Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Abdullah al-Aftah

ʿAbdullāh al-Afṭaḥ bin Jaʿfar aṣ-Ṣādiq adalah putra sulung Ja'far ash-Shadiq dan saudara kandung Isma'il bin Ja'far. Gelar Abdullah "al-Aftah" berasal dari kata Arab "aftah al-ra's" atau "aftah al-rijlain" yang digunakan untuk menggambarkan penampilannya.

putra sulung Ja'far ash-Shadiq (meninggal 766)
Diperbarui 29 September 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

ʿAbdullāh al-Afṭaḥ bin Jaʿfar aṣ-Ṣādiq (Bahasa Arab: عبدالله الأفطح بن جعفر الصادق, w. 766 M/149 H)[1] adalah putra sulung Ja'far ash-Shadiq (setelah kematian ash-Shadiq) dan saudara kandung Isma'il bin Ja'far.[2] Gelar Abdullah "al-Aftah" berasal dari kata Arab "aftah al-ra's" (berkepala lebar) atau "aftah al-rijlain" (berkaki lebar) yang digunakan untuk menggambarkan penampilannya.[3]

Kehidupan

Pada masa kehidupan ayahnya, Abdullah al-Aftah pernah mendukung pemberontakan kerabatnya Muhammad an-Nafs az-Zakiya.[4]

Setelah wafatnya Ja'far ash-Shadiq, mayoritas pengikut Ja'far menerima Abdullah al-Aftah sebagai Imam baru mereka. Para pengikut ini dikenal sebagai kaum Aftahiyyah dan, menurut ahli tafsir Mu'tazilah Abul-Qasim al-Balkhi al-Ka'bi (w.319 H / 931 M), mereka adalah bagian terbesar dan terpenting dari para pengikut Ja'far ash-Shadiq.[5] Untuk mendukung klaimnya, Abdullah al-Aftah tampaknya telah mengklaim Nass ke-2 dari ayahnya (setelah wafatnya Ismail) dan para pengikutnya mengutip sebuah hadis yang diduga dari Ja'far ash-Shadiq yang menyatakan bahwa Imamah harus ditransmisikan melalui putra tertua Imam. Namun, ketika Abdullah al-Aftah meninggal tanpa anak[6][7] sekitar 70 hari setelah kematian ayahnya, sebagian besar pendukungnya beralih ke saudaranya Musa al-Kadzim.[8] Aftahiyyah lainnya menganggap Abdullah al-Aftah sebagai Imam ke-7 dan Musa al-Kadzim sebagai Imam ke-8,[7] sementara yang lain percaya Imamah berakhir ketika Abdullah al-Aftah meninggal.[5] Kelompok lain mengarang seorang putra untuk Abdullah al-Aftah, yang disebut Muhammad bin Abdullah al-Aftah, karena mereka tanpa syarat percaya Imamah hanya dapat diwariskan dari ayah ke anak, bukan dari saudara ke saudara. Kelompok ini juga mengklaim bahwa Muhammad bin Abdullah al-Aftah adalah Mahdi yang dijanjikan.

Sebagai "Sāhib al-Haqq"

Dalam surat yang dikirimkan kepada komunitas Ismailiyah di Yaman oleh khalifah Fathimiyah pertama, Abdullah al-Mahdi Billah, yang direproduksi oleh Ja'far bin Mansur al-Yaman, Abdullah al-Aftah disebut sebagai Sāhib al-Haqq atau penerus sah Ja'far ash-Shadiq, dalam upaya menjelaskan silsilah leluhurnya. Alih-alih menelusuri garis keturunannya hingga Isma'il bin Ja'far dan putranya Muhammad bin Isma'il, al-Mahdi Billah menunjuk al-Aftah sebagai leluhurnya. Menurut al-Mahdi Billah, al-Aftah menyebut dirinya "Isma'il bin Ja'far" demi taqiyyah, dan masing-masing penerusnya telah mengambil nama Muhammad. Al-Mahdi Billah menjelaskan silsilah para Khalifah Fathimiyah dan mengklaim dirinya sebagai keturunan Fathimiyah dengan menyatakan dirinya sebagai Ali bin al-Husain bin Ahmad bin Abadullah bin Abdullah bin Jafar ash-Shadiq. Namun, Imamah (doktrin Isma'iliyah) kemudian dirumuskan dengan cara yang berbeda karena penjelasan Abdullah al-Mahdi Billah tentang leluhurnya tidak diterima oleh para penerusnya.[9]

Posisi dalam doktrin Ismailiyah-Imāmah

Lihat pula: Imamah dan Imamah dalam doktrin Ismailiyah

Referensi

  1. ↑ Halm (2004), hlm. 30.
  2. ↑ Daftary (1992), hlm. 94.
  3. ↑ Sachedina (1981), hlm. 40.
  4. ↑ Crone (2005), hlm. 114.
  5. 1 2 Crone (2005), hlm. 116.
  6. ↑ Crone (2005), hlm. 203.
  7. 1 2 Halm (2004), hlm. 29.
  8. ↑ Daftary (1992), hlm. 94
  9. ↑ Daftary (1992), hlm. 108.

Bibliografi

  • Sachedina, Abdulaziz Abdulhussein (1981). Islamic messianism: the idea of Mahdī in twelver Shīʻism. SUNY Press. ISBN 0873954424.
  • Crone, Patricia (2005). Medieval Islamic political thought. New Edinburgh Islamic surveys (Edisi reprint). Edinburgh University Press. ISBN 0748621946.
  • Daftary, Farhad (1992). The Isma'ilis: Their History and Doctrines (Edisi reprint). Cambridge University Press. ISBN 0521429749.
  • Halm, Heinz (2004). Shi'ism. New Edinburgh Islamic surveys (Edisi reprint). Edinburgh University Press. ISBN 0748618880.
Abdullah al-Aftah
Ahlul Bait
Jabatan Islam Syi'ah
Didahului oleh:
Ja'far ash-Shadiq
Imam ke-7 Syiah Aftahiyyah
765–766 CE
Diteruskan oleh:
meninggal tanpa keturunan
Diteruskan oleh:
Muhammad bin Abdullah al-Aftah
(keberadaannya diperdebatkan)

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Kehidupan
  2. Sebagai "Sāhib al-Haqq"
  3. Posisi dalam doktrin Ismailiyah-Imāmah
  4. Referensi
  5. Bibliografi
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026