KRMH. H. Agus Sudono merupakan salah satu tokoh buruh legendaris Indonesia yang melintasi tiga zaman, yakni Orde Lama, Orde Baru dan Reformasi. Ia memperjuangkan berbagai hak-hak buruh dan pekerja Indonesia juga dunia. Agus Sudono meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto karena diabetes dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
|
Kanjeng Raden Mas Haryo Agus Sudono | |
|---|---|
| Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia | |
| Masa jabatan 1998–2003 Menjabat bersama Ahmad Badja, Jusuf Syakir, Sulasikin Murpratomo, dan Suparman Ahmad | |
Pengganti dibubarkan | |
| Ketua GASBIINDO ke 3 | |
| Masa jabatan 1964–2007 | |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | (1933-02-02)2 Februari 1933 |
| Meninggal | 6 Februari 2012(2012-02-06) (umur 79) Jakarta |
| Makam | TMPNU Kalibata |
KRMH (Kanjeng Raden Mas Haryo). H. Agus Sudono (02 Februari 1933 – 06 Februari 2012) merupakan salah satu tokoh buruh legendaris Indonesia yang melintasi tiga zaman, yakni Orde Lama, Orde Baru dan Reformasi. Ia memperjuangkan berbagai hak-hak buruh dan pekerja Indonesia juga dunia. Agus Sudono meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto karena diabetes dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata.[1][1]
Agus Sudono merupakan anak dari R.A. (Raden Ayu) Mujiatun, seorang ibu yang taat beragama dan berasal dari lingkungan saudagar-santri di Nahdlatul Ulama. Ayahnya, R.M. (Raden Mas) Darmohusodo, seorang dokter gula dan Kepala Poliklinik di Pabrik Gula Karanganom, Klaten, Jawa Tengah, yang juga merupakan Ketua Muhammadiyah, menautkan garis silsilahnya kembali ke Pangeran Sambernyowo (Mangkunegaran I), seorang pahlawan nasional dan pendiri Dinasti Mangkunegaran, Agus Sudono sebagai cucu kelima (wareng). Sementara dari garis ibunya, Agus Sudono adalah cucu keempat (canggah) dari Pujangga Ronggowarsito.
Agus Sudono menikahi teman masa kecilnya, Sudarni, dan mereka dikaruniai tujuh anak. Salah satu putrinya, Agusdini Banun Saptaningsih, menjabat sebagai salah satu Direktur di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia[1]
Ia merupakan alumni Universitas Nasional (tingkat empat/IV) dan The American University di Washington D.C..[2] Ia pernah aktif di PII dan Muhammadiyah.[2]
Agus Sudono dikenal sebagai tokoh buruh dari Indonesia. Ia dikenal aktif dalam berbagai organisasi buruh baik nasional maupun internasional. Ia juga dikenal aktif dalam Organisasi Buruh Internasional/International Labour Organization (ILO) sebagai anggota Badan Eksekutif.[1] Ia juga dikenal sebagai pendiri dan ketua pertama KSPSI.[3] Ia juga pernah menjadi dewan pembina pada organisasi buruh GASBIINDO.[4]
Agus Sudono juga dikenal aktif dalam pergolakan politik di Indonesia. Beliau pernah menjadi Anggota DPR–GR RI/MPRS–RI (1960 – 1973), Anggota DPR /MPR RI (1983 – 1993) dan wakil ketua DPA (1998 – 2003) Republik Indonesia.[5][2]
Kiprahnya dalam dunia perburuhan yang juga meliputi ranah Internasional, memberikan banyak peluang bagi Agus Sudono untuk mempersembahkan sumbangsih yg cukup berarti bagi NKRI antara lain dengan berperan sebagai salah satu penasehat anggota delegasi Indonesia di PBB pada tahun 1969 di New York, Amerika Serikat dalam rangka pencapaian penuntasan resolusi Irian Barat yang pada intinya ikut memperjuangkan kembalinya Irian Barat sepenuhnya ke pangkuan NKRI yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Adam Malik. Agus Sudono mendapat tugas untuk melakukan pendekatan dengan menggiring opini sesuai petunjuk dan arahan Menteri Luar Negeri Adam Malik melalui salah satu anggota delegasi Belanda yang merupakan koleganya dari latar belakang Perburuhan yaitu Mr. Andre Kloos yang merupakan Ketua Umum Gabungan Serikat Buruh Belanda yaitu NVV (Nederlandse Vakbond Vereneging) agar dengan perantaraannya maka pimpinan delegasi Belanda yaitu Menteri Luar Negeri Belanda Joseph Luns sikapnya bisa melunak, kompromistis dan perlahan-lahan menerima hasil PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) di Irian Barat, yang telah berlangsung dengan sukses di bawah pengawasan PBB dan tetap ingin bergabung dengan Indonesia, sekaligus menekankan bahwa jika Belanda menolak hasil PEPERA maka hubungan Indonesia dan Belanda akan memburuk lagi. Akhirnya dalam Sidang Umum PBB; misi delegasi Indonesia yang dipimpin Menteri Luar Negeri Adam Malik tersebut yang pada intinya mengemban amanah untuk ikut berjuang dalam mengembalikan Irian Barat ke pangkuan NKRI sepenuhnya berhasil dengan lancar dan sukses. Seperti diketahui bersama perjuangan TRIKORA (Tri Komando Rakyat) yang telah berhasil dengan sukses, yang dipimpin oleh Presiden Soekarno dengan menunjuk Mayor Jenderal Soeharto sebagai Panglima Komando Mandala dalam operasi TRIKORA tersebut; (Mayjen. Soeharto selanjutnya menjadi Presiden ke 2 RI) dan dengan dukungan negara2 sahabat akhirnya membuat Dewan Keamanan PBB memutuskan untuk mengembalikan wilayah Irian Barat kepada Indonesia. Sekalipun demikian tetap harus diselenggarakan PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) di Irian Barat. Maka pada tahun 1969 Agus Sudono sebagai Ketua Umum GASBIINDO (Gabungan Serikat Buruh Islam Indonesia) ditunjuk sebagai salah satu Penasehat delegasi RI ke PBB untuk mengoptimalkan dan memuluskan hasil PEPERA yang sudah berlangsung. Dalam ajang diplomasi PBB itu Menteri Luar Negeri Belanda Joseph Luns dalam pidatonya masih terus mengusik hal tersebut, gencar melakukan serangan kepada Indonesia karena tampaknya tidak rela melepaskan wilayah bekas jajahannya tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut maka Menteri Luar Negeri RI Adam Malik dan Kepala Perwakilan Tetap RI di PBB Dr. Roeslan Abdulgani memberikan tugas kepada Agus Sudono untuk melakukan pendekatan atau dgn kata lain melobi kepada salah satu anggota delegasi Belanda tersebut diatas.[6][7]
Sebagai tambahan informasi, delegasi RI yang dipimpin Menteri Luar Negeri Adam Malik tersebut juga mengikut sertakan Aspri Presiden Soeharto yakni Ali Murtopo dan HJ. Naro, SH.[8]
Agus Sudono juga diakui atas kontribusinya dengan menerima sejumlah penghargaan, yakni Bintang Gerilya, Satyalancana Perang Kemerdekaan I, Satyalancana Perang Kemerdekaan II, Satyalancana Veteran RI dan yang paling tertinggi adalah Bintang Mahaputera Adipradana[1]