kemudian mendirikan Indische Partij, salah satu organisasi politik pertama yang didirikan selama Kebangkitan Nasional Indonesia.[5]
Serikat pekerja Indonesia juga mulai bermunculan sekitar masa itu, banyak di antaranya dipengaruhi oleh Marxisme. Mereka khususnya aktif berorganisasi di dalam jajaran Tentara Kerajaan Hindia Belanda, mendirikan serikat tentara dan pelaut yang mengoordinasikan perlawanan selama Perang Dunia I. Pada 7 Mei 1916, para pelaut anarkis di Surabaya mengorganisasi aksi mogok liar (tanpa persetujuan serikat) untuk menentang kondisi hidup dan kerja mereka yang buruk, yang kemudian berbenturan langsung dengan polisi militer. Dalam aksi represif berikutnya, 5 orang terluka, 47 pelaut dipecat, dan salah satu pengorganisasi utama dipenjara selama 8 bulan. Pimpinan serikat mengkritik cabang lokal karena kurangnya perlawanan terhadap aksi mogok tersebut, sementara pimpinan SDAP menyatakan perlunya memerangi "elemen-elemen anarkis" di dalam serikat, dan komando tinggi angkatan darat menyerukan agar serikat pekerja dipisahkan sepenuhnya dari angkatan bersenjata.
Sepanjang tahun 1920-an, organisasi-organisasi anarkis mengorganisasi para pekerja perkebunan, dengan serangan-serangan terhadap para administrator Belanda yang datang bersamaan, menyebabkan banyak masalah bagi penguasa Belanda, yang melakukan pencarian dan penyitaan properti yang ekstensif, menyita dokumen-dokumen apa pun yang mereka temukan. Kaum anarkis mengorganisasi pemogokan-pemogokan terhadap Perusahaan Kereta Api Deli, mencapai puncaknya pada bulan September 1920, ketika lebih dari 15.000 pekerja kereta api bergabung dalam pemogokan untuk menuntut kenaikan gaji. Ketika beberapa pemogok menyerukan pembalasan terhadap para pejabat Belanda, angkatan bersenjata didatangkan untuk membubarkan pemogokan dan meriam-meriam diarahkan pada majelis pekerja setempat, yang mengakibatkan penangkapan ratusan pekerja. Penguasa Belanda mengasingkan Zhang Shimei, salah satu pengorganisasi utama pemogokan, ke Nugini, kemudian mendeportasinya ke Singapura. Meskipun serikat-serikat sindikalis terus beroperasi hingga akhir tahun 1920-an, gerakan anarkis Tionghoa di Indonesia sebagian besar ditekan pada tahun 1929.
Pendudukan Jepang di Hindia Belanda membawa serta penindasan yang brutal terhadap gerakan buruh, kelompok sayap kiri, dan perjuangan pembebasan nasional Indonesia. Kekaisaran Jepang menempatkan jutaan pekerja Indonesia dalam sistem kerja paksa, yang mengakibatkan kematian sekitar 4 juta orang selama masa pendudukan. Aktivis sosialis Indonesia, Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifuddin Harahap, memimpin perlawanan bawah tanah terhadap kekuasaan Kekaisaran Jepang di Jawa, dibantu oleh kelompok-kelompok perlawanan Tionghoa, Ambon, dan Minahasa. Sjarifuddin ditangkap oleh pasukan pendudukan pada tahun 1943, tetapi ia lolos dari eksekusi karena campur tangan Sukarno, yang secara aktif bekerja sama dengan Kekaisaran Jepang. Ketika Perang Pasifik mencapai titik balik pada tahun 1944, Kekaisaran Jepang mulai mempertimbangkan secara serius prospek kemerdekaan Indonesia, mendorong nasionalisme Indonesia, dan meletakkan dasar bagi perjuangan pembebasan melawan Kekaisaran Kolonial Belanda.

Dua hari setelah Jepang menyerah, Sukarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, yang menandai dimulainya Revolusi Nasional Indonesia. Pada saat itu, gerakan anarkis Indonesia sebagian besar telah menghilang, setelah puluhan tahun ditindas oleh kekuatan-kekuatan imperialis. Republik Indonesia yang baru berdiri, dengan Sukarno bertindak sebagai Presiden pertama negara itu dan Sutan Sjahrir sebagai Perdana Menteri pertamanya, mulai menekan gerakan anarko-sindikalis yang baru lahir tersebut. Para pekerja Jawa secara spontan melakukan ekspropriasi dan membangun kendali buruh atas perkeretaapian, perkebunan, dan pabrik-pabrik di negara ini.
Gerakan anarkis muncul kembali pada tahun 1990-an sebagai bagian dari subkultur punk Indonesia, gerakan punk terbesar di Asia Tenggara. Anak-anak muda telah menciptakan subkultur punk bawah tanah mereka sendiri, yang seiring waktu berkembang menjadi gaya yang sama sekali berbeda dari gerakan aslinya. Terdapat juga kelompok-kelompok yang direkrut oleh PRD (Partai Rakyat Demokratik) selama satu dekade terakhir Orde Baru dengan membentuk Front Anti Fasis (FAF).[6][7]
Lahirnya (FAF) menginisiasi dua konsolidasi nasional yaitu munculnya Jaringan Anti Fasis Nusantara (JAFNus) pada tahun 1999 dan membentuk Jaringan Anti-Otoritarian (JAO). pada tahun 2007 yang merupan bertujuan untuk melengserkan rezim orde baru.[butuh klarifikasi] Sejak 2007, semakin banyak gelombang perlawanan yang ditunjukkan oleh para anarkis di Indonesia. Sebagian harus mengalami penangkapan dan pemenjaraan.[8][9]
Kelanjutan peristiwa May Day hingga tahun 2010-an membawa pertumbuhan minat pada anarko-sindikalisme, yang mengarah pada pembentukan Workers' Power Syndicate di Surabaya, yang kemudian membantu pekerja pabrik selama perselisihan industrial dengan majikan mereka. Pembaharuan minat pada serikat pekerja dan sindikalisme ini mencapai puncaknya pada tanggal 3 Oktober 2012, dengan pemogokan umum pertama di negara itu dalam 50 tahun. Pada tahun 2016, Persaudaraan Pekerja Anarko Sindikalis didirikan dan berafiliasi dengan IWA-AIT, yang didukung oleh Federasi Anarko-Sindikalis Australia. Ia mengorganisasikan diri menurut prinsip-prinsip desentralisasi, kesetaraan, aksi langsung, internasionalisme, solidaritas, kerja sama timbal balik, kemandirian dan penolakan kapitalisme dan negara. Ia berpartisipasi dalam demonstrasi May Day yang berkelanjutan, serta protes pekerja untuk upah yang lebih tinggi, berkembang hingga memiliki cabang di Jakarta dan Surabaya. PPAS juga mengorganisasi Serikat Pengemudi Taksi Independen (KUMAN), yang menyatukan lebih dari 500 pengemudi di seluruh Indonesia dan melakukan aksi mogok terhadap Uber untuk menuntut upah yang lebih tinggi dan perbaikan kondisi kerja. Sebagai respons terhadap pandemi COVID-19, PPAS mengajukan tuntutan dan mengorganisasi aksi untuk melindungi pekerja dari dampak virus tersebut.
Pada tahun 2020, pemerintah Indonesia memulai tindakan keras terhadap aktivitas anarkis, di mana akun media sosial diretas, aktivis anarkis ditangkap, buku disita, tahanan diisolasi. Polisi mengklaim bahwa kaum anarkis merencanakan kampanye penjarahan massal dan memaksa seorang penjahat untuk mengaku dan menyatakan dirinya sebagai "satu-satunya pemimpin kaum anarkis." Dalam apa yang oleh banyak anarkis Indonesia digambarkan sebagai "perburuan penyihir", pada tanggal 9 April, tiga orang anarkis dari Tangerang ditangkap karena menyemprotkan grafiti bertuliskan "sudah krisis, saatnya membakar" dan "berjuang atau binasa", dan didakwa dengan tuduhan provokasi publik.
Para tahanan disiksa oleh polisi dan dimasukkan ke dalam isolasi selama sebulan, sebelum persidangan mereka dimulai pada tanggal 15 Juni. Pengadilan Negeri Tangerang memutuskan para terdakwa bersalah pada tanggal 28 September, menjatuhkan hukuman dua hingga 10 bulan penjara dan yang lainnya 8 bulan, dalam apa yang dianggap pembela sebagai preseden yang berbahaya. Kaum anarkis juga dilaporkan termasuk di antara peserta aktif dalam protes terhadap pengesahan UU Cipta Kerja, di mana para militan membakar kantor polisi, merusak properti pemerintahan, dan bentrok dengan polisi di barikade di sejumlah kota di Indonesia. Dalam konferensi pers, polisi mengumumkan bahwa mereka sedang menyelidiki 6 pengunjuk rasa yang mereka klaim berafiliasi dengan gerakan anarkis.
Pada dasarnya Anarkisme merupakan filosofi yang percaya oleh manusia sebagai anggota masyarakat yang tidak mau diperintah maupun hidup dalam belenggu otoritas. Anarkisme sering kali dikatakan sebagai biang kerok dalam kekerasan dan sudah mencapai puncaknya di Indonesia. Bebarapa media massa beramai-ramai menggunakan diksi tersebut untuk menjelaskan keterkatan dengan kurusuhan, kebrutalan, dan pengrusakan lainnya.[10]
"Meskipun pemahaman umum mengenai anarkisme adalah sebuah gerakan anti-negara yang penuh dengan kekerasan, anarkisme adalah sebuah tradisi yang bernuansa lebih dalam daripada sekadar perlawanan terhadap kekuasaan pemerintah. Kaum anarkis menentang pemikiran bahwa masyarakat membutuhkan kekuasaan dan dominasi, dan malah membela bentuk-bentuk organisasi sosial, politik, dan ekonomi yang anti-hierarkis dan lebih kooperatif" (L. Susan Brown)
Pandangan politik yang bertujuan untuk menciptakan suatu masyarakat yang di dalamnya individu bebas berkumpul bersama secara sederajat (egaliter) tanpa adanya hierarki. Anarkisme melawan semua bentuk kontrol hierarkis, baik kontrol oleh negara maupun kapitalis, sebab hierarki dianggap merugikan individu dan individualitas seseorang dan secara pemikiran sosial yang penganutnya menganjurkan penghapusan kapitalisme dan menggantinya dengan kepemilikan bersama. Sederhananya, anarkisme merupakan kebebasan otoritas atau keadaan tanpa pemerintahan. Kata Anarki lahir sebagai respon akan konsep demokrasi dan tanggapan terhadap sistem politik lainnya. Sejarahnya, setelah revolusi Prancis pada tahun 1793, paham anarkisme menjadi politik alternatif bagi monarki dan masyarakat atas teokrasi untuk menuju kesetaraan total dan menghapuskan otoriter.[11][12]
([[Peter Kropotkin]])</sup>"}},"i":0}}]}' id="mwtQ"/>"Anarkisme adalah sebuah sistem sosialis tanpa pemerintahan. Ia dimulai di antara manusia, dan akan mempertahankan vitalitas dan kreativitasnya selama merupakan pergerakan dari manusia" (Peter Kropotkin)