Abdul Azis Larekeng adalah seorang politikus asal Sulawesi Tengah yang pernah menjabat sebagai Bupati Banggai dan Anggota DPR-RI.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Abdul Azis Larekeng | |
|---|---|
![]() Larekeng pada tahun 1987 | |
| Bupati Banggai | |
| Masa jabatan 6 Februari 1969 – 19 Juni 1973 | |
| Presiden | Soeharto |
| Gubernur | Moehammad Jasin Albertus Maruli Tambunan |
Pendahulu R. Atje Slamet Pengganti Eddy Singgih | |
| Anggota Dewan Perwakilan Rakyat | |
| Masa jabatan 1977–1992 | |
| Daerah pemilihan | Sulawesi Tengah |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | (1923-01-10)10 Januari 1923 Luwuk, Hindia Belanda |
| Partai politik | Partai Islam Indonesia PNI Golkar |
| Almamater | Universitas Hasanuddin |
| Profesi | Politikus |
| Karier militer | |
| Pihak | Indonesia |
| Dinas/cabang | KRIS |
| Masa dinas | 1945–? |
| Pertempuran/perang | Revolusi Nasional Indonesia Peristiwa Andi Azis Operasi Mandala |
Abdul Azis Larekeng (lahir 10 Januari 1923) adalah seorang politikus asal Sulawesi Tengah yang pernah menjabat sebagai Bupati Banggai (1969 - 1973) dan Anggota DPR-RI (1977 - ?).
Larekeng lahir di Luwuk pada 10 Januari 1923. Ia lulus dari Vervolg School pada tahun 1936. Kemudian, ia mengikuti kursus stenografi pada tahun 1950 dan kader masyarakat tingkat C pada tahun 1955. Pada tahun 1963, ia mendapatkan gelar sarjana dari Fakultas Sosial Politik Universitas Hasanudin.[1] Ia juga mengikuti kursus orientasi pejabat teras Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah yang diselenggarakan oleh Lembaga Administrasi Negara pada tahun 1975.[2]
Larekeng mengawali kariernya dengan mengambil magang di kantor distrik di Luwuk.[1] Ia memutuskan untuk keluar dari magang di kantor distrik karena ia tidak mau bekerja sama dengan Pemerintah Hindia Belanda.[3] Setelah itu, ia menjadi pemimpin toko buku dari tahun 1939 hingga 1942. Selama menjabat sebagai pemimpin toko buku, ia menjual buku yang berjudul "Indonesia berparlemen" dan buku roman perjuangan "Suasana Kalimantan". Ulahnya menjual buku tersebut membuat Pemerintah Hindia Belanda menutup toko bukunya.[1][3] Di masa itu juga, ia menjadi anggota Partai Islam Indonesia (1940-1941) dan kemudian menjabat sebagai ketua gabungan organisasi pemuda lokal di Distrik Lamala (1941 - 1942).[4] Ia juga menjadi koresponden majalah mingguan "Pedoman Masyarakat".[2]
Pada tahun 1942, ia bekerja sebagai sekretaris Komandan Polisi di Distrik Lamala/Banggai. Setahun kemudian, ia menjadi mandor untuk pembangunan Jalan Umum Banggai - Ken di Luwuk. Dari tahun 1943 hingga 1945, ia bekerja sebagai polisi di Luwuk dan juga bergabung ke Gerakan Merah Putih di Banggai.[1][5]
Seusai proklamasi kemerdekaan, Larekeng ikut serta dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia bergabung dengan KRIS dan menjabat sebagai Kepala Staf Batalyon IV Resimen KRIS Muda Resimen Daerah Banggai dan Sulawesi Selatan selama empat tahun (1945 - 1949).[5] Belanda menangkap Larekeng dan tokoh pro-Indonesia lainnya di Luwuk pada bulan Mei 1947. Mereka awalnya dipenjara di Luwuk dan kemudian dipindahkan ke Manado untuk dipenjara dan diadili.[6]
Seusai penyerahaan kedaulatan, ia turut ikut serta dalam pemadaman Pemberontakan Andi Azis dan menjadi staf penghubung masyarakat Angkatan Perang Republik Indonesia di Indonesia Timur.[5] Ia juga ikut serta dalam membantu Operasi Mandala.[7] Setelah tidak lagi aktif di dinas militer, Larekeng menjadi penasihat Dewan Pengurus Harian Angkatan 45 di Palu.[5]
Pada tahun 1950, Larekeng menjabat sebagai redaktur dan kepala penyiaran Angkatan Perang RI di stasiun RRI Makassar dan bekerja di posisi tersebut hingga tahun 1951.[1] Selanjutnya, Larekeng bergabung ke Kementerian Penerangan pada tahun 1951 dan bekerja di sana hingga tahun 1965.Selama bekerja di Kementerian Dalam Negeri, ia mengemban berbagai posisi mulai dari kepala seksi hingga kepala jawatan penerangan. Di masa itu juga, ia menjadi anggota pengurus PNI kota Makassar dan Palu, pengurus Pemuda Demokrat Indonesia di Makassar, dan Ketua S.B. Kementerian Penerangan di Makassar.[4] Ia juga menjadi salah satu orang yang memperjuangkan pendirian Kabupaten Banggai dan juga masuk ke dalam anggota dewan direksi yang mengurusi perusahaan Belanda yang dinasionalisasi di Makassar.[8][5]
Larekeng menjabat sebagai Sekretaris Daerah Sulawesi Tengah dari tahun 1965 hingga 1969. Di samping itu juga, ia menjadi pengurus Korps Pegawai Kementerian Dalam Negeri di Palu.[4] Sebagai Sekretaris Daerah Sulawesi Tengah, ia juga turut berpartisipasi dalam Musyawarah Nasional Koperasi ke-II di Jakarta pada bulan Agustus 1965 dan juga menjadi orang di balik pengangkatan Mohammad Idris RoE sebagai Direktur Bank Pembangunan Daerah Sulteng.[9][10]
Pada tahun 1969, ia diangkat sebagai Bupati Banggai.[4] Selama menjabat sebagai Bupati Banggai, Larekeng dikenal sebagai seorang orator.[11] Selain itu juga mengemban jabatan lainnya yaitu Ketua Dewan Pembina KORPRI Kabupaten Banggai. Ia meletakkan jabatannya sebagai Bupati Banggai pada tahun 1973.[4] Setelah itu, ia bekerja sebagai Wakil Ketua Staf Ahli Gubernur Sulwesi Tengah selama setahun (1973 - 1974). Setelahnya, ia menjabat sebagai Ketua Bappeda Sulawesi Tengah (1974 - 1978).[4]
Larekeng ikut serta dalam Pemilu 1977 sebagai calon anggota legislatif Golkar dari daerah pemilihan Sulawesi Tengah dan ia terpilih dengan suara terbanyak dari semua caleg Golkar untuk wilayah Sulteng.[12] Pada Pemilu 1982, ia kembali terpilih sebagai anggota DPR dari Daerah Pemiihan Sulawesi Tengah dan menjadi kandidat dengan suara terbanyak dari partai Golkar.[13] Ia terpilih kembali sebagai anggota DPR pada Pemilu 1987 dan bergabung ke Komisi V.[14][15]
Larekeng juga menjadi dosen luar biasa pada beberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan menjadi Dekan Muda Fakultas Sosial Politik Universitas Tadulako.[5]
Larekeng diduga bergabung dengan Golkar pada tahun 1965 dan menjadi pengurus sekretariat partai di Palu.[4] Pada tahun 1967 ia diangkat sebagai anggota, pengurus, dan penasehat Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) Golkar di Palu dan menjabat posisi tersebut sampai dengan tahun 1987. Ia juga menjadi pendiri Organisasi Masyarakat Pro-Golkar, Majelis Dakwah Islamiyah (MDI), pada tahun 1978 dan menjadi anggota hingga tahun 1983.[5]
Larekeng bergabung ke Komisi B Partai Golkar yang mengurusi program umum setelah penetapan Musyawarah Nasional Partai Golkar pada bulan Oktober 1983.[16] Pada tahun 1984, Larekeng diangkat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah Golkar Sulawesi Tengah untuk periode 1984 - 1989.[17]